Rabu, 11 Oktober 2017

BNPT Latih Pelajar Buat Video Pencegahan Terorisme

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar pelatihan secara mendalam kepada 10 orang pelajar dari 10 sekolah terpilih dari sejumlah kota di Indonesia, untuk meningkatkan kemampuan dalam pembuatan video pencegahan terorisme.?

BNPT Latih Pelajar Buat Video Pencegahan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
BNPT Latih Pelajar Buat Video Pencegahan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

BNPT Latih Pelajar Buat Video Pencegahan Terorisme

"Sepuluh orang pelajar itu adalah finalis yang masuk sepuluh besar lomba video pendek siswa SMA sederajat yang dilaksanakan BNPT untuk kepentingan pencegahan terorisme di kalangan pemuda dan perempuan," kata Kepala Sub Direktorat Kewaspadaan Direktorat Pencegahan BNPT, Andi Intang Dulung di Jakarta, Rabu (23/11).?

Andi menjelaskan, pelatihan dilaksanakan selama 3 hari sejak tanggal 22 hingga 25 November mendatang. Sejumlah praktisi perfilman dilibatkan untuk memberikan pelatihan, yaitu peneliti dari Kalbis Institute, Dyah Kusumawati, dokumentaris dari Watchdoc, Dhandy Dwi Laksono, sineas Samuan Film, Chandra Wibowo, penulis scenario dari Multivision, Swastika Nohara, dan sineas muda Miles Film, Ratrikala Bhre Aditya.?

"Pelatihan dilakukan di dalam dan luar ruangan, mulai dari teori hingga praktik. Seperti sore ini, peserta dibawa ke beberapa lokasi di Jakarta untuk praktik pengambilan gambar," jelas Andi Intang. ?

Dijelaskan oleh Andi Intang, tujuan dari kegiatan ini untuk mengakomodir aspirasi para generasi muda agar sadar dan memiliki jiwa nasionalisme tinggi. "Sekaligus menumbuhkan wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda agar dapat memahami NKRI secara utuh," ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terkait lomba video pendek yang sudah dilakukan, masih kata Andi Intang, dilaksanakan sejak bulan Maret hingga November 2016 di 32 provinsi se Indonesia. BNPT menggandeng Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) untuk melaksanakannya. ?

"Dari masing-masing provinsi kami pilih 3 video terbaik dan dilombakan di tingkat nasional. Sepuluh video terbaik yang dipilih oleh juri akan masuk babak grand final, yang malam anugerahnya dilaksanakan Jumat malam besok," urai Andi Intang.?

Dalam penilaian terhadap video-video yang dilombakan, BNPT juga mewajibkan kepada peserta untuk mengunggahnya ke media sosial. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya cyber war untuk membendung maraknya peredaran video yang mengajarkan radikalisme terorisme di dunia maya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Jadi ada banyak tujuan yang didapat dari lomba ini. Anak didik yang mengikuti bisa semakin meningkat nasionalismenya, sekaligus mereka juga memproduksi video untuk membendung radikalisme terorisme," pungkas Andi Intang. (Samsul Hadi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tegal, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat

Oleh Anggi Afriansyah

Indonesia beruntung memiliki lembaga pendidikan yang menyejarah seperti pesantren. Apalagi rekam jejak pesantren mendidik masyarakat sudah teruji zaman. Dari rahim pesantren telah lahir beragam tokoh cerdik cendikia.

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat

Pesantren tak hanya berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (religion-based curriculum) tetapi juga kurikulum yang berbasis pada persoalan masyarakat (community-based curriculum) (Suyata dalam Zuhri, 2016). Hal tersebut memang menjadi salah satu kekhasan pesantren. Pendidikan yang diberikan di pesantren tak menjauhkan santri dari realitas keseharian. Jika merujuk pada konteks pembelajaran modern, apa yang dilakukan pesantren adalah bagian dari pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning).

Studi yang dilakukan oleh Anin Nurhati (2010) misalnya mengungkap peran pesantren dalam memberikan materi kewirausahaan kepada para santrinya agar mereka memiliki kecakapan hidup seperti kemampuan beternak, budi daya perikanan, pengolahan obat-obatan, perdagangan, perbengkelan, otomotif dan permebelan (Zuhri, 2010). Beragam kurikulum tersebut tentu menjadi kekuatan bagi pesantren untuk menjawab tantangan zaman. Ada kesadaran bahwa pemahaman teks-teks keagamaan semata tanpa penguasaan keilmuan yang lain akan menyebabkan santri semakin tertinggal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pesantren tak pernah terjebak pada perubahan kurikulum yang terjadi karena berubahnya menteri. Pesantren senantiasa konsisten, karena tujuan awalnya adalah mendidik santri menjadi individu-individu yang bermanfaat bagi sesama. Maka pesantren tak terjebak pada pola-pola pendidikan formal yang berbasis nilai-nilai kuantitatif. Tak ada sertifikasi untuk para kiai, karena gelar kiai, ulama, ajengan, ataupun ustadz/ustadzah merupakan rekognisi yang diberikan oleh masyarakat. Penyematan karena kebermanfaatan mereka untuk umat. Bukan karena kepemilikan ijazah tertentu.

Keragaman tipikal lulusan pesantren membuktikan bahwa pesantren sesungguhnya sudah memberikan kontribusi pada penciptaan sumber daya manusia yang berkualitas. Pilihan profesi, pilihan politik, pilihan sudut pandang tafsir keagamaan dari lulusan pesantren menjadi warna tersendiri bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Meskipun demikian, kemampuan pesantren mengkreasi intelektual-intelektual Muslim yang memiliki kapasitas mumpuni sehingga menjadi cahaya bagi umat harus tetap dijaga. Para intelektual itulah yang akan senantiasa memberikan pencerahan dan pencerdaskan bagi umat. Intelektual yang memberikan kedamaian dan menebarkan ajaran serta ujaran penuh kasih. Kita tentu merindukan almarhum Gus Dur dan Cak Nur, dua tokoh bangsa yang senantiasa berjuang untuk perdamaian, kesetaraan, dan demokrasi. Kita juga melihat kebesaran hati Gus Mus, yang meskipun dicaci oleh mereka yang membencinya, tetap memperlihatkan sifat welas asih dan pemaaf. Gus Mus telah memberikan teladan bagaimana implementasi akhlaqul karimah yang dicontontohkan Rasullah SAW.

Jika saat ini isu mengenai pentingnya pendidikan karakter kembali didengungkan. Sesungguhnya, proses pendidikan pesantren justru sejak awal telah memberikan ruang besar bagi penguatan karakter para santrinya. Pesantren memang memiliki fokus agar santri-santrinya menjadi uswatun hasanah, teladan kebaikan, yang mampu memberikan kebermanfaatan bagi umat.

Para santri mendapatkan tempaan setiap waktu ketika mengenyam pendidikan pesantren. Satu hari penuh para santri berada dalam situasi belajar. Maka sesungguhnya, tak perlu lagi ada kebijakan full day school. Pemerintah hanya perlu mengoptimalkan pesantren-pesantren yang ada di berbagai penjuru tanah air.

Proses pendidikan di pesantren memang menyiapkan para santri agar mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitarnya. Dalam konteks ini, kiai dan para ustadz/ustadzah di pesantren memegang peran penting dalam konstruksi karakter para santri. Mereka menjadi role model bagi para santri yang diasuhnya.

Keberhasilan pesantren membentuk karakter santri sangat bergantung pada keteladanan para alim di pesantren.? Keteladanan tersebut tak hanya diberikan melalui ceramah-ceramah semata, namun juga melalu tindakan nyata. Kelebihan pesantren mendidik santri terletak pada pembiasaan dan praktik keseharian. Sehingga, kepatuhan santri terhadap aturan tak sekedar karena takut dihukum. Rasa malu jika tak patuh dan disiplin terbentuk karena adanya keteladanan dari para kiai ataupun ustadz/ustadzah.

Di sisi lain pesantren juga memberikan pembelajaran kontekstual kepada para santrinya. materi-materi yang diberikan adalah hal-hal yang relevan yang akan para santri gunakan di masa depan. missal saja, banyak pesantren memberikan penguatan pelajaran bahasa asing kepada santri karena menyadari bahwa penguasaan bahasa yang mumpuni merupakan keniscayaan di era global.

Selain itu, pelatihan mubaligh yang diselenggarakan di pesantren ditujukan agar para santri memiliki public speaking yang baik. Karena para santri harus mampu menyampaikan gagasan-gagasannya kepada masyarakat secara runut dan terstruktur. Menyampaikan pengetahuan keagamaannya kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami.

Beberapa pesantren juga rutin menyelenggarakan program Bahtsul Masail. Kegiatan tersebut menjadi penting karena membiasakan para santri mendialogkan beragam permasalahan dengan merujuk beragam referensi. Kebiasaan berdiskusi sangatlah penting agar para santri tidak alergi terhadap perbedaan pandangan yang ada di masyarakat kelak. Memperkaya perspektif mereka memandang suatu persoalan. Dan pada akhirnya membuat mereka menyadari sepenuh hati bahwa perbedaan tafsir atas teks keagamaan merupakan hal biasa dan akan mereka hadapi di masyarakat.

Dan yang paling penting, pesantren memberikan para santri untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola dirinya, manajemen diri. Proses tersebut merupakan bagian dari pendewasaan diri. Pola pendidikan di pesantren menyediakan mekanisme panjang agar santri memiliki kemampuan manajemen diri tersebut.

Keberhasilan mengelola diri sendiri merupakan salah satu kunci penting keberhasilan mereka di masa mendatang. Akan tetapi, meskipun pesantren memberikan segala ruang dan mekanisme pengaderan yang luar biasa, jika santri tak mampu mengoptimalkan hal-hal tersebut, tidak akan memiliki pengaruh kepada diri mereka. Keinginan kuat dari diri sendiri tetap menjadi aspek yang paling penting.

Oleh sebab itu, menjadi harapan bersama agar santri lulusan pesantren memiliki kesadaran penuh untuk memberikan kinerja nyata bagi kemaslahatan Indonesia dan berkontribusi untuk penciptaan Islam yang rahmatan lil alamin. Memberikan kedamaian bagi bangsa dan negara.



Penulis adalah lulusan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, saat ini menjadi Peneliti di Puslit Kependudukan LIPI


Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Madrasah Penyeimbang Pendidikan Sekolah Umum

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan generasi muda saat ini, ilmu agama melalui pendidikan Madrasah Diniyah (Madin) sangat penting diberikan sebagai penyeimbang pendidikan di sekolah umum.?

Hal ini disampaikan Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin saat menghadiri Haflatul Imtihan di Madrasah At Taroqqi ke-23 di Kelurahan Kraksaan Wetan Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Ahad (7/5) malam.

Dalam kesempatan tersebut Hasan Aminuddin menghimbau kepada seluruh warga dan wali murid untuk semaksimal mungkin mempersiapkan pendidikan anak-anaknya, baik ilmu agama maupun ilmu umum di sekolah.?

Madrasah Penyeimbang Pendidikan Sekolah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Penyeimbang Pendidikan Sekolah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Penyeimbang Pendidikan Sekolah Umum

“Habiskan waktu mereka untuk menuntut ilmu. Setelah dari sekolah, segera siapkan mereka untuk mengikuti pelajaran agama Islam di Madrasah Diniyah. Selepas Adzan Maghrib lanjutkan lagi untuk mengaji Al-Quran di mushola-mushola dekat rumah,” katanya.

Tidak berhenti sampai disitu jelas Hasan, setelah itu pada malam harinya ulangi lagi pelajaran-pelajaran yang telah didapat di sekolah. Dengan demikian anak-anaknya akan menjadi generasi penerus bangsa yang berilmu dan berakhlak mulia.

“Pendidikan anak memang butuh biaya yang tidak sedikit. Namun dengan doa dan ikhtiar niscaya Allah SWT akan memberikan jalan. Doakan mereka bersama sholat 5 waktu tepat waktu. Karena waktu sholat adalah waktu istijabah, semua bacaan dalam sholat adalah kumpulan doa dan pahala bacaanya akan dilipat gandakan,” imbuhnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kesempatan ini pula, Hasan Aminuddin menghimbau untuk mengamalkan membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali untuk menyambut malam Nisfu Syaban yang jatuh pada malam Jum’at depan.?

“Kepada para pemilik usaha warung untuk membuka usahanya menjelang Maghrib saja pada saat bulan Ramdhan yang akan datang. Hormati datangnya bulan Ramadhan ini, bukalah warung di sore hari, menjelang berbuka puasa. Insyaallah, malaikat akan mengintervensi kelancaran rezeki selama sebulan penuh,” pungkasnya.

Kegiatan ini dihadiri oleh segenap jajaran PCNU Kota Kraksaan baik lembaga maupun badan otonom (banom). Tidak ketinggalan pula hadir pula sejumlah ulama dan habaib yang berada di wilayah Kota Kraksaan dan sekitarnya. (Syamsul Akbar/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 10 Oktober 2017

Pengertian Dosa Besar Menurut Ibnu Athaillah

Al-Quran dan hadits sudah jelas menyebut dosa besar yang harus dijauhi oleh bukan hanya pemeluk Islam, tetapi juga non-Muslim. Pasalnya, dosa besar merupakan pelanggaran hukum dan kejahatan yang sejalan dengan common sense, nalar umum. Allah menyediakan sanksi keras bagi para pelaku dosa besar.

Meskipun demikian, Allah SWT tetap membuka lapang karunia dan pintu rahmat-Nya sebagaimana keterangan Syekh Ibnu Athaillah berikut ini.

Pengertian Dosa Besar Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengertian Dosa Besar Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengertian Dosa Besar Menurut Ibnu Athaillah

? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Artinya, “Tak ada dosa besar ketika kau disambut dengan kemurahan-Nya.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pelaku dosa besar dianjurkan untuk memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan yang sama atau melakukan dosa besar lainnya. Mereka tidak perlu berkecil hati karena pintu tobat dan anugerah Allah masih terbuka.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dosa besar adalah pelanggaran yang pelakunya diancam dengan siksa atau diancam dengan hudud di Al-Quran atau hadits. Sebagian ulama mengatakan, dosa besar bukan yang disebut itu. Apapun itu, semuanya ditinjau secara lahiriah. Sedangkan di sisi Allah, dosa besar ditinjau dari kemurahan dan keadilan-Nya. Kadang fakta yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita duga seperti firman Allah dalam Surat Az-Zumar ayat 47, ‘Maka tampaklah bagi mereka dari Allah apa yang mereka tidak perkirakan sebelumnya.’

Mereka yang mendapat inayah dari Allah, tidak akan menjadi sulit karena dosa besar. Mereka adalah orang pilihan Allah yang dosanya digantikan dengan kebaikan. Amal itu memang menjadi tanda yang kadang berbeda untuk sejumlah maqam sehingga harap dan takutnya mengambil porsi 50%-50% pada sejumlah maqam. Kepasrahan mereka sepenuhnya hanya kepada Allah di setiap waktu karena ketentuan Allah telah selesai sehingga tidak berubah. Beberapa ulama mengatakan, ‘Kalau harap dan takut orang beriman ditimbang, niscaya salah satu piring timbangan takkan berat sebelah. Orang beriman itu seperti burung yang terbang dengan kedua sayapnya,’ sebagaimana dikatakan oleh Syekh Zarruq.

Menurut saya, sebuah hadits yang menceritakan seseorang yang sedang dihadapkan dengan 99 dokumen berisi catatan amal buruknya di mana tiap dokumen memiliki panjang sepandangan mata, kemudian muncul secarik kertas seukuran jari yang bertuliskan kalimat tauhid La ilâha Illallâh sehingga catatan kejahatan di banyak dokumen itu tampak keliru, menunjukkan kebesaran tanggungan dan rahmat Allah, serta keluasan cakupan kemurahan dan karunia-Nya,” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa keterangan tahun, juz I, halaman 85).

Orang yang melakukan pelanggaran berat masih mendapat kesempatan untuk menerima kasih sayang Allah. Mereka berkesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka tidak boleh berputus asa karenanya mereka tidak boleh menjauh dari Allah.

? ? ? ? ? ? [?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tidak ada yang disebut dosa besar–baik itu menurut ketentuan syar‘i maupun secara kualifikasi. Itu menjadi kecil, tetapi justru tidak ada sama sekali ketika kau disambut dengan kemurahan-Nya melalui pemberian maaf atau ampunan, dan rahmat-Nya sehingga terlebih lagi tak ada penyiksaan. Bayangkan bagaimana jika kau adalah hamba yang taat. Pada ketaatanmu itu ihsan, penyaksian, dan penglihatanmu bekerja di mana itu terjadi karena kau lenyap dari pandangan atas amal saleh saat mengerjakannya,” (Lihat Syekh Burhanuddin Ibrahim Al-Aqshara’i As-Syadzili, Ihkamul Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan I, 2008 M/1429 H, halaman 54).

Rahmat dan karunia Allah begitu besar untuk mereka yang melakukan dosa besar. Kabar gembira ini sesuai dengan firman Allah SWT berikut ini.

? ? ? ? ? ? (49) ? ? ? ? ?

Artinya, “Kabarkanlah kepada para hamba-Ku bahwa Aku maha pengampun lagi maha penyayang dan sungguh siksa-Ku adalah siksa yang pedih,” (Surat Al-Hijr ayat 49-50).

Hikmah ini bukan anjuran bagi manusia untuk melakukan dosa besar karena kita tidak tahu apakah dosa besar kita akan disambut dengan pada maghfirah dan rahmat-Nya atau dihadapkan pada keadilan dan kebesaran-Nya. Hikmah ini lebih merupakan kabar gembira bagi mereka yang terlanjur berdosa besar agar bertobat serta tidak berputus asa dari rahmat Allah dan tidak mengulangi dosa besarnya. Hikmah ini menunjukkan besarnya rahmat dan karunia Allah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Sunnah, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara

Lampung Tengah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Katib Syuriyah PBNU KH Lukman Harits Dimyati menyampaikan, santri-santri NU selain menguasai kitab kuning dan hidup bermasyarakat harus memahami pilar-pilar negara. Salah satunya adalah mamahami Pancasila. Bagi NU, Pancasila sudah final dan sudah sesuai dengan syariat Islam.

Demikian disampaikan Kiai Harits di hadapan seribu warga dalam rangka khataman kitab Al-‘Imrithi Haflah Akhirussanah di halaman kompleks Pesantren Baitul Mustaqim Sidomulyo Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah asuhan Ketua Idaroh Syu’biyyah Jatman Lampung Tengah KH Muhtar Ghozali, Ahad (14/5).

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara

“Warga Nahdlatul Ulama di Provinsi Lampung umumnya dan khususnya di Kabupaten Lampung Tengah harus hati-hati dengan adanya upaya gerakan-gerakan, kelompok Islam radikal yang merongrong Pancasila. Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945 adalah harga mati. Yang Tidak sepaham dengan Pancasila. Silakan pergi dari Indonesia,” kata Kiai Harits yang juga Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok Pesantrenku Keren ini.

“Gerakan merongrong Pancasila jangan-jangan juga menjalar ke para pegawai negeri sipil di Lampung Tengah. Pak Wakil Bupati Lampung Tengah mohon disisir para ASN (aparatur sipil negara) di kabupaten ini. Mereka anti-Pancasila, pemerintah adalah thoghut tapi setiap bulan menerima gaji negara. Pemkab Lampung Tengah harus tanggap dengan kondisi ini,” tegas Katib Suriyah PBNU ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tampak hadir pada haflah ini Rais Syuriyah PCNU Lampung Tengah KH Nur Daim, Sekretaris Jatman Lampung Tengah KH Nur Salim, Wakil Ketua PCNU Lampung Tengah KH Slamet Anwar, Sekretaris Fatayat NU Lampung Nurhayati, Wakil Bupati Lampung Tengah H Lukman Djoyosumarto, Dosen IAIM NU Kota Metro Lampung Aminan, Kabag Perekonomian Lampung Tengah Ahmad Jailani, Kadis Kominfo Lampung Tengah H Sarjito, anggota DPRD Lampung H Midi Iswanto, Camat Punggur, para kepala kampung, anggota TNI dan Polri, dan puluhan generasi muda NU lainnya. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Sejarah, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 09 Oktober 2017

“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an”

Seiyun, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Forum Lingkar Pena (FLP) Hadramaut yang beranggotakan para pelajar Indonesia menggelar "Pentas Seni Islami" atas kerjasama Ibn Obaidillah Islamic Center di kota Seiyun.

“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an”

Acara Rabu (20/3) lalu seyogyanya ditujukan untuk memperingati harlah ke-16 FLP ini bertajuk "Karisma Hadhramaut dalam Ideologi Ke-Indonesia-an."? Grand opening mencuplik senandung Al-Quran yang mencerminkan kandungan pentas seni Islami.

Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian lelaki dan perempuan dan menjadikan kalian beragam suku dan budaya agar kalian saling mengenal, sungguh yang paling mulya diantara kalian adalah mereka yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mewaspadai." (Al Hujurat : 13)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Habib Muhammad Hasan Ibnu Ubaidillah, direktur utama Ibn Obaidillah IC mempersilahkan kepada Miqdarul Khoir, ketua FLP Hadhramaut untuk menyampaikan sepatah dua kata mengiringi pembukaan acara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Marilah kita telaah kembali sejarah nenek moyang kalian dengan bahasa modern, bahwa bilamana suatu relasi ini didirikan atas nama Allah, maka hubungan tersebut akan kekal, berbeda halnya jikalau relasi tersebut dibangun atas nama material, maka tak heran suatu ketika akan berujung pertumpahan darah," katanya mantap.

Sebelum memasuki inti pentas, hadirin sempat dikejutkan dengan film dokumenter berjudul "Hadharim fi Indonesia" yang dicuplik dari channel Al Jazeerah. Sebuah video singkat yang mengungkap pengaruh masyarakat Hadhramaut dalam seluruh element kehidupan Indonesia.

Acara berlanjut dengan pembacaan syair oleh Ahmad Fathur Rahman. Mahasiswa universitas Al Ahgaff ini sukses menitikan air mata mayoritas hadirin malam itu. Gubahan baitnya meranakan kalbu pendengarnya.

Apalagi disusul pencitraan biografi ulama fenomenal dari kota Teris, Hadhramaut, yang akhirnya berhijrah dan berhasil mengubah pola kehiduan masyarakat Palu. Habib Idrus bin Salim Al Jufri, pendiri pesantren Al Khairat, Palu Sulawesi Utara. Habib Alwi Al-Atthas yang merupakan salah satu santri di pesantren tersebut mengungkapkan bahwa tanpa beliau, kota Palu tak akan seperti kota Palu yang sekarang.

Tak kalah mengesankan, dialog interaktif antar hadirin dibuka setelah habib Zainal Aibidin Al Haddar bercerita tentang napak tilas hijrah masyarakat cadas tandus Hadhramaut ke Gujarat hingga akhirnya berujung penyebaran Islam di Indonesia.

Euforia pentas seni yang dihadiri lebih dari 100 orang dari berbagai Negara tersebut mengundang simpatik Habib Ali bin Salim Al Haddad untuk turut aktif menyumbang riset ilmiahnya tentang prestasi Hadhramaut dalam kemajuan Indonesia.

"Sayangnya terjadi pemutar balikan fakta yang menyatakan bahwa hijrahnya para musafir Hadhramaut hanyalah berdasarkan asas dagang, padahal jauh sebelum mereka ada Fatimah binti Maimun pada tahun 700 H menyebar benih Islam, hanya saja sejarah terkesan menutup-nutupi tujuan asal mereka, yaitu berdakwah," pungkasnya menutup.

Acara pentas seni ditutup dengan marawis dengan lagu khas Hadhramaut yang dipandu oleh Shautul Muhibbin, grup marawis dan rebana Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI Al Ahgaff). Turut hadir dekan fakultas Syareat dan Hukum universitas Al Ahgaff, Dr. Muhammad bin Abdul Qodir Alydrus, delegasi universitas Hadhramaut for Sains and Technology, ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI Yaman) cabang Hadhramaut, Pandi Yusron serta delegasi lembaga kedaerahan lainnya, seperti Padjajaran Jawa Barat, Sulawesi, GAMA Jatim, PPJJ Jateng dan Yogyakarta dan Opisi Sumatra.?

Redaktur ? ? : A. Khirul Anam

Kontributor: Adly Al-Fadlly*

*Koordinator Kaderisasi FLP Hadhramaut

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Jadwal Kajian, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ini Pengertian Allah Tidak Pandang Rupa dan Amalmu Menurut Ibnu Athaillah

Ibadah seharusnya dipahami sebagai bentuk penyerahan, kedhaifan, dan kefakiran manusia di hadapan Allah. Tetapi ketika ibadah membuat pelakunya ujub pada dirinya sendiri dan angkuh terhadap orang lain yang tidak mengamalkannya, maka ibadah ini menjadi tercela sebagai disebutkan oleh Ibnu Athaillah pada hikmah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ini Pengertian Allah Tidak Pandang Rupa dan Amalmu Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pengertian Allah Tidak Pandang Rupa dan Amalmu Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pengertian Allah Tidak Pandang Rupa dan Amalmu Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “Sebuah maksiat yang berbuah kerendahan diri dan kefakiran (di hadapan Allah) lebih baik daripada amal ibadah yang melahirkan bibit kebanggan dan keangkuhan.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hikmah ini menegaskan bahwa manusia tidak boleh jauh-jauh dari sifat kerendahan dan kefakirannya di hadapan Allah. Manusia tidak boleh memakai kebanggaan dan keangkuhan yang menjadi sifat ketuhanan. Ketaatan seseorang bukan alasan baginya untuk bersikap angkuh dan merasa suci sebagai disebut Syekh Ibnu Abbad berikut ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kerendahan diri dan kefakiran adalah sifat kehambaan. Kebanggan dan keangkuhan bertolak belakang dengan sifat kehambaan karena dua sifat yang disebut terakhir adalah sifat ketuhanan. Tak ada kebaikan apapun pada amal ibadah yang lazim padanya sifat (bangga dan angkuh) yang bertolak belakang dengan sifat kehambaan karena sifat ketuhanan itu dapat mengugurkan dan membatalkan amal itu sendiri. Sebaliknya, (Allah) tidak peduli pada maksiat yang lazim padanya sifat kehambaan (kerendahan diri) karena sifat itu akan menghapus dan menghilangkan kadar kesalahan maksiat tersebut. Syekh Abu Madyan berkata, ‘Kerendahan diri pelaku maksiat lebih baik daripada kewibawaan orang yang beramal saleh,’” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 72).

Syekh Ibnu Ajibah mengaitkan masalah ini dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, “Allah tidak memandang rupa dan amalmu, tetapi hatimu.” Ia dengan tegas mengingatkan bahwa jantung dari hubungan manusia dan Allah adalah adab. Manusia dituntut untuk beradab dengan baik di hadapan-Nya (husnul adab). Allah akan murka jika manusia melakukan su’ul adab kepada-Nya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Buat saya, maksiat yang membuahkan kerendahan diri lebih utama dibanding ketaatan ibadah yang memicu keangkuhan karena tujuan hakiki atas amal ibadah adalah ketundukan, penyerahan, kepatuhan, ketaklukan, dan kerendahan diri sebagai terncantum pada hadits qudsi ‘Aku bersama mereka yang rendah diri demi Aku.’ Kalau sebuah ibadah sunyi dari makna-makna kehambaan, tetapi justru melahirkan benih sifat ketuhanan, maka maksiat yang membuahkan makna kehambaan dan mendatangkan kebaikan-kebaikan lebih utama dibandingkan amal ibadah karena bentuk konkret ibadah (formalitas) atau maksiat tidak menjadi ukuran. Yang jadi patokan adalah hasil atau buah dari keduanya sebagai tercantum pada hadits Rasulullah SAW ‘Allah tidak memandang bentuk rupa dan amalmu. Allah hanya melihat hatimu.’ Buah ibadah harusnya ketaklukan dan kerendahan diri. Sementara efek maksiat adalah kekerasan hati dan keangkuhan. Tetapi jika buah keduanya itu bersalahan, maka hakikat keduanya itu pun berubah di mana amal ibadah lahiriyah itu sejatinya maksiat

dan maksiat lahiriyah itu hakikatnya adalah ibadah... Syekh Abul Abbas Al-Mursi berkata, ‘Setiap su’ul adab (maksiat secara formal) yang berbuah adab tidak bisa disebut sebagai su’ul adab.’ Syekh Abul Abbas Al-Mursi juga kerap mengimbau para hamba Allah yang terperosok di jurang dosa karena kuasa-Nya untuk melihat keluasan rahmat-Nya... Mahaguru kami berkata, ‘Sebuah maksiat kepada Allah lebih baik daripada seribu amal ibadah dengan nafsu,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 143).

Perihal ini, Syekh Ibnu Ajibah mengutip hadits Rasulullah SAW di mana ujub yang melahirkan kebesaran dan keangkuhan merupakan sebuah penyakit berbahaya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalau pun kamu sekalian tidak berdosa, aku khawatir sesuatu yang lebih buruk dari itu menjangkiti kamu semua, yaitu ujub’ sebagaimana tercantum pada Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Rasulullah SAW juga bersabda, ‘Kalau sekiranya dosa itu tidak lebih baik daripada ujub, niscaya Allah takkan memisahkan seorang mukmin dan dosa selamanya,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 143).

Syekh Ahmad Zarruq menjelaskan hikmah ini dengan moderat. Dengan uraian filosofis ia menyebutkan bahwa idealnya manusia taat kepada Allah lahir dan batin. Menurutnya, ketaatan lahir (formalitas ibadah) tidak menjamin seseorang taat dengan batin kepada Allah.

?: ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Buat saya, kebaikan yang terkandung dalam ketaatan kepada Allah itu bersifat identik. Sedangkan keburukan yang terkandung dalam ketaatan bersifat tidak identik. Sebaliknya, keburukan pada maksiat bersifat identik. Sedangkan kebaikan yang terkandung pada maksiat bersifat tidak identik. Kebaikan yang terkandung dalam ketaatan dilihat dari kehambaan, ketundukan di hadapan Allah, penyerahan diri kepada-Nya, dan pengharapan karunia-Nya. Sementara keburukan pada maksiat ditinjau dari semua kebalikan sifat ketaatan (bangga dan angkuh). Tetapi ketika sebuah amal ketaatan melahirkan bibit keburukan yang identik pada maksiat (ujub dan angkuh), maka amal ibadah itu bernilai buruk. sebaliknya, ketika sebuah maksiat berbuah kebaikan yang identik pada amal ketaatan (rendah diri dan fakir), maka maksiat (formalitas) itu bernilai baik,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 97).

Singkat kata, Allah menuntut manusia untuk berserah diri, menyatakan kedhaifan dan kefakiran melalui amal ibadah baik lahir maupun batin. Hikmah ini bukan berarti merupakan anjuran Syekh Ibnu Athaillah untuk berbuat maksiat. Kita tetap harus berupaya untuk menaati perintah Allah dan mengejar ibadah sunah. Penekanannya terletak pada sejauhmana manusia menjaga husnul adab di hadapan-Nya dengan sifat kerendahan diri dan kefakiran. Dengan kata lain, ibadah tidak hanya mengandung formalitas, tetapi juga perlu dipertimbangan substansinya. Penulis Al-Hikam ini mengingatkan bahaya ujub yang kemudian memandang orang lain tidak lebih taat, tidak lebih suci, dan tidak lebih baik dibanding orang yang menaati perintah Allah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah