Sabtu, 16 September 2017

Nongkrong Budaya, Kelompok Pemuda Baca Kidung Puisi

Semarang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kelompok pemuda yang tergabung dari Kaligawe Online, Sciena Madani, Lembaga Kajian Mahasiswa (LKM) dan Kelompok Sastra dan Budaya Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, mengelar Nongkrong Kebudayaan. Kegiatan bertajuk, “kidung diserat, Puisi dibaca” ini berlangsung di halaman kampus Unissula, Semarang, Jumat (14/11).

Menurut pimpinan Kaligawe Online Dimas BP, Nonkrong Kaligawe merupakan program tahunan yang bertujuan memperkenalkan kota Semarang dan membaur kepada masyarakat.

Nongkrong Budaya, Kelompok Pemuda Baca Kidung Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Nongkrong Budaya, Kelompok Pemuda Baca Kidung Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Nongkrong Budaya, Kelompok Pemuda Baca Kidung Puisi

Selain itu, kegiatan nongkrong budaya dimaksudkan untuk memberikan wawasan kebudayaan Nusantara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Lukni Maulana dari Sciena Madani, dunia kebudayaan khususnya sastra puisi seakan mengalami kegelapan sehingga perlu dikemas untuk diperkenalkan baik kepada masyarakat maupun kampus.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nongkrong Budaya yang dikemas dengan pembacaan puisi ini dihadiri puluhan penyair, Artvelo Sugiarto (Demak), Fransiska Ambar Kristiyani (Semarang), Lukas Jono (Salatiga), Arafat Ahc (Demak), Ahmad Fauzi (Semarang) dan dimeriakan nyanyian puisi dari Sahabat Tenggang Semarang, Ruli (Sastra Undip Semarang), Puji (LKM – SA), Kang Memed (Pegiat Teater Semarang) dan Musikalisasi KSB–eSA.

“Kegiatan nongkrong budaya yang dikemas ngaji sastra rencananya akan diadakan rutin setiap bulan,” tambah Lukni. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

MWCNU Jatiyoso Galang Bantuan untuk Korban Longsor di Karanganyar

Karanganyar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Setelah longsor susulan di Dusun Pengkok, Desa Beruk, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jumat, (12/2), satu ekor sapi, empat ekor kambing mati tertimpa longsoran dan dua dusun terisolasi. Salah satu rumah milik warga juga tertimbun tanah. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Musibah ini menarik perhatian pengurus NU Jatiyoso untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial.

Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Jatiyoso Taryanto mengungkapkan, sebelumnya longsor sudah mendera warga Dusun Pengkok pada Kamis, (11/2).

MWCNU Jatiyoso Galang Bantuan untuk Korban Longsor di Karanganyar (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Jatiyoso Galang Bantuan untuk Korban Longsor di Karanganyar (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Jatiyoso Galang Bantuan untuk Korban Longsor di Karanganyar

“Namun, longsor kali ini sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan longsor sebelumnya,” kata Kang Thar sapaan akrab Taryanto kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di Gedung PCNU Karanganyar, Sabtu (13/2).

Setelah melakukan koordinasi pengurus di Sekretarisat PRNU Desa Petung, MWCNU Jatiyoso akan mengirimkan bantuan kepada para korban bencana tanah longsor di desa Beruk.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kami langsung melakukan rapat koordinasi dengan seluruh pengurus MWCNU dan ranting NU guna membahas bantuan untuk korban bencana longsor yang rencananya akan menyumbangkan bantuan berupa sembako dan uang,” terangnya.

Barang-barang yang dihimpun MWCNU Jatiyoso berasal dari para seluruh jama’ah pengajian NU dan warga NU.

"Sumbangan tersebut kami kumpulkan mulai Ahad dan kami tetap membuka kesempatan kepada para donatur untuk memberikan sumbangan," ujar Thar.

Ia berharap sumbangan itu dapat bermanfaat bagi masyarakat yang tertimpa musibah. "Selain memberikan sumbangan, kami juga mendoakan masyarakat di Desa Beruk yang tertimpa musibah agar diberikan ketabahan dan kesabaran," ujarnya. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bungkam Al Kahfi 2-0, Darul Huda Maju Final Liga Santri 2017

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah 



Pesantren Darul Huda berhasil menancapkan kaki di laga final Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 setelah melewati babak semi final yang dimainkan di Stadion Arcamanik, Bandung, Sabtu (28/10). Tim asal Ponorogo ini berhasil menundukkan perlawanan Pesantren Al Kahfi Kebumen dengan skor 2-0.

Bungkam Al Kahfi 2-0, Darul Huda Maju Final Liga Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Bungkam Al Kahfi 2-0, Darul Huda Maju Final Liga Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Bungkam Al Kahfi 2-0, Darul Huda Maju Final Liga Santri 2017

Sejak menit awal, Darul Huda sudah menekan pertahanan Al Kahfi, beberapa tendangan ada mengarah ke gawang, sayangnya kiper Al Kahfi Arif Purwanto masih sigap menghalau sepakan pemain-pemain Darul Huda.

Petaka buat Al Kahfi datang di menit 26 saat penyerang Darul Huda Wiranto menggiring bola dengan dihadang 3 bek Al Kahfi. Niat mereka ingin menghadang tapi ternyata Penyerang Darul Huda Wiranto harus dijatuhkan di kotak penalti. Menjadi eksekutor sendiri di titik putih, Wiranto sukses menggetarkan jala Al Kahfi. Ini sekaligus gol kelimanya selama kompetisi LSN 2017.

Setelah unggul 1 gol, Darul Huda malah semakin mengepung pertahanan Al Kahfi. Keunggulan bertambah di menit injury time, umpan lambung bek Dafa Kurnia dari sisi kanan sukses disundul oleh gelandang Endra. Lewat sundulan yang memantul ke tanah, bola tak mampu dihadang oleh kiper Al Kahfi.

Di menit-menit akhir babak kedua Al Kahfi menciptakan peluang emas melalui tendangan ke gawang Sahrul, namun sepakannya masih bisa diamankan oleh kiper Darul Huda Humaidi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hingga pluit panjang dibunyikan, keunggulan 2-0 Darul Huda tak mampu dibalas oleh Al Kahfi. Dengan hasil ini, Darul Huda akan menantang Darul Hikmah Cirebon di babak final yang akan berlangsung di stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), pada pukul 19.00 WIB, Ahad (29/10).

Diwawancari selepas pertandingan, pelatih Darul Huda Agus Susanto mengungkapkan rasa senang sebab target timnya masuk ke final Liga Santri sudah tercapai. "Kunci kemenangan ini, kekompakan di dalam maupun di luar lapangan," ujar Agus dengan raut wajar gembira.

Agus akan mengintruksikan anak asuhannya untuk istirahat yang cukup demi persiapan laga final. "Untuk strategi akan kami rahasiakan sendiri. Siap juara, sesuai target dari awal," tegas Agus. (M. Zidni Nafi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tegal, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 14 September 2017

Hentikan Berbuat Zalim, Saatnya Beramal Saleh

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyerukan kepada seluruh bangsa Indonesia agar menghentikan segala perbuatan zalim dan sudah saatnya untuk beramal saleh. Menurutnya, bencana alam yang datang bertubi-tubi menimpa Indonesia merupakan akibat dari ulah manusia sendiri.

Seruan tersebut disampaikan Hasyim saat berceramah pada pengajian, istighosah dan tahlil yang digelar Pimpinan Pusat (PP) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) di halaman Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (27/12) malam. Acara tersebut merupakan peringatan dua tahun bencana alam gelombang pasang tsunami yang menerjang Aceh 2004 silam.

Hentikan Berbuat Zalim, Saatnya Beramal Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)
Hentikan Berbuat Zalim, Saatnya Beramal Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)

Hentikan Berbuat Zalim, Saatnya Beramal Saleh

Dalam kesempatan itu, Hasyim mengaku prihatin atas kondisi bangsa saat ini. Di saat bangsa Indonesia sedang dilanda berbagai musibah, menurutnya, masih saja ada orang maupun pihak-pihak tertentu yang masih berbuat zalim. “Sayangnya, bencana alam yang begitu dahsyat ini, masih saja ada yang berbuat zalim. Memanfaatkan bencana untuk kepentingan bisnis,” tandasnya.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu, sebagian besar bencana, baik bencana alam maupun bencana sosial, sebagian besar diakibatkan oleh ulah manusia sendiri. Banjir yang melanda sebagian wilayah negeri ini di penghujung tahun ini, katanya, sebagai akibat dari proses penggundulan hutan yang berlangsung terus menerus.

“Saya dapat informasi, 59 juta hektar hutan kita sudah gundul. Kalau misalkan dalam waktu 1 tahun seluruh bangsa Indonesia ini menanam pohon, maka, hasilnya masih akan kita nikmati 59 tahun lagi. Karena itu, tidak ada pilihan lagi bagi kita untuk segera menghentikan perbuatan yang merusak alam ini,” tuturnya.

Kepada ratusan warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) yang mengikuti pengajian tersebut, mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur itu mengungkapkan, ada beberapa jenis bencana. Di antaranya, bencana yang memang merupakan murni kehendak Allah SWT dan ada pula bencana alam yang diakibatkan manusia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Semua bencana itu, imbuhnya, terutama yang merupakan kehendak Yang Maha Kuasa, tak mungkin lagi dihindari oleh manusia. “Ini penting, karena saat ini sudah tidak ada lagi yang mampu menghentikan bencana itu. Sekali lagi, pilihannya cuma menghentikan berbuat zalim dan segera memerbaiki kelakuan kita atau terus seperti ini dan bencana akan terus menyusul lagi,” imbaunya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah PonPes, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sikapi PLTN Muria, NU Tunggu Taushiyah

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jika sikap DPRD soal pro-kontra rencana pembangunan PLTN Muria kemungkinan akan ditentukan pada pertengahan September, Nahdlatul Ulama (NU) tampaknya akan lebih cepat. Diperkirakan awal September sudah ada taushiyah dari Pengurus Cabang NU setempat untuk merespon dinamika masyarakat terkait pro-kontra PLTN yang rencananya dibangun di Desa Balong, Kecamatan Kembang.



Sikapi PLTN Muria, NU Tunggu Taushiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sikapi PLTN Muria, NU Tunggu Taushiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sikapi PLTN Muria, NU Tunggu Taushiyah

Ketua PCNU Jepara H Nuruddin Amin mengemukakan, pada 1 September mendatang, NU akan menggelar bahtsul masail (pembahasan masalah) tingkat cabang yang khusus membahas soal rencana megaproyek tersebut. Kegiatan itu akan dan mengkaji suara masyarakat sekaligus menggali dalil-dalil dari perspektif fikih.

“Insyaallah, bahtsul masail itu nantinya akan dihadiri para kiai dan kami berharap ada taushiyah dari sisi fikih tentang rencana pembangunan PLTN,” ungkap Nuruddin Amin, Rabu (8/8) kemarin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam rangkaian itu, PCNU akan mengundang pihak-pihak yang berkompeten untuk menjadi narasumber. Menristek Kusmayanto Kadiman serta Kepala Batan Hudi Hastowo masuk dalam rencana sebagai calon. Sebelumnya, Ketua DPRD Masnukhin menyatakan sikap lembaganya akan dibahas dalam pandangan akhir fraksi pada 13 September mendatang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dia menyatakan hal itu saat menerima perwakilan masyarakat yang menolak PLTN Muria, Selasa (7/8), bersamaan dengan kedatangan puluhan masyarakat pemilik lahan di kawasan pantai dari Desa Ujungwatu, Kecamatan Keling yang menyatakan bisa menerima PLTN. Namun sikap yang pro-PLTN itu, Rabu (8/8) mendapat respons dari Sali Siswoyo, tokoh masyarakat desa setempat.

“Mereka datang atas nama pribadi. Secara resmi, masyarakat desa kami belum menentukan sikap. Yang kami cermati, banyak sekali yang menolak dan ada juga yang masih diam. Namun sikap resmi desa akan segera dibahas di tingkat desa dalam waktu dekat,” ucapnya.

Setelah Pemuda Pancasila (PP) Cabang Jepara, suara kelompok yang menerima PLTN Muria kembali muncul. Itu disampaikan Jamaah Thoriqah Attijani yang sekretariatnya di Desa Kedungcino, Kecamatan Jepara.

Melalui koordinatornya Moh Farazi, jamaah tersebut menyatakan bisa menerima PLTN untuk mengatasi defisit energi listrik. Sebab, dianggap sebagai teknologi temuan yang bisa dikelola dengan baik jika sesuai dengan prosedur dan peruntukannya. Jamaah tersebut telah merilis sikapnya dan disampaikan ke Bupati Jepara Hendro Martojo serta pimpinan DPRD. (gpa/man)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kenapa “Interfaith Dialogue” Kurang Berpangaruh?

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Interfaith dialoque atau dialog antaragama kini sangat sering dilakukan di mana-mana, dari level lokal sampai dengan level internasional. Tetapi persoalannya, dengan intensitas yang begitu tinggi, kenapa kurang berpengaruh terhadap perdamaian dunia?

Kenapa “Interfaith Dialogue” Kurang Berpangaruh? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa “Interfaith Dialogue” Kurang Berpangaruh? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa “Interfaith Dialogue” Kurang Berpangaruh?

?

Wakil Ketua Umum PBNU H Maksum Machfoedz menjelaskan, selama ini dialog antaragama dilakukan untuk menjelaskan karakter masing-masing agama, termasuk upaya untuk menghilangkan islamophobia. Sekalipun dialog antaragama sudah dilakukan di mana-mana islamophobia tidak pernah sembuh.?

“Ini karena kita (umat Islam) sering membuat satu kecelakaan-kecelakaan dengan adanya tindak radikalisme yang sebetulnya tidak perlu,” tuturnya.?

Ia berkesimpulan, sebelum melangkah dalam melakukan dialog antaragama, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah dialog antar pemeluk Islam.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kami menyadari bahwa ada persoalan yang harus diselesaikan sebelum interfaith dialogue. Kami membahasakannya intrafaith atau dialog antara sesama pemeluk Islam,” katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

?

Dari latar belakang itulah, PBNU akan menggelar International Summit of Moderat Islamic Leaders (Isomil) yang akan diselenggarakan di Jakarta pada 9-11 Mei 2016.

?

Maksum Machfoedz yang juga guru besar UGM ini juga menyatakan, dalam pembukaan UUD 1945, disebutkan bahwa bangsa Indonesia akan turut serta mencapai perdamaian dunia. “Nah, Kalau persoalan intrafaith tidak selesai, ikut menyelesaikana persoalan dunia dari mana kalau negara yang mayoritas Islam itu tidak bisa menyelesaikan persoalan dalam umat Islam,” katanya disela-sela kesibukannya mempersiapkan penyelenggaraan konferensi internasional ini.

Dalam forum tersebut, akan diperkenalkan tentang Islam ahlusunnah wal jamaah an Nahdliyah atau sekarang ini akrab disebut dengan nama Islam Nusantara.

?

“Islam ala NU bisa menjadi perekat pergaulan umat untuk membangun peradaban dunia. Untuk menjadi inspirasi terciptanya tata pergaulan dunia baru,” tegasnya.?

Maksum menjelaskan, sebelumnya pemerintah sudah menyelenggarakan konferensi internasional yang digelar atas nama Organisasi Konferensi Islam (OKI). Bedanya, konferensi oleh OKI sifatnya government to government (G to G) sedangkan Isomil sifatnya people to people (P to P).?

“Ini pertemuan antara ulama moderat atau yang agak moderat. Ini pertemuan antar kia,” paparnya.?

Ia menjelaskan, sebelumnya, PBNU sudah pernah menyelenggarakan konferensi yang hampir sama. Dalam kesempatan tersebut diundang para ulama dari Afganistan yang dalam banyak hal memiliki kesamaan, tetapi bermusuhan. Mereka dipertemukan dalam serangkaian acara sebagai upaya agar lebih saling mengenal satu sama lain. ?

“Terakhir, saya menemani rombongan Afganistan di UGM. Mereka belajar Pancasila. Pulang, mereka punya NU di Afganistan. Mereka mengakui Pancasila, toleransi, pentingnya nasionalisme dan sebagainya,” katanya.?

Dengan pengalaman seperti itu, kalau orang Afganistan saja bisa, yang lain insyaallah juga bisa. “Antar masyarakat Islam ini harus membangun upaya berfikir bersama, memahami bersama, maka bisa tasamuh, sudah bisa toleran.”?

Meskipun acaranya bersifat people to people, tapi yang membuka adalah Presiden RI sedangkan yang menutup acara oleh Wakil Presiden RI. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Wahab Hasbullah, Pahlawan Tanpa Gelar

KIAI HAJI WAHAB HASBULLAH adalah seorang tokoh pergerakan dari pesantren. Ia dilahirkan di Tambakberas-Jombang, tahun 1888. Sebagai seorang santri yang berjiwa aktivis, ia tidak bisa berhenti beraktivitas, apalagi melihat rakyat Indonesia yang terjajah, hidup dalam kesengsaraan, lahir dan batin.

Sepulang dari Mekkah 1914, Wahab, tidak hanya mengasuh pesantrennya di Tambakberas, tetapi juga aktif dalam pergerakan nasional. Ia tidak tega melihat kondisi bangsanya yang mengalami kemerosotan hidup yang mendalam, kurang memperoleh pendidikan, mengalami kemiskinan serta keterbelakanagan yang diakibatkan oleh penindasan dan pengisapan penjajah.?

Kiai Wahab Hasbullah, Pahlawan Tanpa Gelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Wahab Hasbullah, Pahlawan Tanpa Gelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Wahab Hasbullah, Pahlawan Tanpa Gelar

Melihat kondisi itu, pada tahun 1916 ia mendirikan organisasi pergerakan yang dinamai Nahdlatul Wathon (kebangkita negeri), tujuannya untuk membangkitkan kesadaran rakyat Indonesia.

Untuk memperkuat gerakannya itu, tahun 1918 Wahab mendirikan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan saudagar) sebagai pusat penggalangan dana bagi perjuangan pengembangan Islam dan kemerdekaan Indonesia. Kiai Hasyim Asy’ari memimpin organisiasi ini. Sementara Kiai Wahab menjadi Sekretaris dan bendaharanya. Salah seorang anggotanya adalah Kiai Bisri Syansuri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mencermati perkembangan dunia yang semakin kompleks, maka pada tahun 1919, Kiai Wahab mendirikan Taswirul Afkar. Di tengah gencarnya usaha melawan penjajahan itu muncul persoalan baru di dunia Islam, yaitu terjadinya ekspansi gerakan Wahabi dari Najed, Arab Pedalaman yang menguasai Hijaz tempat suci Mekah dikuasai tahun 1924 dan menaklukkan Madinah 1925.?

Persoalan menjadi genting ketika aliran baru itu hanya memberlakukan satu aliran, yakni Wahabi yang puritan dan ekslusif. Sementara madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali yang selama ini hidup berdampingan di Tanah suci itu, tidak diperkenankan lagi diajarkan dan diamalkan di tanah Suci. Anehnya, kelompok modernis Indonesia setuju dengan paham Wahabi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lantas, Kiai Wahab membuat kepanitiaan beranggotakan para ulama pesantren, dengan nama Komite Hejaz. Komite ini bertujuan untuk mencegah cara beragama model Wahabi yang tidak toleran dan keras kepala, yang dipimpin langsung Raja Abdul Aziz. ?

Untuk mengirimkan delegasi ini diperlukan organisasi yang kuat dan besar, maka dibentuklah organisai yanag diberinama Nahdlatul Ulama, 31 Januari 1926. KH Wahab Hasbullah bersama Syekh Ghonaim al-Misri yang diutus mewakili NU untuk menemui Raja Abdul Aziz Ibnu Saud.

Usaha ini direspon baik oleh raja Abdul Aziz. Beberapa hal penting hasil dari Komite Hejaz ini di antaranya adalah, makam Nabi Muhammad dan situs-itus sejarah Islam tidak jadi dibongkar serta dibolehkannya praktik madzhab yang beragam, walaupun belum boleh mengajar dan memimpin di Haramain.

KIAI WAHAB HASBULLAH? dengan segala aktivitasnya adalah untuk menegakkan ajaran ahlussunnah wal jamaah yang sudah dirintis oleh walisongo dan para ulama sesudahnya.?

Ia tidak hanya penerus, tetapi memiliki pertalian darah dengan para penyebar Islam di Tanah Jawa itu. Bahkan Kiai Wahab juga mengidentifikasi diri sebagai penerus perjuangan pangeran diponegoro. Karena itu ia selalu memakai sorban yang ia sebut sendiri sebagai sorban Diponegoro.?

Dengan sorban itu, ia makin percaya diri. Dalam upacara keagamaan sampai dengan acara kenegaraan, Kiai Wahab selalu melingkarkan sorban tersebut, hingga pundaknya tertutup. Demikian juga dengan sarung, tidak pernah diganti dengan pantolan.?

Ia telah melampaui segala protokoler kenegaraan yang ada, karena telah memiliki disiplin dan karakter keulamaan sendiri. Selain itu, ia memang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sehingga tidak takut menghadapi musuh sesakti apapun.

Kemenonjolan peran Wahab Hasbullah ini berkat kematangannya dalam menempa dirinya sebagai seorang ulama pergerakan. Sifat keulamaannya digembleng di pesaanatren Langitan ? Tuban, Pesantren Tawangsari Surabaya.

Kemudian ia melanjutkan lagi ke Pesantren Bangkalan Madura. Di pesantren asuhan Syaikh Kholil inilah, ia bertemua dengan Kiai Bisri Syansuri, ulama dari Pati yang kelak menjadi sahabat seperjuangannya, juga iparnya. Pertemanannya Kiai Wahab dengan Kiai Bisri ini memiliki pengaruh terhadap perkembangan NU. Selanjutnya, Kiai Wahab ke Pesantren ? Mojosari Nganjuk dan menyempatkan diri nyantri di Tebuireng Jombang.?

Setelah merasa cukup bekal dari para ulama di Jawa dan Madura, ia belajar ke Mekkah untuk belajar pada ulama terkemuka dari dunia Islam, termasuk para ulama Jawa yang ada di sana seperti Syekh Machfudz Termas dan Syekh Ahmad Khotib dari tanah Minang. Selain, belajar agama saat di Mekkah itu, ia juga mempelajari perkembangan politik nasional dan internasional bersama aktivis dari seluruh dunia.

Selama masa pembentukan NU, Kiai Wahab selalu tampil di depan. Di manapun muktamar NU diselenggarakan sejak yang pertama kalinya yaitu di Surabaya, kemudian hingga ke Bandung, Menes Banten, Banjarmasin, kemudian Palembang hingga Medan, ia selalu hadir dan memimpin. Sehingga pengalamannya tentang organiasi ini cukup mendalam. Karena itu, Kiai Wahab selalu cermat dan tegas dalam mengambil keputusan.?

Dalam menghadapi berbagai kesulitan, terutama dalam hubungannya dengan pemerintah kolonial, ia selalu mampu mengatasinya. Misalanya, ia harus berhadap dengan para residen gubernur atau menteri urusan pribumi. Kemampuan lobi dan diplomasi membuat semua urusan bisa lancar, sehingga NU mampu mengatasi berbagai macam jebakan dan hambatan kolonial.

Dan, Kiai Wahab juga memiliki keistimewaan, yang tidak banyak ada pada orang lain, yakni kemampuan melempar humor, khususnya jenis plesetan, sebagai alat diplomasi.

Suatu hari, ketika Nusantara masih dalam cengkraman Belanda, Kiai Wahab berpidato di hadapan kiai-kiai dan ratusan santri.

“Wahai Saudara-saudaraku kaum pesantren, baik yang sudah sepuh, yang disebut Kiai, ataupun yang masih muda-muda, yang dikenal dengan sebutan Santri. Jangan sekali-sekali terbersit, apalagi bercita-cita sebagai Ambtenaar (pegawai Belanda)!” Begitu suara Kiai Wahab berapi-api.

“Mengapa kiai dan santri tidak boleh jadi Ambtenaar?

Jawabannya tiada lain tiada bukan, karena Ambtenaar itu singkatan dari Antum fin Nar. Tidak usah berhujah susah-susah tentang Ambtenaar, artinya ya tadi, ‘kalian di neraka’ tititk,” jelas Kiai Wahab. Para kiai dan santri yang hadir tertawa dan tepuk tangan.?

Lain waktu, semasa penjajahan Jepang, Kiai Wahab menghadapi para kiai yang belum paham cara berpolitik dengan Jepang. Para kiai itu tidak bersedia menjadi anggota Jawa Hokokai, semacam perhimpunan rakyat Jawa untuk mendukung Jepang.

“Para Kiai tidak susah-susah mencari dalil menjadi anggota Jawa Hokokai. Masuk saja dulu. Tenang saja, di dalam badan tersebut ada Bung Karno. Beliau tidak mungkin mencelakakan bangsa sendiri,” Kiai Wahab mulai merayu para kyai.

“Tapi Kiai, apa artinya Jawa Hokokai itu?” Tanya seorang kyai.

“Lho, Sampean belum tahu ya, Jawa Hokokai itu artinya Jawa Haqqu Kiai,” jelas Kiai Wahab singkat.

“Ooo... Jadi Jawa Hokokai itu artinya Jawa milik para kiai. Ya sudah, mari, jangan ragu masuk Jawa Hokokai,” ujar kiai tadi merespon.?

NAMUN DEMIKIAN, salahlah kita jika hanya menilai Kiai Wahab sebagai kiai politisi saja. Salah, karena ia sesungguhnya adalah ? seorang ulama tauhid dan juga fiqih yag sangat mendalam dan luas pengetahuannya. Dengan ilmunya itu, itu dengan mudah mampu menerapkan prinsip-prinsip fiqih dalam kehidupan modern secara progresif, termasuk dalam bidang fiqih siyasah.?

Kitab yang ditulisnya Sendi Aqoid dan Fikih Ahlussunnah Wal Jamaah, menunjukkan kedalaman penguasanya di bidang ilmu dasar tersebut. Ini yang kemudian menjadi dasar bagi perjalanan Ahlusunnah wal jamaah di lingkungan NU.

Dalam tiap bahtsul masail muktamr NU, ia selalu memberikan pandangannya yang mamapu menerobos berbagai macam jalan buntu (mauquf) yang dihadapi ulama lain.

Kiai Wahab sadar betul mengenai pentingnya pendidikan masyarakat umum. Karena itu dirintis beberapa majalah dan surat kabar seperti Berita Nahdlatoel Oelama, Oetoesan Nahdlatoel Oelama, Soeara Nahdlatoel Oelama,? Duta Masyarakat, dan sebagainya.

Ia sendiri aktif salah seorang penyandang dananya dan sekaligus sebagai penulisnya. Propaganda di sini juga sangat diperlukan dan media ini sangat strategis dalam mepropagandakan gerakan NU dan pesantren ke publik. Gagasan itu semakin memperoleh relevansinya ketika KH Machfudz Siddiq dan KH Wahd Hasyim turut aktif dalam menggerakkan pengembangan media massa itu.

Demikian juga dalam menghadapi zaman Jepang yang sulit, terutama ketika penjajah itu itu pada tahun 1942 menangkapi para tokoh NU, maka Kiai Wahab dengan segala pikiran dan tenaganya menghadapi penjajah Jepang. Ia gigih menjadi tim pembebasan, mulai dari membebaskan KH Hasyim Asyari, KH Mahfud Shiddiq, juga ulama NU lainnya baik di Jawa Timur hingga ke Jawa Tengah tanpa kenal lelah.?

Masa menjelang kemerdekaan dan dalam mempertahankan kemerdekaan aktif di medan tempur dengan memimpin organaisasi Barisan Kiai, organisasai yang secara diam-diam menopang Hisbullah dan Sabilillah.?

Sepeninggal KH Hasyim Asy’ari (Ramadan, 1947), kepepimpinan NU Sepenuhnya berada di pundak Kiai Wahab.

Dalam menghadapi perjanjian dengan Belanda, baik perjanjian Renville, Linggarjati maupun KMB, yang penuh ketidakadilan itu, Kiai Wahab memimpin di depan melawan perjanjian itu. Akhirnya semua perjanjian yang tidak adil itu dibatalkana secara sepihak oleh Indonesia.?

Masa paling menentukan adalah ketika NU mulai dicurangi oleh dalam Masyumi dengan tidak diberi kewenangan apapun. Usaha perbaikan oleh Kiai Wahab tidak pernah digubris oleh dewan partai, padahal NU sebagai anggota Istimewa.?

Selain itu hanya diberi jatah menteri Agama, itu pun kemudian dirampasnya juga. Apalagi Masyumi mulai melakukan tindakan subversif sepert memberi simpati pada Darul Islam (DI) dan bahkan melakukan perjanjian gelap dengan Mutuasl Security Act (MSA) yang menyeret Indoonesia ke Blok Barat Amerika. NU merasa semakin tidak kerasan di Masyumi.

Ketika Kiai Wahab hendak mendirikan partai sendiri, tidak semua kalangan NU menyetujuinya, apalagi kalangan Masyumi menuduh NU berupaya memecah-belah persatuan umat Islam. NU juga diledek bahwa tidak memiliki banyak ahli politik, ekonomi, ahli hukum dan sebagainya.?

Atas semua itu, dengan enteng Kiai Wahab menjawab:

“Kalau saya mau beli mobil, si penjual tidak akan bertanya apakah saudara bisa menyupir. Kalau dia bertanya juga, saya akan membuat pengumuman butuh seorang supir. Saat itu juga, para calon supir akan segera mengantri di depan rumah saya.”?

Ketika kalangan ulama NU yang lain masih ragu, dengan tegas Kiai Wahab mengatakan, ”Silakan Sudara tetap di Masyumi, saya akan sendirian mendirikan Partai NU dan hanya butuh seorang sekretaris. Insya Allah NU akan menjadi partai besar.

Melihat kesungguhan itu akhirnya, semua kiai, termasuk Kiai Abdul Wahid Hasyim ? sangat terharu, sehingga diputuskan untuk menjadi partai ? sendiri.?

Dalam Pemilu 1955, perkiraan Kiai Wahab terbukti, NU menjadi partai terbesar ketiga. Dari situ NU mendapat 45 kursi di DPR dan 91 kursi di Konstituante serta memperoleh delapan kementerian. Berkat kepemimpina Kiai Wahab itu, NU menjadi partai politik yang sangat berpengaruh.

Dalam mempimpin keseluruhan drama pilitik nasional, bagi NU, Kiai Wahab adalah pengambil keputusan yang sangat menentukan. Sebab itu, perintahnya sangat dipatuhi sejak dari pengurus pusat hingga ke daerah. Bukan Karena otoriter. Tapi karena memang sangat menguasi kewilayahan dan menguasasi strategi gerakan. Karena itu pula, para kiai kiai sering kali menyebut tokoh kita ini “panglima tinggi”.?

Tiap hari, Kiai Wahab keliling daerah, bermusyawarah, menyerap dan memberi informasi, mengarahkan hingga menyemangati para ulama dari Jawa hingga Sumatera, dari Madura hingga Kalimantan. Semuanya diongkosi dengan uang sendiri.?

Bila ada di Jombang, tepatnya di Tambakberas, Kiai Wahab tidak pernah absen mengajar di pesantrennya, memberikan pengajian dari kampung ke kampung, dan memberikan brifing politik ada para santri senior, para pengurus NU setempat, hingga memberikan arahan pada pamong desa setempat. Kedekatan dengan rakyat itu yang mendorong militansi Kiai Wahab dalam menyuarakan aspirasi rakyat. ?

Banyak yang meriwayatkan pula bahwa Kiai Wahab juga mempunyai kecenderungan hidup zuhud. Dari sekian banyak pesantren yang dikunjungi, tampaknya pengaruh Kiai Zainuddin Mojosari cukup kentara.

Pesantren Mojosari terdapat di pedalaman Nganjuk Jawa Timur. Kiai Zainuddin, pengasuh pesantren tersebut, masyhur sebagai sufi agung di tanah Jawa saat itu. Tradisi sufistik juga membuat pesantren ini menjadi sangat terbuka. Satu contoh, tiap akhir tahun para santri dibiarkan menyelenggarakan pentas seni, ludruk. Para santri main sendiri.

Untuk itu, beberapa bulan sebelum acara, para santri dengan rombongan masing-masing ada yang belajar ludruk ke Jombang, belajar Jatilan ke Tulungagung, belajar Ketoprak ke Madiun dan belajar wayang ke Solo dan sebagainya. ? ?

Wahab muda adalah salah satu di antara mereka itu. Pendidikan keagamaan yang di berikan juga sangat terbuka. Para santri dipersilakan memakai madzhab pemikiran yang disukai, juga diajarkan memecahkan berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan secara lebih luwes dan toleran.?

Sikap keagamaan Kiai Wahab akhirnya juga tumbuh dengan terbuka. Ia lebih maju dibanding para ulama yang lain, terutama dalam menerapkan fiqih, tampak lebih mengutamakan dalil rasional, ketimbang doktrinal.?

Hal itu memungkinkan masa kepemimpinan Kiai Wahab dalam tubuh NU membuka wawasan yang luas bagi pengembangan pemikiran, kelembagaan dan ktangkasan dalam berpolitik. Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan karib dan iparnya yang sekaligus menjadi wakilnya (Wakil Rais Am), yaitu KH Bisri Syansuri. Kiai Bisri adalah seorang faqih murni yang ketat dan disiplin, sehingga apapun yang berseberangan dengan prinsip yang dipegangi harus disingkirkan.?

Kalau Kiai Wahab cenderung berpikiran inovasi dan kreasi, sementara Kiai Bisri berpegangan pada fiqih. Dengan latar belakang semacam itu tidak heran kalau Kiai Wahab Hasbullah denngan senang hati menerima kehadiran Lesbumi 1962, apalagi sebelumnya Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari menyetujui penggunaan alat-alat musik dalam acara-acara NU. Meski demikian, perbedaan tersebut tidak mengurangi rasa tenggang rasa dan keduanya tetap saling menghormati.

Karena kharisma dan kepemimpinannya yang belum tergantikan, muktamar NU 20-25 Desember 1971 di Surabaya, Kiai Wahab terpilih lagi sebagai Rais Aam, meski telah udzur. Namun, persis empat hari setelah muktamar, Allah memanggil Kiai Wahab, tepatnya tanggal 29 Desember 1971.?

Kewibawaan Kiai Wahab di hadapan pengurus NU yang lain dan pengabdiannya yang total itu menyebabkan KH Saifudin Zuhri menjulukinya sebagai “NU dalam praktek”. Seluruh sikap dan tindakannya termasuk yang kontroversial sekalipun adalah mencerminkan perilaku NU yang tidak dianggap sebagai penyimpangan. Karena seluruh sikap dan tindakannya dilandasi iman, takwa, ilmu, akhlak serta pengabdian yang tulus.

Demikianlah, selintas pengabdian seorang Kiai Haji Wahab Hasubullah, pahlwan tanpa gelar kepahlawanan. (Abd. Munim DZ)

?

Sumber:

- Majalah Oetoesan Nahdlatoel Oelama, No. 1 Tahun 1.

- Saifuddin Zuhri, Biografi KH. Wahab Hasbullah, Jombang, 1981

- Aboebakar Aceh, Sejarah Hidup KH Wahid Hasyimdan Karangan Tersiar, Diterbitkan Panitia Peringatan KH ? ? Wahid Hasyim, Jakarta, 1957.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah