Kamis, 27 April 2017

Sebelum Pulang, Peserta Karnaval Keliling Kampung

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Hari ini adalah terakhir penyelengaraan Perwimanas. Sebelum pulang ke daerah masing-masing, peserta berpamitan dengan menggelar karnaval.

“Ini adalah diantara bentuk rasa terimakasih kami kepada masyarakat sekitar yang telah turut membantu mensukseskan acara kemah pertama tingkat nasional di lingkungan NU ini,” kata Ali Mustofa kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah (29/6).

Sebelum Pulang, Peserta Karnaval Keliling Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Pulang, Peserta Karnaval Keliling Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Pulang, Peserta Karnaval Keliling Kampung

Ketua Panitia tingkat wilayah Jawa Timur ini menandaskan bahwa ada sekitar 40 kontingan yang turut dalam kegiatan ini. “Mereka berjalan mengelilingi kampung Kalibening sejauh empat kilo meter,” kata dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sejak jam 14.00 WIB, seluruh peserta karnaval berangkat dari bumi perkemahan PP Babussalam dengan pakaian dan penampilan khas mereka.?

“Ini sekaligus acara pamitan kami kepada masyarakat,” kata Ali Mustofa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ali Mustofa menandaskan bahwa peran masyarakat dusun Kalibening sangat fital dalam kegiatan ini. “Banyak peserta yang harus memanfaatkan rumah penduduk untuk sejumlah kebutuhan,” katanya.

Demikian juga tidak jarang, peserta juga meminta bantuan penduduk seperti kebutuhan lauk pauk dan sejenisnya. “Yang jelas kami sangat terbantu dengan penduduk di sini,” sergahnya.

Belum lagi kondusifnya keamanan selama Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif NU Nasional (Perwimanas) berlangsung yakni dari tanggal 24-29/6. Terbukti tidak adanya kejadian kehilangan, kekerasan atau tindakan kriminalitas lainnya.

Ia juga mengatakan bahwa kegiatan karnaval sebagai bentuk rasa terimakasih kepada sejumlah penduduk Kalibening yang dengan sangat terbuka turut mensukseskan kegiatan Perwimanas.?

"Tanpa peran penduduk, mustahil acara akan berjalan lancar," pungkasnya.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

OKI Sahkan 23 Butir Deklarasi Jakarta Sebagai Langkah Konkret

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengesahkan 23 butir dalam Deklarasi Jakarta sebagai langkah konkret dari Resolusi Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTT-LB) OKI ke-5 tentang Palestina dan Al Quds Al Sharif.

OKI Sahkan 23 Butir Deklarasi Jakarta Sebagai Langkah Konkret (Sumber Gambar : Nu Online)
OKI Sahkan 23 Butir Deklarasi Jakarta Sebagai Langkah Konkret (Sumber Gambar : Nu Online)

OKI Sahkan 23 Butir Deklarasi Jakarta Sebagai Langkah Konkret

Sekretaris Jenderal OKI Iyad Ameen Madani menyampaikan kepuasannnya terhadap hasil yang dicapai dalam KTT-LB OKI di Jakarta Convention Center (JCC), Senin.

"OKI gembira bahwa Indonesia telah bersedia menjadi tuan rumah pertemuan yang menghasilkan langkah konkret bagi masalah Al Quds dan Palestina," kata Madani dalam pernyataan pers bersama dengan Presiden Joko Widodo dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Ruang Cenderawasih, JCC.

Pada bagian pertama dari Deklarasi Jakarta, OKI sepakat untuk mendukung usaha Arab Saudi dan Jordania untuk mempertahankan dan menjaga situs suci Masjid Al Aqsha.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Deklarasi Jakarta juga mengutuk dan menekan Israel untuk menghentikan pendudukan atau okupasi terhadap Yerusalem dan Palestina, serta pembangunan pemukiman ilegal di wilayah Palestina dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

Langkah-langkah tersebut disebutkan dalam butir pembentukan "Al Quds and Al Aqsha Funds" (dana Al Quds dan Al Aqsha) untuk membantu rehabilitasi Yerusalem berdasarkan kebutuhan rakyat Palestina.

Dana tersebut akan dihimpun dari sumbangan anggota negara-negara OKI, masyarakat umum dan sektor swasta, sekaligus memanggil semua warga Muslim untuk berpartisipasi dalam program tersebut.

Langkah konkret dalam Deklarasi Jakarta juga menyebut aksi boikot semua negara anggota OKI dan masyarakat internasional terhadap produk yang dihasilkan di Israel dan atau oleh Israel.

Poin-poin terakhir berisikan langkah OKI untuk mencapai solusi dua negara dengan mempromosikan dialog lintasagama, mengangkat isu Palestina pada radar internasional dan mendukung rekonsiliasi Palestina.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KTT-LB OKI dihadiri 605 anggota delegasi dari 55 negara, termasuk 49 negara anggota OKI, dua negara peninjau, lima anggota permanen Dewan Keamanan PBB, dua negara kuartet, dan dua organisasi internasional (PBB dan Uni Eropa). (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Hikmah, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 25 April 2017

Anjuran Menikah di Bulan Syawal

Bila ada sebagian orang yang menghindari bulan-bulan tertentu untuk menikah karena menilainya sebagai bulan sial, maka sejatinya fenomena yang sama juga pernah terjadi pada zaman jahiliyah. Orang-orang jahiliyah meyakini bahwa bulan Syawal adalah pantangan untuk menikah.

Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam menampik keyakinan tersebut. Sebagai bentuk penolakan beliau justru menikahi Sayyidah ‘Aisyah pada bulan Syawal.

Anjuran Menikah di Bulan Syawal (Sumber Gambar : Nu Online)
Anjuran Menikah di Bulan Syawal (Sumber Gambar : Nu Online)

Anjuran Menikah di Bulan Syawal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sayyidah ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menikahiku pada bulan Syawal dan mengadakan malam pertama pada bulan Syawal. Istri Rasulullah mana yang lebih bentuntung ketimbang diriku di sisi beliau?” (HR Muslim)

Abu Zakariya Yahya bin Syaraf atau lebih dikenal Imam Nawawi dalam al-Minhaj fi Syarhi Shahih Muslim menjelaskan, Sayyidah Aisyah mengatakan itu untuk menepis keyakinan yang berkembang di masyarakat jahiliyah dan sikap mengada-ada di kalangan awam bahwa makruh menikah, menikahkan, atau berhubungan suami-istri di bulan Syawal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kata Imam Nawawi pula:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Hadits tersebut mengandung anjuran untuk menikahkah, menikahi, dan berhubungan suami-istri pada bulan Syawal. Para ulama syafi’iyah menjadikan hadits ini sebagai dalil terkait anjuran tersebut.”

Penjelasan ini setidaknya memuat dua pesan. Pertama, anggapan bulan Syawal atau bulan lainnya sebagai bulan sial tidak mendapat legitimasi dari ajaran Islam. Kedua, para ulama, khususnya dari kalangan madzhab Syafi’i, menganggap sunnah menikah, menikahkan, atau berhubungan intim yang halal pada bulan Syawal. Wallâhu a‘lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Nahdlatul Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PMII Kota Gorontalo Kawal Warga Pone Tuntut Copot Kades

Gorontalo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Ratusan masyarakat desa Pone, Kecamatan Limboto Barat, Provinsi Gorontalo berdemonstrasi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Gorontalo. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) turut serta di tengah-tengah masyararkat Pone pada demonstrasi Rabu (29/3) itu.?

Masyarakat desa Pone menuntut agar kepala desa mereka, Halid Kau, segera dicopot dari jabatannya. Masyarakat menilai bahwa kepemimpinan Halid Kau tidak sesuai dengan peraturan Undang-Undang, serta terindikasi melakukan korupsi atas pembebasan lahan untuk pembangunan Bio Gas di dusun Lantungo.

PMII Kota Gorontalo Kawal Warga Pone Tuntut Copot Kades (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kota Gorontalo Kawal Warga Pone Tuntut Copot Kades (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kota Gorontalo Kawal Warga Pone Tuntut Copot Kades

Koordinator lapangan, Melky Bangga, mengatakan, untuk terciptanya kembali masyarakat Pone yang tentram dan dapat memperlancar pembangunan di desa, masyarakat berharap DPRD kabupaten Gorontalo mengakomodir dan memproses pengaduan itu.

“Apabila tuntutan masyarakat desa Pone tidak direspon oleh pemerintahan terkait maka situasi yang kondusif di desa Pone tidak dapat dijamin," tegas kader PMII Kota Gorontalo itu.

Dalam aksi tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Gorontalo Samid Hemu belum mengambil keputusan. Namun, ia akan mengundang perwakilan masyarakat Pone pada 30 maret 2017 untuk melakukan rapat khusus sebagai upaya pengawalan bersama terkait kasus itu. (Reza Fauzi/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 24 April 2017

PCINU Mesir Kukuhkan Kader Pemimpin NU

Kairo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir sukses menggelar Pelatihan Kader Pemimpin Nahdhatul Ulama (PKPNU) edisi perdana. Acara yang digelar sejak 12 hingga 20 Agustus 2016 ini berlangsung di sekretariat PCINU setempat, Kairo, Mesir.

PCINU Mesir Kukuhkan Kader Pemimpin NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Mesir Kukuhkan Kader Pemimpin NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Mesir Kukuhkan Kader Pemimpin NU

Acara pelatihan ini dirasa mendesak dilaksanakan di PCINU Mesir melihat kondisi secara umum. “Belakangan ini, beberapa organisasi mahasiswa di Mesir, kekeluargaan atau lembaga afiliatif seperti NU terlihat kekurangan kader militan yang benar-benar loyal serta mumpuni. Maka dari itu PCINU Mesir menggelar acara PKPNU yang ide besarnya dari Dewan Syuriyah,” kata Ahmad Muhakam Zein, Ketua PCINU Mesir.

Ia berharap akan lahir para kader yang memiliki karakter kepemimpinan sejati, tahu cara berorganisasi, dan mengerti soal manajemen kepemimpinan. Termasuk kuat secara wawasan seputar amaliah Nahdlatul Ulama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara yang? setiap harinya diselenggarakan dari pukul 10 pagi hingga pukul 7 petang waktu setempat ini dipandu oleh para instruktur dan narasumber yang terdiri dari para tokoh PCINU Mesir.

Di antara materi dalam PKPNU kali ini antara lain soal kepemimpinan, manajemen, organisasi, administrasi, materi-materi ke-NU-an, mulai dari aswaja, tantangan NU (ke depan) dalam bidang ekonomi-politik, metode dakwah di era modern, hingga demonstrasi teknik menangkis berbagai tudingan kelompok lain terhadap amaliah NU yang dianggap bidah, syirik atau menyimpang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Pelatihan ini kita buat berbeda dengan? kebanyakan pelatihan yang diselenggarakan di Kairo, bahkan Indonesia. Perbandingan ceramah dan praktiknya 50:50. Dengan begitu, setiap peserta sangat aktif dan tidak kenal lelah,” jelas Murtadlo Bisyri, Katib Syuriah PCINU Mesir yang turut hadir pada acara malam pengukuhan.

“Tugas kader NU di luar negeri adalah menuntut ilmu sedalam-dalamnya, agar dengan ilmu tersebut mereka bisa mengabdi di masyarakat, mengajarkan ilmu yang mereka tekuni di luar negeri. Namun demikian, bukan berarti mereka harus mengisolir dari kegiatan sosial, karena perkembangan kehidupan masyarakat di Indonesia saat ini sangat pesat, pola pikir dan tingkah laku bermasyarakat juga ikut berubah,” papar Rais Syuriyah PCINU Mesir KH Muhlashon Jalaluddin saat penutupan dan pengukuhan alumni PKPNU di Sekretariat PCINU Mesir, Sabtu (20/8).

Untuk itu, katanya, kader NU harus mengikuti perkembangan, dan menyiapkan diri meramu dan menerjemahkan ilmu yang digeluti di luar negeri dalam setting keindonesiaan. Jika tidak, lanjut Muhlashon, maka bukan tidak mungkin mereka akan gagap menghadapi kondisi masyarakat yang sudah lama mereka tinggalkan.

Acara pengukuhan PKPNU PCINU Mesir ke-1 dihadiri oleh jajaran pengurus syuriah, tanfidziah, koordinator lembaga, juga ketua badan otonom di lingkungan PCINU Mesir. Selepas pengukuhan, acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat dan foto bersama. (Kian Santang/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 23 April 2017

Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU

“Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah! Kalau sampai tidak makan, komplainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati, maka tagihlah ke batu nisanku!”

Wasiat di atas merupakan wasiat yang cukup populer di kalangan warga NU, wasiat tersebut merupakan pesan yang ditujukan kepada para penerus perjuangan NU agar selalu serius dan yakin dalam menjalankan roda kekhidmatan tanpa merasa takut akan ancaman kelaparan. Wasiat tersebut disampaikan oleh KH Ridlwan Abdullah, salah satu tokoh pendiri NU yang juga merupakan tokoh pelukis lambang NU.

Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU

KH Ridlwan Abdullah merupakan anak sulung dari pasangan Abdullah dan Marfuah yang terlahir dari kalangan keluarga yang kuat beragama. Beliau dilahirkan pada tanggal 7 Januari 1885 M, di kampung Carikan 1, kelurahan Alun-Alun Contong, yang sekarang masuk bagian wilayah kecamatan Bubutan di kota Surabaya. (Hlm. 16)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kecakapan melukis Kiai Ridlwan sudah tampak ketika beliau duduk pada Pendidikan Dasar di Sekolah Belanda (Hollandsch Inlandsche School), hal ini terbukti ketika pada waktu pelajaran menggambar di sekolah, sang guru dari Belanda yang sedang mengajar, menyuruh Ridlwan untuk menggambar gurunya tersebut, tetapi Ridlwan justru menggambar tubuhnya saja, sedangkan wajahnya tergambar ratu Belanda yang bernama Wilhelmina. Sang guru langsung merasa tertarik atas kelebihan yang dimiliki Ridlwan tersebut sehingga pada masa kerjanya sebagai guru habis, ia datang menemui orang tua Ridlwan bermaksud untuk mengadopsinya sekaligus dibawa ke Belanda, tetapi ayahnya tidak mengijinkannya sebab ada kekhawatiran dari pribadinya dan menginginkan agar anaknya melanjutkan pendidikan di pesantren (Hlm. 18)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam riwayat pendidikan keagamaan, pertama Kiai Ridlwan menimba ilmu di pesantren Buntet Cirebon, lalu melanjutkan ke pesantren Kademangan Bangkalan Madura yang diasuh oleh Syaikhona Kholil Bangkalan dan pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo, lalu Kiai Ridlwan melanjutkan belajar ke Makkah lalu kembali ke Surabaya sehingga tercatat bahwa beliau menggali ilmu agama selama  11 tahun (Hlm. 19).

Dalam bidang pengabdian dan pengalaman organisasi, Kiai Ridlwan ikut andil menjadi bagian “Barisan golongan Muda Bumi Poetera” yang mengupayakan kesadaran berbangsa melalui jalur pendidikan. Kiai Ridlwan ingin mendidik para pemuda, agar semangat mereka bangkit dan sadar untuk menggelorakan kecintaan terhadap bangsa (nasionalisme). Akhirnya, buah kesadaran nasionalisme tersebut menjelma menjadi perguruan “Nahdlatul Wathan”  (Kebangkitan Tanah Air) yang berdiri tahun 1941. Selain itu, beliau juga aktif di “Taswirul Afkar” pada tahun 1918, sebuah lembaga perumusan konsepsi atau pemikiran berbagai persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Selain itu, Kiai Ridlwan bersama Kiai Wahab dan juga Kiai Kahar, memprakarsai berdirinya perhimpunan “Tamirul Masajid”, sebuah perhimpunan yang bertujuan memelihara tempat peribadatan, Masjid, barang wakaf dan sebagainya. Salah satu wujud kerja perhimpunan ini adalah berdirinya Masjid Jami’ Kemayoran yang hingga sekarang berada di jalan Indrapura 2 Surabaya. Bahkan karya monumental arsitektur bangunan kubah Masjid Kemayoran merupakan fakta sejarah dari hasil ciptaan Kiai Ridlwan. (Hlm. 22-24)

Dalam pengabdiannya terhadap NU, jasanya sangatlah besar. Sebelum NU lahir, beliau sudah aktif di beberapa organisasi yang merupakan embrio bagi berdirinya NU. Bahkan rumah beliau di Bubutan VI no 26 Surabaya ditempati untuk penandatanganan berdirinya organisasi NU, sedangkan rumah milik mertuanya yang juga di jalan Bubutan Surabaya diserahkan sebagai sekretariat dan ruang pertemuan para pengurus NU, dulu menjadi kantor PBNU dan sekarang menjadi kantor PCNU Kota Surabaya.

Selain itu, jasa yang diberikan Kiai Ridlwan bagi NU adalah lambang yang mencerminkan sifat ulama dan bila dilihat tidak bosan, yang mana pada Muktamar NU I, NU belum mempunyai lambang sebagai simbol organisasi. Kiai Ridlwan dipercaya oleh KH. Hasyim Asy’ari yang saat itu menjabat sebagai Rais Akbar  untuk melukisnya. Lambang tersebut, beliau lukis atas hasil istikharah beliau dan dapat ditampilkan pada Muktamar NU II pada tanggal 9 Oktober 1927 M/12 Rabiuts Tsani 1346 H, bertempat di Hotel Muslimin Peneleh Surabaya (Sekarang menjadi Hotel Bali) yang membuat decak kagum bagi yang melihatnya, (Hlm. 56)

Ditinjau dari sudut sumber sejarah, buku tersebut memadukan antara sumber primer dengan sumber sekunder, Sumber primer penulis dapat dari tempat-tempat atau dokumen bersejarah yang hingga kini masih eksis keberadaannya, seperti bangunan tempat penandatanganan NU, Surat ijin anggota Konstituante RI milik Kiai Ridlwan, dan sebagainya dan sumber sekunder penulis dapat dari kepustakan-kepustakaan yang ada.

Buku karya Abdul Holil ini merupakan skripsi yang ditulisnya dan sebagai bukti kecintaannya kepada NU. Buku ini wajib dibaca bagi seluruh kader NU dari berbagai kalangan yang ada, sebab isinya menggambarkan secara utuh sosok dan figur seorang Kiai Ridlwan Abdullah agar para penerus NU selalu mencontoh para pendirinya serta sebagai dasar pijakan dalam berkhidmat di NU.

Data Buku 

Judul : Kiai Ridlwan Abdullah; Peran dan Teladan Pelukis Lambang NU

Penulis : Abdul Holil

Penerbit : Pustaka Idea

Terbitan : I, 2015

Tebal : xvii + 88 hlm

ISBN : 978-602-72011-6-12

Peresensi : M Ichwanul Arifin, mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pondok Pesantren, Sholawat, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 19 April 2017

Bagi Aktivis Dakwah di Papua, Nama Gus Dur adalah Kunci

Pemalang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiprah dan jasa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selama hidup masih membekas di hati masyarakat Papua. Tak heran bila ada semacam keseganan ketika nama Gus Dur disebut di sana.

"Bagi kami aktivis dakwah di Papua , nama Gusdur adalah sebuah kunci," tutur Abdul Hamid, aktivis NU di Papua, saat menjadi pembicara pada bedah novel "Mata Penakluk, Manakib Abdurahman Wahid" di? GOR Mahardika Desa Cikasur, Kecamatan Belik, Kabupten Pemalang, ? Jawa Tengah, Ahad (27/09/15).

Bagi Aktivis Dakwah di Papua, Nama Gus Dur adalah Kunci (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Aktivis Dakwah di Papua, Nama Gus Dur adalah Kunci (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Aktivis Dakwah di Papua, Nama Gus Dur adalah Kunci

Abdu, sapaan akrabnya, menceritakan tentang sebuah kisah yang terjadi pada bulan Desember 2012 . Saat itu Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mengadakan Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) di Jayapura. Kegiatan tersebut, menurut Abdu, diikuti tak kurang oleh 500 kader PMII. Kala itu keamanan di Jayapura yang merupakan daerah merah cukup mencekam karena menjadi salah satu basis OPM (Organisasi Papua Merdeka).

Menurutnya, dalam acara berskala nasional itulah kebesaran nama KH Abdurrahman Wahid? kembali terbukti. Ia menjadi kunci suksesnya perhelatan akbar waktu? itu. Tanpa membawa nama Gus Dur,? kegiatan yang dihelat sepekan itu memang menuai banyak tentangan. Apalagi kegiatan diikuti ratusan pemuda dari luar Papua.

"Alhamdulillah berkah Gus Dur acara bisa diselenggarakan Papua dengan aman," ujar Abdu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tak hanya aman, tambah Abdu, salah satu budayawan di Papua, bernama Engel, bahkan dengan suka rela mengkoordinasi anak-anak adat binaanya untuk menampilkan? sejumlah tarian adat dalam Festival Budaya dalam salah satu agenda Muspimnas PMII, yang digelar selama sepekan.

“Menurut Engel, ? para tokoh adat di Sentani juga turut mengerahkan pasukannya untuk mengamankan kegiatan PMII yang dihelat di Hotel Sentani, Jayapura. ‘Kalian cukup berani mengadakan kegiatan di sini. Kalau saja kalian bukan anak-anak Gus Dur, mungkin kami juga pikir-pikir untuk terlibat’,"? tutur Abdul Wahab menirukan tokoh Papua itu.

Abdul Wahab mengungkapkan, selama kegiatan itu berlangsung, sampai anggota OPM juga ikut menjaga acara akbar yang diselenggarakan oleh PMII itu.

Acara bedah novel karya Abdullah Wong tersebut digelar Komunitas Gusdurian Gunung Selamet. Selain sang penulis, hadir pula antara lain Eko Wahyudi (Ketua UKM Sugih Bareng),? Haris Burhani MAP dari Puslitbang Kehidupan Keberagamaan Kemenag RI, Gus Yusuf (budayawan Purwokerto), dan H Shaleh, Kordinator Gusdurian Tegal yang juga memimpin jalannya diskusi sebagai moderator.? (Red: Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah