Jumat, 05 Juni 2015

Aswaja Dari Teologi Sampai Ideologi Gerakan

Oleh : Abdul Munim DZ
Bagian I

Sebagaimana aliran lain yang lahir pada abad pertengahan, Ahlussunnah waljamaah merupakan aliran yang holistik (menyeluruh), Aswaja mencakup pandangan tentang realitas (ontology), pandangan tentang pengetahuan dan pandangan tentang tata nilai (aksiologi), kemudian masih dilengkapi lagi pandangan mengenai masa depan yang dijanjikan (eskatologi). Pandangan holistik, berasumsi bahwa sebuah aliran mampu menjawab dan mengatur segala aktivitas manusia di segala bidang, pandangan itu memang merupakan ciri khas dari pemikiran skolastik. Sementara pandangan holistik tentang Aswaja itu oleh kalangan NU dirumuskan, sebagai landasan berpikir, bersikap dan bertindak, Sedangkan kalangan Islam revivalis merumuskan Aswaja sebagai teori dan praktek yang menyangkut dimensi lahir dan batin. Pandangan yang serba meliputi itu dirinci dalam berbagai disiplin keilmuan dan agenda kegiatan sosial. Oleh kanem itu dalam pengertian kontemporer Aswaja tidak hanya meliputi doktrin teologi (akidah). tetapi telah dikembangkan sebagai ideologi pembaruan social.

Walaupun Aswaja mengklaim sebagai system yang menyeluruh. tetapi sulit sekali menemukan kitab atau literatur, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab yang membahas atau memaparkan pandangan Aswaja yang menyeluruh seperti yang mereka klaim selama ini. Aswaja yang dirutuskan KH. Hasyim Asyari(1)  misalnya, walaupun telah mencakup bidang akidah, fikih dan tasawuf, tetapi tidak mencakup bidang filsafat dan politik, walaupun bidang politik ini juga dibahas di lain kesempatan, dalam Resolusi Jihad misalnya, bisa dimasukkan dalarn sistem Aswaja yang ia bangun. Kemudian kalangan NU sebagaimana lazimnya melihat bahwa filsafat NU adalah Ghazalian sementara politiknya Mawardian dan sebagainya. Semuanya itu lebih banyak dipraktekkan ketimbang dirumuskan secara konseptual.

Upaya menyusun Aswaja secara sistematis sebagai sebuah aliran pemikiran dan gerakan yang holistik telah banyak diupayakan, seperti yang digagas oleh Lakpesdam Yogyakarta dengan bukunya Teologi Pembangunan (1988)(2). Kritik serius yang diarahkan pada Aswaja konvensional itu akhirnya juga direspon oleh para ulama NU yang berusaha mendefinisikan kembali Aswaja secara lebih mencakup. Tetapi usaha ini banyak mendapat sandungan karena para ulama masih belum beranjak dari konsep lama yang melihat Aswaja hanya sebatas akidah.(3) Kemudian juga dalam buku yang ditulis oleh PBPMII, (1997)(4) yang hampir mencakup seluruh aspek kehidupan, hanya sayangnya karena lemahnya kerangka filosofis, maka berbagai aspek yang diuraikan antara pandangan Aswaja di bidang keilmuan, social, politik dan ekonomi tidak saling berkaitan, secara logis, karena lebih menekankan segi-segi aktivismenya. Dalam karya Syeikh Abdul Hadi al Misri,(5) sebenarnya berpretensi menampilkan Aswaja yang utuh, tetapi sekali lagi ia gagal menjelaskan relasi Aswaja dengan perkembangan masyarakat kontemporer, akhirnya kembali pada tradisi lama, yang hanya berputar di sekitar pembahasan akidah. Sementara Karya Ali Asghar lebih menekankan dimensi aktivismenya, maka ia hanya mengekspos segi-segi pembebasan dari doktrin Islam. Sebenarnya yang cukup lengkap adalah yang dirumuskan oleh Hassan Hanafi, hanya saja tersebar di berbagai kitab sehingga perlu  perhatian khusus untuk memahaminya.

Uraian di atas menunjukkan bahwa sebagai upaya untuk mewujudkan klaim bahwa aswaja merupakan ajaran yang holistik. masih merupakan agenda dan masih perlu digarap serius. Pandangan semacam itu diperlukan agar Aswaja peduli dengan perkembangan masyarakat kontemporer, baik dari segi pemikiran keilmuan hingga ke masalah pergerakan sosial politik, untuk menegakkan keadilan dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu Aswaja tidak lagi bisa diterima apa adanya, sebagaimana ketika diwariskan oleh para leluhur kepada kita, melainkan diperlukan reformulasi dan terobosan baru, sesuai dengan perkembangan aspirasi umat manusia dewasa ini.

Gerakan Aswaja kontemporer bukan lahir dari persoalan pemahaman terhadap doktrin, tetapi lebih didorong oleh terjadinya pergumulan sosial yang terjadi di Dunia Ketiga pada umumnya dalam menghadapi represi dari negara otoriter dan eksploitasi dari kapitalisme dunia atas nama pembangunan dan kemajuan. Maka di situlah gerakan teologi kontemporer merumuskan agenda emansipasi social, dan berusaha menciptakan persaudaraan kemanusiaan universal (ukhuwah insaniyah) sementara Aswaja klasik sangat menekankan doktrin najiyah-, sehingga tanpa disadari menjadikan Aswaja sebagai doktrin yang eksklusif, yang menuduh aliran lain sebagai sesat, bahkan kafir, padahal aliran ini megklaim diri bersikap kejamaahan (inklusif), rnaka sikap najiah bertentangan dengan prisip jamaah. Maka gerakan baru ini mempertegas Aswaja dengan prinsip kejamaahan serta menolak doktrin najiah yang mengeksklusi pihak lain di luar kelompoknya secara semena-mena. Dengan berpegang pada prinsip jamaah tidak berarti mengikuti ajaran mereka, melainkan menjadikan mereka yang berbeda sebagai mitra dialog dalam mencari kebenaran.

Selanjutnya juga terjadiDari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Aswaja Dari Teologi Sampai Ideologi Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Dari Teologi Sampai Ideologi Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Dari Teologi Sampai Ideologi Gerakan

Kamis, 04 Juni 2015

Pemuda Ansor Probolinggo Diminta Aktif Bangun Daerah

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari mengajak para pemuda Ansor yang tergabung dalam GP Ansor Kota Kraksaan dan Kabupaten Probolinggo untuk terlibat aktif dalam pembangunan, terutama dalam hal pemberantasan minuman keras (miras).

Ajakan tersebut disampaikan Bupati Probolinggo pada pelantikan kepengurusan GP Ansor Kota Kraksaan masa khidmah 2014-2018 yang digelar di Gedung Islamic Center (GIC) Kota Kraksaan, Kamis (7/1).

Pemuda Ansor Probolinggo Diminta Aktif Bangun Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Ansor Probolinggo Diminta Aktif Bangun Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Ansor Probolinggo Diminta Aktif Bangun Daerah

“Pemuda Ansor harus terlibat secara aktif membantu pemerintah daerah, terutama dalam pemberantasan peredaran miras. Sebab miras ini merupakan sebuah ancaman yang sangat nyata yang merusak moral anak muda. Tentunya akan merusak masa depan generasi muda. Butuh kerja sama dan kerja keras dalam memberantas miras,” ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Tantri, saat ini Pemkab Probolinggo tengah fokus meningkatkan Indek Pembangunan Manusia (IPM) dan menurunkan prosentase angka kemiskinan. Dalam program ini, pemuda Ansor diminta untuk ambil bagian di dalamnya melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Buatlah sebuah program yang mampu memberdayakan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan pemuda Ansor. Saya yakin, pemuda Ansor lebih tahu apa yang dibutuhkan masyarakat demi mengangkat derajat dan kesejahteraan hidupnya,” jelasnya.

Walaupun Kota Kraksaan resmi menjadi ibukota Kabupaten Probolinggo jelas Tantri, pemuda Ansor dan masyarakat diminta agar tidak meniru budaya orang kota di luar Probolinggo yang bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan dan syariat agama.

“Karena itu, kalau ada hal yang dinilai menyimpang dari ketentuan perundang-undangan dan syariat agama, harap segera melaporkan kepada pihak berwajib,” pintanya.

Sementara Ketua GP Ansor Kota Kraksaan Taufik berharap agar Ansor bisa istiqomah berkontribusi mengawal tegaknya Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan tertanamnya semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta pro aktif mengawal program pemerintah agar dapat dirasakan masyarakat, khususnya warga NU.?

Mohon doa dan dukungan dari para alim ulama dan pemerintah,” katanya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 03 Juni 2015

Dilantik, Forum Guru Ngaji Majalengka Tegaskan Pertahankan Aswaja

Majalengka, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Forum Silaturahmi Guru Ngaji (FSGN) Kabupetan Majalengka resmi dilantik, Kamis (13/03) di Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka, Jawa Barat.

Pelantikan dipimpin langsung oleh KH. Adang Badrudin (Abah Cipulus) pengasuh Pesantren Al-Hikamussalafiyah, Cipulus, Purwakarta selaku Ketua Umum DPP FSGN Jawa Barat didampingi oleh KH Maman Imanulhaq, pengasuh Pesantren Al-Mizan sekaligus Ketua Dewan Penasehat FSGN Kabupaten Majalengka dan jajaran pengurus DPP FSGN lainnya.

Dilantik, Forum Guru Ngaji Majalengka Tegaskan Pertahankan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Forum Guru Ngaji Majalengka Tegaskan Pertahankan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Forum Guru Ngaji Majalengka Tegaskan Pertahankan Aswaja

Dalam sambutannya, KH. Adang Badrudin berpesan agar pengurus dan anggota FSGN Majalengka yang baru dilantik dapat solid dalam menjalankan amanat organisasi sebagai wadah perjuangan bagi guru-guru ngaji yang selama ini kerapkali masih diabaikan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu ketua terpilih Forum Silaturahmi Guru Ngaji (FSGN) Kabupaten Majalengka, M Zanel Muhyidin, menyebutkan bahwa salah satu perjuangan FSGN adalah memperjuangkan dan mempertahankan serta melestarikan paham  dan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dengan berpedoman kepada Al-Qur’anul Karim, Hadits Nabi, Ijma Ulama dan Qiyas Mu’tabar.

“Kita berupaya membentengi dan menjaga tradisi salafussolihin dan kearifan tradisi lokal masyarakat,” tegasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lebih jauh disebutkan, forum guru ngaji ini mencakup seluruh guru ngaji baik yang mengajar ngaji di  pondok pesantren, majlis ta’lim, masjid jami’ , mushola, dan rumah. 

Selanjutnya menurut Zaenal, agar forum ini sampai ke akar rumput dan dapat dirasakan manfaatnya  maka ditingkat kecamatan dan desa akan dibentuk  juga FSGN. 

“Kita akan akan wadahi, fasilitasi, dan perjuangkan nasib guru-guru ngaji di pelosok kampung-kampung yang selama ini telah konsisten tulus mengabdi mencerdaskan umat, walaupun nasib mereka tidak pernah ada yang memperhatikan,” pungkas kang Zaenal. (Ade Duryawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 27 Mei 2015

Tebuireng Belum Tentukan Waktu dan Tokoh Nasional yang Diundang

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Pesantren Tebuireng, Jombang bakal menggelar haul KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pada akhir bulan Desember ini. Namun panita belum menentukan waktu haul kelima Ketua Umum PBNU 1984-1999 tersebut. ?

"Insya Allah akhir bulan ini Tebuireng tetap akan menyelenggarakan Haul Gus Dur,” ujar KH Salahudin Wahid, adik kandung Gus Dur yang juga pengasuh Pesantren Tebuireng, usai menerima Duta Besar AS untuk Indonesia Robert O. Blake, Jr, pada Kamis (11/12).

Tebuireng Belum Tentukan Waktu dan Tokoh Nasional yang Diundang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tebuireng Belum Tentukan Waktu dan Tokoh Nasional yang Diundang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tebuireng Belum Tentukan Waktu dan Tokoh Nasional yang Diundang

Kiai yang akrab disapa Gus Sholah tersebut menjelaskan, soal waktunya dalam waktu tiga hari ini akan ditentukan panitia. Sementara agendanya sama seperti tahun sebelumnya, yakni khataman Al Quran di masjid masjid, tahlilan, dan pengajian.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Soal siapa saja yang datang, masih dalam konfirmasi. Namun sudah diundang," ujarnya tanpa menyebut tokoh nasional yang akan hadir.

Seperti diketahui, presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid meninggal pada 30 Desember 2009 dan dimakamkan di lingkungan pesantren Tebuireng. Letaknya bersebalahan dengan makam KH Hasyim Asyari, kakeknya, dan KH Wahid Hasyim, ayahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Meski sudah meninggal, Gus Dur tetap menjadi insipirasi banyak kalangan, tidak hanya warga nahdliyin. Setiap hari, kunjungan peziarah datang dari berbagai daerah bahkan tidak jarang tokoh nasional.

Hal ini seperti yang dilakukan Dubes AS untuk Indonesia Robert O. Blake, Jr. Ia berziarah langsung ke makam Gus Dur, Kamis (11/12). Didampingi Gus Sholah,ia menabur bunga di makam tokoh yang juga dikagumi masyarakat AS ini.

"Bagi masyarakat Amerika, Gus Dur adalah tokoh yang mampu mengajarkan kepada dunia nilai toleransi, demokrasi, hak asasi dan anti kekerasan," ujarnya.

Di Amerika, tambah Robert, Gus Dur disejajarkan dengan Martin Luther King, tokoh dari Amerika yang konsisten memperjuangan Hak Asasi, kesetaraan dan demokrasi. Oleh masyarakat Amerika, Gus Dur dikenal sebagai pejuang demokrasi, toleransi dan anti-kekerasan.

Robert menyebutkan, jasa besar Gus Dur kepada Indonesia dan masyarakat dunia bisa dirasakan dari perkembangan kehidupan demokrasi di Indonesia. "Masyarakat Amerika mengagumi perkembangan kehidupan demokrasi di Indonesia. Demokrasi di Indonesia kuat, dibuktikan dengan pemilihan presiden baru baru ini yang dimenangkan Jokowi," katanya.

Selain itu, tambah Robert, kuatnya demokrasi di Indonesia, didukung oleh budaya toleransi dan plurarisme yang menjadi percontohan dunia. "Namun juga, yang paling kuat adalah tradisi demokrasi, toleransi dan pluralismenya yang mampu menjadi percontohan bagi banyak negara di dunia," katanya. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 24 Mei 2015

Gus Ipul Ajak Keluarga Besar PKB Renungkan Keputusan Pengadilan

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mantan Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Saifullah Yusuf, mengajak kepada semua keluarga besar PKB untuk sama-sama merenungkan keputusan pengadilan. Hal itu ia sampaikan menyusul keputusan Mahkamah Agung (MA), Kamis (24/8) lalu, yang menolak kasasi yang diajukan Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB hasil Muktamar Surabaya, Choirul Anam. MA menyatakan Muktamar PKB Semarang pimpinan Gus Dur-Muhaimin Iskandar sah sesuai AD/ART PKB.

"Kita sama-sama sudah dewasa, karena itu kami mengharapkan keputusan pengadilan sama-sama direnungkan oleh semua keluarga besar PKB, untuk kemudian ditemukan solusi yang terbaik bagi kebesaran partai," ujar Gus Ipul, begitu panggilan akrabnya, di Surabaya, Minggu (27/8) kemarin, usai gerak jalan HUT GP Ansor ke-72 bersama Ketua Umum DPP PAN, Soetrisno Bachir.

Gus Ipul Ajak Keluarga Besar PKB Renungkan Keputusan Pengadilan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ipul Ajak Keluarga Besar PKB Renungkan Keputusan Pengadilan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ipul Ajak Keluarga Besar PKB Renungkan Keputusan Pengadilan

Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor ini meminta kepada tokoh-tokoh PKB untuk bersama-sama mengendapkan dulu segala persoalan yang terjadi untuk kemudian bisa berfikir secara jernih. Menurutnya, hal itu merupakan bagian dari proses yang harus dilalui oleh PKB.

"Kami harapkan nanti ditemukan solusi-solusi yang terbaik, solusi yang paling tidak mempunyai makna penting dalam perjalanan partai ke depan, artinya dengan dua kali Pemilu PKB sudah memperoleh mandat lebih dari 10 juta dan itu jangan disia-siakan mereka yang diberi amanah sebagai pengurus partai," terang Gus Ipul.

Ditanya tentang aset-aset PKB yang kini diperebutkan dua kubu tersebut, Gus Ipul yakin pada akhirnya nanti akan ada penyelesaian. "Sekarang diendapkan dulu agar berpikir jernih. Saya kira seruan apapun patut dipertimbangkan oleh siapapun, yang penting diendapkan dulu," katanya. (ant/man)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, Kajian Islam, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 10 Mei 2015

Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai

"Ringkasnya, Al-Qur’an tampaknya tidak tertarik pada teori khas tentang negara yang harus diikuti oleh umat Islam. Perhatian utama Al-Qur’an ialah agar masyarakat ditegakkan atas keadilan dan moralitas.” (hal. 24)

Saya kira buku yang ditulis Syafii Ma’arif ini menjadi rujukan penting terkait dengan perdebatan panjang penetapan dasar negara Indonesia. Bukan hanya itu, Buya Syafii juga menarik ke belakang hingga zaman Nabi Muhammad, Khulafaur Rasyidin, dan zaman kekhalifahan Islam. Ia menyoroti satu per satu rangkaian peristiwa politik mulai dari zaman nabi hingga saat ini, khususnya apa yang terjadi di Indonesia.

Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai (Sumber Gambar : Nu Online)
Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai (Sumber Gambar : Nu Online)

Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai

Buku ini terbagi menjadi 4 bab. Bab pertama adalah pendahuluan. Pada bab ini, ia menguraikan poin-poin di bab 2, 3, dan 4. Selain itu, alasan melakukan studi tentang Islam dan Pancasila sebagai sebagai dasar negara juga dijelaskan di bab ini, yaitu ia merasa belum adanya studi yang agak lengkap tentang masalah dasar negara Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bab kedua adalah tentang Islam dan Cita-cita politik. Di sini, ia dengan tegas mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak memberikan pola pasti dalam mengelola negara yang harus diikuti oleh umat Islam. Umat Islam bebas menentukan model yang mana, asal asas syuro (musyawarah) harus diterapkan di dalamnya. Karena asas syuro ini lah yang menjadi inti dari Al-Qur’an dalam hal mengatur suatu negara.

Praktik syuro (musyawarah) pertama adalah pertemuan di Balai Banu Saidah untuk menentukan pengganti (khalifah) Nabi Muhammad. Pertemuan ini melibatkan semua pihak; perwakilan dari Muhajiri dan Ansar. Setelah perdebatan yang panjang, maka terpilihlah sahabat Abu Bakar sebagai khalifah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun sayang, praktik syuro (musyawarah) ini tidak berkembang pada zaman dinasti-dinasti Islam setelahnya. Mereka ‘mengaku’ sebagai kerajaan Islam, tetapi menggunakan sistem monarki dalam pergantian pemimpinnya, bukan pola musyawarah sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Qur’an.

Bab tiga membahas tentang Islam Indonesia pada abad ke-20. Di bab ini, ia mencoba menguraikan peran dan kontribusi organisasi Islam modern yang bercorak sosio-kegamaan seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, organisasi Islam tradisional seperti NU, dan organisasi Islam politik seperti Sarekat Islam pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Perlawanan umat Islam kepada penjajah dijelaskan secara rinci dan detil pada bab ini. Ia juga menyinggung permbentukan Masyumi –sebuah partai yang menjadi payung besar ormas Islam- dan perpecahannya hingga membuat ormas Islam itu berjalan sendiri-sendiri.

Bab terakhir, Islam dan Dasar Negara Indonesia. Penulis buku ini menilai, meskipun para pengusung negara Islam tersebut banyak bicara tentang negara yang berdasakan Islam, namun mereka belum berhasil menyusun karya sistematis dan ilmuah tentang konsep negara Islam yang mereka cita-citakan. Mereka yang ingin menjadikan agama Islam sebagai dasar negara Indonesia memandang bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam dan Islam jauh lebih unggul dijadikan sebagai dasar negara daripada Pancasila ataupun ideologi lainnya. Maka dari itu, mereka menganggap Islam perlu diterapkan sebagai dasar di negara ini. Pada bab ini pula, penulis buku mengupas tuntas tentang konsep negara Islam yang digagas oleh M. Natsir, Zainal Abidin Ahmad, dan Muhammad Asad.

Antara mereka yang menjadi pendukung Pancasila dan yang mendukung Islam sebagai dasar negara saling serang. Bagi mereka yang mendukung Islam sebagai dasar negara menilai bahwa Pancasila itu sekuler karena sila-sila di dalamnya bukan berasal dari Allah, prinsip-prinsip Pancasila tidak memiliki kebulatan dan kesatuan yang logis, dan lainnya. Sementara yang pendukung Pancasila menolak bahwa Pancasila tidak memiliki kesatuan logika. Mereka juga menolak kalau Pancasila itu adalah sekuler karena mereka menganggap sumber pertama Pancasila adalah Islam.

Meski sudah disetujui bersama dalam sidang BPUPKI tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, namun nyatanya kelompok yang ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara masih saja terus ada hingga saat ini.

Sebetulnya, buku ini sudah pernah diterbitkan pada tahun 1985 dan tahun 2006. Namun pada tahun 2017 ini, penerbit Mizan kembali menerbitkan buku ini. Saya rasa ini hal yang bagus dan perlu agar bisa menjadi referensi mengingat semakin maraknya kelompok yang ingin merobohkan pondasi Negara Indonesia.? ?

Pada kata pengantar, Buya Syafii menuturkan bahwa perdebatan soal Islam dan Pancasila sebagai ideologi Negara Indonesia adalah perkara yang sudah usang dan kedaluarsa. Lebih baik, energi yang terkurang untuk perdebatan tersebut diarahkan untuk menyelesaikan segala permasalahan mendasar bangsa ini dan untuk membangun Indonesia yang lebih baik dan sejahtera.

Saya kira buku ini sangat bagus sekali karena kaya akan referensi. Selamat membaca.

Identitas buku

Judul? ? ? ? ? ? ? ? : Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara

Penulis? ? ? ? ? ? : Ahmad Syafii Maarif

Penerbit? ? ? ? : Mizan

Cetakan? ? ? ? ? : I, Maret? 2017

Tebal? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : 312 hlm

ISBN? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-441-015-5

Peresensi? ? ? : A Muchlishon Rochmat



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 09 Mei 2015

Gema Haul Akbar Nusantara NU Jakbar

Cengkareng, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Barat menggelar Gema Haul Akbar Nusantara pada hari Ahad (15/12) bada isya. Acara yang diisi mauidho hasanah Maulana Al Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya akan digelar di Masjid Annur Jl Raya Daan Mogot Cengkareng, Jakarta Barat (tepatnya di sekitar lampu merah Cengkareng. 

Ketua Panitia yang sekaligus Ketua Tanfidziyah Rangting NU Kapuk KH Gus Siroj Ronggo Lawe menyampaikan “kami menggelar acara Haul Akbar Nusantara sebagai wujud kecintaan kami terhadap ulama-ulama se-Nusantara,” ujar Gus Siroj.  

Gema Haul Akbar Nusantara NU Jakbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Gema Haul Akbar Nusantara NU Jakbar (Sumber Gambar : Nu Online)

Gema Haul Akbar Nusantara NU Jakbar

“Acara haul, dimana kita akan mendoakan para ulama se-Nusantara termasuk ulama-ulama Betawi ini sebagai pelestarian tradisi Nahdlatul Ulama (NU) yang harus dipertahankan dan diperkuat,” tambahnya.

Acara tersebut akan dihadiri seluruh Pengurus Wilayah NU se-DKI Jakarta “Kami sampaikan cara ini ke semuanya ke seluruh pengurus PWNU dan PBNU melalui undangan bahkan kami informasikan lewat media,” pungkasnya. (junaidi/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Daerah, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah