Rabu, 24 Desember 2014

NU Terus Lakukan Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Kehidupan Sosial

Majalengka, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ada yang ingin menghilangkan peran NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Beragam cara mereka lakukan, salah satunya dengan melakukan penghinaan terhadap para Ulama NU dan Kiai Pesantren. Padahal sejarah mencatat dengan tinta emas perjuangan Para Ulama NU dalam kemerdekaan Indonesia dan mengisinya dengan peningkataan kualitas pendidikan dan kehidupan sosial.

NU Terus Lakukan Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Kehidupan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Terus Lakukan Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Kehidupan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Terus Lakukan Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Kehidupan Sosial

Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq di hadapan ratusan kiai dan ribuan jamaah Haul KH Buchori di Pondok Pesantren Al-Buchorie Garawangi Sumberjaya Majalengka, Ahad (8/1) lalu.

Maman yang juga Anggota DPR RI itu mengingatkan kaum Nahdhiyin tentang sejarah berdirinya NU. Dimana menurutnya NU berdiri berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran keagamaan dan politik dunia Islam kala itu. Di antaranya adalah pada tahun 1924, Syarif Husein Raja Hijaz (Makah) yang berpaham Sunni (Ahlussunah wal Jamaah) ditaklukkan oleh Abdul Aziz bin Saud yang beraliran Wahabi.

Wahabi kemudian melarang semua bentuk amaliah keagamaan kaum Sunni, yang sudah berjalan di Tanah Arab dan dunia Islam seperti sistem bermadzhab, tawasul, maulid Nabi, ziarah kubur. Semua ? dilarang dan digantikan ajaran wahabi yang a-historis, anti budaya lokal, anti perbedaan dan tidak mau ada dialog.?

"NU lahir sebagai pembela paham Ahlussunah wal Jamaah yang diamalkan para Ulama dan umat Islam di Indonesia sejak lama,” papar Maman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai muda yang juga pengasuh Ponpes Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka ini mengajak jamaah untuk mendakwahkan Islam ramah, toleran, damai serta progresif melalui media sosial untuk menangkal kelompok radikal, intoleran, dan teroris.

Tampak hadir pad kesempatan Haul KH Buchori tersebut Ketua PCNU Majalengka, KH Harun Bajuri, Anggota DPRD FPKB Jawa Barat, H Nasir, Anggota DPRD FPKB Kab. Majalengka M. Jubaedi dan Suheri, Ketua GP Ansor Majalengka, Ahmad Cece Asyfiyadi, Komandan Banser Majalengka, Wahyudin serta tokoh-tokoh ulama dan kiai lainnya. (Ade Duryawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 22 Desember 2014

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh

Bantul, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mengatakan, jika ingin hidup menjadi mudah, maka jangan sampai mempunyai musuh. Orang yang memiliki musuh, hidupnya akan berat dan susah.

Hal tersebut disampaikannya di sela-sela senandung shalawat bersama para Jamaah, Selasa (08/10), dalam acara Habib Syech Bershalawat, yang diadakan oleh Akademi Kebidanan Yogyakarta, di lapangan Akbid Yogyakarta, Jl. Paris km.6, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta.

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh

Habib Syech melanjutkan dengan menyitir salah satu ayat Al-Qur’an yang berbunyi Quu anfusakum wa ahliikum naara, yang artinya jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Hal tersebut dimaksudkan Habib Syech untuk menanggapi permasalahan Negeri yang dipenuhi dengan korupsi oleh para wakil rakyat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Habib Syech, jika ada pejabat yang melakukan korupsi, yang paling menderita dan menjadi korban adalah keluarga; anak dan istri. Oleh karenanya, Habib Syech menghimbau para Jamaah agar senantiasa menjaga diri sendiri dan keluarga dari jeratan api neraka.

“Jika ingin menjadi orang yang baik, kita juga harus berusaha, dan selain menjadi orang yang baik, kita juga harus menjadi bangsa yang baik,” imbuhnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Allah, lanjutnya, tidak menyuruh untuk berkorban sesuatu yang berat pada diri kita, melainkan yang sedikit saja yang ada pada diri kita. Terlebih berkorban untuk bangsa. “Secara sederhana, yakni dengan cara bersyukur, baik gaji sedikit maupun gaji banyak,” tandas Habib Syech.

Didepan sekitar lima ribuan jamaah yang memadati lapangan, malam itu Habib Syech menutup dengan memberikan pesan, “Ada siang, ada malam, ada orang yang korupsi, juga ada orang baik, itu semua agar kita tau mana yang baik, dan mana yang tidak baik,” pungkasnya. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 20 Desember 2014

Menyesatkan Orang Lain, Kemusyrikan Paling Besar

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi mengimbau warga NU untuk tetap setia dengan prinsip tasammuh (toleransi) dengan tidak mudah menisbatkan kata ”sesat” pada pihak lain.

Menyesatkan Orang Lain, Kemusyrikan Paling Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyesatkan Orang Lain, Kemusyrikan Paling Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyesatkan Orang Lain, Kemusyrikan Paling Besar

”Menyesatkan orang lain sama saja dengan memosisikan dirinya sebagai hakim keyakinan yang seharusnya hanya dimiliki Allah,” katanya dalam pembukaan Rapat Pimpinan Daerah Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) Kota Cirebon, Rabu (13/2), di Masjid Hijau Pegambiran, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Kiai Masdar merujuk surat an-Nahl ayat (93) yang menyebutkan bahwa keanegaragaman umat merupakan kehendak Allah, melalui otoritas penuh untuk menyesatkan dan memberi petunjuk mereka.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan demikian, sambungnya, orang yang menyesatkan pada dasarnya telah musyrik, karena telah mengambil otoritas Tuhan untuk dirinya. ”Dan tidak ada dosa yang lebih besar dibanding memusyirkan dirinya dengan Allah,” kata Kiai Masdar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di hadapan hadirin, alumni Pesantren Krapyak ini juga mengajak untuk tidak menjadikan masjid sebagai ruang eksklusif yang menanamkan intoleransi. Sebab, dengan konsep pembagian ruang dalam dan ruang serambi, masjid sesungguhnya merupakan bangunan yang terbuka.

Ruang serambi, demikian Kiai Masdar, harus dimaksimalkan perannya sebagai tempat berdiskusi dan memecahkan berbagai persoalan umat, termasuk menghidarkan dari paham yang terlalu dogmatis. ”Dogma bisa dicairkan jika serambi itu diperdayakan,” tegasnya.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 17 Desember 2014

Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar

Dhaka, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kekerasan pemerintah Myanmar atas Rohingya tak hanya memaksa hampir 400.000 ribu etnis minoritas tersebut melakukan eksodus ke negara tetangga, tetapi juga membuat Bangladesh sebagai negeri tujuan pengungsi tertimpa beban. Bangladesh beberapa kali mengecam Myanmar terkait krisis kemanusiaan ini.

Belakangan hubungan keduanya kian panas ketika Bangladesh menuduh Myanmar berulang kali melanggar perbatasan kawasan udara. Bangladesh menilainya sebagai provokasi dan mengancam tentang konsekuensi tertentu bila tindakan itu terulang lagi.

Ratusan ribu Muslim Rohingya telah tiba di Bangladesh sejak mereka lari dari serbuan tentara Myanmar yang berdalih telah melakukan perburuan "teroris Bengali". Jumlahnya terus meningkat sejak 25 Agustus lalu. PBB menyebut krisis ini sebagai langkah "pembersihan etnis" oleh Myanmar.

Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online)
Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online)

Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar

Bangladesh, seperti dilansir Reuters, mengatakan bahwa pesawat tempur dan helikopter Myanmar melanggar kawasan udara sebanyak tiga kali, yakni pada 10, 12 dan 14 September,  dan telah meminta pejabat kedutaan besar Myanmar di Dhaka untuk melakukan komplain.

"Bangladesh menyampaikan keprihatinan mendalam atas pengulangan tindakan provokasi semacam itu dan menuntut agar Myanmar segera melakukan tindakan untuk memastikan bahwa pelanggaran kedaulatan semacam itu tidak terjadi lagi," kata kementerian di Myanmar dalam sebuah pernyataan pada Jumat malam. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama, Khutbah, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 10 Desember 2014

Harmonisasi Budaya Jawa dalam Islam

Oleh: Faiqotun Ni’mah

Sebagai salah satu suku yang ada di Indonesia, Jawa memberikan tak sedikit sumbang sih budaya terhadap Indonesia sehingga ia bisa disebut negara kaya budaya. Banyak budaya berasal dari Jawa yang terepresentasikan dalam bentuk tradisi-tradisi, baik tradisi yang berupa hiburan, bersifat spiritual, berbau mistik, maupun kolaborasi dari ketiganya. Contoh tradisi berupa hiburan, misalnya wayang, tari-tarian, dan ketoprak. Tradisi bersifat spiritual, misalnya  tradisi keraton. Tradisi berbau mistis, misalnya mantera-mantera, azimat, dan ramalan. Sedangkan wayang adalah salah satu dari sekian banyak varian budaya Jawa yang mengandung ketiganya.

Tradisi Wayang

Sebut saja, para mistikus kejawen, mereka menjelaskan bahwa pertunjukan wayang bisa dipahami sebagai gambaran dunia. Allah diibaratkan sebagai dalang dan makhluk ciptaan-Nya (manusia) tak ubahnya seperti wayang yang bisa pentas di pertunjukan karena ada dalang. Ini adalah aura spiritual dari dunia wayang.

Harmonisasi Budaya Jawa dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Harmonisasi Budaya Jawa dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Harmonisasi Budaya Jawa dalam Islam

Dalam pewayangan pun terdapat kisah-kisah maupun tokoh-tokoh yang sering diharmonisasikan dengan Islam. Sebagai contoh, tokoh pewayangan Yudhistira; salah satu dari lima Pandawa dalam kisah Mahabaratha.

Yudistiralah satu-satunya tokoh pewayangan yang diyakini konversi ke Islam. Dalam mitos konversi ini, Sunan Kalijaga memainkan peran yang penting. Mitos ini menyebutkan Yudistira tidak mau berperang sebab kebebasan dan kemurniannya yang sempurna dari nafsu amarah. Untuk melindunginya, Batara Guru memberinya sebuah azimat yang bernama Serat Kalimasada. Azimat ini bisa menjauhkan musuh, memelihara stabilitas kerajaan Pandawa, dan bahkan bisa menghidupkanorang yang sudah mati. Serat kalimasada itu adalah sebuah teks yang tertulis dalam bahasa yang asing yang tak terbaca. Karena ia memilki azimat itu ia bisa hidup beberapa tahun setelah para pandawa lain meninggal, dan ia mengembara sendirian dalam hutan. Setelah waktu yang begitu lama, ia bertemu dengan Sunan Kalijaga, yang datang untuk menyebarkan ajaran Islam. Sunan Kalijaga bisa membaca teks tersebut, karena merupakan teks bahasa Arab. Teks tersebut berbunyi: ”Ashadu alla ilaha illa Allah wa’asyhadu anna muhammadar-rasul Allah”.  

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan membaca berulang-ulang kalimat tersebut dan menerima kebenarannya, Yudistira meninggal sebagai seorang Islam, yang memang telah ditakdirkan oleh Allah.

Orang Jawa mengakui, istilah Jawa Kalimasada berasal dari kata kalimat dan syahada (bersaksi/bersumpah). Syahada bisa digunakan sebagai suatu istilah yang  umum dipakai untuk menyebut pengakuan iman. Mengakui kebenaran pernyataan ini merupakan persyaratan minimal untuk menentukan seseorang beragama Islam atau tidak. Sebab, syahadat merupakan rukun Islam yang pertama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain itu, bau mistis bercampur spiritual wayang dapat dilihat dari beberapa penjelasan mistikus Jawa kontemporer yang menyatakan bahwa daftar nabi yang tercatat dalam Al-Qur’an hanyalah nama-nama yang dikenal oleh orang Arab dan Budha, Wisnu dan Krisna adalah nabi-nabi Jawa pra-Islam.

Membahas mitologi wayang, tentu tak lepas dari pengaruh budaya pra-Islam yaitu Hindu maupun Budha. Dan sudah tentu terpengaruh dari budaya India, sebab Hindu-Budha datang di Jawa berasal dari India. Maka tak heran jika kisah-kisah dalam pewayangan Jawa hampir mirip bahkan dikatakan sama dengan cerita-cerita yang ada di India, semisal cerita tentang dewa Krisna, sebenarnya sama dengan cerita pewayangan Jawa mengenai Prabu Kresna yang terangkum dalam kisah Mahabarata. Hanya beda sebutan nama saja yaitu di India disebut Krisna tiba di Jawa mengikuti lidah orang Jawa menjadi Prabu Kresna.

Sebenarnya ada banyak hal positif yang dapat diambil dari pertunjukan wayang. Sehingga dapat menepis anggapan negatif yang ditujukan terhadapnya seperti yang dilakukan para kaum reformis yang menganggap menontot wayang itu adalah perbuatan maksiat.

Sebagai produk budaya, sesungguhnya wayang diakui keunikannya tidak hanya di kalangan masyarakat Jawa saja, namun juga di kalangan masyarakat belahan Asia lainnya. Von Grunebaum melaporkan bahwa “wayang Cina” adalah bentuk hiburan paling umum di kalangan masyarakat Muslim Timur Tengah pada abda ke-13. Ini berarti wayang pun diakui oleh kaum Muslim tidak hanya subyektif oleh para mistikus kejawen.

Namun, banyak perdebatan mengenai anggapan terhadap pertunjukan wayang maupun tradisi budaya Jawa lainnya. Bagi masyarakat yang sepakat dengan pelestarian budaya dengan tegas menyatakan kita sebagai generasi penerus harus melestarikannya, dalam istilah Jawa ”nguri-uri”. Namun bagi masyarakat lain yang lebih “sufi” ber-Islamnya akan menolak dengan tegas tradisi Jawa yang diakui kebanyakan bersifat mistis karena  dikhawatirkan menimbulkan kesyirikan.

Kasus selain wayang yang lebih banyak di perdebatkan di kalangan ulama’ Islam Jawa adalah mengenai mantera-mantera atau do’a-do’a yang pada puncaknya dianggap sebagai ilmu perdukunan atau pun sihir.

Dalam bukunya yang berjudul Islam Jawa Kesalehan Normatif versus Kebatinan, Mark R. Woodward menjelaskan bahwa pandangan Jawa kontemporer mengenai hubungan antara kesaktian dan kesalehan Muslim sangat serupa, dan ada perbedaan antara bentuk sihir yang legal dan ilegal. Legenda-legenda Sulaiman dan legenda-legenda dari buku Arabian Nights (Seribu Satu Malam) memberikan preseden yang jelas terhadap pemakaian sihir oleh kalanagan Muslim yang saleh. Kekuatan-kekuatan magis Sulaiman digambarkan dengana panjang lebar dalam Al-Qur’an (34: 12). Ia dipercayai menguasai kerajaan dunia dan mempunyai kemampuan untuk memerintahkan para jin, burung, binatang, dan angin. Kekuatannya berasal dari suatu cincin bertanda yang terpahat rahasia nama Allah yang Agung. Tetapi ia juga dikatakn mempelajari seni-seni sihir itu di Mesir dan menjadi guru ahli matematika Yunani, Phytagoras. Sulaiman memberikan suatu paradigma bagi pemakaian sihir secara legal sebab ia seorang nabi sekaligus ahli sihir terbesar dalam sejarah.

Akhirnya, berbagai tradisi yang sudah berlaku dapat senantiasa dihargai dan dilestarikan. Harmonisasi antara agama dan budaya pasti akan tercipta. Wallu a’lam bi al-shawab.

 

Faiqotun Ni’mah, mahasiswa Tafsir dan Hadits Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang dan Penerima Beasiswa Unggulan Monash Institute Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Berita, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 05 Desember 2014

Komunitas Ilmu Falak Pesantren Al-Wafa’ Kunjungi Planetarium Bosscha

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Komunitas ilmu falak Pondok Pesantren Al-Wafa’ Kabupaten Bandung mengadakan rihlah ilmiah ke Planetarium Bosscha, Lembang, Bandung, Jawa Barat. Kunjungan ke planetarium terbesar se-Asia Tenggara itu diikuti 60 santri.

Salim Mahfudh, ketua panitia rihlah ilmiah mengatakan, acara bertajuk “Aktualisasi dan Implementasi Ilmu Falak di Era Modern”, Jumat (6/2), ini dimaksudkan untuk mengenalkan ilmu falak terapan dalam bentuk alat-alat berbasis teknologi, seperti teleskop, rubu’ mujayyab, mizwala, dan lain-lain.

Komunitas Ilmu Falak Pesantren Al-Wafa’ Kunjungi Planetarium Bosscha (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Ilmu Falak Pesantren Al-Wafa’ Kunjungi Planetarium Bosscha (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Ilmu Falak Pesantren Al-Wafa’ Kunjungi Planetarium Bosscha

“Mengembangkan penalaran dan keilmuan, penelusuran minat dan bakat santri Al-Wafa’ terhadap ilmu falak. Selain itu, juga sebagai sarana menyatukan dan mempererat tali silaturahim antarsantri di pondok pesantrenAl-Wafa’,” tambah mahasiswa fisika UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, pihak Planetarium Bosscha memberikan materi kepada para santri tentang sejarah dan peran Bosscha terhadap perkembangan astronomi di Indonesia.? Lebih dari itu, santri-santri yang juga mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati tersebut mendapatkan pengetahuan seputar planet-planet, bintang-bintang di galaksi, serta cara kerja ala-alat astronomi yang ada di Bosscha.

Selain berkunjung ke Planetarium Bosscha, para santri sebelumnya berkunjung ke Observatorium Imah No’ong yang letaknya tidak jauh dari Planetarium Bosscha. Di situ terdapat pula alat-alat astronomi seperti teleskop, jam matahari, alat penentuan arah kiblat, dan lain-lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Arjun Abdullah, salah satu peserta mengaku senang lantaran bisa langsung praktik ilmu falak dengan menggunakan alat-alat modern maupun klasik. “Manfaat yang didapat saat kunjungan ke planetarium salah satunya adalah kita dapat mengetahui bagaimana cara menentukan arah kiblat,” terang santri Ternate ini. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 04 Desember 2014

Perbedaan Tujuan Pendidikan Agama di Indonesia dengan Negara Lain

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pendidikan Agama di Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa disamping menumbuhkan keterampilan ilmu pengetahuan. Itulah yang membedakan fungsi dan tujuan pendidikan agama di Indonesia dengan negara-negara lain di Timur Tengah, Eropa, dan Amerika.

Perbedaan Tujuan Pendidikan Agama di Indonesia dengan Negara Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Perbedaan Tujuan Pendidikan Agama di Indonesia dengan Negara Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Perbedaan Tujuan Pendidikan Agama di Indonesia dengan Negara Lain

Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof Dr Phil H Kamaruddin Amin, Senin (10/8) di Kantor Kemenag RI Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat saat jumpa pers mengenai perhelatan Pentas PAI Nasional VII 2015.

Kamaruddin menjelaskan, bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika, pendidikan agama hanya sebagai instrumen menciptakan kohesi sosial. Sedangkan di negara-negara Timur Tengah, pendidikan agama untuk membentuk manusia yang shaleh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Di Indonesia, pendidikan agama mempunyai tujuan kedua-duanya. Selain untuk menciptakan manusia-manusia berilmu pengetahuan dan menumbuhkan kohesi sosial, artinya mewujudkan keseimbangan kehidupan di tengah masyarakat, pendidikan agama di Indonesia juga untuk membentuk manusia yang shaleh,” terangnya didampingi Direktur Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Dr H Amin Haedari.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Manusia yang shaleh pun, lanjutnya, bukan hanya shaleh secara spiritual, tetapi pendidikan agama di Indonesia juga berupaya menciptakan manusia yang shaleh secara sosial dan moral.

“Sehingga dengan demikian, pemahaman pendidikan agama tersebut, akan membentuk generasi bangsa  yang bisa menghargai perbedaan, tradisi, dan budaya, bersikap moderat, demokratis, inklusif (open minded, red), dan damai,” paparnya.

Dengan mencanangkan pengajaran Islam damai di sekolah, Kamaruddin berharap melalui gelaran Pentas PAI Nasional ketujuh ini, pendidikan dan pengajaran PAI di sekolah agar lebih menarik lagi sehingga memotivasi siswa belajar agama. “Pemahaman Islam damai harus kita wujudkan, karena potensi radikalisme di sekolah-sekolah tetap ada,” tegasnya.

Tahun 2015 ini, Kemenag RI melalui Ditjen Pendis menyelenggarakan Pentas PAI VII bertajuk ‘Sportif Berkompetisi, Raih Prestasi, Bumikan PAI’. Kegiatan ini berlangsung pada 10-14 Agustus 2015 di Asrama Haji Embarkasi Bekasi Jawa Barat.

Kegiatan ini akan diikuti oleh 1000 peserta hasil seleksi tingkat nasional yang terdiri dari siswa SD, SMP, SMA, dan SMK dari 33 Provinsi. Adapun jenis kreativitas lomba yang dikompetisikan adalah Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Pidato PAI (LPP), Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ), Lomba Cerdas Cermat PAI (LCP), Lomba Kaligrafi Islam (LKI), Lomba Seni Nasyid (LSN), Lomba Debat PAI (LDP), dan Lomba Kreasi Busana (LKB). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah