Jumat, 17 Januari 2014

Nabi Sulaiman, Semut, dan Rezeki Cacing Buta

Pada suatu hari Nabi Sulaiman a.s. duduk di pinggir danau. Sejurus kemudian, ia melihat seekor semut membawa sebiji gandum. Nabi Sulaiman a.s. terus memperhatikan semut itu, yang tengah menuju ke tepi danau.

Tiba-tiba ada seekor katak yang keluar dari dalam air seraya membuka mulutnya. Entah bagaimana prosesnya, semut itu kemudian masuk ke dalam mulut katak. Kemudian, katak itu pun menyelam ke dasar danau dalam waktu yang cukup lama.

Nabi Sulaiman, Semut, dan Rezeki Cacing Buta (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Sulaiman, Semut, dan Rezeki Cacing Buta (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Sulaiman, Semut, dan Rezeki Cacing Buta

Sementara Nabi Sulaiman a.s. memikirkan peristiwa barusan, katak tersebut keluar dari dalam air dan membuka mulutnya. Lalu semut itu keluar, sementara sebiji gandum yang dibawanya sudah tidak ada lagi bersamanya.

Nabi Sulaiman a.s. memanggil semut itu dan menanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan barusan, ”Wahai semut, apa yang kamu lakukan selama berada di mulut katak?”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

”Wahai Nabiyullah, sesungguhnya di dalam danau ini terdapat sebuah batu yang cekung berongga, dan di dalam cekungan batu itu terdapat seekor cacing yang buta,” jawab semut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Cacing tersebut tidak kuasa keluar dari cekungan batu itu untuk mencari penghidupannya. Dan sesungguhnya Allah telah mempercayakan kepadaku urusan rezekinya,” lanjut semut.

”Oleh karena itu, aku membawakan rezekinya, dan Allah swt. telah menguasakan kepadaku sehingga katak ini membawaku kepadanya. Maka air ini tidaklah membahayakan bagiku. Sesampai di batu itu, katak ini meletakkan mulutnya di rongga batu itu, lalu aku pun dapat masuk ke dalamnya,”

“Kemudian setelah aku menyampaikan rezeki kepada cacing itu, aku keluar dari rongga batu kembali ke mulut katak ini. Lalu katak ini mengembalikan aku di tepi danau.”

Nabi Sulaiman a.s. kemudian bertanya, ”Apakah kamu mendengar suara tasbih cacing itu?”

”Ya, cacing itu mengucapkan: Yâ man lâ yansani fî jaufi hâdzihi bi rizqika, lâ tansâ ‘ibâdakal mu’minîna bi rahmatik (Wahai Dzat Yang tidak melupakan aku di dalam danau yang dalam ini dengan rezeki-Mu, janganlah Engkau melupakan hamba-hamba-Mu yang beriman dengan rahmat-Mu)."

Demikianlah, Allah mengatur rezeki segenap makhluknya, termasuk manusia. Sebagaimana pesan al-Qur’an dalam surat Hûd ayat 6: Wa mâ min dâbbatin fil ardli illâ ‘alaLlahi rizquhâ (Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya)

(Ajie Najmuddin/disarikan dari Kisah 25 Rasul)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 15 Januari 2014

Ansor Surabaya Gelar Haul Ke-55 Pencipta Lambang NU Kiai Ridwan Abdullah

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Haul Ke-55 Almaghfurllah KH Ridwan Abdullah pencipta lambang Nahdlatul Ulama (NU) digelar pada Sabtu (29/7) lalu di Gedung Nasional Indonesia, Surabaya, Jawa Timur.

Acara yang dihadiri oleh Katib Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Syafruddin, KH Imam Ghazali Said, Rois Syuriah PCNU Surabaya KH Mas Sulaiman, Ketua PCNU Surabaya H. Muhibbin Zuhri, Ketua GP Ansor Surabaya M Faridz Afif, Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU, Ansor, dan seluruh nahdliyin Kota Surabaya.

Ansor Surabaya Gelar Haul Ke-55 Pencipta Lambang NU Kiai Ridwan Abdullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Surabaya Gelar Haul Ke-55 Pencipta Lambang NU Kiai Ridwan Abdullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Surabaya Gelar Haul Ke-55 Pencipta Lambang NU Kiai Ridwan Abdullah

Menurut Gus Afif, panggilan akrab Ketua GP Ansor Surabaya mengatakan, haul ini sebagai pengingat kita untuk senantiasa meneladani Kiai Ridwan Abdullah. "Meneladani kesederhanaan, meneladani keikhlasan mengabdi pada Nahdlatul Ulama," katanya di sela-sela acara Haul ke 55 Kiai Ridwan Abdullah.

"Rasulullah SAW pun memerintahkan kita dengan sabdanya: Udzkuru mahasina mautakum (Renung renungkanlah, ingat-ingatlah, sebut-sebutlah jasa-jasa, kebaikan-kebaikan orang-orang mati kamu)," ujarnya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lebih lanjut, Gus Afif mengatakan, pengabdian Kiai Ridwan kepada NU penuh totalitas dan ikhlas.?

"Beliau berkata kepada semua generasi NU jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah! Kalau sampai tidak makan, komplain aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati, maka tagihlah ke batu nisanku," tegasnya mengutip wasiat Kiai Ridwan Abdullah.

Selain melangsungkan Haul Ke-55 KH Ridwan Abdullah, juga halal bihalal PCNU Kota Surabaya dan pelantikan pengurus MWCNU Kecamatan Bubutan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 14 Januari 2014

GP Ansor Solo Adakan Pembinaan Koperasi

Solo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Gerakan Pemuda (GP) Ansor Solo, Jumat (8/2) kemarin, mengadakan kegiatan pembinaan koperasi dengan mengundang pembicara dari Dinas Koperasi (Dinkop) dan UMKM Kota Surakarta. Acara tersebut diikuti sekitar 25 orang yang rencananya akan menjadi calon pendiri Koperasi Syariah Nusa Muda.

GP Ansor Solo Adakan Pembinaan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Solo Adakan Pembinaan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Solo Adakan Pembinaan Koperasi

Ketua GP Ansor Solo, Muhammad Anwar dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini merupakan persiapan pembentukan koperasi yang menjadi program Ansor Solo. Koperasi Nusa Muda ini nantinya akan berbentuk Koperasi Serba Usaha (KSU).

“Kalau berdasar pada pimpinan (Ansor) pusat bentuk koperasi mesti simpan pinjam, tapi berdasar rapat pengurus, rencananya akan berbentuk KSU,” Terang Anwar di hadapan anggota.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sedangkan perwakilan dari Dinkop, Suwandi, menjelaskan beberapa kendala pendirian koperasi, ”Sekarang ini sedang masa transisi. Undang-Undang Koperasi yang lama diganti yang terbaru, UU No 17 th 2012,”

Suwandi juga menjelaskan jenis koperasi berdasarkan peraturan terbaru yakni produksi, konsumsi, jasa, dan simpan-pinjam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dari keempat jenis itu, bisa dipilih mana yang paling potensial,” terangnya.

Dalam kegiatan pembinaan tersebut juga muncul pengkritisan terhadap Undang-Undang Koperasi yang tidak berpihak pada usaha kecil. Sebagai contoh beberapa perusahaan besar dengan mudahnya mendirikan banyak unit usaha, akan tetapi untuk koperasi mengharuskan satu jenis usaha saja.

Acara yang di gelar di kantor PCNU Surakarta tersebut dihadiri ketua NU Solo, A Helmi Sakdillah. Pendirian koperasi ini rencananya juga akan diikuti oleh MWC NU di Surakarta. Harapannya dengan adanya kegiatan ekonomi seperti ini, dapat menumbuhkan kemandirian warga NU di Solo.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 08 Januari 2014

Mal-Hayat li Ahlil Mamat, Polemik Wahdatul Wujud di Nusantara Abad Ke-17

Ini adalah halaman pertama dan kedua dari kitab “Mâl-Hayât li Ahlil-Mamât” karangan ulama besar Nusantara di Kesultanan Aceh asal Rander (Gujarat, India), Syaikh Nûr al-Dîn Muhammad ibn ‘Alî ibn Hasanjî ibn Hamîd al-Rânîrî al-Syâfi’î (dikenal dengan Nuruddin al-Raniri, w. 1069 H/ 1658 M).

“Mâl-Hayât li Ahlil-Mamât” berisi tentang kajian tasawuf berdasarkan “papakem” resmi (sunni), sekaligus meluruskan pandangan tasawuf filsafat (teosofi) yang berkecenderungan pada paham pantheisme (wahdatul wujud) dan pada masa itu berkembang dengan cukup semarak di wilayah Kesultanan Aceh dan wilayah “Buldân Taht al-Rîh” (Negeri Bawah Angin atau Nusantara) lainnya.

Mal-Hayat li Ahlil Mamat, Polemik Wahdatul Wujud di Nusantara Abad Ke-17 (Sumber Gambar : Nu Online)
Mal-Hayat li Ahlil Mamat, Polemik Wahdatul Wujud di Nusantara Abad Ke-17 (Sumber Gambar : Nu Online)

Mal-Hayat li Ahlil Mamat, Polemik Wahdatul Wujud di Nusantara Abad Ke-17

Kitab “Mâ al-Hayât” ini, bersama kitab-kitab setema karangan Syaikh Nuruddin al-Raniri lainnya seperti “Hujjah al-Shiddîq li Daf’ al-Zindîq”, “Fath al-Mubîn ‘alâ al-Mulhidîn”, dan “al-Tibyân fî Ma’rifah al-Adyân”, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam upaya membendung perkembangan paham Pantheisme di Nusantara, untuk kemudian merubah alur paham dan kajian tasawuf Islam ke arah yang resmi (ortodoks), yaitu tasawuf sunni.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Paham Pantheisme (Wahdatul Wujud, atau bersatunya eksistensi [dzât] manusia dan alam semesta dengan Tuhan) telah berkembang di Kesultanan Aceh dan beberapa wilayah Nusantara lainnya sekitar paruh pertama abad ke-17 M. Di antara ulama Aceh pada masa itu yang menyokong paham ini adalah Syaikh Hamzah al-Fanshûrî (w. ?) dan Syaikh Syams al-Dîn al-Samathrânî (Syamsuddin Sumatrani, w. 1039 H/ 1630 M). Di Jawa, terdapat tokoh yang dikenal dengan Syaikh Siti Jenar yang juga menjadi penghulu paham ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berbeda dari Syaikh Siti Jenar di Jawa yang hingga saat ini keberadaannya masih misterius dan karya-karyanya belum terlacak, kedua tokoh dari Kesultanan Aceh, yaitu Syaikh Hamzah Fansuri dan Syaikh Syamsuddin Sumatrani, sosok dan jejak intelektualnya dapat dilacak dengan sangat baik. Karya-karya keduanya masih dapat dijumpai, sehingga memudahkan peneliti untuk mengkajinya.

Di antara karya Syaikh Hamzah Fansuri yang memuat pandangan-pandangan tentang teosofi dan paham pantheismenya adalah “Syarâb al-‘Âsyiqîn” (Minuman Para Perindu). Sementara pandangan serupa dari Syaikh Syamsuddin Sumatrani dapat ditelisik dalam karyanya yang berjudul “Mirât al-Muhaqqiqîn” (Cermin Para Ahli Kebenaran).

Baik Syaikh Hamzah Fansuri ataupun Syaikh Syamsuddin Sumatrani, kedua-duanya memiliki kedudukan tinggi dan pengaruh besar di dalam Kesultanan Aceh, baik di dalam lingkungan bangsawan kerajaan atau pun masyarakat awam. Syaikh Syamsuddin Sumatrani adalah mufti, qadhi, dan imam besar Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (memerintah 1607-1636 M).

Ketika Syaikh Syamsuddin Sumatrani wafat pada 1630 M, lalu disusul oleh wafatnya Sultan Iskandar Muda pada tahun 1636 M, peran dan pengaruh Syaikh Nuruddin al-Raniri mulai mewarnai dan menancap di Kesultanan Aceh, dengan paham dan pemikiran yang jauh berbeda dari Syaikh Syamsuddin Sumatrani. Syaikh Nuruddin al-Raniri membawa faham tasawuf Islam yang resmi dan “lempang” (sunni), tidak “liyan” dan “meliuk-liuk” seperti Syaikh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani sebelumnya.

Tidak banyak sumber-sumber rujukan yang memuat data dan informasi tentang sosok Syaikh Nuruddin al-Raniri sebelum kedatangannya ke Aceh. Yang jelas, beliau adalah orang India, berasal dari Ranir (Rander), sebuah kawasan pesisir di wilayah Gujarat, India. Melihat jejak intelektual dan karya-karya besarnya, bisa dipastikan jika Al-Raniri adalah sosok ulama yang memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni, serta menguasai banyak bahasa; Arab, Persi, Gujarati, Melayu, dan Aceh.

Al-Raniri lalu tiba di Kesultanan Aceh pada tahun 1636 M dan mengajar di sana. Reputasinya segera melejit dan gaung intelektualnya membahana. Nama besarnya segera sampai di lingkungan Kesultanan Aceh. Sultan Aceh yang memerintah waktu itu, yaitu Sultan Iskandar Tsani (memerintah 1636-1641 M), mendaulat Syaikh Nuruddin al-Raniri menjadi mufti, qadhi, dan imam besar kesultanan.

Karir al-Raniri sebagai mufti, qadhi, dan imam besar Kesultanan Aceh terus berlanjut selepas kemangkatan Sultan Iskandar Tsani pada tahun 1641 M, yang mana tampuk kekuasaan diteruskan oleh istrinya, Sultanah Tajul Alam Shafiyatuddin Syah Berdaulat Zhillullah fil ‘Alam (Sultanah Shafiyatudin, memerintah 1642-1675 M).

Reformasi besar-besaran dan radikal terhadap paham keagamaan di lingkungan Kesultanan Aceh dilakukan dengan sangat serius oleh al-Raniri. Paham “wahdatul wujud” dibersihkan hingga akar-akarnya. Ia pun banyak menganggit kitab terkait masalah ini, di antaranya adalah “Mâl-Hayât li Ahlil-Mamât” (yang berarti “Mata Air Kehidupan bagi Orang-Orang yang Mata Hatinya Mati Karena Kesalahan Faham Agama”).

Ada beberapa naskah salinan dari kitab “Mâl-Hayât li Ahlil-Mamât” ini. Salah satunya adalah salinan yang tersimpan dan menjadi koleksi Drs. Nurdin AR, salah seorang kolektor manuskrip dan naskah-naskah tua dari Banda Aceh. Nurdin memiliki 3 koleksi naskah salinan atas kitab “Mâ al-Hayât”. Masing-masing dengan nomor kode MINA (Manuskrip Islam Nurdin AR) 20, MINA 24, dan MINA 56.

Nah, gambar di atas adalah gambar dari halaman pertama dan kedua dari naskah bernomor-kode MINA 56. Naskah tersebut berukuran 20x14 cm dan berjumlah 26 halaman di mana terdapat 21 baris di hampir setiap halamannya.

Adalah guru saya, Prof. Dr. Sangidu, guru besar Sastra Arab di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang mengkaji kitab “Mâ al-Hayât” sebagai bahan utama disertasi beliau. Hasil kajian tersebut kemudian diterbitkan sebagai buku dengan judul “Wachdatul Wujud; Polemik Pemikiran Sufistik antara Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Samatrani dengan Nuruddin ar-Raniri” pada tahun 2003 oleh Gama Media (Yogyakarta). Terdapat beberapa lampiran foto naskah kitab “Mâ al-Hayât” dalam buku tersebut, salah satunya adalah foto beberapa halaman naskah MINA 56. Dari sanalah saya kemudian mengambil gambar halaman naskah tersebut.

“Mâ al-Hayât” ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu beraksara Jawi. Dalam naskah salinan MINA 56, redaksi bahasa Arab ditulis dengan tinta berwarna merah, lalu diterjemahkan secara interlinier dalam bahasa Melayu dan ditulis dengan tinta berwarna hitam.

Syaikh Nuruddin al-Raniri tidak menyebutkan hari, tanggal, dan tahun ditulis dan diselesaikannya kitab “Mâ al-Hayât”. Namun, di sana beliau menyebutkan jika kitab tersebut ditulis atas prakarsa dari Sultanah Syafiyatuddin. Dalam kata pengantarnya, al-Raniri menulis;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Maka telah memerintahkan kepadaku tuan ratu kita yang mulia, junjungan kita yang agung, anak puteri dari seorang sultan anak seorang sultan, anak putri dari seorang khâqân [penguasa, bahasa Turki] anak seorang khâqân, Seri Sultanah Tajul Alam Shafiyatuddin Syah Berdaulat Zhillullâh fil ‘Alam [Bayang-Bayang Allah di Dunia]).

Al-Raniri kemudian melanjutkan;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

(Agar aku mengarang sebuah risalah yang menjelaskan duduk perkara madzhab sufi muwahhidî [wahdatul wujud/ pantheisme], dari madzhab wahdatul wujud yang mulhid [atheis]. Agar yang haq menjadi tampak daripada yang batil, dan agar yang samar dan kabur pun menjadi jelas. Maka aku pun menulis risalah ini yang meskipun ukurannya kecil, namun faidahnya sangat agung dan sejelas cahaya).

Sebelumnya, al-Raniri menjelaskan jika paham “wahdatul wujud” yang dipandangnya menyimpang itu telah banyak tersebar di kalangan umat Muslim di kawasan “Negeri Bawah Angin” (Nusantara). Banyak pula para penyokong paham ini, hingga menjadikan masyarakat awam pun kebingungan akan pandangan keagamaan mereka. Al-Raniri menulis;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?(?) ? ?.

(ketika sekelompok orang penganut paham wujudiyyah [wahdatul wujud] yang mulhid dan zindiq, dan pandangan mereka ini telah tersiar di banyak negeri bawah angin. Mereka mengajarkan apa yang dikatakan oleh Syadad, Namrud, dan Fir’aun, bahkan mereka lebih buruk dari itu semua. Mereka berkata bahwa Allah adalah diri kami dan wujud kami, dan [kami] adalah diri Allah dan wujud Allah).

Sayangnya, karir al-Raniri terjegal di tengah jalan, dan proyek reformasi pemikiran keagamaannya pun tersendat. Beliau kembali tergeser oleh sebagian tokoh paham “wahdatul wujud” yang masih tersisa, dan kembali mendapatkan panggung di lingkungan kesultanan. Al-Raniri pun memutuskan untuk pulang ke kampong halamannya di Rander, India. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1054 H (1644 M). Beliau meninggal di India pada 22 Dzulhijjah 1068 Hijri (21 September 1658 M).

Meski demikian, proyek reformasi keagamaan al-Raniri yang hendak mengembalikan paham keagamaan kepada jalur resmi (Sunni) dilanjutkan kembali oleh penerusnya, yaitu Syaikh Abdul Rauf Singkel (Syaikh ‘Abd al-Raûf ibn ‘Alî al-Fanshûrî al-Sinkilî al-Jâwî, 1615-1693 M). (A. Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan, Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 06 Januari 2014

PMII Bojonegoro Gelar Pentas Seni Bersama Anak Terminal

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bojonegoro, mengadakan pentas seni, Selasa (6/5/2014) malam. Kegiatan yang digelar di Terminal Rajekwesi Bojonegoro itu menutup peringatan Hari Lahir (Harlah) PMII ke-54.

PMII Bojonegoro Gelar Pentas Seni Bersama Anak Terminal (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bojonegoro Gelar Pentas Seni Bersama Anak Terminal (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bojonegoro Gelar Pentas Seni Bersama Anak Terminal

Acara pentas seni itu dimeriahkan oleh sejumlah seniman dan musikalisasi di Bojonegoro, seperti penggemar Iwans Fals (Oi), Teather Giri, musik akustik anak-anak terminal dan group sholawat dari PMII Bojonegoro.

Ketua panitia, Ahmad Syahid mengatakan, jika PMII tidak sekedar bisa mengkritisi pemerintah melalui demo dan melakukan pengkaderan kepada anggota. Namun, PMII juga bisa berbaur dengan siapa pun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Malam ini luar biasa, mulai dari anak jalanan, anak terminal dan mahasiswa berkumpul dan belajar bersama," tandasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PMII Bojonegoro, Ahmad Muhajirin mengungkapkan, dalam rangkaian Harlah PMII ke-54 tersebut pihaknya sudah menggelar banyak acara diantaranya, sarasehan dan temu alumni PMII se-Bojonegoro. Serta Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) Nasional, Tahtimul Quran bin Nadhar, PMII Bersholawat dan pentas seni.

"Mudah-mudahan acara demi acara yang sudah berlangsung dapat bermanfaat bagi sahabat-sahabat semuanya," ujarnya.

Ahmad Syahid menambahkan, sebetulnya acara penutupan ini akan dilakukan pada 26 April 2014. "Tetapi karena kita ditahan polisi saat melakukan aksi demo, maka kita undur malam ini," pungkasnya. (M Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 03 Januari 2014

Cara Gusdurian Solo Peringati Haul Gus Dur

Solo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Memperingati Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-7, Komunitas Gusdurian Solo mengadakan acara yang diisi dengan pembacaan doa, puisi, dan diskusi. Kegiatan tersebut akan dihelat di Hik RBI, Jumat (30/12) malam.

Koordinator acara, Ahmad Rodif, menerangkan peringatan haul kali ini mengetengahkan tema "Menyemai Benih Toleransi Ala Gus Dur". "Tema ini sengaja kita pilih, mengingat kondisi bangsa ini, yang makin banyak terjadi peristiwa intoleransi, baik di dunia nyata maupun dunia maya," kata Rodif.

Cara Gusdurian Solo Peringati Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Gusdurian Solo Peringati Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Gusdurian Solo Peringati Haul Gus Dur

Ditambahkan Rodif, momentum haul ini diharapkan, selain untuk mengenang kembali sosok Gus Dur, juga meneladani sikap dan nilai yang diwariskannya ? melalui penuturan beberapa tokoh yang pernah bersinggungan langsung semasa hidup Gus Dur.

Adapun narasumber yang akan mengisi sesi diskusi, yakni KH M Dian Nafi (Pesantren Al-Muayyad Windan), Solahudin Aly (PW GP Ansor Jawa Tengah) dan Prof. Hermanu (Dosen UNS).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain pembacaan doa dan puisi, rencananya juga akan dimeriahkan dengan pentas musik akustik. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, IMNU, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 02 Januari 2014

Mau Tak Mau Pemuda Harus Siap Hadapi Geliat Pasar Bebas

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Keberadaan Pemuda dalam sebuah entitas masyarakat tentu mendapatkan harus ruang strategis untuk mengisi pembangunan. Hal itu mengemuka dalam seminar yang digelar oleh Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Subang di Hotel Markoni Pamanukan, Rabu (32/8).

Pada seminar bertema “Ansor dan Peran Sertanya dalam Menumbuhkan Kekuatan Ekonomi Lokal,” tersebut, tampil sebagai narasumber anggota DPR RI Doni Ahmad Munir dan Eko Surya Effendi (PW Ansor Jabar Korwil Subang, Karawang, Purwakarta, Kab/ Kota Bekasi dan Depok).

Mau Tak Mau Pemuda Harus Siap Hadapi Geliat Pasar Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Mau Tak Mau Pemuda Harus Siap Hadapi Geliat Pasar Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Mau Tak Mau Pemuda Harus Siap Hadapi Geliat Pasar Bebas

Menurut Doni, keberadaan pemuda ditengah arus globalisasi dan pasar bebas hari ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam setiap kompetisi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Siap tidak siap, pemuda harus mempersiapkan diri dalam kancah persaingan global yang kompetitif seperti saat sekarang ini. Sikap mental dan kualitas sumber daya juga akan menjadi modal penting dalam persaingan itu," katanya.

Dikatakan, persaingan tersebut tentu tidak akan menjadi kendala jika beberapa indikator tersebut dimiliki oleh seorang pemuda.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kemampuan skill, cerdas, motivasi dan kemauan yang tinggi, tehnik loby, berpikir sehat, tanggung jawab, sabar dan mengembangkan jaringan akan menjadi kunci dalam setiap kompetisi," tegasnya.

Hal senada disampaikan nara sumber yang kedua, Eko Surya Effendi. Mnurutnya, implikasi dalam dinamika pasar bebas ini juga bisa dilihat dari tanggung jawab seorang pemuda di daerahnya.

"Sederhananya, masa kita akan menjadi tamu dirumah sendiri. Artinya, segala apa pun yang menjadi potensi di negara ini tentu menjadi tanggung jawab rakyatnya. Di sinilah peran seorang pemuda dipertaruhkan," kata Eko.

Dirinya mengingatkan, kendati sikap ego seorang pemuda tinggi, namun dalam urusan bisnis jangan sekali-kali merasa gengsi dengan apa pun itu profesinya.

"Karena, berdasarkan data dan informasi, negara-negara tetangga sudah mulai masuk ke Indonesia dengan beberapa profesi. Jadi tukang cukur aja mereka mau. Kita yang memiliki sumber daya alam mestinya harus bisa lebih dari mereka," pungkasnya.

Selain kedua nara sumber tersebut, turut hadir Ketua DPRD Subang Beni Rudiono, Ketua PCNU Subang KH. Musyfiq Amrullah, Ketua Baznas Subang Anang Jauharudin, Kepala Kementrian Agama Kabupaten Subang Sukandar dan seluruh badan otonom Nahdlatul Ulama Kabupaten Subang. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai, Makam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah