Senin, 19 September 2011

Warga Dihimbau Dukung dan Besarkan Sekolah atau Madrasah NU

Pringsewu, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Dalam kunjungan yang dilakukan oleh SMK Maarif Fajaresuk Pringsewu ke SMK Maarif Kota Gajah Lampung Tengah, Jumat (12/02/16) Bendahara Lembaga Pendidikan Maarif NU Pringsewu H Auladi Rosyad menghimbau warga NU khususnya di Kabupaten Pringsewu untuk mendukung dan membesarkan sekolah atau madrasah berbasis NU di Kabupaten Pringsewu.

Warga Dihimbau Dukung dan Besarkan Sekolah atau Madrasah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Dihimbau Dukung dan Besarkan Sekolah atau Madrasah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Dihimbau Dukung dan Besarkan Sekolah atau Madrasah NU

"Siapa lagi yang akan membesarkan Lembaga Pendidikan NU seperti Ma’arif kalau bukan diawali oleh warganya sendiri. Bekali putra-putri kita sejak dini dengan pendidikan Ahlussunnah wal Jamaah dengan menyekolahkannya di Lembaga Pendidikan NU," kata Rosyad yang juga tenaga pendidik di SMK Maarif NU Fajaresuk.

Pada kesempatan tersebut Rosyad menyatakan bahwa LP Ma’arif NU Pringsewu yang menaungi sekolah dan madrasah di Kabupaten Pringsewu berkomitmen untuk terus meningkatkan mutu pendidikan melalui berbagai macam terobosan dan inovasi pendidikan. 

"Salah satunya kami mendorong sekolah dan madrasah Ma’arif untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi serta secara intensif melakukan kajian manajemen pengelolaan madrasah seperti melakukan studi banding yang sekarang dilakukan oleh SMK Maarif Fajaresuk ini," jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain dapat menjadi kesempatan silaturahmi antar lembaga Ma’arif, kunjungan studi banding dapat dimaksudkan untuk mengkaji secara komprehensif segala hal terkait pendidikan seperti kurikulum, silabus, proses KBM, dan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan untuk kelancaran pendidikan.

"Kami berharap dari kunjungan ke SMK Maarif Kota Gajah Lampung Tengah ini, kami akan mendapatkan ilmu dan inspirasi untuk diaplikasikan di Pringsewu sehingga kualitas sekolah dan madrasah di bawah naungan LP Ma’arif wabil khusus SMK Maarif Fajaresuk Pringsewu akan lebih baik," ujarnya.

Rosyad menambahkan bahwa dipilihnya SMK Ma’arif Kota Gajah Lampung Tengah sebagai tempat kunjungan studi karena di SMK tersebut memiliki jurusan yang sama dengan yang ada di SMK Ma’arif Fajaresuk yaitu Perbankan Syariah.

"Kami ingin murid angkatan pertama SMK Maarif Fajaresuk dapat menunjukkan kualitasnya seiring dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang diselenggarakan di sini," pungkasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kunjungan studi banding tersebut diikuti oleh tim manajemen, perwakilan dewan guru, dan beberapa siswa dan siswi SMK Ma’arif Fajaresuk. (Muhammad Faizin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 08 September 2011

Gus Dur Bapak Humanis (1)

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Banyak gelar yang disematkan kepada Ketua Umum PBNU 1984-199, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Mulai dari Guru Bangsa, Bapak Demokrasi hingga Bapak Pluralisme.

?

Gus Dur Bapak Humanis (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Bapak Humanis (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Bapak Humanis (1)

Menurut pemerhati pemikiran Gus Dur, Syaiful Arif, gelar yang paling tepat untuk cucu pendiri NU tersebut adalah Bapak Humanisme. Ia menjelaskan alasannya dengan membagi fase Gus Dur; yaitu Gus Dur muda dan Gus Dur tua.

?

“Gus Dur muda adalah teoritis, dan masa tua disebut “Gus Dur praktis” atau “Gus Dur Muda” dan “Gus Dur Tua”.

?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gus Dur muda dari tahun 1970 sampai pertengahan 90. Gus Dur Muda pemikirannya layak menjadi diskursus intelektual karena tulisan-tulisannya tidak hanya dalam bentuk opini di koran, tapi di makalah-makalah panjang. Baik dalam jurnal seperti Prisma, Pesantren, di koran-koran, maupun makalah-makalah seminar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Nah, dengan tulisan-tulisan panjang itu kan kita bisa merumuskan pemikiran Gus Dur sebagai wacana intelektual dan materi-materi akademis.”

?

Sementara Gus Dur tua itu sejak menjadi presiden sampai lengser. Waktu itu tulisan Gus Dur hanya dipercikan di koran. Gus Dur yang sudah sepuh itu ya Gus Dur yang sudah ? praktis.

?

Tulisan-tulisan di koran adalah refleksi dari peristiwa-peristiwa aktual atau penggalian kembali memori pemikiran yang masih ada dalam endapan di pemikirannya.

?

“Selama ini banyak orang menempatkan Gus Dur hanya di dalam Gus Dur di era tua. Mereka tidak masuk di dalam pemikiran Gus Dur di era muda.”

?

“Pribumisasi Islam adalah basis struktur dari pemikiran Islam Gus Dur itu kemudian menopang struktur pemikiran Islam Gus Dur, yakni Islam sebagai etika sosial. Kenapa? Karena Islam sebagai etika sosial adalah pemikiran Islam Gus Dur yang menempatkan Islam sebagai etika masyarakat; akhlak sosial.”

?

Jadi, Gus Dur itu selalu memaknai akhlak sebagai etika sosial. Ia tidak pernah menafsiri di luar konteks itu, umpamanya akhlak adalah pribadi. Akhlak itu pasti dalam kurung etika sosial.

?

“Di Islam itu kan ada rukan Islam ada rukun iman. Rukun iman itu teologis, rukun Islam itu katakanlah amal ya dari iman.”

?

Kata Gus Dur, di dalam rukun Islam itu ada dimensi sosial ada zakat, ada haji ada shalat; ketika berjamaah. Artinya, amal-amal ritual itu sebenarnya bersifat sosial. Artinya memiliki keberpihakan terhadap pensejahteraan masyarakat.

?

Namun sayangnya, banyak sekali umat Islam yang hanya memahaminya dalam kerangka ritual individual. Akhirnya, rukun sosial itu tidak ada dampak sosialnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Abadullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pondok Pesantren, Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 06 September 2011

Benahi Kaderisasi, IPPNU Jombang Akan Perjuangkan Pembatasan Usia

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Momen kongres Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) XVII pada 4-8 Desember 2015 di Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, menjadi ajang pertukaran ide-ide untuk memperbaiki jenjang kaderisasi IPPNU ke depan. Hal ini yang menjadi perbincangan intensif di tingkat cabang IPPNU Jombang.

Aliyah, Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPPNU Kabupaten Jombang, Jawa Timur menegaskan bahwa kaderisasi yang lebih menentukan maju dan tidaknya suatu organisasi. Topik ini, katanya, hendaknya menjadi pembahasan utama dalam kongres nanti, melihat kaderisasi IPPNU masih perlu disempurnakan.

Benahi Kaderisasi, IPPNU Jombang Akan Perjuangkan Pembatasan Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Benahi Kaderisasi, IPPNU Jombang Akan Perjuangkan Pembatasan Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Benahi Kaderisasi, IPPNU Jombang Akan Perjuangkan Pembatasan Usia

“Kaderisasi juga menjadi penentu progress dan tidaknya suatu organisasi,” katanya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah saat dihubungi, Kamis (3/12) pagi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menilai selama ini kaderisasi IPPNU masih belum diperhatikan dengan baik oleh semua tingkat kepengurusan, terlebih lagi batas usia pada anggota, pengurus dan ketua. Padahal pengkaderan NU berjenjang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Usia 12 tahun mayoritas sudah lulus SD/MI dan mau masuk SMP/MTs dan seterusnya. Mulai tingkat SMP/MTs dan MA/SMA meraka harus kenal dengan IPNU-IPPNU. Pada usia yang sudah sangat matang mereka bisa masuk Fatayat, Ansor dan NU,” tuturnya.

Batas-batas usia yang seperti ini, kata dia, harus mulai diperhitungkan dan diperbincangkan saat kongres. Bahkan pihaknya mengusulkan untuk ketua umum IPPNU maksimal berusia 27 tahun sesuai hasil Rapimwil pada tanggal 1 Oktober 2015 lalu.

“Kita berkomitmen untuk memperjuangkan batas-batas usia ini dan juga merumuskan strategi jitu dalam menyempurnakan kaderisasi,” ungkapnya.

Aliyah berharap perjalanan kongres IPPNU selama lima hari dapat berjalan sesuai dengan harapan. Ia juga mengungkapkan dalam menentukan pemimpin pada periode selanjutnya tidak boleh gegabah, perlu slekstif melalui informasi terkait perkembangan para kandidat yang mulai ramai diperbincangkan. (Syamsul/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Kajian, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 01 September 2011

Agama dan Problem Kependudukan

Oleh Amanah Nurish 

Tulisan ringan ini bermaksud untuk memaparkan fenomena mengenai isu kependudukan yang dilekatkan dengan mitos sekaligus konstruksi agama. Dalam sejarah peradaban manusia, faktor sumber daya alam dan agraria senantiasa menjadi sumber utama dalam konflik antar golongan, suku, negara, dan bangsa. Nilai-nilai utama dalam kekuasaan memang tidak lepas dari dua unsur penting; yakni sumber daya alam dan agraria. Pengaruh utama penyebab perang dan konflik di dunia dalam memperebutkan wilayah kekuasaan dan sumber energi yang ada di perut bumi secara tidak sengaja mengorbankan dua golongan umat manusia; kaum perempuan dan anak-anak.

Pascarevolusi industri, gaya hidup manusia bergeser dari cara hidup tradisional menjadi modern. Manusia lebih menggantungkan keberhasilan inovasi dan teknologi, termasuk pemanfaatan kemajuan teknologi kontrasepsi (Sachs, 2005). Di tengah arus modernisasi, jumlah manusia mengalami ledakan yang signifikan dari tahun ke tahun. Konsumsi energi, pangan, kesehatan, dan tempat tinggal menjadi semakin terbatas sehingga angka kemiskinan di dunia kian bertambah. Kemiskinan adalah penyebab utama dari kondisi ketidakmerataan ekonomi, sumber daya energi, dan lapangan pekerjaan pada populasi, yang biasanya diukur dari proporsi rumah tangga dengan penghasilan di bawah garis kemiskinan (Mason, 2005). Di Indonesia sendiri angka kelahiran dan ledakan penduduk menjadi salah satu kekhawatiran yang tak kunjung ada jawaban.

Agama dan Problem Kependudukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama dan Problem Kependudukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama dan Problem Kependudukan

Ledakan penduduk yang makin tak terkontrol selain menyebabkan masalah sosial dan ekonomi juga menyebabkan kerusakan ekosistem dan lingkungan hidup. Perebutan wilayah dan sumber daya alam yang konon memicu politik dunia tidak stabil sehingga terjadi konflik antar negara. Penekanan jumlah penduduk yang terus menerus diupayakan melalui program Millennium Declaration hingga disepakatinya indikator kependudukan dalam sasaran pembangunan global Millenium Development Golas (MDGs) masih menjadi pijakan yang cukup serius terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Regenerasi Atas Nama Agama

Peran Nahdlatul Ulama (NU) di masa orde baru sempat menjadi salah satu pilar penting dalam mensukseskan program pembangunan Keluarga Berencana Nasional (KBN) di tingkat Fatayat-Muslimat yang dialokasikan melalui wadah LKKNU. Selain organisasi NU, peran organisasi Muhammadiyah dalam program KBN juga memiliki keterlibatan yang cukup penting untuk dicatat. Melalui lembaga Majelis Pembina Kesehatan (MPK) Muhammadiyah didirikanlah klinik-klinik kesehatan dan rumah sakit untuk menyediakan pelayanan KB sekaligus pelayanan kesehatan reproduksi bagi kaum perempuan (Widyantoro, 2003). Namun organisasi-organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah dalam mendukung program KB mengalami fluktuasi. Peran MPK dan LKKNU yang bekerja sebagai lembaga advokasi perencanaan keluarga-yang zaman orde baru pemberdayaannya didukung oleh pemerintah, kini peran lembaga-lembaga tersebut mengalami kemandulan dan kemunduran.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Fatwa dari beberapa kelompok Islam radikal menyikapi KB sebagai suatu larangan dan diharamkan. Tentunya, menurut saya ini sungguh ancaman yang serius. Mengenai hukum KB menurut Syaikh Abdul Aziz Bin Baz adalah berdasarkan hasil Haiah Kibaril Ulama yakni organisasi ulama di Saudi yang telah memutuskan bahwa mengkonsumsi alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan tidak diperbolehkan dan bersifat haram. Dalam penjelasannya, kenapa KB itu diharamkan karena Allah mensyariatkan untuk hamba-Nya untuk mendapatkan keturunan dan memperbanyak jumlah umat.

Kelompok-kelompok radikal yang menganggap KB sebagai produk barat memegang teguh sebuah hadis yang berbunyi “Nikahilah wanita yang banyak anak lagi penyayang, karena sesungguhnya aku berlomba-lomba dalam banyak umat dengan umat-umat yang lain di hari kita” (Abu Daud 1/320, Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban No. 1229, Hakim 2/62). Interpretasi terhadap surat Al Isra yang berbunyi “Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar” (Al-Isra: 6) dipandang sebagai pedoman dalam memperbanyak keturunan. Persoalan kependudukan tidak hanya menyangkut masalah negara, melainkan juga melibatkan persoalan gender, ideologi dan agama yang turut bermain di dalamnya.

Tingginya angka ledakan penduduk di Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab dan kesadaran pemerintah saja, melainkan juga menjadi tanggung jawab dari semua elemen masyarakat. Jumlah penduduk yang kian hari kian bertambah tidak hanya menyebabkan terjadinya krisis pangan dan energi sebagai penopang kehidupan manusia, namun juga menyebabkan terjadinya krisis ekologi, oksigen, dan udara sehat yang akan dihirup oleh manusia-terutama di perkotaan. Kritik tajam atas masalah kependudukan di Indonesia pernah diungkapkan Prof Muhajir Darwin dari Pusat Studi Kependudukan (PSKK) Universitas Gadjah Mada, yang dengan tegas berpendapat bahwa isu-isu mengenai KB sudah tidak menjadi hal penting lagi semenjak runtuhnya rezim orde baru.

Problem kependudukan di Indonesia tidak sepenuhnya berada di tangan negara saja, melainkan juga menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai individu dan masyarakat. Jika pertumbuhan penduduk rata-rata setiap tahunnya meningkat antara 3,4 juta – 3,5 juta, maka jumlah angka kelahiran di Indonesia berkisar kurang lebih 9.589 bayi setiap harinya. Artinya, dengan laju pertumbuhan penduduk yang semakin tahun semakin meningkat, maka menurut laporan BKKBN tahun 2012 menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi oleh rakyat Indonesia adalah masalah ketahanan pangan, dengan rasionalitas sebagai berikut: (1) Alih fungsi lahan pertanian akibat tingginya urbanisasi (2) Perubahan iklim sehingga mempengaruhi kemampuan produksi dan stok pangan, gejolak penawaran dan permintaan pangan, serta gejolak dan ketidakpastian harga pangan (3) 27% penduduk rawan pangan (4) Masih tingginya prevalensi gizi buruk.

Keberhasilan pembangunan di suatu negara tidak hanya bergantung pada jumlah sumber daya alam yang tersedia, namun bergantung pada kualitas penduduk. Melalui beberapa wawancara yang saya lakukan dengan kelompok organisasi keagamaan kelompok radikal menunjukkan indikator bahwa persoalan ledakan penduduk di Indonesia tidak menjadi soal asalkan pemerintah dan negara bisa mengatur sumber daya alam, sehingga seberapapun jumlah penduduk di negeri ini tidak jadi masalah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ledakan populasi yang makin hari makin meningkat memiliki implikasi persoalan kriminalitas, kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan, krisis energi, dsb. Menurut saya hal ini menjadi penting untuk direnungkan karena dogma agama mempunyai potensi untuk membesarkan populasinya masing-masing demi alasan regenerasi umat. Masih relevankah anekdot “banyak anak banyak rejeki” di era kapitalisme global seperti sekarang ini?







Warga Nahdliyin dan peneliti di bidang sosial keagamaan masyarakat Asia Tenggara. Saat ini sedang bekerja sebagai konsultan tim USAID-Washington untuk program Agama, Perdamaian, dan Lingkungan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 28 Agustus 2011

PCNU Jember Geram Pelajaran SD Sebut Yerussalem Ibu Kota Israel

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Peredaan buku IPS kelas 6 SD yang berisi penyebutan Yerusslaem sebagai ibu kota Israel, diduga ada kesengajaan dari pihak-pihak tertentu. Sebab, buku tersebut sudah beredar cukup lama, yaitu sejak tahun 2008.  

PCNU Jember Geram Pelajaran SD Sebut Yerussalem Ibu Kota Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jember Geram Pelajaran SD Sebut Yerussalem Ibu Kota Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jember Geram Pelajaran SD Sebut Yerussalem Ibu Kota Israel

Demikian diungkapkan Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch Eksan menanggapi riuhnya tentang peredaran buku tersebut. PCNU merasa gerah dengan kasus tersebut. 

Menurutnya, tidak masuk akal jika itu disebut sebagai kekhilafan, apalagi  kesalahan cetak. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Saya tidak tahu motifnya apa. Tapi yang pasti sulit dibantah bahwa itu tidak ada unsur kesengajaan," ucapnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di Jember, Jumat (15/12).

Menurutunya,  pihak penerbit tidak cukup hanya minta maaf, lalu dianggap selesai. Aparat penegak hukum perlu mencari adanya kemungkinan unsur tindakan pidananya dalam kasus tersebut. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakannya, penyebutan Yerussalem sebagai ibu kota Israel jelas melukai hati umat Islam Indonesia dan bangsa Indonesia yang  sejak lama mendukung perjuangan rakyat  Palestina. Bahkan dalam KTT OKI, Presiden Joko Widodo ikut menegaskan bahwa Yerussalem adalah ibu kota Palestina. 

"Makanya selain bukunya ditarik secepatnya, pihak-pihak yang terlibat dalam penerbitan buku itu harus bertanggung jawab," lanjutnya.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur itu juga menyayangkan ketidakpekaan Dinas Pendidikan Jawa Timur dan pihak-pihak terkait dalam mengawasi buku yang beredar di sekolah-sekolah. Karena tidak peka atau memang lalai, sehingga buku yang seharusnya  tidak dibaca, beredar hingga bertahun-tahun. 

"Ironi, itu kesalahan  fatal," pungkasnya. (Aryudi A Razaq/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 21 Agustus 2011

Keindahan yang Hampir Hilang

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Membalas kesalahan adalah hak. Islam membenarkan. Jika kita dipukul, berhak memukul balik. Jika kita dirontokkan giginya, berhak membalasnya dengan hal yang sama. Jika ada satu nyawa dibunuh, berhak membunuh si pembunuh. Khusus dalam konteks Indonesia, ada konstitusi yang mesti ditaati.

Keindahan yang Hampir Hilang (Sumber Gambar : Nu Online)
Keindahan yang Hampir Hilang (Sumber Gambar : Nu Online)

Keindahan yang Hampir Hilang

Namun demikian, jika itu adalah suatu kebenaran, belum tentu suatu kebaikan. Jadi, tak hanya salah-benarnya, tetapi juga baik buruknya perlu dipertimbangkan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketika kecil dan ngaji cerita kisah nabi-nabi dulu, saya diceritai kisah. Suatu ketika, seorang muslim dikejar sekelompok orang Yahudi yang hendak membunuhnya. Ia berlari menuju Rasulullah yang sedang duduk dan berkata, "Wahai Rasulullah, lindungilah aku! Mereka ingin membunuhku, padahal aku tidak bersalah!"

Kemudian orang tersebut bersembunyi untuk menyelamatkan diri.Tidak lama kemudian sekelompok orang bersenjata berteriak-teriak dengan marah mendatangi Rasulullah karena kehilangan jejak incarannya, "Apakah kamu melihat seseorang lewat sini?" tanya mereka.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rasulullah berdiri dari duduknya dan berkata,"Sejak saya berdiri di sini dari tadi, saya tidak melihat orang lewat sini." Sekelompok orang bersenjata itu pun membubarkan diri. Akhirnya selamatlah nyawa orang yang sedang dicari untuk dibunuh. Cerita ini mirip dengan kisah Nabi Ibrahim ketika ditanya oleh ayahnya: siapa yang menghancurkan patung-patung ini. Beliau menjawab: berhala ini yang paling besar. Sebuah jawaban yang politis, filosofis, dan mantiq-is.

Saya hanya ingin mengatakan: itulah jawaban yang baik. Kebenaran belum tentu mengandung keindahan. Dan bisa juga disertai kebaikan. Para dosen bahasa Indonesia tentu tahu perbedaan bahasa yang baik dan benar. Keduanya beda, meski kadang menjadi satu dan dalam bentuk yang sama. Contoh: dengan bahasa baku, kita benar memakai bahasa, tetapi tidak baik jika untuk percakapan sehari-hari dengan teman. Akan kaku dan spaneng. Itulah, ada dimensi kebaikan, selain kebenaran.

Pun demikian dalam ajaran Islam. Alkisah, suatu ketika, Imam Syafii ditanya tentang suatu permasalahan, tapi beliau diam saja. Lalu seseorang berkata kepadanya, "Tidakkah kamu mau menjawab?" Imam Syafii berkata, "Sampai aku tahu apakah keutamaan ada dalam diam atau menjawab suatu pertanyaan." Dengan jawaban itu, bukan berarti Imam Syafii tak tahu jawaban, tetapi menimbang apakah fatwanya benar-benar memberi kemaslahatan. Jadi, tak sekadar dimensi kebenaran, tetapi juga kebaikan, yang menurut saya itu semua ada konteksnya, ruangnya dan tentu illat-nya.

Nah, di atas itu semua, masih ada satu lagi: dimensi keindahan. Memaafkan itu, selain adalah kebenaran, juga bernilai kebaikan, adalah suatu keindahan. Jika membalas itu hak, maka memaafkan adalah kemuliaan. Jika menolong orang jatuh dari motor itu bukan kewajiban, tetapi jika kita menolongnya, adalah kebaikan yang bernilai keindahan. Jika menteri atau anggota dewan memperjuangkan partai atau konstituennya adalah hak, tetapi memperjuangkan semuanya itu adalah keindahan, melampaui sekat. Ia pemimpin nasional.

Keindahan ada pada semua lini kehidupan.? Dalam sportivitas olah raga, seni, tradisi-budaya, lingkungan, relasi-sosial sampai spiritualitas-cinta dalam dunia tasawuf.

Dari berbagai profesi, intitusi, organisasi sampai media informasi, kini banyak yang hanya berebut benar, disertai menyalah-nyalahkan lawan. Dan penghancuran-penghancuran. Belum naik derajat kepada kebaikan, apalagi keindahan. Berita misalnya, mulai banyak yang tidak mempedulikan fakta dan kebenaran. Jika pun benar, ia belum tentu baik bagi si penyimak, masyarakat luas. Apalagi bernilai keindahan, ‘ibrah dan teladan.

Dan, salah satu bentuk keindahan di dunia ini adalah humor. Dari Gus Dur, Nasrudin Hoja dan Abu Nawas, sebaiknya mereka yang ototnya keluar hanya berbicara kebenaran, perlu belajar humor lebih dalam, agar kuat menghadapi kenyataan.

Intinya, salah satu solusi untuk Indonesia yang tegang ini adalah keindahan pada humor. Dengannya, kita bisa tertawa dan menertawakan keadaan: kakakakakakaka!? ?

Penulis adalah kader muda Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 14 Agustus 2011

Jaringan Santri Tidak Terhenti Saat Lulus

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Para ulama dalan penerus estafet perjuangan pana nabi dan santri adalah penerus estafet pejuangan para ulama. Hubungan para ulama dengan santri-santrinya tidak terhenti ketika para santri lulus dan melanjutkan jenjang kehidupan selanjutnya.?

Para santri dapat terus berkomunikasi dengan guru-gurunya meskipun mereka telah menempuh jenjang pendidikan selanjutnya atau terlibat dalam proses kehidupan berikutnya. Para santri yang sudah menetap di tempat-tempat baru tetap merupakan perpanjangan tangan dari lembaga madrasah atau pesantren awalnya saat remaja.

Jaringan Santri Tidak Terhenti Saat Lulus (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaringan Santri Tidak Terhenti Saat Lulus (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaringan Santri Tidak Terhenti Saat Lulus

Demikian dinyatakan ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus KH Em. Nadjib Hassan saat memberikan wejangan kepada ratusan alumni Madrasah Qudsiyyah se-Jabodetabek dan sekitarnya dalam acara Roadshow Satu Abad Qudsiyyah, Ahad (22/5). Menurut Nadjib, para santri tidak boleh lepas dari dua tanggung jawab sekaligus, yakni kepada masyarakat sekitar tempat tinggalnya dan lembaga pendidikan asalnya.?

“Ilmu yang diperoleh para santri selama belajar di madrasah adalah bekal untuk mengabdi di masyarakat. Bekal ini bukan modal yang terputus, setiap saat santri dapat datang ke madrasahnya dan bertemu dengan para gurunya untuk men-charge ulang ilmunya atau sharing pengalaman dengan para guru dan adik-adik angkatannya,” tutur Nadjib yang juga Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kaitan dengan sanad keilmuan, menurut Nadjib para santri harus yakin bahwa ilmu yang mereka dapatkan di madrasah dan mereka sebarkan kepada masyarakat adalah ilmu-ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ilmu yang mereka dapatkan bersumber dari para ulama dengan reputasi dan kredibilatas yang tersambung hingga Nabi Muhammad SAW.

“Walisongo mendidik generasi ulama yang menjunjung tinggi kebenaran ilmiah. Para santri ? yang sudah menjadi ulama terus saling bersilaturrahim bukan sekedar untuk berbasa-basi semata, lebih dari itu mereka saling berguru dan mentashih ilmunya. Ada ulama yang ahli tafsir bersedia berguru tentang ilmu arudh kepada ulama lain yang dulunya adalah muridnya,” papar Nadjib yang juga Alumni UIN Yogyakarta ini mencontohkan.?

Dengan demikian, lanjut Nadjib, jaringan keilmuan para ulama di Nusantara ini saling bersambung dan terus berkembang melalui transfer pengetahuan dan sharing pengalaman. Sehingga jaringan ulama-santri ini mewujud ? dan terus berkembang menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan tatanan masyarakat Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Madrasah Qudsiyah Menara Kudus menggelar roadshow peringatan Satu Abad Qudsiyyah di enam propinsi pulau Jawa selama tiga bulan. Kegiatan ini diselenggarakan dan diikuti oleh para alumni Madrasah Qudsiyyah yang sekarang berbadan hukum Yayasan pendidikan Islam Qudsiyyah di setiap lokasinya. Akhir pekan ini, roadshow diselenggarakan di Jabodetabek dan sekitarnya dengan dihadiri oleh para guru dan pengurus Yayasan seperti KH Em. Nadjib Hassan, KH Halim Mahfudh Asnawi, KH Fatkhurrahman BA dan KH Ihsan dan M. Rikza Chamami dari perwakilan alumni Qudsiyyah Semarang. (Syaifullah Amin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Tokoh, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah