Selasa, 06 September 2011

Benahi Kaderisasi, IPPNU Jombang Akan Perjuangkan Pembatasan Usia

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Momen kongres Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) XVII pada 4-8 Desember 2015 di Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, menjadi ajang pertukaran ide-ide untuk memperbaiki jenjang kaderisasi IPPNU ke depan. Hal ini yang menjadi perbincangan intensif di tingkat cabang IPPNU Jombang.

Aliyah, Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPPNU Kabupaten Jombang, Jawa Timur menegaskan bahwa kaderisasi yang lebih menentukan maju dan tidaknya suatu organisasi. Topik ini, katanya, hendaknya menjadi pembahasan utama dalam kongres nanti, melihat kaderisasi IPPNU masih perlu disempurnakan.

Benahi Kaderisasi, IPPNU Jombang Akan Perjuangkan Pembatasan Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Benahi Kaderisasi, IPPNU Jombang Akan Perjuangkan Pembatasan Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Benahi Kaderisasi, IPPNU Jombang Akan Perjuangkan Pembatasan Usia

“Kaderisasi juga menjadi penentu progress dan tidaknya suatu organisasi,” katanya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah saat dihubungi, Kamis (3/12) pagi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menilai selama ini kaderisasi IPPNU masih belum diperhatikan dengan baik oleh semua tingkat kepengurusan, terlebih lagi batas usia pada anggota, pengurus dan ketua. Padahal pengkaderan NU berjenjang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Usia 12 tahun mayoritas sudah lulus SD/MI dan mau masuk SMP/MTs dan seterusnya. Mulai tingkat SMP/MTs dan MA/SMA meraka harus kenal dengan IPNU-IPPNU. Pada usia yang sudah sangat matang mereka bisa masuk Fatayat, Ansor dan NU,” tuturnya.

Batas-batas usia yang seperti ini, kata dia, harus mulai diperhitungkan dan diperbincangkan saat kongres. Bahkan pihaknya mengusulkan untuk ketua umum IPPNU maksimal berusia 27 tahun sesuai hasil Rapimwil pada tanggal 1 Oktober 2015 lalu.

“Kita berkomitmen untuk memperjuangkan batas-batas usia ini dan juga merumuskan strategi jitu dalam menyempurnakan kaderisasi,” ungkapnya.

Aliyah berharap perjalanan kongres IPPNU selama lima hari dapat berjalan sesuai dengan harapan. Ia juga mengungkapkan dalam menentukan pemimpin pada periode selanjutnya tidak boleh gegabah, perlu slekstif melalui informasi terkait perkembangan para kandidat yang mulai ramai diperbincangkan. (Syamsul/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Kajian, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 01 September 2011

Agama dan Problem Kependudukan

Oleh Amanah Nurish 

Tulisan ringan ini bermaksud untuk memaparkan fenomena mengenai isu kependudukan yang dilekatkan dengan mitos sekaligus konstruksi agama. Dalam sejarah peradaban manusia, faktor sumber daya alam dan agraria senantiasa menjadi sumber utama dalam konflik antar golongan, suku, negara, dan bangsa. Nilai-nilai utama dalam kekuasaan memang tidak lepas dari dua unsur penting; yakni sumber daya alam dan agraria. Pengaruh utama penyebab perang dan konflik di dunia dalam memperebutkan wilayah kekuasaan dan sumber energi yang ada di perut bumi secara tidak sengaja mengorbankan dua golongan umat manusia; kaum perempuan dan anak-anak.

Pascarevolusi industri, gaya hidup manusia bergeser dari cara hidup tradisional menjadi modern. Manusia lebih menggantungkan keberhasilan inovasi dan teknologi, termasuk pemanfaatan kemajuan teknologi kontrasepsi (Sachs, 2005). Di tengah arus modernisasi, jumlah manusia mengalami ledakan yang signifikan dari tahun ke tahun. Konsumsi energi, pangan, kesehatan, dan tempat tinggal menjadi semakin terbatas sehingga angka kemiskinan di dunia kian bertambah. Kemiskinan adalah penyebab utama dari kondisi ketidakmerataan ekonomi, sumber daya energi, dan lapangan pekerjaan pada populasi, yang biasanya diukur dari proporsi rumah tangga dengan penghasilan di bawah garis kemiskinan (Mason, 2005). Di Indonesia sendiri angka kelahiran dan ledakan penduduk menjadi salah satu kekhawatiran yang tak kunjung ada jawaban.

Agama dan Problem Kependudukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama dan Problem Kependudukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama dan Problem Kependudukan

Ledakan penduduk yang makin tak terkontrol selain menyebabkan masalah sosial dan ekonomi juga menyebabkan kerusakan ekosistem dan lingkungan hidup. Perebutan wilayah dan sumber daya alam yang konon memicu politik dunia tidak stabil sehingga terjadi konflik antar negara. Penekanan jumlah penduduk yang terus menerus diupayakan melalui program Millennium Declaration hingga disepakatinya indikator kependudukan dalam sasaran pembangunan global Millenium Development Golas (MDGs) masih menjadi pijakan yang cukup serius terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Regenerasi Atas Nama Agama

Peran Nahdlatul Ulama (NU) di masa orde baru sempat menjadi salah satu pilar penting dalam mensukseskan program pembangunan Keluarga Berencana Nasional (KBN) di tingkat Fatayat-Muslimat yang dialokasikan melalui wadah LKKNU. Selain organisasi NU, peran organisasi Muhammadiyah dalam program KBN juga memiliki keterlibatan yang cukup penting untuk dicatat. Melalui lembaga Majelis Pembina Kesehatan (MPK) Muhammadiyah didirikanlah klinik-klinik kesehatan dan rumah sakit untuk menyediakan pelayanan KB sekaligus pelayanan kesehatan reproduksi bagi kaum perempuan (Widyantoro, 2003). Namun organisasi-organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah dalam mendukung program KB mengalami fluktuasi. Peran MPK dan LKKNU yang bekerja sebagai lembaga advokasi perencanaan keluarga-yang zaman orde baru pemberdayaannya didukung oleh pemerintah, kini peran lembaga-lembaga tersebut mengalami kemandulan dan kemunduran.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Fatwa dari beberapa kelompok Islam radikal menyikapi KB sebagai suatu larangan dan diharamkan. Tentunya, menurut saya ini sungguh ancaman yang serius. Mengenai hukum KB menurut Syaikh Abdul Aziz Bin Baz adalah berdasarkan hasil Haiah Kibaril Ulama yakni organisasi ulama di Saudi yang telah memutuskan bahwa mengkonsumsi alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan tidak diperbolehkan dan bersifat haram. Dalam penjelasannya, kenapa KB itu diharamkan karena Allah mensyariatkan untuk hamba-Nya untuk mendapatkan keturunan dan memperbanyak jumlah umat.

Kelompok-kelompok radikal yang menganggap KB sebagai produk barat memegang teguh sebuah hadis yang berbunyi “Nikahilah wanita yang banyak anak lagi penyayang, karena sesungguhnya aku berlomba-lomba dalam banyak umat dengan umat-umat yang lain di hari kita” (Abu Daud 1/320, Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban No. 1229, Hakim 2/62). Interpretasi terhadap surat Al Isra yang berbunyi “Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar” (Al-Isra: 6) dipandang sebagai pedoman dalam memperbanyak keturunan. Persoalan kependudukan tidak hanya menyangkut masalah negara, melainkan juga melibatkan persoalan gender, ideologi dan agama yang turut bermain di dalamnya.

Tingginya angka ledakan penduduk di Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab dan kesadaran pemerintah saja, melainkan juga menjadi tanggung jawab dari semua elemen masyarakat. Jumlah penduduk yang kian hari kian bertambah tidak hanya menyebabkan terjadinya krisis pangan dan energi sebagai penopang kehidupan manusia, namun juga menyebabkan terjadinya krisis ekologi, oksigen, dan udara sehat yang akan dihirup oleh manusia-terutama di perkotaan. Kritik tajam atas masalah kependudukan di Indonesia pernah diungkapkan Prof Muhajir Darwin dari Pusat Studi Kependudukan (PSKK) Universitas Gadjah Mada, yang dengan tegas berpendapat bahwa isu-isu mengenai KB sudah tidak menjadi hal penting lagi semenjak runtuhnya rezim orde baru.

Problem kependudukan di Indonesia tidak sepenuhnya berada di tangan negara saja, melainkan juga menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai individu dan masyarakat. Jika pertumbuhan penduduk rata-rata setiap tahunnya meningkat antara 3,4 juta – 3,5 juta, maka jumlah angka kelahiran di Indonesia berkisar kurang lebih 9.589 bayi setiap harinya. Artinya, dengan laju pertumbuhan penduduk yang semakin tahun semakin meningkat, maka menurut laporan BKKBN tahun 2012 menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi oleh rakyat Indonesia adalah masalah ketahanan pangan, dengan rasionalitas sebagai berikut: (1) Alih fungsi lahan pertanian akibat tingginya urbanisasi (2) Perubahan iklim sehingga mempengaruhi kemampuan produksi dan stok pangan, gejolak penawaran dan permintaan pangan, serta gejolak dan ketidakpastian harga pangan (3) 27% penduduk rawan pangan (4) Masih tingginya prevalensi gizi buruk.

Keberhasilan pembangunan di suatu negara tidak hanya bergantung pada jumlah sumber daya alam yang tersedia, namun bergantung pada kualitas penduduk. Melalui beberapa wawancara yang saya lakukan dengan kelompok organisasi keagamaan kelompok radikal menunjukkan indikator bahwa persoalan ledakan penduduk di Indonesia tidak menjadi soal asalkan pemerintah dan negara bisa mengatur sumber daya alam, sehingga seberapapun jumlah penduduk di negeri ini tidak jadi masalah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ledakan populasi yang makin hari makin meningkat memiliki implikasi persoalan kriminalitas, kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan, krisis energi, dsb. Menurut saya hal ini menjadi penting untuk direnungkan karena dogma agama mempunyai potensi untuk membesarkan populasinya masing-masing demi alasan regenerasi umat. Masih relevankah anekdot “banyak anak banyak rejeki” di era kapitalisme global seperti sekarang ini?







Warga Nahdliyin dan peneliti di bidang sosial keagamaan masyarakat Asia Tenggara. Saat ini sedang bekerja sebagai konsultan tim USAID-Washington untuk program Agama, Perdamaian, dan Lingkungan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 28 Agustus 2011

PCNU Jember Geram Pelajaran SD Sebut Yerussalem Ibu Kota Israel

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Peredaan buku IPS kelas 6 SD yang berisi penyebutan Yerusslaem sebagai ibu kota Israel, diduga ada kesengajaan dari pihak-pihak tertentu. Sebab, buku tersebut sudah beredar cukup lama, yaitu sejak tahun 2008.  

PCNU Jember Geram Pelajaran SD Sebut Yerussalem Ibu Kota Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jember Geram Pelajaran SD Sebut Yerussalem Ibu Kota Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jember Geram Pelajaran SD Sebut Yerussalem Ibu Kota Israel

Demikian diungkapkan Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch Eksan menanggapi riuhnya tentang peredaran buku tersebut. PCNU merasa gerah dengan kasus tersebut. 

Menurutnya, tidak masuk akal jika itu disebut sebagai kekhilafan, apalagi  kesalahan cetak. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Saya tidak tahu motifnya apa. Tapi yang pasti sulit dibantah bahwa itu tidak ada unsur kesengajaan," ucapnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di Jember, Jumat (15/12).

Menurutunya,  pihak penerbit tidak cukup hanya minta maaf, lalu dianggap selesai. Aparat penegak hukum perlu mencari adanya kemungkinan unsur tindakan pidananya dalam kasus tersebut. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakannya, penyebutan Yerussalem sebagai ibu kota Israel jelas melukai hati umat Islam Indonesia dan bangsa Indonesia yang  sejak lama mendukung perjuangan rakyat  Palestina. Bahkan dalam KTT OKI, Presiden Joko Widodo ikut menegaskan bahwa Yerussalem adalah ibu kota Palestina. 

"Makanya selain bukunya ditarik secepatnya, pihak-pihak yang terlibat dalam penerbitan buku itu harus bertanggung jawab," lanjutnya.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur itu juga menyayangkan ketidakpekaan Dinas Pendidikan Jawa Timur dan pihak-pihak terkait dalam mengawasi buku yang beredar di sekolah-sekolah. Karena tidak peka atau memang lalai, sehingga buku yang seharusnya  tidak dibaca, beredar hingga bertahun-tahun. 

"Ironi, itu kesalahan  fatal," pungkasnya. (Aryudi A Razaq/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 21 Agustus 2011

Keindahan yang Hampir Hilang

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Membalas kesalahan adalah hak. Islam membenarkan. Jika kita dipukul, berhak memukul balik. Jika kita dirontokkan giginya, berhak membalasnya dengan hal yang sama. Jika ada satu nyawa dibunuh, berhak membunuh si pembunuh. Khusus dalam konteks Indonesia, ada konstitusi yang mesti ditaati.

Keindahan yang Hampir Hilang (Sumber Gambar : Nu Online)
Keindahan yang Hampir Hilang (Sumber Gambar : Nu Online)

Keindahan yang Hampir Hilang

Namun demikian, jika itu adalah suatu kebenaran, belum tentu suatu kebaikan. Jadi, tak hanya salah-benarnya, tetapi juga baik buruknya perlu dipertimbangkan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketika kecil dan ngaji cerita kisah nabi-nabi dulu, saya diceritai kisah. Suatu ketika, seorang muslim dikejar sekelompok orang Yahudi yang hendak membunuhnya. Ia berlari menuju Rasulullah yang sedang duduk dan berkata, "Wahai Rasulullah, lindungilah aku! Mereka ingin membunuhku, padahal aku tidak bersalah!"

Kemudian orang tersebut bersembunyi untuk menyelamatkan diri.Tidak lama kemudian sekelompok orang bersenjata berteriak-teriak dengan marah mendatangi Rasulullah karena kehilangan jejak incarannya, "Apakah kamu melihat seseorang lewat sini?" tanya mereka.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rasulullah berdiri dari duduknya dan berkata,"Sejak saya berdiri di sini dari tadi, saya tidak melihat orang lewat sini." Sekelompok orang bersenjata itu pun membubarkan diri. Akhirnya selamatlah nyawa orang yang sedang dicari untuk dibunuh. Cerita ini mirip dengan kisah Nabi Ibrahim ketika ditanya oleh ayahnya: siapa yang menghancurkan patung-patung ini. Beliau menjawab: berhala ini yang paling besar. Sebuah jawaban yang politis, filosofis, dan mantiq-is.

Saya hanya ingin mengatakan: itulah jawaban yang baik. Kebenaran belum tentu mengandung keindahan. Dan bisa juga disertai kebaikan. Para dosen bahasa Indonesia tentu tahu perbedaan bahasa yang baik dan benar. Keduanya beda, meski kadang menjadi satu dan dalam bentuk yang sama. Contoh: dengan bahasa baku, kita benar memakai bahasa, tetapi tidak baik jika untuk percakapan sehari-hari dengan teman. Akan kaku dan spaneng. Itulah, ada dimensi kebaikan, selain kebenaran.

Pun demikian dalam ajaran Islam. Alkisah, suatu ketika, Imam Syafii ditanya tentang suatu permasalahan, tapi beliau diam saja. Lalu seseorang berkata kepadanya, "Tidakkah kamu mau menjawab?" Imam Syafii berkata, "Sampai aku tahu apakah keutamaan ada dalam diam atau menjawab suatu pertanyaan." Dengan jawaban itu, bukan berarti Imam Syafii tak tahu jawaban, tetapi menimbang apakah fatwanya benar-benar memberi kemaslahatan. Jadi, tak sekadar dimensi kebenaran, tetapi juga kebaikan, yang menurut saya itu semua ada konteksnya, ruangnya dan tentu illat-nya.

Nah, di atas itu semua, masih ada satu lagi: dimensi keindahan. Memaafkan itu, selain adalah kebenaran, juga bernilai kebaikan, adalah suatu keindahan. Jika membalas itu hak, maka memaafkan adalah kemuliaan. Jika menolong orang jatuh dari motor itu bukan kewajiban, tetapi jika kita menolongnya, adalah kebaikan yang bernilai keindahan. Jika menteri atau anggota dewan memperjuangkan partai atau konstituennya adalah hak, tetapi memperjuangkan semuanya itu adalah keindahan, melampaui sekat. Ia pemimpin nasional.

Keindahan ada pada semua lini kehidupan.? Dalam sportivitas olah raga, seni, tradisi-budaya, lingkungan, relasi-sosial sampai spiritualitas-cinta dalam dunia tasawuf.

Dari berbagai profesi, intitusi, organisasi sampai media informasi, kini banyak yang hanya berebut benar, disertai menyalah-nyalahkan lawan. Dan penghancuran-penghancuran. Belum naik derajat kepada kebaikan, apalagi keindahan. Berita misalnya, mulai banyak yang tidak mempedulikan fakta dan kebenaran. Jika pun benar, ia belum tentu baik bagi si penyimak, masyarakat luas. Apalagi bernilai keindahan, ‘ibrah dan teladan.

Dan, salah satu bentuk keindahan di dunia ini adalah humor. Dari Gus Dur, Nasrudin Hoja dan Abu Nawas, sebaiknya mereka yang ototnya keluar hanya berbicara kebenaran, perlu belajar humor lebih dalam, agar kuat menghadapi kenyataan.

Intinya, salah satu solusi untuk Indonesia yang tegang ini adalah keindahan pada humor. Dengannya, kita bisa tertawa dan menertawakan keadaan: kakakakakakaka!? ?

Penulis adalah kader muda Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 14 Agustus 2011

Jaringan Santri Tidak Terhenti Saat Lulus

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Para ulama dalan penerus estafet perjuangan pana nabi dan santri adalah penerus estafet pejuangan para ulama. Hubungan para ulama dengan santri-santrinya tidak terhenti ketika para santri lulus dan melanjutkan jenjang kehidupan selanjutnya.?

Para santri dapat terus berkomunikasi dengan guru-gurunya meskipun mereka telah menempuh jenjang pendidikan selanjutnya atau terlibat dalam proses kehidupan berikutnya. Para santri yang sudah menetap di tempat-tempat baru tetap merupakan perpanjangan tangan dari lembaga madrasah atau pesantren awalnya saat remaja.

Jaringan Santri Tidak Terhenti Saat Lulus (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaringan Santri Tidak Terhenti Saat Lulus (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaringan Santri Tidak Terhenti Saat Lulus

Demikian dinyatakan ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus KH Em. Nadjib Hassan saat memberikan wejangan kepada ratusan alumni Madrasah Qudsiyyah se-Jabodetabek dan sekitarnya dalam acara Roadshow Satu Abad Qudsiyyah, Ahad (22/5). Menurut Nadjib, para santri tidak boleh lepas dari dua tanggung jawab sekaligus, yakni kepada masyarakat sekitar tempat tinggalnya dan lembaga pendidikan asalnya.?

“Ilmu yang diperoleh para santri selama belajar di madrasah adalah bekal untuk mengabdi di masyarakat. Bekal ini bukan modal yang terputus, setiap saat santri dapat datang ke madrasahnya dan bertemu dengan para gurunya untuk men-charge ulang ilmunya atau sharing pengalaman dengan para guru dan adik-adik angkatannya,” tutur Nadjib yang juga Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kaitan dengan sanad keilmuan, menurut Nadjib para santri harus yakin bahwa ilmu yang mereka dapatkan di madrasah dan mereka sebarkan kepada masyarakat adalah ilmu-ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ilmu yang mereka dapatkan bersumber dari para ulama dengan reputasi dan kredibilatas yang tersambung hingga Nabi Muhammad SAW.

“Walisongo mendidik generasi ulama yang menjunjung tinggi kebenaran ilmiah. Para santri ? yang sudah menjadi ulama terus saling bersilaturrahim bukan sekedar untuk berbasa-basi semata, lebih dari itu mereka saling berguru dan mentashih ilmunya. Ada ulama yang ahli tafsir bersedia berguru tentang ilmu arudh kepada ulama lain yang dulunya adalah muridnya,” papar Nadjib yang juga Alumni UIN Yogyakarta ini mencontohkan.?

Dengan demikian, lanjut Nadjib, jaringan keilmuan para ulama di Nusantara ini saling bersambung dan terus berkembang melalui transfer pengetahuan dan sharing pengalaman. Sehingga jaringan ulama-santri ini mewujud ? dan terus berkembang menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan tatanan masyarakat Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Madrasah Qudsiyah Menara Kudus menggelar roadshow peringatan Satu Abad Qudsiyyah di enam propinsi pulau Jawa selama tiga bulan. Kegiatan ini diselenggarakan dan diikuti oleh para alumni Madrasah Qudsiyyah yang sekarang berbadan hukum Yayasan pendidikan Islam Qudsiyyah di setiap lokasinya. Akhir pekan ini, roadshow diselenggarakan di Jabodetabek dan sekitarnya dengan dihadiri oleh para guru dan pengurus Yayasan seperti KH Em. Nadjib Hassan, KH Halim Mahfudh Asnawi, KH Fatkhurrahman BA dan KH Ihsan dan M. Rikza Chamami dari perwakilan alumni Qudsiyyah Semarang. (Syaifullah Amin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Tokoh, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 16 Juli 2011

Kang Said: Agar Tak Menyesal, Bertabayunlah Bila Terima Informasi!

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengaku prihatin dengan maraknya berita palsu, fitnah, dan provokasi permusuhan khususnya melalui media sosial. Ia mengimbau seluruh mengguna internet untuk berhati-hati dalam menyikapi berbagai informasi yang masuk.

Ia menyinggung soal konflik di Timur Tengah, terutama di Suriah, belakangan ini. Dengan memutarbalikkan fakta, para penyebar berita palsu hendak membawa ketegangan di sana ke Indonesia lewat sentiment aliran agama.

Kang Said: Agar Tak Menyesal, Bertabayunlah Bila Terima Informasi! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Agar Tak Menyesal, Bertabayunlah Bila Terima Informasi! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Agar Tak Menyesal, Bertabayunlah Bila Terima Informasi!

Guru besar ilmu tasawuf UIN Sunan Ampel ini lalu mengutip Surat al-Hujurat ayat 6 yang memerintahkan kaum mukmin untuk memeriksa dengan teliti (tabayun) berita yang datang dari orang fasik.

“Supaya apa? Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu,” tambahnya meneruskan terjemahan potongan ayat, Senin (2/1), di Jakarta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kang Said, demikian ia biasa dipanggil, berpendapat bahwa konflik di Timur Tengah adalah dampak dari masih belum matangnya integrasi antara nasionalisme dan ajaran agama. Di samping pula kepentingan politik dan ekonomi yang menjadi pemicu utama terhadinya krisis di Timur Tengah.

Menurutnya, keharmonisan hubungan antara nasionalisme dan ajaran agama di Indonesia merupakan sesuatu yang harus disyukuri. Karena itu, sudah menjadi kewajiban seluruh warga untuk merawatnya dari rongrongan berbagai pihak yang tak ingin Indonesia utuh. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 14 Juli 2011

Wakil Bupati Buka Muskercab Pertama PCNU Tanggamus

Tanggamus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tanggamus menggelar Musyawarah Kerja Cabang di Kantor NU setempat, Tanggamus, Lampung, Ahad (27/9). Muskercab pertama ini dibuka secara langsung oleh Wakil Bupati Tanggamus, Syamsul Hadi.

Wakil Bupati Buka Muskercab Pertama PCNU Tanggamus (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Bupati Buka Muskercab Pertama PCNU Tanggamus (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Bupati Buka Muskercab Pertama PCNU Tanggamus

Tampak hadir di dalam aula gedung yang terletak di Kecamatan Gisting ini seluruh pengurus PCNU Tanggamus dan MWCNU dari berbagai kecamatan di Kabupaten Tanggamus. Peserta Muskercab juga terdiri dari seluruh ketua dan sekretaris badan otonom NU, seperti Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, ISNU, dan Pagar Nusa.

Menurut Ketua PCNU Kabupaten Tanggamus, H. Amir Harun, dalam Muskercab tersebut terdapat dua komisi yang masing-masing membahas materi berbeda. Komisi A membidangi organisasi dan program kerja dan Komisi B membahas Rekomendasi," jelas Amir melalui akun Facebook miliknya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menambahkan bahwa dalam Muskercab kali ini juga disampaikan materi dari beberapa Dinas Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus. Dinas yang menyampaikan materi antara lain dari Bappeda, Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, serta Dinas Peternakan. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Aswaja, News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah