Sabtu, 29 Mei 2010

Silaturahmi ke KPUD, PMII Probolinggo Dorong Pemilu Sukses

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dalam rangka ikut mendukung suksesnya pemilu, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Probolinggo mendatangi kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat di Jalan Panglima Sudirman 440 Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (3/04).

Agenda silaturahmi ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan moral kepada Komisioner KPUD Kabupaten? Probolinggo yang baru dilantik 30 Maret 2014 kemarin.

Silaturahmi ke KPUD, PMII Probolinggo Dorong Pemilu Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturahmi ke KPUD, PMII Probolinggo Dorong Pemilu Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturahmi ke KPUD, PMII Probolinggo Dorong Pemilu Sukses

Pagi itu kunjungan ke kantor KPUD diikuti sejumlah jajaran PC PMII Probolinggo, antara lain Ketua PC PMII Probolinggo Muhammad Towil, Sekretaris PC PMII Probolinggo Muhamat Sahidin, Ketua Bidang Kaderisasi PC PMII Probolinggo Beny Yusman, Wakil Bendahara PC PMII Probolinggo Ahmad Yani, dan Biro Kaderisasi Korp PMII Putri (Kopri) PMII Probolinggo Linda Indriyana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kepada komisioner KPUD, Ketua PC PMII Probolinggo Muhammad Towil menegaskan tentang komitmen PMII yang akan mendukung penuh kerja-kerja KPU. “PMII siap membantu mensukseskan pemilu, ” katanya.

Sebagai KPU yang baru dilantik, kata Towil, KPU lumrah butuh dukungan moril. Namun, menurut Towil, PMII tetap akan melakukan kontrol sosial kepada KPUD. “KPU harus bekerja dengan optimal. Sesuai kode etik. Jika nanti dalam menjalankan tugasnya KPU terindikasi melanggar undang-undang dan kode etik, PMII siap melakukan aksi protes turun jalan di kemudian hari,” tegas Towil.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kesempatan ini, PC PMII Probolinggo bertemu dengan empat komisioner KPUD, yakni Isfak Yulianto, Ainul Yaqin, Sugeng, dan Erfan Ghazi. Muhammad Zubaidi selaku ketua KPUD Kabupaten Probolinggo tidak bisa menemui, karena mengawal pengiriman logistik ke beberapa kecamatan setempat.

Ainul Yaqin perwakilan komisioner KPUD menyampaikan terima kasih atas dukungan moril PMII Probolinggo. Menurutnya, KPUD ke depan butuh kerja sama dari semua pemangku kepentingan yang ada demi kesuksesan pemilu.

“Terima kasih atas dukungan morilnya. Kerja sama harus preventif. Jangan menunggu kami melakukan kesalahan. (Jika) terindikasi ke sana saja, silahkan peringati kami. Inilah yang disebut mitra itu,” kata Ainul. ?

Ainul menambahkan, peran PMII Probolinggo diharapakan juga mendorong aksi pemilu damai. “Saya harap semua bekerja sama untuk pemilu bermartabat dan berkualitas,” pungkasnya.? (Beny/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 11 Mei 2010

Kader PMII Harus Selalu Respon Kehidupan Masyarakat

Padangpariaman, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua PKC PMII Sumatera Barat Afriendi menyebutkan, kader PMII memang harus selalu responsif terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berbagai isu yang menjadi perhatian publik, juga harus selalu direspon PMII.

Kader PMII Harus Selalu Respon Kehidupan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Harus Selalu Respon Kehidupan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Harus Selalu Respon Kehidupan Masyarakat

Ia mencontohkan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sebagai respon terhadap keadaan, sesuai dengan instruksi Pengurus Besar PMII, di berbagai daerah, pengurus PMII menggelar aksi penolakan kenaikan harga PMII.

 

"Dengan pelaksanaan PKD PMII ini, maka peserta harus pula naik kelas. Jika sebelumnya selalu disuruh melaksanakan sesuatu di PMII, setelah PKD harus mampu bertindak sendiri dalam mengambil keputusan untuk kepentingan organisasi PMII. Mereka yang sudah mengikuti PKD tentu sudah menjadi kader yang dipersiapkan bakal jadi pemimpin di kemudian hari," kata Afriendi  pada pembukaan Pelatihan Kader Dasar (PKD)  PMII se- Sumbar, Jumat (5-12-2014) di aula STIT Syekh Burhanuddin, Pariaman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

 

Pembukaan dihadiri mantan Walikota Administratif Pariaman Drs. Martias Mahyuddin, M.Si, Ketua KNPI Pariaman Riky Falentino, Ketua Cabang PMII Pariaman Satria Effendi, Ketua Cabang PMII Padangpariaman Rodi Indra Saputra. Tema PKD, Menguatkan Peran Strategis PMII dalam Menentukan Masa Depan Bangsa dan Agama."

 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setiap kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus tetap komit menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari rongrongan paham yang menggerogotinya. Sejak berembusnya era reformasi di Indonesia, makin banyak paham dan kekuatan yang tumbuh di tengah masyarakat untuk  mencoba merusak keutuhan NKRI, katanya.

 

Bendahara Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat Armaidi Tanjung salah seorang pemateri menyampaikan, PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang bercirikan keislaman dan kebangsaan harus tetap menjaga keutuhan NKRI tersebut. Peserta Pelatihan Kader Dasar (PKD) PMII se-Sumatera Barat yang berlangsung di Pauhkamba, Kabupaten Padangpariaman, Sabtu (6/12).

 

"Kita prihatin ada kelompok masyarakat yang terkesan tidak mengakui, selalu memandang sinis terhadap pemerintahan, bahkan tidak mengakui bentuk negara NKRI sehingga selalu menyuarakan agar ada pergantian pemerintahan. Namun pemerintah sendiri membiarkan saja tanpa ada tindakan yang konkrit untuk mencegahnya," kata Armaidi Tanjung.

 

Menurut Armaidi Tanjung, kalangan mahasiswa pun menjadi sasaran empuk kelompok ini untuk merekrut kadernya. Karena itu, kader PMII harus lebih aktif menyebarkan paham Islam Ahlussunnah wal-Jamaah yang selalu konsisten mempertahankan keutuhan NKRI ini di kampusnya masing-masing.

 

PKD PMII se-Sumbar ini diikuti sekitar 30 orang mahasiswa dari Universitas Andalas Padang, Universitas Negeri Padang, IAIN Imam Bonjol Padang, STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, STIE Sumbar Pariaman, STKIP YDB Lubuk Alung, STKIP Nasional Pauhkamba Kabupaten Padangpariaman.

 

Usai PKD, dilanjutkan Konferensi Cabang PMII Kota Pariaman ke-5 untuk memilih kepengurusan periode 2014-2015 pada Senin (8/12). (Red:Abdullah Alawi)

 

Keterangan Foto: Armaidi Tanjung usai memberikan materi dihadapan sebagian peserta PKD, Sabtu (6/12/2014) di Pauhkamba, Padangpariaman.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 09 Mei 2010

Dedi Mulyadi: Soal Fakir Miskin, Mubalig Salah Jika Tidak Menekan Negara

Purwakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Bupati Purwakarta yang dikenal kontroversi karena pemikiran-pemikirannya kembali menawarkan gagasan. Usai menemui tokoh-tokoh dari lintas agama dalam rangka pembentukan Satuan Kerja Sekolah Ideologi, Selasa (19/1/2016) di Pendopo Kabupaten Purwakarta, ia sempat menyampaikan beberapa pandangan terkait dengan peran mubalig atau juru dakwah.

Kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Bupati yang juga Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Purwakarta ini mengatakan, selama ini peranan mubalig kurang optimal sebagai penyampai, atau penyeru kebaikan ke masyarakat. Ketidakoptimalan itu karena para mubalig kebanyakan kurang bergerak memasuki kawasan substansial dari nilai-nilai Islam dan terjebak pada kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak menukik pada penyelesaian problem di masyarakat.

Dedi Mulyadi: Soal Fakir Miskin, Mubalig Salah Jika Tidak Menekan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dedi Mulyadi: Soal Fakir Miskin, Mubalig Salah Jika Tidak Menekan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dedi Mulyadi: Soal Fakir Miskin, Mubalig Salah Jika Tidak Menekan Negara

"Misalnya, para kiai itu tidak perlu keliling menyampaikan pesan agar masyarakat zakat ke fakir-miskin. Lebih baik ia sampaikan pesan itu kepada anggota DPRD atau ke Bupati, Walikota, Gubernur dan Presiden. Para kiai akan lebih baik kalau menekan negara agar membenahi anggaran untuk fakir-miskin. Toh fakir-miskin juga secara konstitusi menjadi kewajiban negara. Kalau para ulama justru tidak berjuang menekan negara untuk kepentingan fakir-miskin itu, saya malah jadi curiga, jangan-jangan mereka bagian dari kekuasaan. Keliling ke mana-mana berdakwah soal nasib fakir-miskin seolah-olah kewajiban masyarakat melalui, padahal itu urusan negara," paparnya.

Dalam pandangan Dedi Mulyadi, dirinya sebagai Bupati tidak merasa pusing untuk mengurus zakat karena tanggung jawab dirinya bukan mengurus zakat, melainkan menyejahterakan rakyatnya. Karena itu ia selalu berjuang agar tidak ada fakir miskin di Purwakarta. Melalui anggaran yang ada, fakir-miskin harus dibebaskan dari beban kehidupannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Apakah di Jepang misalnya ada pembicaraan siapa yang bertugas mengurus fakir-miskin? Tidak. Apakah di Inggris dibicarakan? Tidak. Di Indonesia ini saja yang aneh. Sudah jelas fakir-miskin dan anak-anak terlantar wajib diurus negara tapi ada orang miskin dibiarkan dan tidak melakukan protes ke negara," terangnya.

Fatwa substansial

Dedi Mulyadi menambahkan, bahwa urusan peranan kemasyarakatan ini juga sering rancu sehingga tidak ditemukan substansinya. Banyak kiai terutama mubalig yang kurang substansial dalam mendakwahkan nilai-nilai agama sehingga agama yang disyiarkan cenderung formal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kalau ngomong fatwa jangan urusan ibadah saja. Tetapi bagaimana seharusnya jalan yang rusak dan bikin orang terjungkal itu apa hukumnya? Kalau pemerintah terlambat membenahi jalan berlubang dosa atau tidak? Kalau pemerintah membiarkan orang terserang penyakit akibat kebanjiran dan hartanya hilang dosa atau tidak? Jika dosa, apa hukumanya? " terang Dedi.

Pemikiran Dedi yang seperti itu diakui olehnya karena ia menginginkan ajaran Islam itu tegak secara subtansial sebagai agama yang membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kejahiliyahan atau ketidakberadaban. Ia mengharapkan agar Islam bisa berkembang sebagai agama yang memberikan rahmat, kebaikan dan kasih-sayang terhadap manusia dan alam semesta.

"Kalau hari ini kita bicara tentang fiqih, maka harus bicara tentang fiqih yang lebih luas. Misalnya, apa yang membuat orang Indonesia tidak tertib berlalu lintas? Apa yang membuat tata ruang dan juga ruang publik tidak beradab? Mengapa orang Indonesia tidak tertib dalam urusan kebersihan? Bagaimana hukum buang sampah sembarangan dan bagaimana mengatasi agar kebiasaan buruk itu berganti dengan kebiasaan yang beradab? Kalau kita ini mengaku beragama tapi tidak mengurus hal-hal seperti itu, saya curiga jangan-jangan kita ini tidak beragama. Sebab keimanan kita ternyata tidak dibuktikan melalui tindakan atau amal," terangnya.(Haris Azami/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 29 April 2010

Berpeci dan Bersorban, Kader NU Pakistan Pertahankan Tesis dengan Mumtaz

Islamabad, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mantan Ketua PCINU Pakistan Firman Arifandi berhasil mempertahankan sidang tesis pada Rabu siang (22/3). Ia meraih predikat yang memuaskan, mumtaz ‘ala martabati syarof dari kampus International Islamic University di ibu kota Pakistan, Islamabad.

Berpeci dan Bersorban, Kader NU Pakistan Pertahankan Tesis dengan Mumtaz (Sumber Gambar : Nu Online)
Berpeci dan Bersorban, Kader NU Pakistan Pertahankan Tesis dengan Mumtaz (Sumber Gambar : Nu Online)

Berpeci dan Bersorban, Kader NU Pakistan Pertahankan Tesis dengan Mumtaz

Pemuda yang akrab disapa Cak Fir ini adalah mahasiswa di International Islamic University Islamabad (IIUI) di Fakultas Shariah and Law, Jurusan Ushul Fiqh, salah satu jurusan yang dipandang cukup mengerikan di kampus itu.

Tesis yang diangkat Cak Fir seputar metode istidlal modernist dalam perspektif ulama ushul dari semua periode. Penulisannya menggunakan metode analisa dan kritik. Hal itu membuat penguji luar, Dr. Muthiur-Rehman, dari Federal Shariat Court, memandang tesis itu jarang ditemukan dan unik untuk tingkat pelajar magister di ushul fiqh. Meski demikian, ia menyampaikan saran dan kritikan terhadap isi tesis itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebagai kader NU, Cak Fir tampil beda dari peserta sidang yang lain. Ia mengenakan jas, baju koko, plus peci hitam dan sorban putih khas Indonesia. ia ditemani 50-an mahasiswa Indonesia dan asing. Hal itu ia lakukan dengan alasan agar terasa kuat Indonesianya. Juga pesan dari bapaknya agar mengenakan atribut itu ketika sidang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya pakai baju koko, peci hitam, sama sorban ini karena pesan dari bapak saya dan barang ini semua dipilih oleh bapak saya agar jangan dipakai kecuali untuk sidang. Juga hitung-hitung biar kelihatan Indonesianya. Lumayan out of the box juga,” terangnya.

Sidang tesis yang diampu Ust Fadlur Rahman asal Afghanistan ini berjalan selama kurang lebih dua jam dengan hasil yang maksimal. (Umar Hamzah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 23 April 2010

Kedepankan Pendidikan Agama Islam yang Ramah dan Humanis

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama kembali memperkuat basis pendidikan Islam ramah, damai dan manusiawi dengan memberikan wawasan kebangsaan dan pemahaman Islam inklusif kepada para instruktur PAI nasional.

Kedepankan Pendidikan Agama Islam yang Ramah dan Humanis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kedepankan Pendidikan Agama Islam yang Ramah dan Humanis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kedepankan Pendidikan Agama Islam yang Ramah dan Humanis

Direktur PAI H Amin Haedari menegaskan kepada para instruktur PAI nasional yang terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas agar selalu mengedepankan Pendidikan Islam yang ramah dan humanis kepada para siswa di sekolah sehingga moderatisme Islam dapat terus terawat.

Hal ini ditegaskan oleh pria yang juga pernah menjabat sebagai Ketua PP RMINU ini dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Ahad-Selasa (12-14/6).

Dalam kegiatan yang diikuti oleh sekitar 400 instruktur PAI nasional ini, Amin menerangkan bahwa saat ini wajah Islam telah ternodai dengan ekstremisme. Hal ini menimbulkan citra bahwa Islam identik dengan kekerasan dan terorisme.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sebab itu peran para guru, kepala sekolah, dan pengawas sangat penting untuk memberikan pemahaman Islam yang sejuk, ramah, dan humanis kepada siswa,” tegas Amin.

Nuansa pendidikan Islam ramah ini bukan hanya pada tataran pemahaman atau ideologi saja, tetapi juga pada tataran praktik. Sehingga dalam hal ini, Amin menekankan kepada guru bahwa pemahaman Islam yang damai harus disampaikan.

“Begitu pula kepada kepala sekolah dan pengawas bagaimana menyusun kurikulum dan materi pembelajaran Islam yang penuh dengan kesejukkan dan menghargai sesama sehingga kekerasan tidak terjadi lagi di lingkungan sekolah dan hal ini harus dimulai dari pendidikan Agama Islam,” papar Amin Haedari. (Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 21 April 2010

LPBHNU-Kemenkumkam DKI Kerjasama Tangani Hukum Bagi Orang Miskin

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU), Royandi Haikal, SH, MH, menandatangani Perjanjian Pelaksanaan Hukum Bagi Orang Miskin dengan Kepala Kanwil Kemenkumham Provinsi DKI Jakarta, di kantor Kanwil Kemenkumham RI Provinsi DKI Jakarta, Selasa 29 Maret 2016. 

LPBHNU-Kemenkumkam DKI Kerjasama Tangani Hukum Bagi Orang Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBHNU-Kemenkumkam DKI Kerjasama Tangani Hukum Bagi Orang Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBHNU-Kemenkumkam DKI Kerjasama Tangani Hukum Bagi Orang Miskin

Penandatanganan kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari telah diakuinya LPBHNU sebagai Organisasi Bantuan Hukum (OBH) yang telah lulus verifikasi dengan akreditasi C, sebagaimana Sertifikat Akreditasi berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor M.HH-01.HN.03.03 Tahun 2016, thl 7 Januari 2016. 

Royandi Haikal menjelaskan, penganugerahan Sertifikat Akreditasi OBH kepada LPBHNU merupakan pengakuan terhadap eksistensi LPBH NU sebagai OBH yang sejajar dengan OBH lain seperti YLBHI, Posbakum, dan lainnya. Sertifikat Akreditasi tersebut juga menjadi dasar bagi LPBHNU untuk berperan dalam layanan bantuan hukum secara resmi, profesional dan akuntabel, sekaligus diisi dengan dakwah sebagai salah satu misi NU. “Semoga hal ini menjadi langkah awal yang positif bagi LPBHNU untuk berperan dalam proses penegakan hukum dan dakwah,” katanya.

Ia menambahkan wujud kemitraan antara LPBHNU dengan Pemerintah dalam memberikan bantuan hukum baik litigasi maupun nonlitigasi kepada orang miskin atau kelompok orang miskin sesuai dengan amanah UU No 16 Tahun 2016 tentang bantuan hukum. Red: Mukafi Niam

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 24 Maret 2010

Memikirkan Kembali Pesantren

Nasaruddin Umar selaku penulis buku ini gerah dengan pertanyaan orang Barat yang menstigmatisasi pondok pesantren. Nasar yang seringkali berkunjung ke Amerika mendapatkan sederet pertanyaan dari warga di sana, tentang bagaimana sebenarnya pesantren itu. Bagaimana model pendidikannya, materi apa saja yang diajarkan. Bermula dari sinilah Nasar menuliskan buku kecil tentang pesantren ini.

Walaupun Nasar memiliki kesadaran bahwa kemampuan dan keluangan waktu yang terbatas untuk menorehkan pemikirannya tentang pesantren. Buku ini bisa menjadi jawaban singkat untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat awam yang belum memiliki pengetahuan mengenai seluk-beluk pesantren.

Memikirkan Kembali Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Memikirkan Kembali Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Memikirkan Kembali Pesantren

Buku ini bercerita tentang sejarah awal pesantren bermula. Banyak ahli menyatakan tentang berbagai definisi tentang pesantren. Setidaknya Nasar menarik benang merah dari sekian pendapat yang telah dipaparkan bahwa pesantren tak akan lepas dari kata dasarnya yaitu santri. Santri menurut Nasar tidak hanya terbatas pada orang yang sedang atau pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren ataupun dibawah asuhan kiai-ulama. Tetapi, kepada mereka yang belajar dan memahami ilmu-ilmu keagamaan baik secara otodidak maupun secara institusi formal yang kemudian diwujudkan dalam aktivitas kesehariannya. (halaman 6)

Selain itu, keberadaan pesantren menjadi tulang punggung bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Namun, secara mudahnya kita bisa melacak keberadaan pesantren mulai abad 15 ketika Walisongo mulai menyebarkan agama Islam di bumi Nusantara. Pesantren menjadi lembaga pendidikan yang tertua seiring berkembangnya kerajaan dan kesultanan Islam di Nusantara. Ditambah bahwa pesantren tidak hadir ruang kosong. Melainkan mengisi ruang kosong pendidikan keagamaan masyarakat. Berawal dari pengajaran Al-Qur’an bertambah kitab kuning hingga kita bisa melihat perkembangan pesantren yang sedemikian pesatnya. Dengan berbagai ikhtiar yang dikerjakan. Pesantren salaf (tradisional) dengan di bawah naungan yayasannya memiliki perguruan tinggi, lembaga keuangan, lembaga perekonomian dan lain sebagainya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nasar yang juga pernah menjabat sebagai wakil menteri agama memiliki optimisme tinggi terhadap perkembangan pesantren ke depan. Dalam Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK)  yang diselenggarakan Kementerian Agama secara berkala dan tahun ini berlangsung di Jambi (3/9) menyatakan Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam. Pondok pesantren di Indonesia terus bergerak maju dalam membangun ilmu-ilmu keislaman. Tidak heran, jika suatu saat nanti Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam. "Suatu saat nanti, Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam," demikian penegasan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar  saat mengisi Talkshow di TVRI Jambi, Selasa (02/09). (kemenag.go.id)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kontribusi pesantren

Pesantren tumbuh menjadi pohon tinggi menjulang ke angkasa. Dahan dan daunnya meneduhkan masyarakat sekitarnya sebagai tempat menimba ilmu, tempat menempa diri dan membentuk karakter seseorang agar memiliki akhlaq yang mulia. Dan akarnya kuat menghujam ke tanah dengan memegang tradisi masyarakat yang ada di sekitar tanpa harus menghilangkannya. Dari sinilah sebenarnya kita bisa melihat mutakhorijin (baca: alumni pesantren) telah mewarnai perjalanan bangsa ini. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden RI keempat merupakan salah satu contohnya. Gus Dur kita kenal dengan tokoh pluralis, inklusif, moderat dan terbuka.  

Nasar juga menyisipkan secuil biografi tokoh pesantren Teuku Fakinah dan Kiai Syamun (halaman 87). Keduanya merupakan potret kiai dalam ranah perjuangan. Disinilah peran kita sebagai bangsa mulai menggali, menyemai dan mengingatkan sejarah kepada penerus bangsa untuk terus. Ikatan itulah yang sejatinya mempererat kita sebagai bangsa utuh hingga sekarang.

Selain itu perjalanan awal sebelum kemerdekaan dari kalangan pesantren dalam hal ini kelahiran Nahdlatul Ulama, berawal dari Komite Hijaz dibentuk untuk menyuarakan ketidak- setujuannya terhadap pemerintah Hijaz pada waktu itu yang hendak menghancurkan seluruh makam di Mekah termasuk makam Rasulullah SAW. (halaman 23) Selain itu karya-karya kiai pesantren juga digunakan sebagai kurikulum pesantren di Indonesia bahkan di Yaman. Salah satunya adalah kitab Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul karya KH Sahal Mahfudz. (Kiai Sahal Sebuah Biografi: 2012)

Kita juga bisa menilik laskar Hizbullah yang menjadi "bumper" perjuangan kemerdekaan banyak yang tidak masuk dalam berbagai divisi kemiliteran di berbagai daerah di Indonesia. Ada sebagian pula yang melebur dalam TNI. Akhirnya, para kiai dan santri ini kembali ke pesantren dan mendidik masyarakat. Diantara pesantren yang menjadi pusat benteng pejuang dalam perang kemerdekaan. Yaitu, pesantren Lirboyo, Al-Hikmah Kediri, Sidogiri Pasuruan, Al-Muayyad Surakarta, Al-Hikmah Brebes, Gambiran dan Pulosari Lumajang (Zainul Milal Bizawie: 2014). Bahkan pahlawan bangsa kita juga banyak dari kalangan pesantren seperti Imam Bonjol, Pengeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar dan lainnya.

Karel A Steenbrink (1986) salah satu peneliti dari Belanda menyatakan bahwa perkembangan pesantren memantik lembaga pendidikan yang lain untuk lahir. Yaitu madrasah. Banyak juga pesantren yang memiliki madrasah sebagai penguatan pesantrennya. Terakhir, ditilik dari sisi modernitas dan globalisasi beberapa pesantren mengikuti arus yang menjadi sebuah keniscayaan dengan segala konsekuensinya. Namun, masih ada pesantren yang berteguh diri menggunakan sistem klasikal tradisional misalnya penggunaan penanggalan hijriyyah dan bulan Syawwal menjadi awal tahun ajaran baru. Dari sinilah yang menjadi ciri khas lembaga pendidikan keagamaan yang secara tidak langsung meneruskan perkembangan intelektual Islam.

Data Buku

Judul : Rethinking Pesantren  

Penulis : Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA

Penerbit : PT Elex Media Komputindo 

Cetakan : 2014

Tebal: XVI + 142 halaman

ISBN : 978.602.02.3761.9  

Peresensi: Mukhamad Zulfa, penikmat buku keagamaan dan kebudayaan tinggal di Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah