Selasa, 27 Desember 2011

60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gencarnya penggunaan media online dan media sosial tentang berbagai aktivitas masyarakat disikapi anggota Muslimat NU Kabupaten Brebes dengan cara bijak. Sebanyak 60 aktivis Muslimat NU Brebes menggunakan sejumlah media sosial terutama untuk memotivasi para pasangan usia subur agar ikut Keluarga Berencana (KB).

60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi

Mereka mengikuti pendidikan di Hotel Grand Dian Jalan Jenderal Sudirman Brebes, Rabu-Jumat (13-15/1). “Mereka mendapatkan pelatihan mengenai metode kontrasepsi dan penggunaan teknologi modern untuk sosialisasi KB dengan cara Islami di tengah masyarakat,” kata Ketua Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM) Muslimat NU Brebes Hj Nurhalimah.

Selama 10 tahun ke belakang, kata Nurhalimah, peningkatan capaian KB di Indonesia sangat rendah. Di sisi lain tingkat kematian ibu karena melahirkan juga masih tinggi. Ia menyebut kehamilan yang tidak direncanakan dengan baik sebagai salah satu penyebab kematian ibu. Hal ini semakin memperkuat urgensi untuk segera melakukan inovasi dalam bekerja di lapangan.?

Keluarga Berencana di Indonesia sudah dilaksanakan sejak 40 puluh tahun lalu dan sudah mencapai hasil yang sangat baik yang diakui oleh dunia internasional keberhasilannya. Meski demikian, dalam setiap hal pasti akan ada saatnya dimana dibutuhkan cara kerja baru. Di tengah dinamika lingkungan yang sudah berbeda, seperti dinamika kemajuan teknologi, dinamika budaya dan sosial yang sudah berubah diperlukan inovasi agar dapat terus mempertahankan apa yang sudah dicapai dan meningkatkan ke arah yang lebih baik lagi.

Ketua Muslimat NU Dra Hj Chulasoh menambahkan, Kabupaten Brebes memiliki jumlah penduduk terbanyak se-Jawa Tengah. Ia berharap ledakan jumlah penduduk dapat dicegah. “Muslimat NU terpanggil untuk berperan aktif mengatur jumlah kelahiran,” tuturnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di sisi lain, kata Chulasoh, saat ini hampir 80% orang di Brebes memiliki akses terhadap telepon genggam. Sebagian besar di antaranya sudah memiliki koneksi internet di teleponnya. Mereka menggunakan internet untuk mencari informasi, membaca berita, atau menggunakan sosial media. Hampir 90% masyarakat Brebes memilliki fesbuk.

Statistik ini didapatkan berdasarkan studi terakhir di tahun 2015 yang dilakukan oleh Johns Hopkins Center for Communication Program bekerja sama dengan Universitas Indonesia di 11 kabupaten kota wilayah kerja program Pilihanku, dengan total responden lebih dari 20,000 Pasangan Usia Subur (PUS).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dengan media sosial dan instant messaging saya sekarang dapat terkoneksi dengan seluruh orang di dunia,” tambah Soimah salah seorang peserta.?

Ketua Pelaksana Program Pilihanku Muslimat NU Hj Kusnia Nasser menjelaskan, Muslimat NU bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Johns Hopkins Center for Communication Program (CCP) melihat potensi yang sangat besar untuk menjangkau masyarakat dengan informasi akurat tentang Keluarga Berencana melalui pemanfaatan teknologi online dan media sosial.?

“Muslimat NU sejak tahun 1967 setuju dengan Keluarga Berencana dan bahkan aktif mengumpulkan para ulama NU untuk diajak diskusi tentang KB ditinjau dari perspektif Islam sehingga pada tanggal 25 September 1969 menghasilkan 8 Fatwa PB Syuriah NU berupa Pedoman Pokok tentang KB untuk jam’iyah NU”, jelasnya.?

Cara-cara Islami yang dimaksud adalah yang sesuai dengan delapan fatwa ulama Syuriyah PBNU. Pertama, KB harus diartikan sebagai pengaturan penjarakkan kehamilan untuk kesejahteraan dan bukan pencegahan untuk pembatasan kehamilan. Kedua, KB harus dijelaskan dalam kepentingan kesejahteraan Ibu dan Anak dan bukan karena takut miskin. Ketiga, KB tidak boleh dilakukan dengan pengguguran kandungan. Keempat, tidak boleh merusak dan menghilangkan bagian tubuh. Kelima, KB adalah masalah perseorangan dan sukarela. Keenam, KB harus mendapat persetujuan suami dan istri. Ketujuh, KB tidak boleh bertentangan dengan hukum agama Islam. Kedelapan, KB jangan disalahgunakan untuk kepentingan maksiat.

Motivator yang rata-rata tinggal di pedesaan dari 17 Pimpinan Anak Cabang se-Kabupaten Brebes itu diberi bekal cara menggunakan media komunikasi tablet yang sudah dilengkapi dengan aplikasi tentang Keluarga Berencana. “Alhamdulillah, saya bisa mengoperasikan tablet yang biasa digunakan anak saya,” tuturnya.

Tablet yang menjadi hak milik para peserta pelatihan tersebut, juga dilengkapi aplikasi perencanaan keluarga yang diberi nama SKATA ? (berasal dari Seiya Sekata bersama pasangan) kini sudah dapat diunduh dari Google Play dan App Store. SKATA adalah aplikasi baru tentang perencanaan keluarga yang dapat diunduh secara gratis oleh pengguna Android atau IOS (iPhone). Selain itu SKATA juga dapat diakses di www.skata.info bagi mereka yang memiliki operating system berbeda, seperti misalnya Blackberry.

Dengan mengunduh SKATA atau melihat websitenya masyarakat dapat memperoleh informasi tentang perencanaan keluarga lewat artikel yang ditulis oleh para ahli. SKATA memberikan penjelasan mendetail tentang masing-masing metode kontrasepsi seperti IUD dan implan, metode kontrasepsi jangka panjang yang memberikan perlindungan 3-12 tahun yang dapat dihentikan pemakaiannya sewaktu-waktu atau berbagai jenis metode kontrasepsi yang cocok bagi ibu yang baru melahirkan. Melalui SKATA juga dapat diperoleh lokasi bidan terdekat untuk konsultasi. SKATA memberikan kuis-kuis untuk mengetes pengatahuan dan bahkan dapat digunakan menjadi menjadi agenda pribadi perencanaan keluarga seperti pengingat imunisasi, kalender menstruasi, kalender kontrasepsi, dan lain-lain.

Hal ini dilakukan agar tiap keluarga di Indonesia memiliki inspirasi untuk merencanakan keluarganya dan merencanakan kebahagiannya sehingga setiap keluarga di Indonesia adalah keluarga yang sejahtera, harmonis, dan berdaya saing tinggi untuk Indonesia yang lebih baik. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 22 Desember 2011

Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran

Demak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menggelar haflah akhirus sanah, pesantren Al-Amin yang bernaung di bawah Yayasan Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak mewisuda santri berprestasi dengan predikat Khatam Al-Quran bin-Nazhri. Haflah ini diadakan dalam rangka memperingati haul KH M Ridwan.

Tampak hadir dalam haflah segenap keluarga dan dewan guru pesantren Al-Amin serta guru di Yayasan Futuhiyyah, para tamu undangan serta orang tua murid yang diwisuda. KH Yahya Cholil Staquf yang hadir sebagai pemberi taushiyah menekankan pentingnya warga NU menghadiri haul kiai.

Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran

“Selain mengalap berkah, kita mendatangi haul seorang kiai juga berarti ikut ‘mendaftar’ rombongan kiai yang dihauli untuk masuk ke surga. Jika mau jujur melihat amaliyah ibadah, kita tidak bisa masuk surga sendiri-sendiri. Karenanya kita semua akan memasuki surga secara rombongan seperti keterangan surat Az-Zumar ayat 73,” terang Gus Yahya mengawali ceramahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pedoman pesantren itu sanad, kata Gus Yahya. Ilmu NU itu memgang rantai sanad,sehingga amalan-amalan  NU itu ada sanadnya. Ikut rombongan kiai insya Allah selamat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Atas nama pengasuh, KH Ali Makhsun dalam sambutan mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan para orang tua wisudawan. Ia juga mengharapkan para santri yang akan melanjutkan studinya lebih tinggi agar tetap menjaga dan mengamalkan prinsip-prinsip pesantren.

“Semoga santri yang telah khataman mendapatkan ilmu manfaat dan berkah. Keluarga besar pesantren Al-Amin selalu diberikan kemajuan istiqomah menyebarkan ilmu sesuai amanah perintis pondok KH Muhammad Ridlwan,” harapnya. (Ben Zabidy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Kyai, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 19 Desember 2011

Bolehkah Memberi Zakat kepada Pemalas Shalat?

Selain puasa dan shalat tarawih, Ramadhan juga identik dengan zakat. Pada bulan yang penuh berkah ini Allah SWT mewajibkan zakat kepada hamba-Nya. Ibnu ‘Abbas mengatakan, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang puasa dari kesia-siaan dan kekejian dan sebagai rejeki bagi orang miskin. Siapa yang membayarkannya sebelum shalat (Idhul Fitri) diterima zakatnya. Adapun yang membayarnya setelah shalat, maka status pemberiannya dianggap seperti sedekah biasa, (HR Ibnu Majah).

Tujuan zakat fitrah adalah untuk membersihkan jiwa orang berpuasa dan sekaligus momen untuk berbagi kepada orang miskin. Jangan sampai pada hari kebahagiaan itu, masih ditemukan orang miskin yang kelaparan dan meminta-minta. Maka dari itu, zakat mesti dibayarkan sebelum shalat ‘idhul fitrah. Dalam surat At-Taubah ayat 60 disebutkan, terdapat delapan golongan yang berhak menerima zakat. Mereka adalah orang fakir, miskin, pengurus zakat, muallaf, orang yang memerdekan budak, orang berutang, fi sabilillah, dan ibnu sabil.

Bolehkah Memberi Zakat kepada Pemalas Shalat? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bolehkah Memberi Zakat kepada Pemalas Shalat? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bolehkah Memberi Zakat kepada Pemalas Shalat?

Banyak yang bertanya, bagaimana jika orang yang berhak menerima zakat tersebut malas dan suka meninggalkan shalat? Apakah orang tersebut masih berhak menerima zakat? Pertanyaan serupa juga pernah diajukan kepada Imam An-Nawawi. Dalam kitabnya Fatawa An-Nawawi ia menjelaskan sebagai berikut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bila seseorang sudah baligh dan tidak mengerjakan shalat, kemudian kondisi ini terus berlanjut sampai penyerahan zakat, maka tidak boleh memberikan zakat kepadanya. Ia termasuk kategori orang yang hartanya ditahan (dikontrol), karena masih bodoh (belum pandai memanfaatkan hartanya) dan tidak diperbolehkan memegang uang sendiri. Namun diperbolehkan memberikan zakat kepada walinya dan memegang pemberian zakat tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lain halnya dengan orang baligh, berakal, dan sudah shalat, kemudian tiba-tiba tidak mengerjakan shalat dan qadhi tidak menahan hartanya, maka diperbolehkan membayar zakat kepada golongan ini. Ia juga berhak untuk memegang uangnya sendiri dan seluruh bentuk tasharruf-nya (tindakan ekonomi) sah.”

Menurut An-Nawawi, terdapat dua kategori orang yang tidak shalat. Pertama, orang yang tidak mengerjakan shalat karena akalnya belum terlalu matang (safih) dan belum mampu membelajakan hartanya seperti manusia dewasa pada umumnya; kedua orang yang meninggalkan shalat karena malas, namun akalnya sudah matang dan mampu membelanjakan hartanya secara mandiri dan tidak mubadzir.

Untuk tipikal pertama tidak dibolehkan memberikan zakat kepadanya, karena dia tidak mampu menggunakan harta secara baik. Kalaupun tetap berkeinginan untuk berzakat kepadanya, serahkan kepada walinya atau orang yang mengontrol hartanya. Statusnya disamakan dengan anak kecil dan orang gila. Sementara tipikal kedua diperbolehkan memberikan zakat kepadanya, sebab dia sudah mampu mandiri menggunakan harta.

Berdasarkan penjelasan ini, yang menjadi perhatian utama pada saat membayar zakat ialah sejauh mana mustahiq mampu dan mandiri menggunakan harta yang diberikan. Kalau bisa, pastikan bahwa zakat yang diberikan digunakan sebaik-baiknya dan tidak diboroskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 12 Desember 2011

LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid

Bogor, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Lembaga Takmir Masjid Nahdlatu Ulama (PC LTMNU) se-wilayah Bogor (Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan Kota Depok) mengadakan silaturahim dan konsolidasi.

Acara ini dalam rangka menjawab keluhan warga ahlusunnah waljamaah (Aswaja) yang belakangan banyak diganggu oleh kelompok lain, bertempat di Kantor PCNU Kabupaten Bogor Jl.bina Citra No.5 Kp.Cipayung Kelurahan Tengah kecamatan Cibinong.

LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid

Hadir KH Abdul Manan Ghoni, Ketua PP LTMNU, KH Suaedy, wakil ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatu Ulama (PP LPNU), pengurus cabang NU dan Pengurus Lembaga Takmir Masjid NU se-korwil Bogor.

 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Abdul Manan, mengatakan; masjid jangan hanya dibangun megah-megah tapi sepi dari jamaah. Sepinya warga yang berjamaah, menurutnya dikarenakan beberapa hal, di antaranya; pembangunan masjid hanya mempertimbangkan kemegahan fisiknya. Oleh karena itu ia menegaskan kepada seluruh pengurus lembaga takmir masjid, agar ikut memikirkan persoalan ummat. Kita harus siap menjadi pemimpin sekaligus khadimul ummah (pembantu ummat), baik dalam pencerahan keagamaan dan problem-problem yang dihadapi jamaah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Adapun ancaman dari kelompok lain, tidak perlu dirisaukan karena nantinya jamaah akan tahu sendiri siapa yang lebih pantas untuk menyampaikan agama. Sebab belakangan ini masyarakat sudah sadar untuk menanyakan segala sesuatunya pada ahlinya. Jika tanya soal mesin pasti ke bengkel, begitu juga tanya agama, masyarakat sudah sadar pasti tanya pada orang yang pernah di pesantren.

Di sisi lain, Takmir masjid harus memperhatikan kesejahteraan ummat. Meminjam Istilah Kiai Masdar Farid Masudi, Rais Syuriyah PBNU, takmir masjid harus bisa menjadikan masjid sebagai spirit kesejahteraan dan kesalehan sosial. Dari rumah (masjid)-Nya kita makmurkan bumi-Nya, imbuhnya.

Sementara Kiai Suaedy mengatakan; kedepan masjid harus mempunyai koperasi tersendiri agar menjauhkan jamaahnya dari pinjaman pasukan rentenir yang dapat mencekik perekonomian keluarga. Dengan adanya koperasi yang dikelola tiap masjid nanti kita dapat membantu mengkoordinasi pemasaran hasil produksi jamaah antara masjid satu dengan masjid yang lain, bahkan masjid antar daerah dan propinsi lain. Dengan usaha ini masjid nantinya tidak perlu lagi meminta-minta sumbangan di tengah jalan. Bahkan dengan adanya koperasi masjid nanti dapat memberikan bantuan-bantuan kepada warga yang kurang mampu, baik untuk beasiswa pendidikan, kesehatan dll.

Kiai Romdon berterimakasih di datangi banyak kiai dan berharap menjadi berkah buat PCNU dan warga Bogor pada umumnya. Ketika ditanya bagaimana persoalan masjid, ia mengatakan keresahan jamaah ahlu sunnah waljamaah terutama di wilayah Bogor dan sekitarnya saat ini sama, yaitu ada aliran-aliran Islam yang berbeda dengan yang sudah berjalan saat ini.

“Tapi, saya sudah menghimbau kepada seluruh Pengurus LTMNU dan LDNU Kabupaten Bogor untuk mengajak dialog dengan baik dengan mereka yang berbeda. Prinsipnya persoalan agama harus kembali kepada al-Quran, Hadist dan ilmunya para sahabat serta ulama. Dalam konteks sekarang yang banyak bermunculan aliran-aliran Islam, mau tidak mau harus kembali pada ulama. Karena mereka adalah pewaris para Nabi (al-Ulama warastatu al—anbiya),”

Sementara Ahsan Ustadzi, sekretaris PCNU Kab. Bogor menghendaki agar silaturahim antar pengurus LTMNU se-wilayah Bogor dapat diagendakan bulanan. Sehingga problem yang dihadapi masyarakat dapat segera terjawab dengan baik. Sebagai ummat Islam tentu tidak dapat dipisahkan dengan masjid sehingga tanpa diundangpun warga masyarakat sudah berduyun-duyun ke masjid. Dengan demikian, masjid tetap menjadi tempat yang paling strategis untuk pengembangan kemaslahatan dan kesejahteraan ummat.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Internasional, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 04 Desember 2011

Tatang Siap Mundur dari Banser

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kasatkornas Banser menolak dimasukkannya unsur eksternal aparat TNI AL atau marinir dalam pelaksanaan Kongres XIV di Surabaya 13-18 Januari 2011 sebagai pengendali utama keamanan Kongres. Karena itu kalau protes ini tidak direspon maka Ketua Satkornas Banser H. Tatang Hidayat dan ketua-ketua Banser se Indonesia siap mundur dari Banser.



Tatang Siap Mundur dari Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Tatang Siap Mundur dari Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Tatang Siap Mundur dari Banser

“Kalau Kongres itu di bawah kendali marinir berarti, GP Ansor di bawah marinir. Karena itu kita menolak keterlibatan marinir tersebut dan meminta agar Ketua Umum PP GP Ansor H. Saifullah Yusuf mengembalikan hak kami. Kami juga tidak akan mengganggu kedaulatan kongres,”kata Ketua Banser Tatang Hidayat pada wartawan di Jakarta, Senin (10/1).

Hadir antara lain Kasatkorwil Banten H Rois, DKI Jakarta Ir H Syakur Mustofa, Jawa Barat H Hartono, DI Yogyakarta M Chozen, Jawa Tengah H Ali Mahfudz, Jawa Timur Drs H Mujib Sadzili, Kepri mewakili Sumatera Drs Sunardi, Sulawesi Selatan Nurdin Tajeri dan Kasatkorwil Kaltim mewakili Kalimantan Henry.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Yang pasti lanjut Tatang, Banser adalah kader inti yang kebradaannya melekat pada struktur organisasi sesuai AD/ART GP Ansor Bab IV pasal 18. Bahwa Banser memiliki fungsi kaderisasi, dinamisator dan stabilisator di mana Banser menjadi pintu masuk bagi generasi muda NU untuk menjadi anggota Banser disamping proses rekruitmen yang dilakukan oleh GP Ansor.

Selain itu Banser menjadi motor penggerak sekaligus pelaksana di semua lini program kerja GP Ansor terutama di bidang ideology, social kemasyarakatan, mengawal komitmen pluralism, pemberdayaan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selanjutnya menurut Tatang, Banser menjadi pengendali utama setiap kegiatan internal organisasi sesuai kompetensi dan keterampilan yang dimilikinya. “Untuk stabilisator ini Banser kerjasama dengan Polri. Karena itu tidak benar jika Banser melakukan pelatihan dengan unsure marinir,”tambah Tatang.(amf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 03 Desember 2011

Kuatkan Barisan dengan Silaturahim ke Pimpinan Banom NU

Mojokerto, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Halal bihalal merupakan salah satu tradisi Nahdlatul Ulama (NU) yang masih terawat hingga saat ini. Demikian pula yang dilakukan Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Untuk menyolidkan hubungan antarorgan di lingkungan NU, PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Jetis Mojokerto mengajak kader untuk bersilaturahim ke kediaman pimpinan badan otonom (banom) NU yang ada kecamatan setempat.

Kuatkan Barisan dengan Silaturahim ke Pimpinan Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuatkan Barisan dengan Silaturahim ke Pimpinan Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuatkan Barisan dengan Silaturahim ke Pimpinan Banom NU

Para anggota organisasi pelajar ini antara lain mengunjungi pimpinan Muslimat NU, Fatayat NU, Gerakan Pemuda Ansor, Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) NU, ketua MWCNU, serta alumni pimpinan IPNU-IPPNU pada periode sebelumnya.

Saat dikunjungi, Maslihul Amin selaku Ketua Ishari NU Kecamatan Jetis sempat melempar canda kepada kader NU. "Pemuda NU iku seng penting obah (pemuda NU itu yang penting gerak)," ujarnya, Kamis (29/6).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, sebagai generasi penerus kepengurusan NU, para pemuda harus bisa bermanfaat bagi masyarakat. Jika sejak muda sudah terjun langsung menghadapi masyarakat dengan berbagai macam karakter, diharapkan nantinya ketika sudah dewasa benar-benar bisa menempatkan dirinya di mana pun dia berada.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Semoga tali persaudaraan ini tetap terjaga, dan juga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk terus bisa memperjuangkan NU sehingga bisa melanjutkan perjuangan ulama terdahulu," imbuhnya. (Nuruddin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 29 November 2011

Mbah Ngis dan Resep Menghentikan Kenakalan Anak

Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994) – biasa dipanggil Mbah Ngis - memiliki seorang anak laki-laki bernama Pak Udin. Ketika masih kecil, Pak Udin sering mendapat perlakuan nakal dari anak tetangga yang usianya memang lebih tua. Pak Udin suka bermain di atas pohon nangka yang berada di samping rumahnya dengan ketinggian tak seberapa.

Seringkali terjadi ketika Pak Udin? bertengger di atas pohon, tak lama setelah itu ada tangan jahil dari arah bawah yang secara tiba-tiba masuk ke dalam celana kolornya yang longgar. Lalu tangan itu membetot “sarang burung” miliknya. Pak Udin merasa kesakitan luar biasa dan berteriak kesakitan, “Aduuuh…aduuuh…!”

Mbah Ngis dan Resep Menghentikan Kenakalan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Ngis dan Resep Menghentikan Kenakalan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Ngis dan Resep Menghentikan Kenakalan Anak

Setelah Pak Udin berteriak seperti itu, tak lama kemudian anak tetangga tersebut menjauh dari tempat kejadian sambil tertawa terbahak-bahak. Ia seperti merasa sangat puas dengan apa yang telah dilakukannya. Kejadian seperti ini berulang kali. Pak Udin? merasa tidak tahan dinakali terus-menerus seperti itu? hingga akhirnya ia? melapor kepada ibunya. Mbah Ngis merasa sangat prihatin dengan perilaku “menyimpang” dari anak tersebut. Tetapi Mbah Ngis tidak sanggup melaporkan hal itu kepada ayahnya karena Mbah Ngis sangat menaruh hormat kepadanya.

Mbah Ngis kemudian memberi resep? kepada Pak Udin untuk membuat anak tetangga itu jera dari kenakalannya. Mbah Ngis meminta Pak Udin berteriak sekerasnya dengan menyebut-nyebut namanya ketika anak itu beraksi. Pak Udin paham dengan petunjuk Mbah Ngis dan setuju dengan apa yang diajarkannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Benar. Hari berikutnya ketika Pak Udin sedang bersantai ria di atas pohon, tiba-tiba anak tetangga itu? melakukan apa yang biasa ia lakukan terhadapnya. Seketika itu Pak Udin berteriak dengan menyebut-nyebut? namanya sekeras mungkin. “Kang Fulan, aduuuh..! Kang Fulan, aduuuh...!

Mendengar Pak Udin meneriakkan namanya hingga berkali-kali dengan suara sangat keras, anak tetangga itu? akhirnya menghentikan aksinya. Ia tidak tertawa terbahak-bahak sebagaimana biasanya. Ia tampak bingung harus berbuat apa sebelum akhirnya lari terbirit-birit. Ia pulang ke rumahnya. Tak lama setelah itu dari tempat Pak Udin berada di atas pohon Pak Udin mendengar suara anak yang mengaduh kesakitan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Aduuuh… kapok Bapaaak...! Aduuuh… kapok Bapaaak..!”

Pak Udin yakin itu suara Kang Fulan. Pak Udin penasaran dan segera berlari menuju rumahnya. Pak Udin? ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Kang Fulan. Dari luar jendela rumahnya, Pak Udin? melihat Kang Fulan sedang digebuki ayahnya dengan sulak dari rotan. Bulu-bulunya rontok karena berulang-ulangnya pukulan ayahnya.

“Ojo kurang ajar kowe! Kapok opo ora kowe…?!” (Jangan kurang ajar kamu! Kapok tidak kamu?!). Kata sang ayah? sambil menghajar Kang Fulan. Ternyata sang ayah menyaksikan sendiri dari jendela rumahnya apa yang dilakukan Kang Fulan terhadap Pak Udin ketika ia berteriak-teriak menyebut namanya sambil mengaduh kesakitan.

“Kapok Bapaaak… Kapok Bapaaak…,” katanya sambil menangis kesakitan dan meminta ampun.

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, IMNU, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah