Selasa, 06 Februari 2018

Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi

Oleh Muhammad Ishom

Kata “al-ummi” sangat populer di kalangan umat Islam termasuk di Indonesia. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad SAW disebut “al-ummi” sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 157. Secara etimologis kata “al-ummi” berasal dari kata bahasa Arab “al-umm” yang artinya “ibu” dalam bahasa Indonesia. Kata “al-ummi” sebetulnya memiliki makna atau arti yang beragam, salah satunya adalah seseorang yang diasuh sendiri oleh ibunya di rumah.

Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi

Sewaktu saya masih kecil dan duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, salah seorang guru saya mengartikan “al-ummi” dengan “mbok-mboken” yang maksudnya adalah serorang anak yang tidak mau lepas dari ibunya (sehingga tidak pernah sekolah). Akibatnya sang anak menjadi buta huruf. Jadi jika kata “al-ummi” langsung diartikan “buta huruf” itu sebetulnya ada satu proses logis yang dilompati. Dalam kaitan dengan kata “al-ummi” yang dilekatkan kepada Nabi Muhammad SAW, tentu ada hubungannya dengan keberadaan ibu beliau,

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam hal ini cinta sang ibu – Siti Aminah - kepada beliau begitu dalam. Allah SWT juga sangat mencintai beliau sehingga tak seorang pun manusia diberi-Nya kesempatan menyentuh pikiran beliau dengan mengajarkan sesuatu melalui baca tulis. Oleh karena itu, banyak orang mengartikan kata “al-ummi” dengan “orang yang buta huruf” seperti dinyatakan WJS Poerwadarminta dalam “Kamus Umum Bahasa Indonesia”, terbitan PN Balai Pustaka Jakarta, tahun 1983, halaman 1124.

Pertanyaannya adalah, apakah Nabi Muhammad SAW benar-benar buta huruf?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jawabnya, sulit untuk menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar buta huruf, dalam arti tidak bisa membaca dan menulis sama sekali sepanjang hidupnya sebab setelah turunnya Al-Qur’an beliau pernah merevisi rancangan Perjanjian Hudaibiyah yang draftnya ditulis oleh Ali bin Abi Thalib. Nabi SAW menghapus sendiri kata-kata “Rasulullah” dan menggantinya dengan “Ibnu Abdillah” setelah Ali bin Abi Thalib menolak untuk melakukannya. Ali bin Abi Thalib hanya bersedia menunjukkan tempat kata-kata “Rasulullah” saja.

Orang-orang Quraisy yang diwakili Suhail bin Amr merasa keberatan dimasukkannya kata-kata “Rasulullah” ke dalam teks perjanjian tersebut dan menuntut supaya diganti dengan “Ibnu Abdillah” karena mereka tidak mempercayai kerasulan Muhammad. Tuntutan ini dipenuhi Nabi Muhammad SAW dengan menghapus dan mengganti sendiri kata-kata itu dengan kata-kata “Ibnu Abdillah”.



(Baca: Kisah Rasulullah Mencoret Tujuh Kata)


Selain itu Nabi Muhammad SAW juga pernah mengatakan bahwa ada tulisan ? (kafir) di antara kedua mata Dajjal sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari. Dalam riwayat Muslim, Nabi bahkan mengeja kata ? (kafir) itu dengan ? ? ? (k f r). Artinya ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah membaca karena mengeja itu bagian dari membaca.

Namun demikian, merupakan kesalahan besar untuk mempercayai bahwa Nabi Muhammad SAW pandai membaca dan menulis karena tidak ada bukti empiris tentang hal ini. Dalam Al-Qur’an surah Al’Ankabut ditegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca kitab apa pun atau menulisnya sebelum Al-Qur’an diturunkan sebagaimana bunyi ayat 48 berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab pun sebelum adanya Al-Qur’an dan engkau tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscara ragu orang-orang yang mengingkarinya.”

Ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca dan menulis sesuatu apa pun sebelum turunnya Al-Qur’an. Tetapi setelah Al-Qur’an turun Nabi Muhammad SAW pernah suatu ketika menulis kata-kata sebagaimna tertuang dalam teks Perjajian Hudaibiyah di atas. Selain menulis, Nabi Muhammad SAW juga pernah membaca atau mengeja kata sebagaimana diriwayatakan oleh Bukhari dan Muslim di atas.

Hikmah di balik fakta bahwa Nabi Muhammad tidak pernah membaca dan menulis adalah bahwa hal itu merupakan bukti yang menegaskan bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah SWT dan bukan karya beliau. Semua pengetahuan yang diperoleh Nabi Muhammad adalah intuisi (wahyu) dari Allah yang tidak menuntut kemampuan membaca dan menulis. Malaikat Jibril paling sering menyampiakan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW dengan metode pendengaran dengan mentransfer ayat-ayat Al-Qur’an secara langsung ke dalam memori Nabi Muhammad SAW melalui pendengaran dan hati beliau tanpa melibatkan kegiatan visual seperti membaca dan menulis.

Berdasarkan pada fakta-fakta di atas, beberapa cendekia kontemporer kurang setuju jika hingga sekarang kata “al-ummi” yang melekat pada Nabi Muhammad SAW masih diartikan”buta huruf’. Sebagai gantinya mereka mengusulkan arti atau makna yang lebih sesuai dengan konteks sekarang, yakni “tidak bisa baca tulis” karena memang tidak pernah diajar guru manusia dengan metode baca tulis. Arti baru ini sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Kamus Al-Munawwir Arab - Indonesia, karangan Ahmad Warson Munawwir, terbitan Pustaka Progresif Yogyakarta, tahun 1997, halaman 40, dimana kata “al-ummi” diartikan “Yang tak dapat membaca dan menulis” dan bukan “buta huruf”.

Rekontekstualisasi makna “al-ummi” di atas, menurut penulis, lebih baik sebab di zaman sekarang “buta huruf” sudah identik dengan “bodoh” dan “terbelakang”. Apalagi ada program pemerintah dan PBB untuk memberantas buta huruf di seluruh negeri dan penjuru dunia. Oleh karena itu rekontekstualisasi makna tersebut menjadi sangat penting untuk menjaga kebesaran dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW yang memang secara faktual memenuhi sifat-sifat wajib rasul yang meliputi: fathonah (cerdas dan tidak pelupa), shiddiq (berkomitmen tinggi terhadap kebenaran), tabligh (mau dan mampu menyampakan wahyu), dan amanah (sangat kredibel).

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Nasional, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 05 Februari 2018

Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia

Pepatah klasik mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Dalam konteks Indonesia dahulu dan sekarang atau dalam istilah era milenial, “zaman old” dan “zaman now”, memahami secara luas tentang keindonesiaan memberikan energi positif terkait tumbuhnya rasa cinta dan sayang.

Ketika warga bangsa tidak memahami betapa kayanya Indonesia dari segala sisi, maka ia akan terjebal dengan primordialisme sempit. Dalam arti sikap tertutup (eksklusif) yang akan berdampak pada sikap apriori terhadap keberagaman bangsa Indonesia tersebut.

Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia

Abdul Ghopur dan Rizky Afriono, dua anak muda Nahdlatul Ulama (NU) yang kini aktif sebagai Dirketur dan Sekretaris di Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) ingin menghadirkan kembali jiwa nasionalisme dan cinta di dada para pemuda dengan menulis buku Indonesia Rumah Kita: 9 Fakta yang Perlu Anda Ketahui.

Buku ini bukan hanya mengemukakan prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi berupaya mengungkap sembilan fakta tentang Indonesia yang perlu dipahami masyarakat secara luas. Tidak lain dan tidak bukan, fakta tentang khazanah bangsa Indonesia yang digubah dalam buku ini ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Indonesia adalah bangsa besar dan bangsa kaya yang perlu dijaga.

Dengan mengungkapkan sembilan fakta tentang Indonesia guna menumbuhkan rasa mempunyai dan rasa cinta tanah air dalam diri warga bangsa, Ghopur dan Rizky sekaligus berusaha berusaha “menggugat” kembali makna dan semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang kian hari kian menipis, meluntur, dan perlahan sirna. Sirna yang entah karena tergerus oleh eforia dan hempasan globalisasi atau memang sirna karena bangsa ini menghendakinya? 

Buku ini juga hendak menggugah kesadaran kita bersama dan mengajaknya ke dalam serangkaian pengembaraan batin dan pemikiran pada “kekayaan” yang dimiliki Indonesia meliputi; sumber daya alam (SDA), keragaman etnis, suku, ras, bahasa dan budaya, adat istiadat, agama dan nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Anugerah kekayaan alam yang luar biasa melimpah dan beraneka ragam jenisnya, selayaknya wajib disyukuri, dijaga dan tentunya dipelihara secara terus-menerus dari “tangan-tangan jahil” dan tidak bertanggung jawab, yang hanya mau mengeruk-kuras tanpa mempertimbangkan kelestarian dan keselarasan lingkungan. Sebab, manusia tidak dapat hidup tanpa adanya harmoni dan keselarasan terhadap alam dan lingkungannya.

Menyitir perkataan Bung Karno, “Barang siapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.” Ini prinsip kerja keras yang ada pada diri masyarakat Indonesia sejak dulu hingga sekarang. Selayaknya, prinsip agung para pendiri bangsa ini diwariskan kepada generasi muda agar tertanam jiwa kerja keras untuk menjaga dan merawat Indonesia yang kaya ini.

Adapun sembilan poin yang diungkap dalam buku ringan setebal 110 ini ialah, pertama, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Kedua, Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia. Ketiga, Indonesia adalah negara dengan jumlah suku bangsa terbesar di dunia.

Keempat, Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbanyak saat ini. Kelima, Indonesia adalah negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia. Keenam, Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam terlengkap.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketujuh, Indonesia dengan negara keragaman Fauna terbanyak di dunia. Kedelapan, Indonesia adalah negara dengan keragaman hayati laut terbanyak di dunia. Kesembilan, Indonesia adalah negara pertama yang merdeka setelah perang dunia kedua.

Kesembilan fakta menakjubkan tentang Indonesia tersebut bukan hanya diterangkan secara retoris oleh Ghopur dan Rizky, tetapi juga diungkapkan dengan bukti dan data-data konkret. Bahkan, mereka berdua mengemas deskripsi dari sembilan fakta tersebut secara historis. Sehingga membawa pembaca juga memahami sejarah Indonesia dan perkembangannya saat ini. 

Menariknya, buku yang diterbitkan oleh Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) pada Oktober 2017 ini menyisipkan lagu-lagu nasional di setiap akhir sembilan artikel fakta tersebut. Dua penulis buku lagi-lagi berupaya menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan Indonesia lewat lagu-lagu tersebut. Sederhana, tetapi memberi pesan dan kesan mendalam di tengah krisis identitas seperti sekarang ini. 

Data buku

Judul: Indonesia Rumah Kita: 9 Fakta yang Perlu Anda Ketahui

Penulis: Abdul Ghopur dan Rizky Afriono

Penerbit: Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB)

Cetakan: I, Oktober 2017

Tebal: xiv + 110 halaman

Peresensi: Fathoni Ahmad

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam

Oleh Hagie Wana



Salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari proses berkomunikasi adalah kebutuhan akan simbolisasi atau penggunaan lambang. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Simbol tersebut dapat berupa kata-kata (verbal), gerakan tubuh (nonverbal) ataupun objek lainnya yang maknanya disepakati bersama seperti contohnya memasang bendera kuning adalah tanda berduka bagi sebagian masyarakat di Pulau Jawa. Simbol atau lambang tersebut sangat variatif dan bergantung pada kebudayaan yang berlaku di sebuah tempat.

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam

Dalam dunia Islam, penggunaan simbol sebagai media berkomunikasi bukanlah hal yang asing. Namun minimnya pengetahuan dan kekakuan dalam menginterpretasikan nash/dalil, tak jarang banyak pihak yang menolak keberadaan simbol-simbol dalam proses kehidupan beragama. Yang kemudian mengategorikan simbol-simbol dalam kehidupan beragama itu ke dalam takhayul, bid’ah, khurafat atau bahkan tak tanggung-tanggung, yaitu musyrik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebagai contoh, suatu ketika saat Rasulullah SAW melaksanakan shalat Istisqa, Rasul memutar posisi sorbannya sebagai bentuk doa bir rumuz, yakni berdoa dengan menggunakan isyarat atau simbol. Berdoa dengan simbol pun sering dilakukan oleh umat Islam di Nusantara. Contohnya sebagian kelompok masyarakat Sunda ketika akan pindah/menempati rumah baru, hal yang pertama dipindahkan adalah pabeasan (tempat menyimpan beras) terlebih dahulu sebelum barang yang lain. Ini adalah bentuk doa agar kelak saat mendiami rumah tersebut akan tercukupi kebutuhan pangannya.

Tidak hanya dalam doa, penggunaan simbol juga biasa dilakukan dalam proses pendidikan. Sebagaimana dilakukan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika beliau mendapat aduan dari Yahudi yang merasa dizalimi oleh salah satu gubernurnya di wilayah pemerintahnnya kala itu, Umar bin Abdul Aziz mengambil sebuah tulang unta, kemudian membuat goresan lurus pada tulang tersebut dengan pedang, lalu beliau memerintahkan Yahudi itu untuk membawa tulang tersebut pada gubernurnya. Ketika tulang dibawakan ke hadapan gubernur, tiba-tiba sang gubernur bergetar dan bercucuran keringat. Si Yahudi pun terheran-heran. Saat ditanyakan, sang gubernur menjawab “Ini adalah pesan dari khalifah Umar agar aku berbuat adil (lurus) sebagaimana lurusnya garis pada tulang ini. Kalau aku tak sanggup, maka pedanglah yang akan meluruskan perbuatanku”. Sang gubernur itu lalu meminta maaf atas kekhilafannya. Menyaksikan kejadian ini, Yahudi itu tertunduk kagum pada dua orang yang ditemuinya itu, lalu dengan mantap ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Proses komunikasi dengan simbol tersebut, telah berperan mengantarkan Yahudi tadi memeluk agama Islam.

Jadi, proses pengunaan simbol yang kerap dilakukan oleh leluhur kita sebagai media bekomunikasi apa pun itu konteksnya, entah sebagai doa, nasihat, atau proses pendidikan, bukanlah hal yang bertabrakan dengan aqidah. Sebagaimana telah dilakukan dari zaman Rasul, Sahabat, dan generasi-generasi berikutnya hingga sampai pada kita sekarang. Ada banyak pesan moral yang terkandung dalam simbolisasi tersebut. Orang tua kita telah sedemikian sempurna dalam menyampaikan sebuah pesan melalui media simbol yang terkadang lebih efektif dan efisien dibanding dengan beretorika belaka. Masalahnya kita tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk mencari makna dari pesan yang terkandung di balik simbol-simbol tersebut, lalu terjebak pemahaman yang cenderung normatif daripada substanstif dalam menginterpretasikan dalil, menyebabkan kekeliruan memahami konsep musyrik yang sebenaranya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lalu seiring perubahan zaman, masih efektifkah proses penyampaian pesan menggunakan simbol-simbol? Atau mampukah kita membuat model komunikasi dengan penggunaan simbol sebagaimana yang telah dilakukan orang-orang terdahulu kita?

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren

Purwakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kasus yang menimpa Nurmayani, guru bidang studi biologi SMP Negeri 1 Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang mencubit anak polisi kemudian berakhir di sel penjara jadi perhatian publik, termasuk Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.?

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren

Dedi menilai, sistem pendidikan di Indonesia saat ini lebih menekankan pada aspek transformasi ilmu pengetahuan, dan justru mengabaikan etika serta karakter peserta didik. Seharusnya, lanjut Dedi, sistem pendidikan nasional mengadopsi sistem pendidikan pesantren yang terbukti sukses menanamkan budi pekerti kepada para santri dengan cara menerapkan metode aplikatif pembelajaran karakter, bukan sekadar transformasi ilmu pengetahuan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sering kan, kita menyalahkan peserta didik yang tidak bisa diatur. Problemnya berarti mentalitas dan karakter. Maka pola pendidikan yang diterapkan harus berbasis karakter budi pekerti, tidak lagi melulu transformasi ilmu. Zaman dahulu kalau keras kepada anak didik tidak akan menjadi masalah. Lah, hari ini urusannya bisa penjara," kata Dedi saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (25/5).

Menurut Dedi, saat karakter menjadi acuan pembelajaran, semua mata pelajaran di sekolah harus mengacu pada variabel budi pekerti. Peserta didik yang memiliki budi pekerti yang buruk, kata dia, sudah seharusnya tidak naik kelas. Hukuman tidak naik kelas ini pun harus dilakukan secara sistematis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Misalnya setiap mata pelajaran nilai peserta didik dikurangi 2. Taruhlah dia dapat nilai Matematika 7. Nah, karena budi pekertinya jelek, di rapor harus ditulis 5," ujar Bupati yang dikenal sering menulis lagu bertema spiritual ini.

Dedi menekankan pola penilaian baru ini harus dilaksanakan secara konsisten di semua sekolah di Kabupaten Purwakarta. Tidak dibenarkan suatu saat ada protes dari orang tua siswa yang tidak terima nilai anaknya dikurangi.

"Kalau masuk pesantren, kan, biasanya ditanya dulu kesanggupan mengikuti peraturan atau tidak. Maka saat masuk sekolah di Purwakarta semua pihak harus ditanya kesanggupan menerima pola baru ini," kata Dedi. (Anif/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 04 Februari 2018

India ke Myanmar: Akui Rohingya, Bangun Sosio-Ekonomi di Rakhine!

Dhaka, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menteri luar negeri India Sushma Swaraj mengatakan, India mendukung pelaksanaan rekomendasi yang menyarankan pengakuan kepada etnis Rohingya di wilayah Myanmar.

Pihak India mendukung pemulangan ratusan ribu Muslim Rohingya yang kini memadati Bangladesh ke tempat asalnya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

India ke Myanmar: Akui Rohingya, Bangun Sosio-Ekonomi di Rakhine! (Sumber Gambar : Nu Online)
India ke Myanmar: Akui Rohingya, Bangun Sosio-Ekonomi di Rakhine! (Sumber Gambar : Nu Online)

India ke Myanmar: Akui Rohingya, Bangun Sosio-Ekonomi di Rakhine!

Jumlah Muslim Rohingya yang lari dari Myanmar telah mencapai hampir 600 ribu orang sejak eskalasi kekerasan pada 25 Agustus lalu. Mereka berjalan kaki menerobos sungai, hutan, atau laut selama berhari-hari. 

Dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AP, dia juga menekankan pentingnya penatan ekonomi di Negara Bagian Rakhine untuk menyelesaikan masalah tersebut.

"Menurut pandangan kami, satu-satunya solusi jangka panjang untuk situasi di Negara Bagian Rakhine adalah pembangunan segera sosio-ekonomi dan infrastruktur yang akan memberi dampak positif bagi semua masyarakat yang tinggal di negara bagian ini," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Bangladesh mendesak India untuk memainkan peran lebih besar dengan "memberikan tekanan terus-menerus" kepada Myanmar untuk menemukan solusi damai bagi krisis Rohingya.

Sikap India yang mulai andil dalam penyelesaian krisis Rohinga akan sangat berarti bagi kebijakan China sebagai pendukung Myanmar, yang mengatakan bahwa Muslim Rohingya adalah migran ilegal dari Bangladesh, bukan warganya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ada Ormas Buka Pendaftaran Jihad ke Myanmar, GP Ansor Surabaya: Itu Tak Perlu

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Konflik kemanusiaan yang diderita oleh etnis Rohingya, Myanmar, mengundang keprihatinan banyak pihak. Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur melakukan aksi sekaligus mengingatkan akan bahaya informasi hoax atas kasus di Myanmar itu.

Aksi dilakukan dengan konvoi menuju Kantor PWNU Jatim di kawasan Masjid Al-Akbar Surabaya dan dilanjutkan dengan melakukan shalat ghaib, istighotsah, dan pernyataan sikap, Senin (4/9).

Ada Ormas Buka Pendaftaran Jihad ke Myanmar, GP Ansor Surabaya: Itu Tak Perlu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Ormas Buka Pendaftaran Jihad ke Myanmar, GP Ansor Surabaya: Itu Tak Perlu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Ormas Buka Pendaftaran Jihad ke Myanmar, GP Ansor Surabaya: Itu Tak Perlu

Pernyataan sikap ini dibacakan Rudi Triwahid didampingi Ahmad Tamim selaku Sekretaris PW GP Ansor Jatim serta pengurus harian lainnya.

"Kami mengajak organisasi kepemudaan dan masyarakat Indonesia lainnya, untuk melakukan aksi solidaritas kemanusiaan dan misi kemanusiaan terhadap saudara-saudara kita etnis Rohingya," kata Rudi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berdasarkan berbagai sumber yakni informasi, berita, kajian, penelitian, survei dan lain-lain, GP Ansor Jawa Timur berkeyakinan bahwa benar telah terjadi tragedi kemanusiaan di Myanmar tepatnya di daerah Arakan, Rakhine yang menimpa etnis Rohingya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Maka atas dasar keyakinan tersebut PW GP Ansor Jawa Timur, mengutuk keras terjadinya tragedi kemanusian terhadap saudara-saudara kita etnis Rohingya di Myanmar dan berharap agar segera dihentikan," kata Rudi Triwahid.

Ketua GP Ansor Surabaya Faridz Afif yang juga mengutus anggotanya mengikuti aksi solidaritas yang digelar oleh GP Ansor Jatim meminta masyarakat Indonesia tak gegabah menanggapi peristiwa yang terjadi pada etnis Rohingya.

"Jangan sampai kepedulian kita malah menimbulkan konflik baru yang terjadi di dalam negeri. Peduli ya, tapi jangan memprovokasi. Apalagi sampai menyebarkan berita hoax dan menyebarkan foto yang tak berkaitan dengan peristiwa yang terjadi," kata Gus Afif.

Ia mengaku mendapatkan informasi ada sebuah organisasi membuka pendaftaran untuk memberangkatkan masyarakat berjihad di Myanmar. "Itu tidak perlu. Karena masyarakat Rohingya saat ini tidak butuh perang, melainkan solusi hidup dan perdamaian," tegasnya.

Ia melanjutkan, ada saluran resmi yang saat ini tengah bekerja untuk mengupayakan penyelesaian konflik kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya.

"Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Aliansi Kemanusian Indonesia untuk Myanmar (AKIM)? tengah melakukan diplomasi perdamaian. Mari kita bersama mendoakan semoga konflik ini segera selesai dan mendapatkan jalan keluar yang baik," kata Gus Afif. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pondok Pesantren, Aswaja, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rokok Sehat Buatan Pesantren Bisa Obati Berbagai Penyakit

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Merokok dapat menyebabkan penyakit jantung. Tetapi kalau merokok dengan rokok buatan Pesantren Sehat Perum Kalianyar Permai C1 Sidodadi, Lawang, Malang, Jawa Timur, justru sebaliknya. Rokok sehat ini diyakini bisa menghilangkan beberapa jenis penyakit.

Rokok bermerk SIN yang dibuat oleh seorang ahli terapi kesehatan KH Abdul Malik ini justru mempunyai khasiat mengobati berbagai penyakit seperti darah tinggi, jantung, imponten, asma, paru-paru, sinusitas ringan serta menghilangkan kebiasaan memakai narkoba.

Selain asapnya yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, abu rokok ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit eksim. "Rokok ini mulai dibuat sejak 2 Mei 2005," kata salah seorang santri pesantren Sehat M. Diponegoro, tulis detikcom, Kamis (24/5).

Rokok Sehat Buatan Pesantren Bisa Obati Berbagai Penyakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Rokok Sehat Buatan Pesantren Bisa Obati Berbagai Penyakit (Sumber Gambar : Nu Online)

Rokok Sehat Buatan Pesantren Bisa Obati Berbagai Penyakit

Rokok yang diproduksi Pabrik Rokok (PR) UD Putra Bintang Timur ini memiliki 4 macam jenis rasa dibuat dari 17 jenis ramuan obat-obatan ini terdiri dari bahan alamiah seperti madu, daun sirih dan daun siwak yang dapat menetralkan kandungan tar dan nikotin.

M. Diponegoro atau yang biasa dipanggil Mas Dipo mengatakan, semua ramuan dicampur dengan tembakau pilihan yang kemudian diolah hingga menghasilkan cita rasa. Setelah itu, semua bahan diproses seperti rokok-rokok lainnya. Cuma yang membedakan, rokok ini dijadikan sebagai terapi atau media penyembuhan segala macam penyakit yang dapat menetralisir zat beracun.

Setelah rokok diproses, kemudian diuji di laboratorium Universitas Brawijaya (Unibraw), Universitas Negeri Malang (UM) serta sebuah perusahaan rokok nasional di Malang. "Setelah di uji coba, kadar nikotin sangat rendah dan mendekati 0 persen," papar dia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara Mudjiono, bagian pemasaran PR UD Putra Bintang Timur, mengatakan, rokok yang diproduksi Pesantren Sehat per harinya sekitar 2.000 bungkus. Rokok-rokok ini dipasarkan ke berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Sumbawa, Bandung dan Madura. (dtc)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah