Senin, 05 Februari 2018

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam

Oleh Hagie Wana



Salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari proses berkomunikasi adalah kebutuhan akan simbolisasi atau penggunaan lambang. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Simbol tersebut dapat berupa kata-kata (verbal), gerakan tubuh (nonverbal) ataupun objek lainnya yang maknanya disepakati bersama seperti contohnya memasang bendera kuning adalah tanda berduka bagi sebagian masyarakat di Pulau Jawa. Simbol atau lambang tersebut sangat variatif dan bergantung pada kebudayaan yang berlaku di sebuah tempat.

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam

Dalam dunia Islam, penggunaan simbol sebagai media berkomunikasi bukanlah hal yang asing. Namun minimnya pengetahuan dan kekakuan dalam menginterpretasikan nash/dalil, tak jarang banyak pihak yang menolak keberadaan simbol-simbol dalam proses kehidupan beragama. Yang kemudian mengategorikan simbol-simbol dalam kehidupan beragama itu ke dalam takhayul, bid’ah, khurafat atau bahkan tak tanggung-tanggung, yaitu musyrik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebagai contoh, suatu ketika saat Rasulullah SAW melaksanakan shalat Istisqa, Rasul memutar posisi sorbannya sebagai bentuk doa bir rumuz, yakni berdoa dengan menggunakan isyarat atau simbol. Berdoa dengan simbol pun sering dilakukan oleh umat Islam di Nusantara. Contohnya sebagian kelompok masyarakat Sunda ketika akan pindah/menempati rumah baru, hal yang pertama dipindahkan adalah pabeasan (tempat menyimpan beras) terlebih dahulu sebelum barang yang lain. Ini adalah bentuk doa agar kelak saat mendiami rumah tersebut akan tercukupi kebutuhan pangannya.

Tidak hanya dalam doa, penggunaan simbol juga biasa dilakukan dalam proses pendidikan. Sebagaimana dilakukan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika beliau mendapat aduan dari Yahudi yang merasa dizalimi oleh salah satu gubernurnya di wilayah pemerintahnnya kala itu, Umar bin Abdul Aziz mengambil sebuah tulang unta, kemudian membuat goresan lurus pada tulang tersebut dengan pedang, lalu beliau memerintahkan Yahudi itu untuk membawa tulang tersebut pada gubernurnya. Ketika tulang dibawakan ke hadapan gubernur, tiba-tiba sang gubernur bergetar dan bercucuran keringat. Si Yahudi pun terheran-heran. Saat ditanyakan, sang gubernur menjawab “Ini adalah pesan dari khalifah Umar agar aku berbuat adil (lurus) sebagaimana lurusnya garis pada tulang ini. Kalau aku tak sanggup, maka pedanglah yang akan meluruskan perbuatanku”. Sang gubernur itu lalu meminta maaf atas kekhilafannya. Menyaksikan kejadian ini, Yahudi itu tertunduk kagum pada dua orang yang ditemuinya itu, lalu dengan mantap ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Proses komunikasi dengan simbol tersebut, telah berperan mengantarkan Yahudi tadi memeluk agama Islam.

Jadi, proses pengunaan simbol yang kerap dilakukan oleh leluhur kita sebagai media bekomunikasi apa pun itu konteksnya, entah sebagai doa, nasihat, atau proses pendidikan, bukanlah hal yang bertabrakan dengan aqidah. Sebagaimana telah dilakukan dari zaman Rasul, Sahabat, dan generasi-generasi berikutnya hingga sampai pada kita sekarang. Ada banyak pesan moral yang terkandung dalam simbolisasi tersebut. Orang tua kita telah sedemikian sempurna dalam menyampaikan sebuah pesan melalui media simbol yang terkadang lebih efektif dan efisien dibanding dengan beretorika belaka. Masalahnya kita tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk mencari makna dari pesan yang terkandung di balik simbol-simbol tersebut, lalu terjebak pemahaman yang cenderung normatif daripada substanstif dalam menginterpretasikan dalil, menyebabkan kekeliruan memahami konsep musyrik yang sebenaranya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lalu seiring perubahan zaman, masih efektifkah proses penyampaian pesan menggunakan simbol-simbol? Atau mampukah kita membuat model komunikasi dengan penggunaan simbol sebagaimana yang telah dilakukan orang-orang terdahulu kita?

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren

Purwakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kasus yang menimpa Nurmayani, guru bidang studi biologi SMP Negeri 1 Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang mencubit anak polisi kemudian berakhir di sel penjara jadi perhatian publik, termasuk Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.?

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren

Dedi menilai, sistem pendidikan di Indonesia saat ini lebih menekankan pada aspek transformasi ilmu pengetahuan, dan justru mengabaikan etika serta karakter peserta didik. Seharusnya, lanjut Dedi, sistem pendidikan nasional mengadopsi sistem pendidikan pesantren yang terbukti sukses menanamkan budi pekerti kepada para santri dengan cara menerapkan metode aplikatif pembelajaran karakter, bukan sekadar transformasi ilmu pengetahuan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sering kan, kita menyalahkan peserta didik yang tidak bisa diatur. Problemnya berarti mentalitas dan karakter. Maka pola pendidikan yang diterapkan harus berbasis karakter budi pekerti, tidak lagi melulu transformasi ilmu. Zaman dahulu kalau keras kepada anak didik tidak akan menjadi masalah. Lah, hari ini urusannya bisa penjara," kata Dedi saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (25/5).

Menurut Dedi, saat karakter menjadi acuan pembelajaran, semua mata pelajaran di sekolah harus mengacu pada variabel budi pekerti. Peserta didik yang memiliki budi pekerti yang buruk, kata dia, sudah seharusnya tidak naik kelas. Hukuman tidak naik kelas ini pun harus dilakukan secara sistematis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Misalnya setiap mata pelajaran nilai peserta didik dikurangi 2. Taruhlah dia dapat nilai Matematika 7. Nah, karena budi pekertinya jelek, di rapor harus ditulis 5," ujar Bupati yang dikenal sering menulis lagu bertema spiritual ini.

Dedi menekankan pola penilaian baru ini harus dilaksanakan secara konsisten di semua sekolah di Kabupaten Purwakarta. Tidak dibenarkan suatu saat ada protes dari orang tua siswa yang tidak terima nilai anaknya dikurangi.

"Kalau masuk pesantren, kan, biasanya ditanya dulu kesanggupan mengikuti peraturan atau tidak. Maka saat masuk sekolah di Purwakarta semua pihak harus ditanya kesanggupan menerima pola baru ini," kata Dedi. (Anif/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 04 Februari 2018

India ke Myanmar: Akui Rohingya, Bangun Sosio-Ekonomi di Rakhine!

Dhaka, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menteri luar negeri India Sushma Swaraj mengatakan, India mendukung pelaksanaan rekomendasi yang menyarankan pengakuan kepada etnis Rohingya di wilayah Myanmar.

Pihak India mendukung pemulangan ratusan ribu Muslim Rohingya yang kini memadati Bangladesh ke tempat asalnya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

India ke Myanmar: Akui Rohingya, Bangun Sosio-Ekonomi di Rakhine! (Sumber Gambar : Nu Online)
India ke Myanmar: Akui Rohingya, Bangun Sosio-Ekonomi di Rakhine! (Sumber Gambar : Nu Online)

India ke Myanmar: Akui Rohingya, Bangun Sosio-Ekonomi di Rakhine!

Jumlah Muslim Rohingya yang lari dari Myanmar telah mencapai hampir 600 ribu orang sejak eskalasi kekerasan pada 25 Agustus lalu. Mereka berjalan kaki menerobos sungai, hutan, atau laut selama berhari-hari. 

Dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AP, dia juga menekankan pentingnya penatan ekonomi di Negara Bagian Rakhine untuk menyelesaikan masalah tersebut.

"Menurut pandangan kami, satu-satunya solusi jangka panjang untuk situasi di Negara Bagian Rakhine adalah pembangunan segera sosio-ekonomi dan infrastruktur yang akan memberi dampak positif bagi semua masyarakat yang tinggal di negara bagian ini," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Bangladesh mendesak India untuk memainkan peran lebih besar dengan "memberikan tekanan terus-menerus" kepada Myanmar untuk menemukan solusi damai bagi krisis Rohingya.

Sikap India yang mulai andil dalam penyelesaian krisis Rohinga akan sangat berarti bagi kebijakan China sebagai pendukung Myanmar, yang mengatakan bahwa Muslim Rohingya adalah migran ilegal dari Bangladesh, bukan warganya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ada Ormas Buka Pendaftaran Jihad ke Myanmar, GP Ansor Surabaya: Itu Tak Perlu

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Konflik kemanusiaan yang diderita oleh etnis Rohingya, Myanmar, mengundang keprihatinan banyak pihak. Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur melakukan aksi sekaligus mengingatkan akan bahaya informasi hoax atas kasus di Myanmar itu.

Aksi dilakukan dengan konvoi menuju Kantor PWNU Jatim di kawasan Masjid Al-Akbar Surabaya dan dilanjutkan dengan melakukan shalat ghaib, istighotsah, dan pernyataan sikap, Senin (4/9).

Ada Ormas Buka Pendaftaran Jihad ke Myanmar, GP Ansor Surabaya: Itu Tak Perlu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Ormas Buka Pendaftaran Jihad ke Myanmar, GP Ansor Surabaya: Itu Tak Perlu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Ormas Buka Pendaftaran Jihad ke Myanmar, GP Ansor Surabaya: Itu Tak Perlu

Pernyataan sikap ini dibacakan Rudi Triwahid didampingi Ahmad Tamim selaku Sekretaris PW GP Ansor Jatim serta pengurus harian lainnya.

"Kami mengajak organisasi kepemudaan dan masyarakat Indonesia lainnya, untuk melakukan aksi solidaritas kemanusiaan dan misi kemanusiaan terhadap saudara-saudara kita etnis Rohingya," kata Rudi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berdasarkan berbagai sumber yakni informasi, berita, kajian, penelitian, survei dan lain-lain, GP Ansor Jawa Timur berkeyakinan bahwa benar telah terjadi tragedi kemanusiaan di Myanmar tepatnya di daerah Arakan, Rakhine yang menimpa etnis Rohingya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Maka atas dasar keyakinan tersebut PW GP Ansor Jawa Timur, mengutuk keras terjadinya tragedi kemanusian terhadap saudara-saudara kita etnis Rohingya di Myanmar dan berharap agar segera dihentikan," kata Rudi Triwahid.

Ketua GP Ansor Surabaya Faridz Afif yang juga mengutus anggotanya mengikuti aksi solidaritas yang digelar oleh GP Ansor Jatim meminta masyarakat Indonesia tak gegabah menanggapi peristiwa yang terjadi pada etnis Rohingya.

"Jangan sampai kepedulian kita malah menimbulkan konflik baru yang terjadi di dalam negeri. Peduli ya, tapi jangan memprovokasi. Apalagi sampai menyebarkan berita hoax dan menyebarkan foto yang tak berkaitan dengan peristiwa yang terjadi," kata Gus Afif.

Ia mengaku mendapatkan informasi ada sebuah organisasi membuka pendaftaran untuk memberangkatkan masyarakat berjihad di Myanmar. "Itu tidak perlu. Karena masyarakat Rohingya saat ini tidak butuh perang, melainkan solusi hidup dan perdamaian," tegasnya.

Ia melanjutkan, ada saluran resmi yang saat ini tengah bekerja untuk mengupayakan penyelesaian konflik kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya.

"Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Aliansi Kemanusian Indonesia untuk Myanmar (AKIM)? tengah melakukan diplomasi perdamaian. Mari kita bersama mendoakan semoga konflik ini segera selesai dan mendapatkan jalan keluar yang baik," kata Gus Afif. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pondok Pesantren, Aswaja, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rokok Sehat Buatan Pesantren Bisa Obati Berbagai Penyakit

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Merokok dapat menyebabkan penyakit jantung. Tetapi kalau merokok dengan rokok buatan Pesantren Sehat Perum Kalianyar Permai C1 Sidodadi, Lawang, Malang, Jawa Timur, justru sebaliknya. Rokok sehat ini diyakini bisa menghilangkan beberapa jenis penyakit.

Rokok bermerk SIN yang dibuat oleh seorang ahli terapi kesehatan KH Abdul Malik ini justru mempunyai khasiat mengobati berbagai penyakit seperti darah tinggi, jantung, imponten, asma, paru-paru, sinusitas ringan serta menghilangkan kebiasaan memakai narkoba.

Selain asapnya yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, abu rokok ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit eksim. "Rokok ini mulai dibuat sejak 2 Mei 2005," kata salah seorang santri pesantren Sehat M. Diponegoro, tulis detikcom, Kamis (24/5).

Rokok Sehat Buatan Pesantren Bisa Obati Berbagai Penyakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Rokok Sehat Buatan Pesantren Bisa Obati Berbagai Penyakit (Sumber Gambar : Nu Online)

Rokok Sehat Buatan Pesantren Bisa Obati Berbagai Penyakit

Rokok yang diproduksi Pabrik Rokok (PR) UD Putra Bintang Timur ini memiliki 4 macam jenis rasa dibuat dari 17 jenis ramuan obat-obatan ini terdiri dari bahan alamiah seperti madu, daun sirih dan daun siwak yang dapat menetralkan kandungan tar dan nikotin.

M. Diponegoro atau yang biasa dipanggil Mas Dipo mengatakan, semua ramuan dicampur dengan tembakau pilihan yang kemudian diolah hingga menghasilkan cita rasa. Setelah itu, semua bahan diproses seperti rokok-rokok lainnya. Cuma yang membedakan, rokok ini dijadikan sebagai terapi atau media penyembuhan segala macam penyakit yang dapat menetralisir zat beracun.

Setelah rokok diproses, kemudian diuji di laboratorium Universitas Brawijaya (Unibraw), Universitas Negeri Malang (UM) serta sebuah perusahaan rokok nasional di Malang. "Setelah di uji coba, kadar nikotin sangat rendah dan mendekati 0 persen," papar dia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara Mudjiono, bagian pemasaran PR UD Putra Bintang Timur, mengatakan, rokok yang diproduksi Pesantren Sehat per harinya sekitar 2.000 bungkus. Rokok-rokok ini dipasarkan ke berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Sumbawa, Bandung dan Madura. (dtc)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

LKKNU Gelar Seminar Nasional Kependudukan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengadakan seminar nasional di Hotel Balairung, Jakarta, Sabtu (6/7).

LKKNU Gelar Seminar Nasional Kependudukan (Sumber Gambar : Nu Online)
LKKNU Gelar Seminar Nasional Kependudukan (Sumber Gambar : Nu Online)

LKKNU Gelar Seminar Nasional Kependudukan

Seminar sehari kali ini mengusung tema "Revitalisasi Pembangunan Kependudukan dan Pemberdayaan Keluarga Menuju Pencapaian MDGs 2015". Secara resmi acara dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Hadir dalam kesempatan ini Jose Ferraris dari UNFPA Representative untuk Indonesia, Ketua PP LKKNU Sultonul Huda, serta sejumlah pejabat dari Kementerian Kesehatan dan BKKBN.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sultonul Huda mengatakan, pembangunan kependudukan merupakan masalah penting yang harus ditangani secara sinergis antara BKKBN, pemerintahan daerah, dan masyarakat. Ormas seperti NU bisa terlibat di bidang keagamaan.

"Masyarakat kita menerima pengaruh yang sangat kuat dari nilai-nilai agama," ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Sulton, isu kependudukan sangat jarang muncul di media. "Paling kalau ada di media online. Itu hanya bisa diakses orang menengah ke atas. Padahal BKKBN sasarannya adalah menengah ke bawah. Jadi harus ada yang menjembatani," katanya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Bisri dan Gus Dur Soal Kebiasaan Telat di NU

Waktu itu, Rais Aam PBNU KH Bisri Syansuri menginap di rumah putrinya, Nyai Sholihah, atau ibunda Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terletak di kawasan Matraman Jakarta Pusat. Ada Gus Dur juga di rumah itu. Sekitar pukul 08.00 WIB, KH Bisri memanggil sang cucu.

“Dur antarkan saya ke kantor PBNU sekarang!” kata sang kakek.

Kiai Bisri dan Gus Dur Soal Kebiasaan Telat di NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Bisri dan Gus Dur Soal Kebiasaan Telat di NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Bisri dan Gus Dur Soal Kebiasaan Telat di NU

“Kenapa pagi-pagi sudah ke PBNU Mbah?,” jawab Gus Dur.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mau ada rapat gabungan.”

“Lho kan masih pagi Mbah?”

“Rapatnya jam sembilan.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ah paling juga pada telat datangnya Mbah.”

“Biar saja. Biar ada bedanya antara yang tepat waktu dan yang telat.”

Jarak antara rumah Nyai Sholihah dengan kantor PBNU dl Kramat Raya tidak begitu jauh, sekitar 2,5 km saja. Tahun 1970-an Jakarta juga belum macet.

KH Bisri Syansuri sampai di kantor PBNU sebelum pukul 09.00 WIB. Kira-kira 10 menit sebelum jam rapat, mereka berdua bergegas masuk ke ruangan rapat. Benar saja, belum ada satu pun pengurus NU yang datang.

”Belum ada yang datang Mbah,” kata Gus Dur.

“Biar saja. Kita tunggu di sini saja,” kata Kiai Bisri. Kemudian beliau duduk di kursi Rais Aam. Sebentar kemudian bibir sang kiai terlihat komat-kamit, seperti sedang membaca wirid atau dzikir, sambil menunggu pengurus PBNU yang lain. Gus Dur bergegas ke ruang samping menyiapkan minuman untuk kakeknya. (A. Khoirul Anam)

?

* Cerita ini disampaikan oleh KH Muhammad Musthofa, pengasuh pondok pesantren Al-Qur’an di Parung Bogor, yang pernah mendampingi Gus Dur di kediaman Jl Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Makam, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah