“Dur antarkan saya ke kantor PBNU sekarang!” kata sang kakek.
| Kiai Bisri dan Gus Dur Soal Kebiasaan Telat di NU (Sumber Gambar : Nu Online) |
Kiai Bisri dan Gus Dur Soal Kebiasaan Telat di NU
“Kenapa pagi-pagi sudah ke PBNU Mbah?,” jawab Gus Dur.Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
“Mau ada rapat gabungan.”“Lho kan masih pagi Mbah?”
“Rapatnya jam sembilan.”
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
“Ah paling juga pada telat datangnya Mbah.”“Biar saja. Biar ada bedanya antara yang tepat waktu dan yang telat.”
Jarak antara rumah Nyai Sholihah dengan kantor PBNU dl Kramat Raya tidak begitu jauh, sekitar 2,5 km saja. Tahun 1970-an Jakarta juga belum macet.
KH Bisri Syansuri sampai di kantor PBNU sebelum pukul 09.00 WIB. Kira-kira 10 menit sebelum jam rapat, mereka berdua bergegas masuk ke ruangan rapat. Benar saja, belum ada satu pun pengurus NU yang datang.
”Belum ada yang datang Mbah,” kata Gus Dur.
“Biar saja. Kita tunggu di sini saja,” kata Kiai Bisri. Kemudian beliau duduk di kursi Rais Aam. Sebentar kemudian bibir sang kiai terlihat komat-kamit, seperti sedang membaca wirid atau dzikir, sambil menunggu pengurus PBNU yang lain. Gus Dur bergegas ke ruang samping menyiapkan minuman untuk kakeknya. (A. Khoirul Anam)
?
* Cerita ini disampaikan oleh KH Muhammad Musthofa, pengasuh pondok pesantren Al-Qur’an di Parung Bogor, yang pernah mendampingi Gus Dur di kediaman Jl Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan.
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Makam, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah