Senin, 27 November 2017

PBNU Minta Ulama Mesir dan Suriah Tengahi Konflik

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas kemelut yang terjadi di Timur Tengah, khususnya Mesir dan Suriah. PBNU percaya para ulama setempat mampu menjadi solusi atas masalah ini.

PBNU Minta Ulama Mesir dan Suriah Tengahi Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Ulama Mesir dan Suriah Tengahi Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Ulama Mesir dan Suriah Tengahi Konflik

“NU berharap ulama-ulama di Mesir dan Suriyah berperan aktif dalam menyejukkan suasana sehingga terwujud ishlah (rekosiliasi) di antara pihak-pihak berseteru,” pinta Katib Aam PBNU KH Malik Madani menyampaikan salah satu hasil rapat syuriyah PBNU, Rabu (2/10) petang, di Jakarta.

Menurut Kiai Malik, kiprah tokoh agama sangat dibutuhkan menyusul kekisruhan di Mesir dan Suriah tak hanya melibatkan pihak militer tapi juga memakan banyak korban sipil. “Mudah-mudahan dapat ditemukan jalan keluar yang damai, tanpa ada kekerasan,” imbuhnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di wilayah Timur Tengah yang sedang dilanda perang, dosen UIN Sunan Kalijaga ini berharap mereka tidak melibatkan diri dalam kemelut yang terjadi. Mereka perlu menghindari sejumlah daerah rawan yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.

“Indonesia harus dapat mengambil pelajaran banyak dari perjalanan pahit negara-negara di Timur Tengah agar tidak jatuh pada kasus serupa,” lanjutnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PBNU Diminta Ekspos Gagasan Islam Nusantara

Purwakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Istilah Islam Nusantara yang digagas oleh PBNU mendapat respon positif dari publik internasional, hal ini ditandai dengan munculnya dukungan dari para tamu luar negeri dan Kedutaan Besar Negara Sahabat.

"Hampir tiap hari kita kedatangan tamu dari dubes-dubes, mereka tertarik dengan Islam Nusantara yang toleran, damai, mereka juga mendorong agar Islam Nusantara ini segera diekspos supaya dunia mengetahuinya," ungkap Sekjen PBNU, H. Helmy Faisal Zaini saat mengisi kegiatan Pendidikan Kader NU di Purwakarta, Jumat (26/2).

Islam Nusantara, lanjut Helmy, bukanlah hal baru karena sejak Wali Songo berdakwah di bumi nusantara, sejak saat itu pula Islam Nusantara ada, sehingga tidak perlu dicurigai apalagi dipermasalahkan.

PBNU Diminta Ekspos Gagasan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Diminta Ekspos Gagasan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Diminta Ekspos Gagasan Islam Nusantara

Ia pun menegaskan, Islam Nusantara menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan perdamaian sehingga dalam berdakwah tidak perlu menggunakan cara-cara kekerasan karena hal itu akan menjatuhkan keluhuran agama Islam dan menjauhkan umat Islam dari pergaulan internasional.

"Karena ada segelintir orang yang membunuh atau membom atas nama Islam, yang rugi umat Islam di dunia, misalnya umat Islam di Amerika, di Eropa, hanya karena berjilbab jadi dicurigai sebagai teroris," kata mantan Menteri PDT ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam mencontohkan dakwah yang damai, ia pun menceritakan sosok Ketum PBNU, KH Said Aqil Siroj yang telah mengislamkan beberapa non muslim.

"Kemarin Kiai Said sudah mengislamkan lebih dari 20 warga Jepang," tambahnya.

Selain itu, kata dia, Kiai Said sering diundang pengajian oleh para TKI yang ada di Hongkong, Taiwan, dan beberapa negara lain. Dalam kesempatan itu ada seorang majikan yang ikut pertemuan itu.

"Kiai Said menyampaikan, kemudian diterjemahkan bahasa Mandarin. Akhirnya majikan itu tertarik, ternyata Islam itu toleran, Islam itu ramah, Islam itu melindungi, sehingga majikan ini masuk Islam," tandasnya.

Agar Islam Nusantara bisa diketahui dunia internasional, kata dia, pada bulan Mei mendatang PBNU berencana mengundang 30 ulama dari berbagai negara dalam sebuah pertemuan International Summit of The Moderate Islamic Leaders. (Aiz Luthfi/Zunus)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 26 November 2017

Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar

Demak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dakwah yang bijak dan santun seperti praktik Wali Songo dan para kiai di Indonesia, diangkat dari ajaran otentik Islam yang diterapkan Nabi Muhammad SAW. Karenanya, dakwah Islam itu berbeda dengan amar makruf dan nahi munkar.

Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar

Demikian dinyatakan Wakil Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri yang lazim disapa Gus Mus ini dalam sarasehan Festival Wali-Wali Jawi 2014 di pendopo kabupaten Demak, Sabtu (22/2).

“Dakwah Islamiyah, tidak sama dengan amar makruf nahi munkar. Para wali dengan teliti memasukkan ajaran Islam melalui budaya yang ada,” terang Gus Mus sebagai pembicara kunci dalam sarasehan bertema “Menapak Jejak Auliya, Meneladani Kearifan Mengajak”.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gus Mus dalam forum itu menjelaskan, cara dakwah Nabi Muhammad SAW yang diteruskan Wali Songo pada abad 14 di Pulau Jawa khususnya selalu mengedepankan kebersamaan, menggunakan pendekatan kebudayaan, dan kesenian yang berlaku.

Model dakwah ini bahkan menghindari konflik atau tersinggungnya warga setempat sehingga tujuan dakwah berhasil tanpa mengorbankan aqidah dan syari’ah. “Mereka tidak mengubah budaya lokal, tetapi mengisinya dengan ajaran Islam,” jelas Gus Mus.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Festival yang berlangsung di pendopo kabupaten ini diikuti kerajaan dan pemangku makam para wali se-Jawa. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Meme Islam, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ini yang Makruh saat Gerhana Tiba

Menurut taksiran ahli astronomi dan ahli falak, gerhana matahari akan terjadi pada tanggal 9 Maret 2016. Di hari itu kita akan melihat fenomena alam yang tidak ditemukan biasanya pada hari lain.

Adanya gerhana ini secara tidak langsung membantah keyakinan orang yang menuhankan matahari dan bulan. Kedua benda langit tersebut tidak selamanya bercahaya. Pada suatu saat dia akan meredup. Ini juga menunjukan bahwa matahari dan bulan adalah makhluk Tuhan. Andaikan ia berkuasa atas dirinya, tentu dia akan selalu bersinar dan bercahaya.

Ini yang Makruh saat Gerhana Tiba (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini yang Makruh saat Gerhana Tiba (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini yang Makruh saat Gerhana Tiba

Ketika menyaksikan gerhana, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk shalat, memperbanyak dzikir, dan doa. Beliau SAW bersabda, “Apabila kalian melihat gerhana, tunaikan shalat dan berdo’a sampai kondisinya normal,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadits ini, ulama menghukumi shalat gerhana (khusuf dan kusuf) sebagai sunah muakkadah. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Habib Zen bin Semit dalam At-Taqriratus Sadidah fi Masa’ilil Mufidah:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Artinya, “Hukum shalat khusuf dan kusuf adalah sunah muakkadah meskipun dikerjakan seorang diri. Sementara meninggalkannya makruh. Mengerjakan shalat gerhana berjamaah di masjid sangat dianjurkan walaupun tempatnya sempit.”

Lantaran shalat gerhana dianjurkan, maka meninggalkannya dimakruhkan. Dengan demikian, jika mendapati fenomena ini pada Rabu (9/3) nanti kita diharapkan untuk shalat secara berjamaah dan memperbanyak dzikir dan do’a. Jangan sampai saat terjadi gerhana, kita malah bersantai-santai sambil selfie di bawah lindungan gerhana matahari. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama, Halaqoh, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PWNU Jatim Keluarkan Imbauan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Muslim Rohingya

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Sebagai bentuk gerakan kemanusiaan untuk menyikapi krisis umat muslim Rohingya di Myanmar, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengajak seluruh warga NU untuk melakukan shalat ghaib dan tahlil bagi warga Rohingya yang meninggal dunia.

Ajakan ini disampaikan oleh Ketua PWNU Jawa Timur KH Mutawakkil Alallah kepada sejumlah awak media saat berada di Masjid bin Aminuddin Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan, Jum’at (8/9).

PWNU Jatim Keluarkan Imbauan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim Keluarkan Imbauan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim Keluarkan Imbauan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Muslim Rohingya

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong itu, kasus di Rakhine State, Myanmar yang menimpa kaum Muslim itu tidak murni masalah agama, melainkan konflik politik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Oleh karena itu saya meminta kepada seluruh umat Islam yang ada di Jawa Timur untuk melakukan gerakan kemanusiaan. Warga NU harus menjadi motor penggerak harmoni di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Kiai Mutawakkil mengimbau semua elemen masyarakat di Jawa Timur khususnya warga NU agar tidak diam diri. “NU harus mengambil langkah dan mempunyai rasa kepedulian yang tinggi terhadap saudara kita di Rohingya dengan cara sosial,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa krisis Rohingya merupakan proses kemerdekaan di Myanmar di mana sepanjang catatan sejarah, krisis ini adalah perang saudara terpanjang dari tahun 1948 hingga sekarang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Para pemberontak ini ada beberapa kepentingan, ada yang berbasis politik, berbasis suku dan berbasis senjata tahun 1980 sudah hilang. Di situlah yang menjadi salah satu kejadian yang anarkis saat ini,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Qunut Subuh Antara Imam dan Makmum (2)

Assalamu ‘alaikum wr. wb

Saya mau tanya terkait permasalahan qunut subuh. Saya Amrullah tinggal di Yogyakarta yang mayoritas masjid tidak qunut subuh. Setiap shalat jamaah subuh di masjid dekat saya tinggal. Imam berhenti agak lama ketika bangun dari rukuk pada rakaat kedua, tujuannya memberi kesempatan pada orang yang mau baca qunut.

Qunut Subuh Antara Imam dan Makmum (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Qunut Subuh Antara Imam dan Makmum (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Qunut Subuh Antara Imam dan Makmum (2)

Pertanyaannya (1) apakah yang dilakukan imam itu benar dan ada dasarnya? (2) Jika saya baca qunut sedang imam tidak membaca qunut, apakah shalat saya sah? (3) Ketika suatu saat saya menjadi imam, apa yang harus saya lakukan, qunut atau tidak? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdul Kafi Amrullah/Yogyakarta)

Jawaban

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Dalam kesempatan ini kami akan melanjutkan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan saudara Abdul Kafi Amrullah dari Yogyakarta. Dua pertanyaan sudah kami jawab pada tulisan yang lalu. Sekarang, tinggal pertanyaan ketiga terkait bagaimana jika kita menjadi imam shalat Subuh di mana mayoritas makmumnya tidak mengakui legalitas syar’i doa qunut.

Dalam kasus ini setidaknya ada dua pilihan. Pertama, imam tidak usah membaca doa qunut. Imam Syafi’i konon pernah meninggalkan membaca qunut ketika shalat dengan para pengikut madzhab Hanafi di masjid sekitar Baghdad sebagaimana keterangan yang termaktub dalam kitab Al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah sebagai berikut:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Imam Syafi’i ra pernah meninggalkan do’a qunut ketika shalat Subuh bersama para pengikut madzhab Hanafi di dalam masjid mereka di sekitar Baghdad. Menurut para ulama madzhab Hanafi hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan Imam Syafi’I terhadap Imam Abu Hanifah (adaban ma’al imam). Tetapi menurut ulama madzhab syafi’i, Imam Syafi’i ketika itu berubah ijtihadnya,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Darus Salasil, juz II, halaman 302).

Namun pilihan ini tentunya sedikit tidak membuat nyaman pihak imam, meskipun tidak merusak keabsahan shalatnya. Jika demikian, maka sebaiknya dicarikan pilihan kedua sebagai solusi yang saling melegakan baik imam maupun makmum.

Dari sinilah maka hemat kami diperlukan pilihan kedua. Namun masuk pada pilihan kedua kami akan menjelaskan sedikit tentang pengertian qunut dan tentang meninggikan suara bagi imam ketika membaca doa qunut atau merendahkannya. Kedua hal ini penting dijelaskan sebagai pijakan pilihan kedua.

Pengertian qunut secara bahasa adalah pujian. Sedang menurut syara’ adalah dzikir khusus yang mencakup pujian dan do’a seperti allahumaghfir li ya ghafur. Karenanya, jika tidak mencakup kedua hal tersebut bukan disebut qunut. Inilah pengertian yang masyhur di kalangan ulama madzhab Syafi’i.

( ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Qunut secara bahasa berarti pujian, sedang menurut syara’ adalah dzikir khusus yang mencakup pujian dan do’a seperti allahummaghfir li ya ghafur (Ya Allah, ampuni segala dosaku wahai dzat Yang Maha Pengampun). Dengan demikain seandainya tidak mencakup keduanya maka tidak disebut qunut,” (Lihat Sulaiman Al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib ‘ala Syarh al-Khathib, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1417 H/1996 M, juz II, halaman 205).

Kemudian dalam madzhab Syafi’i sendiri terjadi silang pendapat mengenai meninggikan atau merendahkan suara dalam membaca doa qunut bagi imam. Ada dua pendapat sebagaimana didokumentasikan Al-Mawardi dalam kitab Al-Hawi.

Pertama pendapat yang menyatakan bahwa bagi imam sebaiknya membaca doa qunut dengan pelan atau merendahkan suaranya. Argumentasi yang disuguhkan sebagai dasar pendapat ini adalah karena qunut merupakan doa sedangkan posisi doa itu sendiri adalah israr (merendahkan suara). Sedangkan dalil yang digunakan untuk mendasari pandangan ini adalah ayat 110 surat Al-Isra`.

Pendapat kedua menyatakan sebaiknya imam meninggikan suaranya ketika membaca doa qunut sebagaimana ketika membaca sami’allahu liman hamidah, tetapi peninggian tersebut di bawah peninggian suara ketika membaca ayat Al-Qur`an. Dengan kata lain, peninggian tersebut didasarkan kepada qiyas atau analogi.

? : ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? [ ? :110 ] ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pasal kedua mengenai kondisi mengeraskan dan merendahkan suara ketika membaca do’a qunut dalam shalat. Apabila mushalli (orang yang shalat) itu shalat munfarid (shalat sendirian), sebaiknya ia memelankan suara ketika membaca do’a qunut. Sedangkan apabila ia menjadi imam maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa sebaiknya ia memelankan suara dalam membaca do’a qunut karena merupakan do’a. Sedangkan posisi doa itu sendiri adalah israr (merendahkan suara). Allah ta’ala berfirman: “Jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalat dan jangan pula merendahkannya,” (QS Al-Isra` [17]: 110). Pendapat kedua menyatakan sebaiknya meninggikan suara dalam membaca do’a qunut sebagaimana meninggikan suara ketika membaca sami’allahu liman hamidah tetapi bukan seperti dalam membaca ayat,” (Lihat Al-Mawardi, Al-Hawi fi Fiqhis Syafi’i, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cet ke-1, 1414 H/1991 M, juz II, halaman 145).

Berangkat dari penjelasan di atas maka pilihan kedua adalah bagi imam tetap membaca doa qunut tetapi dengan bacaan yang minimalis dan suara rendah (pelan), seperti allahummaghfir lana ya ghafur wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallama.

Bacaan ini bisa dikategorikan doa qunut karena sudah dianggap mencakup doa dan pujian sebagaimana penjelasan definisi qunut di atas. Sedangkan merendahkan suara bagi imam dalam membaca doa qunut mengacu kepada pendapat pertama sebagaimana dikemukakan Al-Mawardi di atas.

Hemat kami pilihan kedua ini adalah yang paling bijak untuk diambil ketika seseorang yang menyakini legalitas syar’i membaca doa qunut dalam shalat Subuh, sedangkan makmumnya tidak.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Sikapi perbedaan dengan bijak serta berusahalah mencari cara terbaik untuk keluar dari perbedaan tanpa harus mengorbankan apa yang kita yakini. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Khofifah: Muslimat Harus Ubah Peta Dakwah

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengajak ibu-ibu Muslimat untuk mengubah peta dakwah mengingat adanya perubahan kondisi sosial kemasyarakatan sebagaimana data angka kemaksiatan se-Indonesia yang ditunjukkan oleh Khofifah.

Khofifah: Muslimat Harus Ubah Peta Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Muslimat Harus Ubah Peta Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Muslimat Harus Ubah Peta Dakwah

"Tidak zamannya kita berdakwah kepada orang-orang yang sudah rajin shalat dan mengaji," kata Khofifah di hadapan peserta Halaqah Nasional Muslimat NU di Hotel Suites Surabaya, Jalan Pemuda Surabaya (17/12).

Khofifah yang juga menteri sosial ini menjelaskan ada tiga daerah di Indonesia yang berpotensi besar terhadap kekerasan anak dan pelecehan seksual. Padahal ketiga daerah itu juga kuat agamanya. Banyak berdiri pesantren dan pendidikan tinggi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Ketiga daerah itu adalah, Aceh, Jabar dan Jatim," ungkap khofifah yang disambut kalimat haru para peserta Halaqah.

"Maka dari itu, mari kita ubah cara berdakwah kita, kita harus turun ke lapangan. Yang istighotsah dan manakipan silahkan," pungkasnya. (Rof Maulana/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Ulama, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah