Selasa, 26 September 2017

Wahyu-Evi Pimpin IPNU-IPPNU Wonoasih

Probolinggo,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo mempunyai pimpinan baru.

Hal ini menyusul dengan terpilihnya Wahyu Aminullah dan Evi Kumalasari dalam Konferensi Anak Cabang (Konferancab) IPNU dan IPPNU Kecamatan Wonoasih di MTs Nusantara Kelurahan Sumber Taman Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo, Sabtu (21/1) sore.

Wahyu-Evi Pimpin IPNU-IPPNU Wonoasih (Sumber Gambar : Nu Online)
Wahyu-Evi Pimpin IPNU-IPPNU Wonoasih (Sumber Gambar : Nu Online)

Wahyu-Evi Pimpin IPNU-IPPNU Wonoasih

Dalam Konferancab yang mengambil tema “Bangkit Bersama Kader Muda” ini, Wahyu terpilih sebagai Ketua PAC IPNU Wonoasih dan Evi Kumalasari sebagai Ketua PAC IPPNU Wonoasih masa bhakti 2016-2019.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Saat pemilihan Ketua PAC IPPNU, muncul 2 (dua) kandidat yakni Qurrotu Ainy dengan memperoleh 7 suara dan Evi Kumalasari dengan 10 suara. Sementara 1 suara abstain. Sedangkan dalam pemilihan Ketua PAC IPNU, muncul dua kandidat Wahyu Aminullah dan Husni Mubarok. Hanya saja Wahyu Aminullah terpilih secara aklamasi dengan 16 suara.

Konferancab IPNU-IPPNU Wonoasih yang diikuti oleh komisariat dan ranting se-Kecamatan Wonoasih ini dihadiri oleh Wakil Ketua PC LP Ma’arif Kota Probolinggo yang juga Kepala MTs Nusantara M Holil, pengurus MWCNU Wonoasih, Pergunu Kota Probolinggo, jajaran alumni dan pengurus PC IPNU-IPPNU Kota Probolinggo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PAC IPNU Wonoasih Wahyu Aminullah mengungkapkan selain untuk memilih calon Ketua PAC IPNU IPPNU Kecamatan Wonoasiah masa bhakti 2017-2019, konferancab ini bertujuan mencetak kader-kader pemimpin NU di masa yang akan datang sehingga proses kaderisasi berjalan tidak stagnan.

“Terima kasih atas kepercayaan dan amanah yang telah diberikan. Semoga kami mampu menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Kegiatan ini merupakan sebuah bukti bagaimana kaderisasi IPNU tetap terjaga,” katanya.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua PAC IPPNU Wonoasih Evi Kumalasari. “Konferancab ini adalah suatu bentuk keharusan yang sudah ada dalam peraturan agar kaderisasi dalam organisasi tetap berjalan terus menerus,” ungkapnya.

Setelah terpilih tugas ketua terpilih adalah dengan segera melengkapi susunan kepengurusan bersama tim formatur terpilih sesuai amanah konferancab. Dan selanjutnya segera melaksanakan pelantikan agar kepengurusannya segera disahkan.

Alumni sekaligus Pembina PC IPNU Kota Probolinggo Mashuri Nurzah mengharapkan kepada ketua terpilih agar amanah konferancab ini segera dijalankan agar organisasi berjalan sesuai dengan tupoksi. Yakni wadah kaderisasi calon generasi penerus NU ke depannya.

“Kedua, kader-kader IPNU IPPNU diharapkan mampu menjalankan program-programnya, sehingga IPNU IPPNU bisa selalu eksis mewarnai kegiatan kepemudaan di Kota Probolinggo,” harapnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 25 September 2017

Pra-Muktamar di Makassar Diikuti Cabang NU Se-Indonesia Timur

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Perhelatan Pra-Muktamar Ke-33 NU yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (22/4), diikuti sekitar 400 peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia bagian timur seperti Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Papua.

Pra-Muktamar di Makassar Diikuti Cabang NU Se-Indonesia Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
Pra-Muktamar di Makassar Diikuti Cabang NU Se-Indonesia Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

Pra-Muktamar di Makassar Diikuti Cabang NU Se-Indonesia Timur

Para utusan dari PCNU dan PWNU ini datang sejak Selasa kemarin dan akan aktif mendiskusikan tema “Islam Nusantara sebagai Islam Mutamaddin Menjadi Tipe Ideal Dunia Islam”. Topik tersebut akan dibagi dalam dua sesi, yakni tentang khazanah Islam Nusantara dan strategi internasionalisasinya.

Ketua SC Muktamar Ke-33 NU Slamet Effendy Yusuf mengatakan, tema tersebut diusung atas pertimbangan relevansinya dengan kondisi dunia Islam yang dirudung konflik di negara-negara muslim, khususnya di Timur Tengah. NU sebagai ormas besar terpanggil untuk turut mencarikan solusi bagi kemelut yang mempertaruhkan citra Islam ini di mata dunia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dunia Islam diwarnai konflik. Kedamaian, kenyamanan, Islam sebagai rahmatan lil alamin tidak tampak. Inilah yang mendorong Nahdlatul Ulama untuk merumuskan dan membuktikan bahwa Islam yang pro perdamaian adalah yang benar,” katanya saat sambutan di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pra-Muktamar dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Lukman beserta pejabat pemerintahan setempat, pengasuh Pesantren Tebuireng, serta segenap jajaran syuriah-tanfidziyah PBNU.

Peserta tampak antusias mengikuti kegiatan. Dalam acara pembukaan, peserta juga disuguhi pertunjukkan seni dari Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) Sulawesi Selatan. Acara Pra-Muktamar akan berlanjut di Medan, Sumatera Utara, pada Mei mendatang dengan pokok pembahasan seputar perekonomian. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai–Santri Al Muayyad Kompak Nonton Bareng

Solo,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Nonton bioskop biasanya menjadi sebuah hal yang terlarang di pesantren. Tetapi tidak begitu pada Kamis (30/5) siang kemarin, para santri justru terlihat berkerumun di sebuah Gedung Bioskop di pusat Kota Solo.

Tidak hanya itu, bahkan kiai mereka, juga terdapat dalam rombongan itu. Rupanya rombongan tersebut adalah para santri dan pengajar dari Pesantren Al Muayyad Solo.

Kiai–Santri Al Muayyad Kompak Nonton Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai–Santri Al Muayyad Kompak Nonton Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai–Santri Al Muayyad Kompak Nonton Bareng

Pemandangan tak biasa itu terlihat saat penayangan perdana film Sang Kiai, sebuah film yang menceritakan tentang keteladanan seorang guru besar dari kalangan pesantren, KH Hasyim Asy’ari.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Hasyim merupakan seorang pahlawan yang turut memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Dahulu, dia merupakan pengasuh pesantren Tambak Beras Jombang Jawa Timur.

Sebelum acara nonton dimulai, pengasuh pesantren Al Muayyad Solo, KH Rozaq Shofawi, memimpin doa bersama. Seorang santri Al Muayyad, Shofi Puji Astuti (22), mengatakan baru pertama kali ada acara seperti ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sebelumnya tidak pernah. Biasanya kan santri tidak diperbolehkan nonton di bioskop,” kata Shofi sembari tersenyum.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dibuka Lomba Rebana Se-Jateng di IAIN Wali Songo

Yogyakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Jam’iyah Hamalah Al-Quran membuka pendaftaran bagi peserta lomba tabuh rebana seprovinsi Jawa Tengah. Perlombaan rebana yang diadakan dalam rangka memperingati harlah Fakultas Ushuludin IAIN Wali Songo ini, jatuh pada 27 September 2014.

Koordinator perlombaan rebana Fitrotun Nisa mengatakan, “Kami akan meriahkan harlah Fakultas Ushuluddin dengan sejumlah even antara lain perlombaan rebana, bahasa, karya tulis ilmiah, olahraga, parade musik, dan seaman hafiz-hafizoh Al-Quran.”

Dibuka Lomba Rebana Se-Jateng di IAIN Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Dibuka Lomba Rebana Se-Jateng di IAIN Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Dibuka Lomba Rebana Se-Jateng di IAIN Wali Songo

Semuanya. Fitroh manambahkan, akan ditempatkan di Fakultas Ushuluddin gedung 2 IAIN Wali Songo. Kita juga berencana menghadirkan KH Muammar ZA untuk melantunkan ayat-ayat Al-Quran.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pendaftaran lomba rebana dibuka mulai 25 Agustus sampai 17 September. Peserta bebas siapa saja dengan syarat 15 anggota dalam satu grup, melunasi biaya pendaftaran sebesar 100.000, membawa alat masing-masing, dan menampilkan dua lagu sholawat.

“Peserta lomba rebana menampilkan satu lagu pilihan dan satu lagu wajib, Yaa Dzal Ghina,” kata Fitroh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kouta peserta rebana dibatasi maksimal 20 grup. Panitia menyediakan beberapa bingkisan hadiah dan sejumlah uang pembinaan dengan total sebesar Rp 6 juta. Keterangan lebih lanjut bisa mengontak Fitroh di nomor 085727457294. (Ahmad Syaefudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pedantren akan menggelar peringatan Hari Santri 2017. Gelaran kali ketiga ini mengusung tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kamarudin Amin menyampaikan, bahwa dengan tema tersebut menegaskan bahwa pesantren tidak bisa dipisahkan dari fenomena Keislaman, Keindonesiaan, dan Kebudayaan masyarakat Indonesia. Kekhasan inilah yang menjadi kekuatan untuk menopang keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia

“Tema ini menunjukan bahwa pesantren itu darahnya merah putih. Santri religius yang nasionalis. Ini merupakan indentitas santri yang sangat mapan,” ujar Kamaruddin saat Jumpa Pers di Jakarta, Rabu (4/10).

Dikatakan Kamaruddin, Pesantren disamping membekali ilmu agama (tafaquh fiddin), megkader ulama yang nasionalis juga membekali santrinya menjadi warga negara yang baik, bagaimana hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lain melalui pergaulan dari berbagai latar belakang budaya.

“Antara Identitas, agama dan kewarganegaraan, menyatu dalam intetas pondok pesantren. Jadi santri itu sangat sadar akan identitasnya sebagai seorang muslim dan identitasnya sebagai warga negara,” sambung Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pesantren, lanjut Kamaruddin, memiliki berkontribusi besar terhadap munculnya semangat dan nasionalisme Keindonesiaan yang tidak terbantahkan dalam rentang sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Menurutnya pesantren adalah Lembaga pendidikan khas Indonesia dan genuine otentik muncul dan lahir di Indonesia dan tidak ditemukan di daerah lain.

“Pesantren penjaga gawang keberagamaan umat. Indonesia memiliki potensi disentragif, tapi karena pesantren hadir dan berkontribusi secara fundamental merawat keberagaman ini,” imbuh Kamaruddin.

Beberapa rangkaian kegiatan meramaikan dalam rangka Hari Santri 2017, diantaranya; Lomba Komik dan Kartun Stip, Malam Pembacaan Puisi Santri “Ketika Kiai_Nyai-Santri Berpuisi: Pesantren tanpa Tanda Titik”, Santri Enterpereuner Competition, Shalawat Kebangsaan dan Konfigurasi MOP Santri untuk Negeri, Pemecahan Rekor Muri Komik Santri Terpanjang (300 M), Upacara Bendera dalam rangka hari Santri, Santri Writer Summit, Pesantren Expo dan Musabaqoh Qiroatul Kutub (MQK) Nasional. (Kemenag/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 24 September 2017

Inilah Amalan yang Paling Disukai Rasulullah SAW

Umat Islam meyakini bahwa hidup tidak hanya sekali. Setelah meninggal kelak, kita percaya akan ada kehidupan lain yang berbeda dengan kehidupan dunia. Karenanya, kita dianjurkan untuk mempersiapkan bekal dan modal sebanyak-banyaknya guna menghadapi kehidupan di akhirat.

Dalam beramal pun kita berharap agar amalan yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Meskipun tidak pernah bertemu langsung dengannya, nasehat dan perilaku beliau terdokumentasi rapi dalam kitab-kitab hadits.

Inilah Amalan yang Paling Disukai Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Amalan yang Paling Disukai Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Amalan yang Paling Disukai Rasulullah SAW

Amalan memang menjadi modal utama di akhirat, tetapi Islam tidak pernah meminta pengikutnya beramal melebihi kemampuannya. Beramallah sesuai dengan kemampuan. Semasa hidupnya, Rasul pun sering mengingatkan sahabatnya yang beramal berlebihan. Mereka beramal sebanyak-banyaknya hingga melupakan hak tubuhnya, yaitu istirahat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam Mustakhraj Abi ‘Awanah karya Abu ‘Awanah An-Naisaburi, dikisahkan bahwa seorang perempuan pernah berkunjung ke rumah ‘Aisyah. Ia datang dalam keadaan lemah dan mengantuk. Rasulullah pun melihat dan bertanya kepada ‘Aisyah:

“Siapa wanita ini?"

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ini si fulanah, semalam dia tidak tidur,” Jawab ‘Aisyah.

“Lakukanlah amalan yang sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa bosan, melainkan kalian yang suka bosan,” ujar Nabi SAW menasehati.

Setelah mendengar nasehat Nabi ini, ‘Aisyah selalu menyampaikan petuah Nabi ini kepara para sahabat yang lainnya. Karenanya, ketika ada orang bertanya kepada ‘Aisyah, terkait amalan apa yang disukai Nabi, ia langsung menjawab:

? ? ? ? ?

“Amalan yang paling disukainya adalah amalan yang dilakukan terus-menerus,” (HR Ahmad).

Amalan yang disukai Nabi SAW ialah amalan yang istiqamah, sekalipun amalan itu sederhana dan kecil. Apapun amalan yang kita lakukan akan disukai Nabi SAW selama dilakukan terus-menerus dan istiqamah. Sebagaimana diketahui, istiqamah beramal tentu tidak semudah mengucapkannya. Butuh usaha keras untuk mewujudkannya. Sebab itu, ada ulama yang mengatakan, “Jadilah kalian pencari istiqamah dan jangan mencari karamah.”

Sahabat Bilal pernah ditanya Rasulullah SAW setelah shalat Shubuh, “Wahai Bilal, apakah amalan yang paling sering kamu lakukan? Karena aku mendengar suara langkah kakimu di surga.” Bilal menjawab, “Aku tidak melakukan amalan apapun melainkan aku membiasakan shalat sunah setelah berwudhu’, baik siang ataupun malam,” (HR Al-Bukhari, Ishaq bin Rahaweh, dan lain-lain).

Kisah Bilal ini menunjukkan bahwa ia memperoleh surga karena keistiqamahannya dalam beramal. Meskipun amalan yang dilakukan Bilal terlihat sederhana, yaitu membiasakan shalat sunah setelah berwudhu’. Artinya, apapun amalan yang kita lakukan, akan mengantarkan kita pada keridhaan Allah SWT, selama dilakukan secara istiqamah. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Universitas NU, Berakar Nilai Pesantren, Membangun Kultur Ilmiah

Perguruan tinggi Islam di Indoensia masih menyimpan pertanyaan. Sumber dan arah pendidikan sering terasa jauh dari idealisme pendidikan tinggi Islam. Sebagian terlalu liar sehingga melunturkan nuansa keislamannya, sebagian yang lain terlalu kolot dan tidak ramah. Lalu bagaimana dengan Perguruan Tinggi NU? Adakah revitalisasi atau adaptasi pendidikan model pesantren yang lazim di NU? Apa yang harus dilakukan para kader potensial NU untuk mewujudkan semua ini? Berikut hasil perbincangan Mahbib Khoiron dari Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah dengan Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta Drs HM Mujib Qulyubi, MH, Rabu (7/3), di kantor STAINU Jl. Kramat Raya 164, Jakarta Pusat.

Menurut Bapak kondisi Perguruan Tinggi Islam di Indonesia sekarang seperti apa?.
Universitas NU, Berakar Nilai Pesantren, Membangun Kultur Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU, Berakar Nilai Pesantren, Membangun Kultur Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU, Berakar Nilai Pesantren, Membangun Kultur Ilmiah

Saya masih melihat pendidikan tinggi Islam kita di Indoensia mengalami keguncangan. Setelah dulu kita berkiblat ke Timur Tengah, sekarang Islamic studies kita sudah ke Amerika, Australia, dan lainya. Bersamaan dengan itu perguruan tinggi kita sudah banyak yang menjadi universitas. Sedikitnya sudah ada lima IAIN (Institut Agama Islam Negeri) yang menjadi UIN (Universitas Islam Negeri). Ini berakibat kiblat kita mengalami ketidakjelasan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berbarengan dengan itu pula, kita melihat sudah banyak Sekolah Tinggi Agama Islam, IAIN, atau bahkan UIN itu sudah berlomba-lomba untuk membuka fakultas umum untuk disiplin exact, sehingga ciri khas keislaman kita sebenarnya sedang mencari bentuk. Tidak jelas. Ya, secara umum kondisinya seperti itu.

Idealnya, upaya-upaya yang harus dilakukan?.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Harus ada pembongkaran kembali tentang disiplin ilmu. Harus ada pembicaraan lebih serius tentang disiplin ilmu menurut Islam. Sehingga nanti, misalnya, ekonomi Islam itu masuk ke mana. Kalau ekonominya masuk ke Dikbud, tapi begitu ada Islamnya masuk ke Departemen Agama. Ada potensi terjadinya rebutan kapling dan tarik menarik. Sehingga kalau ada mahasiswa yang menekuni ekonomi Islam atau ekonomi syari’ah ini kiblatnya ke Depag atau ke Dikbud. Apalagi sekarang ada uforia umat bersyari’ah yang tinggi. Meskipun juga harus digali kembali, maksudnya syari’ah di sini apa. Isinya syari’ahnya itu apa. Jadi sudah tegas, hal-hal yang berbau Islam punya daya tarik tersendiri bagi mahasiswa.

Keguncangan yang Bapak maksud apa terjadi juga di perguruan tinggi NU?. Perguruan tinggi NU tidak bisa dipisahkan dari mekanisme dari perundang-undangan sistem pendidikan nasional yang ada. Mau nggak mau akhirnya ikut terseret, dan ini yang kita sayangkan. Ini terjadi pula di Muhammadiyah, dan perguruan tinggi ormas yang lain. Selama mereka tidak memiliki perguruan tinggi yang representatif, selama belum jelas kita berkiblat ke Dikbud atau ke Menag, ya seperti ini. Ini kita sayangkan. Padahal di NU itu kan punya modal yang sangat bagus di tingkat SLTA yang tidak dimiliki ormas lain, yakni modal pesantren. Di pesantren keilmuan sangat dihargai dan dinamis, tetapi saat memasuki perguruan tinggi, mahasiswa mengulangi materi yang pernah diajarkan. Lulusan pesantren kan umumnya mengambil studi Islam baik di fakultas syari’ah, ushuluddin atau bahasa Arab. NU dirugikannya di sini karena secara keilmuan menjadi turun. Walaupun secara teoritis dan wawasan naik, tapi secara substansi turun. Makanya banyak anak lulusan pesantren di perguruan tinggi merasa santai. Untungnya sebagian dari mereka bisa memanfaatkan waktunya untuk ekstrakurikuler.

Untuk STAINU sendiri, misi dan proyeksi ke depan kira-kira seperti apa?. STAINU ini sesungguhnya sasaran antara. Tentu kita semua sebagai warga Nahdliyyin harus jujur dan sadar bahwa dunia perguruan tinggi kita sangat tertinggal. Kita selama ini memang lebih banyak menggeluti pesantren atau madrasah. Berbeda dengan teman kita di Muhammadiyah yang banyak bergelut di sekolah dan perguruan tinggi. Sadar akan kondisi ini maka kita tidak boleh diam seribu bahasa. Saya yakin, kita nanti akan mempunyai universitas yang bagus.

Nah, STAINU ini ke depan kita proyeksikan menjadi UNU (Universitas Nahdlatul Ulama). Sudah menjadi prioritas bersama dari PBNU baik dari Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPT NU), Lembaga Pendidikan Maarif NU, bahkan STAINU sendiri dari dalam. Kami sudah berusaha betul dari berbagai segi untuk mewujudkan berdirinya UNU Jakarta. Dari tiga belas program Pak Said (Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, red) selama priode beliau antara lain yang diprioritaskan adalah STAINU Jakarta menjadi UNU Jakarta. Jadi UNU Jakarta cikal bakalnya ya dari STAINU Jakarta ini. STAINU yang selama ini masih menangani prodi-prodi agama, nanti akan menjadi fakultas agama.

Untuk mengantisipasi tergerusnya unsur keislaman di Universitas Nahdlatul Ulama sebagaimana yang Bapak khawatirkan tadi?. Kita akan memperkuat setiap fakultas itu dengan kebutuhan masyarakat. Tentu akan kita sesuaikan dengan kearifan lokal. Misalnya UNU Jakarta akan mengadakan fakultas pertanian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Itu untuk yang materi umum. Untuk yang agama, kita sudah punya basis yang cukup bagus di NU. Kita punya tradisi kuat di kitab kuning. Orang NU itu militansinya tinggi dalam hal agama, tapi argumentasinya kurang.

Nah, di UNU nanti itu khususnya untuk fakultas agama bisa memperkuat amaliyah Ahlussunnah waljama’ah secara aqliyah dan naqliyah, sehingga berimbang. Jadi ajaran NU bisa diterima seperti dulu lagi, ya militan tapi sekaligus dibekali dasar alasan yang kuat. Kita kalau menghadapi ideologi transnasional, Wahabi, kan seringnya marah-marah. Kita tidak bisa mengimbangi dengan apa yang mereka lakukan. Kalau mereka mempunyai sistem yang bagus, ya kita bikin sistem yang bagus; kalau mereka bikin buku, ya kita juga bikin buku; kalau mereka dakwah dengan radio, ya kita lewat radio juga. Artinya, kita tidak cukup memperkuat ahlussunnah wal jamaah dengan pidato-pidato, atau dengan teori-teori yang sudah tidak sesuai dengan keadaan zaman. Mengumandangkan Islam rahmatan lil’alamin, ya melalui perguruan tinggi. Itu yang pertama.

Yang kedua, NU ini kan sudah terkotak-kotak oleh politik. Karena longgarnya NU banyak kader-kader politik ini menyebar di mana-mana. Mereka tidak bisa ketemu dalam satu forum sebab mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Nah, yang mempertemukan mereka ini ya perguruan tinggi, karena di tempat ini mereka dijauhkan dari kepentingan politik. Yang ada adalah kepentingan ilmu. Kita berharap dari perguruan tinggi NU yang bagus ini menjadi poros persatuan umat Islam.

Sebagai tambahan, Kongres ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) beberapa waktu lalu ada yang luar biasa. Kita menemukan bukti riil bahwa intelektual dan sarjana kita ada di mana-mana. Latar belakangnya pun bermacam-macam, ada yang dari PKB, PPP, Golkar, PDI, dan lain-lain. Bagaimana mengaktualisasikan ilmu dari ISNU ini? Saya kira ya di perguruan tinggi ini.

Apakah ada upaya menjadikan ISNU sebagai pihak yang turut berkontribusi di perguruan tinggi NU?. Saya kira ini bukan sekadar upaya, tapi keharusan. Bahkan bukan hanya ISNU saja tapi juga LP Ma’arif, LPT NU, Fatayat, dan lainnya. Mereka semua harus kita rangkul. Kalau memang ada kecenderungan untuk menjadi dosen, dan sudah memenuhi kualifikasi, maka kita rekrut. Jaringan di dalam kita perkuat, jaringan di luar juga kita perkuat. Tanpa itu kita sulit menjadi besar. Saya melihat potensi NU yang sangat besar ini masih tercecer-cecer, belum bersinergi secara utuh.

Untuk jaringan keluar, kita harus cukup terbuka dengan siapapun yang sehaluan dengan kita, bahkan luar negeri sekalipun. Kemarin kita sudah memberikan contoh dengan membuka kerja sama dengan Universias Ibnu Thufail, Universias Sa’ad Ibnu Malik, bahkan beberapa waktu lalu melalui PCI NU (Pengurus Cabang Istimewa NU)  Mesir sudah dijajaki untuk bisa bekerjasama dengan Al-Azhar University. Kalau di Aljazair kita sudah kontak Dubesnya, Pak Ni’am Saim, dan beliau sudah welcome. Ini yang akan kita rajut menjadi kukuatan perguruan tinggi NU. Tentu yang bebas dari kepentingan politik praktis.

Kalau semua sesuai harapan Insya Allah akan mengembalikan kebesaran tradisi keilmuan di NU, dan otomatis akan membesaran NU sendiri di mata umat. Saya optimis itu.

Tantangan terbesarnya kira-kira apa?. Pertama, SDM (sumber daya manusia) NU kurang terbiasa mengurus perguruan tinggi yang bagus. Betul kata orang, kita masih terbiasa mengurus madrasah atau pesantren. Sehingga mencari figur yang mendudukan lembaga perguruan tinggi yang tidak seperti pesantren itu susah. Seperti saya ini sering dipanggil dengan sebutan “kiai”, lama-lama menjadi pesantren STAINU ini. Akibatnya, dinamika dan demokratisasi berembug menjadi berkurang. Ini harus kita pisahkan, karena perguruan tinggi harus di-manage sebagaimana perguruan tinggi, bukan seperti pesantren.

Kedua, belum ada contoh yang sukses di NU tentang mekanisme dan cara yang bagus. Termasuk belum seimbang antara kuantitas masa dan jumlah perguruan tinggi yang ada. Kalaupun disebutkan Unisma (Universitas Islam Malang) atau Unwahas (Universitas Wahid Hasyim Jombang), itu kan baru satu-dua. Dibanding Muhammadiyah sangat kontras, jumlah perguruan tinggi mereka justru terlalu banyak. Itu sebetulnya juga bukan dosa orang sekarang karena dulu kita memahami sekolah itu seperti Belanda. Akhirnya menempuh pendidikan di pesantren, kemudian jadi kiai, bikin pesantren lagi, begitu seterusnya. Saya ingat tahun 1977 sarjana pertama NU itu Pak Asnawi Lathif. Itu sekitar tahun 60-70an. Dengan gelar “BA” sebagai ketua IPNU banyak dibanggakan oleh orang NU.

Nah sekarang ini tidak seperti ini lagi kita. Kader kita yang sarjana S2, S3, bahkan guru besar sudah sangat banyak, dan sudah merambah ke perguruan tinggi negeri, tidak hanya di perguruan tinggi Islam tapi juga di ITB (Institut Teknologi Bandung), IPB (Institut Pertanan Bogor), UI (Universitas Indonesia), dan lain-lain. Dan sebenarnya juga sedang mencari-cari bagaimana mereka bisa mengabdi untuk NU ini. Saya di STAINU sudah menerima banyak sekali lamaran-lamaran kader-kader NU yang sudah memenuhi kualifkasi S2 dan S3. Jadi kalau kelak menjadi UNU sudah memenuhi persyaratan administratif kualitatif.

Bagaimana mengatur porsi unsur pesantren dalam universitas tanpa harus menghilangkan idealisme universitas sebagai lembaga intelektual yang demokratis?. Saya kira itu sesuai dengan slogan Pak Said untuk kembai ke pesantren. Saya memaknai “kembali ke pesantren” itu bukan kita harus mondok lagi secara fisik, tapi kita kembali ke nilai-nilai pesantren, yaitu ketulusan, kesederhanaan, dan penghormatan tinggi terhadap keilmuan.

Soal penghormatan kepada kiai saya kira menjadi keharusan. Tapi harus kita pilah mana kiai yang punya kapasitas keilmuan dan spiritualitas yang mumpuni sehingga layak dihormati dan mana yang tidak. Dengan kecenderungan kiai politik yang cukup massif sekarang, hal ini menjadi sulit. Kiai dulu tidak banyak berkecimpung langsung di dunia politik, tapi pengabdiannya terhadap umat luar biasa. Nah, hari ini susah sekali menemukan yang seperti itu.

Jadi unsur-unsur pesantren harus tetap ada di perguruan tinggi. Tradisi pesantren harus ada. Tapi soal demokratisasi juga harus tetap ada. Bukan berarti pesantren tidak demokratis, tapi secara manajemen perguruan tinggi dan pesantren berbeda. Perguruan tinggi tidak harus dipimpin oleh figur sentris seperti pesantren. Manajemennya harus kolektif, demokratisasi intelektual harus tetap ada, budaya filsafat ilmu juga harus ada, dialog harus ada, budaya diskusi juga harus hidup. Jadi tidak boleh semua yang dari dosen dan rektor itu benar. Rektor bisa dikasih masukan dan harus menerima masukan. Model pendidikan pesantren cocok diterapkan dengan kultur pesantren, tapi perguruan tinggi punya kultur lain. []

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah