Kamis, 03 Agustus 2017

Sambut KAA, Mahasiswa Bandung Gelar Aksi Pesan Damai

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menyambut pagelaran Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60, seratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung, Ahad (19/4), melakukan long march pesan damai yang bertajuk “Bandung Damai, KAA Sukses”, di Taman Cikapayang, Dago, Kota Bandung, Jawa Barat.

Gerakan yang diberi nama #PLUR4ALL kepanjangan dari Peace, Love, Unity, Respect for All itu dimulai sejak pukul 7 pagi sampai pukul 10 menjelang siang. Peserta tidak hanya dari kalangan mahasiswa saja, tetapi organisasi daerah dan masyarakat umum juga turut serta dalam gerakan tersebut.

Sambut KAA, Mahasiswa Bandung Gelar Aksi Pesan Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut KAA, Mahasiswa Bandung Gelar Aksi Pesan Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut KAA, Mahasiswa Bandung Gelar Aksi Pesan Damai

Terkait agenda KAA, menurut Hasanuddin, Koordinator Lapangan, acara ini mengatakan, semangat KAA sebenarnya sama dengan Dasa Sila Bandung sebagai nilai prinsip, hanya saja masalahnya, KAA tidak lagi di dasari prinsip itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Makanya kita mencoba untuk menyampaikan pesan kepada dunia, khususnya kepada masyarakat Indonesia. Atau masyarakat Dunia yang datang ke Bandung melalui KAA sekarang ini supaya menjaga nilai-nilai prinsip itu, salah satunya adalah kasus intervensi asing terhadap kedaulatan sebuah Negara, salah satunya adalah Papua dan Maluku yang mendapat intervensi,” ujar Hasan yang juga ketua 1 di PC PMII Kota Bandung.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dia menjelaskan, gerakan ini mencoba untuk menyampaikan pesan-pesan, bahwa nilai-nilai sebagaiamana yang sudah ada di dasa sila Bandung sebagai nilai-nilai perdamaian yang bisa dipakai oleh Dunia. “Semangat itu harus tetap didengungkan,” tegas Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Universitas Islam Nusantara itu.

Selain itu, pihaknya juga ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat, kepada seluruh dunia, dengan tema Bandung Damai, KAA Sukses itu berupaya membentuk kembali dari Bandung untuk Asia Afrika, bahwa pesan perdamaian sekarang sedang digalakkan dari Bandung.

“Gerakan ini bisa menjadi ‘bola salju’ bagi gerakan-gerakan pluralisme, pencegahan radikalisme, dan menjaga perdamaian bangsa dan jaga kebhinnekaan kita,” tambah dia.

Senada dengan Hasan, dalam kesempatan yang sama, Metsa Ghina memberi dukungan untuk gerakan PLUR4ALL tersebut. Dia ingin berkampanye kepada warga Bandung untuk menyukseskan KAA lebih damai, khususnya membuat warga kota Bandung menjadi damai dengan menyambut konferensi Asia Afrika.

“Harapannya, KAA bisa berlangsung dengan damai. Dan untuk Indonesia, semoga Hak Asasi Manusia (HAM) lebih diwujudkan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkas mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu.

Tidak hanya melakukan long march saja, acara tersebut juga ditampilkan tarian daerah Papua dan tarian daerah Sunda, dan pembacaan puisi perdamaian. Rencananya, geraka Plur4all ini akan digelar kembali di kota-kota besar seperti Makassar, Medan, Yogyakarta, dan lain-lain. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kurban Pesantren Tebuireng Jangkau Daerah Terpencil

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setiap hari raya Idul Adha, Pesantren Tebuireng Jombang menyembelih puluhan hewan kurban. Tak hanya dibagikan kepada masyarakat sekitar pondok, bahkan daging tersebut juga diberikan kepada daerah terpencil yang kurang mendapat perhatian.

"Tahun ini kami menerima 19 sapi dan 5 ekor kambing," kata Ustadz Iskandar, Jumat (1/9).

Kurban Pesantren Tebuireng Jangkau Daerah Terpencil (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurban Pesantren Tebuireng Jangkau Daerah Terpencil (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurban Pesantren Tebuireng Jangkau Daerah Terpencil

Kepala Pondok Putra Pesantren Tebuireng tersebut mengemukakan ada sejumlah nama yang mempercayakan penyembelihan hewan kurban ke pesantren ini. "Ada Kapolda Jawa Timur, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Wakil Pengasuh dan Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng, serta para guru dan beberapa wali santri," jelas alumnus Universitas Hasyim Asyari atau Unhasy Jombang ini.

Menurut pria kelahiran Jakarta ini, daging dari hewan kurban tersebut diberikan ke sejumlah warga kurang mampu di sekitar pesantren. "Juga kepada dewan guru, karyawan dan santri Tebuireng," terangnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tidak hanya itu, daging tersebut juga disebar ke daerah terpencil. "Kawasan yang dipilih panitia adalah Kecamatan Kabuh," ungkap Ustadz Iskandar. Daerah tersebut sengaja dipilih lantaran masyarakatnya lebih membutuhkan, lanjutnya.

Setidaknya ada 2000 paket hewan kurban yang disiapkan panitia untuk menjangkau sejumlah kawasan terpencil, termasuk warga sekitar Pesantren Tebuireng. "Hari ini hingga Ahad lusa, hewan akan kita sembelih dan didistribusikan kepada para dhuafa yang telah didata," katanya.

Pantauan media ini di lokasi yakni halaman Pesantren Tebuireng, tampak warga sekitar pondok menyerahkan sejumlah kupon yang telah dibagikan sebelumnya. Dengan mengantri secara tertib, mereka menukarkan kupon tersebut dengan paket daging kurban. Wajah sumringah tampak terlihat dari muka mereka saat meninggalkan halaman pesantren. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam, Nahdlatul, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 02 Agustus 2017

5 Fatayat Bersikukuh Gabung Diklat Banser Pringsewu

Pringsewu, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Ada yang lain pada Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Ansor dan Pendidikan Latihan Dasar (Diklat) Banser Angkatan III 2016 yang digelar Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pringsewu.

Lima anggota Fatayat Serbaguna (Fatser) Kabupaten Pringsewu bersikukuh untuk bergabung pada kegiatan tersebut. Fatser memiliki tugas seperti Banser. Fatser adalah sayap organisasi dari Badan Otonom Fatayat yang merupakan organisasi pemudi di Nahdlatul Ulama.

5 Fatayat Bersikukuh Gabung Diklat Banser Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
5 Fatayat Bersikukuh Gabung Diklat Banser Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

5 Fatayat Bersikukuh Gabung Diklat Banser Pringsewu

Menurut Ketua GP Ansor Kabupaten Pringsewu Muhammad Sofyan, kelima anggota Fatser ini pada awalnya tidak diterima pada kegiatan ini. Namun karena kelima pemudi dari Desa Parerejo tersebut bersikukuh bergabung maka panitia tidak berkuasa menolak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Mereka ini pada tahun kemarin juga sudah pernah mendaftarkan diri, namun panitia menolak karena belum siap untuk menyiapkan akomodasi. Namun tahun ini kita akomodir karena tempat menginap memungkinkan bagi mereka," jelasnya, Jumat (30/7).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hal ini menurutnya karena Lokasi kegiatan tersebut dilaksanakan di Kompleks Pondok Pesantren Miftahul Huda Ambarawa sehingga penginapan bagi para Fatser ini ditempatkan di pondok puteri.

Sofyan berharap dari lima kader Fatser yang ikut Diklat yang dilaksanakan selama 3 hari dari 29-31 Juli 2016 ini akan menjadi pioner kader-kader Fatser di Kabupaten Pringsewu khususnya dan di Provinsi Lampung pada umumnya.

"Kepengurusan dan Anggota Fatser belum terbentuk baik di Kabupaten Pringsewu maupun di Provinsi Lampung. Di Kabupaten Pringsewu pertama kalinya muncul kader Fatser dan mudah-mudahan ini menjadi penyemangat di kabupaten lain dan di Provinsi Lampung untuk membentuk Fatayat Serbaguna," katanya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PMII: Pemerintah Perlu Tinjau Ulang Politik Pangan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) meminta pemerintah melakukan kajian ulang (review) terhadap kebijakan pangan di Indonesia secara keseluruhan. Tidak hanya soal beras, pemerintah juga perlu melihat masalah impor bahan pangan lainnya yang dinilai merugikan masyarakat.

“PMII melihat akar permasalahannya bukan pada impor beras saja, tetapi juga menyangkut masalah politik pangan pemerintah secara keseluruhan," kata Ketua Umum PMII Hery Haryanto Azumi di Jakarta, Rabu (6/9).

PMII: Pemerintah Perlu Tinjau Ulang Politik Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Pemerintah Perlu Tinjau Ulang Politik Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Pemerintah Perlu Tinjau Ulang Politik Pangan

Pemerintah telah memutuskan untuk mengimpor beras sebanyak 210.000 ton dengan anggaran Rp. 390 miliar yang diambilkan dari APBN-P 2006 dan kekurangannya dari dana komersial.

Pemerintah bersikukuh bahwa impor itu dilakukan karena memang sesuai kebutuhan masyarakat. Jika tidak tidak dilakukan impor beras, dinyatakan, akan terjadi kenaikan harga beras dan hal itu akan merugikan masyarakat.

Menurut Hery, ada yang tidak tepat dalam sistem pelaporan dan perumusan kebijakan pangan. "Mestinya kebutuhan beras dalam negeri saat ini masih mencukupi. Tetapi karena adanya laporan produksi beras tidak cukup maka ada asumsi harus impor," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kerja penting yang harus segera dilakukan oleh pemerintah, kata Hery, adalah revitalisasi pertanian. Produksi pangan dalam negeri, sistem pemasarannya, dan sebagainya harus secepatnya.

"Dulu kita bisa swasembada pangan dengan adanya Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), sekarang ini masih perlu waktu panjang untuk swasembada pangan. Pemerintah perlu segera melakukan review terhadap politik pangan secara keseluruhan," katanya. (nam)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 01 Agustus 2017

Waspadai Konsumerisme Selama Bulan Puasa

Klaten, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Bulan Ramadhan pada hakikatnya, merupakan momentum untuk melatih dan menggembleng nafsu manusia, untuk diarahkan kepada nafsu yang bersih nan suci. Namun, bagi sebagian orang, bulan Puasa terkadang justru menjadi ajang untuk memperbesar hawa nafsu, seperti halnya dengan berbelanja secara berlebihan.

“Hakikat menjalani Ramadhan ? adalah meningkatkan ketakwaan, bukan pakaian ata makanan yang menjadi lebih dibandingkan hari-hari biasa,” terang Ketua I Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Klaten, Kholillurrohman, Senin (6/7).

Waspadai Konsumerisme Selama Bulan Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Waspadai Konsumerisme Selama Bulan Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Waspadai Konsumerisme Selama Bulan Puasa

Menurut Dosen IAIN Surakarta itu, pemaknaan yang keliru, dapat membuat konsumsi semakin membengkak. “Kalau pada hari biasa kebutuhan mungkin hanya Rp30.000, mungkin pada Ramadhan konsumsi berlebih pada dua hal, yakni makanan dan pakaian, dapat mendongkrak pengeluaran,” ujar dia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kholil menambahkan, peran para tokoh agama juga memberikan pengaruh tersendiri bagi kehidupan masyarakat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Para ulama, mestinya ikut mencerdaskan umat agar tidak terjerumus dalam pemborosan. Pada kenyataannya, kini banyak tokoh agama yang seharusnya menjadi role model kesederhanaan, namun tidak menampilkan sikap tersebut,” kata dia.

Dengan adanya penyadaran tersebut, Kholil berharap umat dapat lebih memaknai puasa lebih dari sekedar dari ritus belaka. (Ajie Najmuddin/Mukafi Niam) ilustrasi:Liputan6.com

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

464 Siswa Ikuti Pemilihan Ketua IPNU-IPPNU Secara Langsung

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sebanyak 464 siswa MTs dan MA Al Faizin Desa Guyangan Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Jawa Tengah mengikuti pemilihan ketua Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) secara langsung di madrasah setempat, Kamis (27/8).? Pemilihan Ketua IPNU-IPPNU dilaksanakan selama 4 hari dengan 4 tahap yakni pencalonan, seleksi, kampanye serta pemilihan.

464 Siswa Ikuti Pemilihan Ketua IPNU-IPPNU Secara Langsung (Sumber Gambar : Nu Online)
464 Siswa Ikuti Pemilihan Ketua IPNU-IPPNU Secara Langsung (Sumber Gambar : Nu Online)

464 Siswa Ikuti Pemilihan Ketua IPNU-IPPNU Secara Langsung

“Kegiatan ini dimulai tanggal 24-27 Agustus 2015 dengan 4 tahap. pencalonan, seleksi, kampanye dan pemilihan layaknya pemilu pada umumnya,” kata Ahmad Gufron Khoirudin, ketua panitia.? Kegiatan ini menurut salah satu siswa, Hamdan Suyuti cukup menarik. Sebab para calon saling beradu argumen laiknya calon presiden.

“Para calon ketua ini tak ada yang mengalah, mereka saling mempertahankan argumen mereka, saling beradu visi dan misi untuk kemajuan MTs-MA Al Faizin,” ujar? siswa MA Al Faizin. ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Waka kesiswaan MA Al Faizin, Subhan sangat mendukung kegiatan pemilihan ketua IPNU IPPNU secara langsung.? “Kami sangat mendukung sekali kegiatan seperti ini. Salah satu manfaat dari kegiatan ini yaitu melatih para siswa untuk berdemokrasi, memilih pemimpin melalui sistem pemilu layaknya pemilihan presiden, sehingga pada saat pemilihan presiden nantinya, mereka sudah tahu cara untuk memilih pemimpin lewat pemilu,” jelasnya sebagaimana rilis yang diterima Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hal lain ditambahkan Tarisa Ningsih Fatimatuz Zahra. Siswi kelas IX MTs Al Faizin ini mengaku sangat tertarik dan bangga dengan diadakan pemilihan Ketua IPNU IPPNU secara langsung.? “Saya sangat tertarik dan bangga dengan kegiatan pemilu ini, karena umur saya masih 15 tahun, saya sudah bisa mengikuti pemilu? layaknya pemilihan presiden,” tambah Tarisa. ?

Dan hasilnya, Ketua IPNU lama MA Al Faizin, Lilik Budi Utomo digantikan Muhammad Muhyiddin dengan 67 suara dan Ketua IPPNU MA Al Faizin, Nurul Fitriah digantikan Ana Nur Atika dengan 103 suara.? Sedangkan Ketua IPNU MTs Al Faizin, M. Khafidzur Rohman digantikan oleh M. Syafi’i dengan 193 suara, dan Ketua IPPNU lama MTs Al Faizin, Nanik Kurnia Izza digantikan Putri Ayu Cipta Rini dengan 101 suara. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 31 Juli 2017

Desa dan Munajat Pancasila

Oleh Syaiful Huda

?

Disadari atau tidak, perseteruan dalam gelaran politik elektoral Ibu Kota telah menyisakan warisan paradigmatik yang berseberangan satu sama lain. Bahkan pada titik tertentu, dua kutub yang berlawanan tersebut seolah tak lagi mau bertemu meski asas keduanya sebagai bangsa adalah satu, yaitu Pancasila.

Desa dan Munajat Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Desa dan Munajat Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Desa dan Munajat Pancasila

Pertanyaan yang muncul kemudian, bila asas kedua kutub yang berseteru di atas adalah sama-sama Pancasila, mengapa tak bisa lagi menyisakan ruang untuk bertemu? Atau jangan-jangan Pancasila tak lagi dijadikan asas dalam berbangsa dan bernegara? Bila benar demikian, maka momentum peringatan hari lahirnya Pancasila tahun ini patut menjadi sajadah sebagai alas bersemedi untuk kembali menenun kebinekaan yang mulai terkoyak akhir-akhir ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Segala sumpah serapah yang terekam selama hajatan politik elektoral Ibu Kota, kini mulai terasa dimuntahkan ke segala penjuru negeri. Sentimen keagamaan dan politik identitas semakin diperuncing, situasi ekonomik dan politik dalam negeri yang tengah berproses membangun diri dihadapi dengan rasa frustasi. Jelas sudah, Indonesia sebagai bangsa yang berbeda-beda tapi satu kesatuan tengah menjadi taruhan. Tak terkecuali di desa, kita berharap desa menjadi ruang konsolidasi perekat pancasila.

Berpijak dari situasi di atas, Surat Edaran Menteri Desa,Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo Nomor: 1 Tahun 2017 tentang Peringatan Hari Lahir Pancasila, yang ditujukan kepada Kepala Desa Seluruh Indonesia, menjadi penanda betapa pentingnya kita kembali memperingati hari lahirnya Pancasila ditengah masyarakat desa-desa seluruh Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Manifes Ibadah dalam ber-Pancasila



Tentu saja Surat Edaran Mendes PDTT di atas bila sekadar dijalankan sebatas seremonial, maka tak akan berdampak apa-apa bagi penguatan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Lain hal, bila momentum peringatan Harlah Pancasila di desa tahun ini, dimaknai sebagai pengingat kembali terhadap pijakan bersama kita sebagai bangsa yang bernegara kesatuan Republik Indonesia.

Sebagaimana kita mafhum bersama, peringatan Harlah Pancasila kali ini, bersamaan dengan datangnya bulan Ramadhan, yang bagi umat Islam ber aqil baligh diwajibkan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Dan bukan sesuatu yang kebetulan, jika kita nyatakan bahwa "suasana Ramadhan" hanya terasa nikmat dan indahnya bila kita menjalankanya di desa-desa.

Persis dalam konteks ini, kondisi kebangsaan serta kebinekaan yang tengah terancam oleh gerakan yang ingin mengganti ideologi negara, maka ikhitiar yang berorientasikan memperkokoh kembali landasan berbangsa dan bernegara melalui desa-desa menjadi sesuatu yang juga harus dilakukan.

Ingin ditegaskan, bahwa mempertahankan Pancasila sebagai dasar kita dalam berbangsa dan bernegara, sama "utamanya" seperti "utamanya" umat islam berpuasa di bulan Ramadhan. Pembeda keduanya hanyalah pada relasi yang terjalin. Berpuasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang bersifat personal, sementara mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara adalah ibadah yang bersifat komunal karena menyangkut kelangsungan hidup kita sebagai bangsa Indonesia.

Penulis termasuk yang memiliki keyakinan bahwa tak ada yang perlu dipertentangkan antara Pancasila dan agama (baca: Islam). Bukankah dalam banyak hal, sabda-sabda Tuhan yang termaktub dalam al-Quran al-Karim telah memberikan justifikasinya terhadap Pancasila. Dengan kata lain, menegakkan Pancasila sama saja dengan menegakkan ayat-ayat suci di bumi pertiwi yang kita cintai ini.

Beberapa sabda Tuhan sudah sangat jelas memberikan justifikasi pada setiap butir-butir Pancasila. Seperti yang tersurat dalam sabda-Nya, "Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa" (QS. Al-Ikhlas: 1) berkesesuaian dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. "Maka jangalah kamu mengikuti hawa nafsu, hendaklah kamu menjadi manusia yang adil", (QS. An-Nisa: 135) memiliki korelasi dengan sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Sila ketiga yang berbunyi, "Persatuan Indonesia" berkorelasi dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 yang artinya, "Dan kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal". Sila keempat berbunyi, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyarawatan/Perwakilan, mendapatkan justifikasi dalam QS. Asy-Syuro ayat 38 yang artinya, "Sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka". Sedangkan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, berkesinambungan dengan firman-Nya dalam QS. An-Nahl ayat 90 yang artinya, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan".

Munajat Pancasila



Selain keutamaan kita berpuasa di bulan ramadhan, dalam momentum peringatan Harlah Pancasila ini, penulis juga berpandangan bahwa ketika kita merapalkan Pancasila tak ubahnya ibarat kita sedang bermunajat dengan sepenuh hati seperti kita sedang menjalankan ibadah shalat. Dengan kata yang lebih gamblang, Pancasila itu ibarat shalat beserta keseluruhan geraknya.

Betapa tidak, karena Pancasila bagi penulis, haruslah berdiri tegak, setegak takbiratul-Ihram, berteguh pada ketauhidan, sebagaimana sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila haruslah bergerak lurus, selurus gerak ruku dalam membangun horison keadilan dan solidaritas sosial, sebagaimana sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Pancasila harus bergerak berdiri lurus dalam satu tarikan nafas, laiknya gerak itidal dalam menyatukan langkah dan gerak solidaritas politik yang mengedepankan kepentingan nasional, sebagaimana sila ketiga: Persatuan Indonesia.

Penulis juga meyakini bahwa Pancasila harus merunduk sujud menuju tempat terendah, bersimpuh dengan segala kerendahan hati dalam menata kebijaksanaan kerakyatan dan kehambaan sekaligus, sebagaimana sila keempat: Kerakayatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

Pancasila juga harus tetap berpijak dan beralas tanah, semabri duduk luruh merapat dengan bumi, layaknya gerak tahiyyat yang bersabar untuk bisa tumbuh subur bersama rakyat karena tugas mulia seorang khalifah adalah menabur keadilan sosial, sebagaimana sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Demikianlah, karena ibadah shalat adalah keseluruhan gerak, maka ketika ada satu rangkaian gerak tidak terlaksana, hanya akan membatalkan shalat itu sendiri. Demikian pula kita dalam ber-Pancasila, bila ada sila yang terlewat, maka "batal" pula kita ber-Pancasila. Pada fase sejarah hari ini, sebagai generasi yang sedang dan akan terus menegakkan berdirinya Pancasila, sejatinya kita laksanakan seperti kita mendirikan salat dalam keseharian kita. Kita berharap dari desa-desa munajat pancasila terus menerus menggema. Merdesa!

Penulis adalah staf khusus Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah