Senin, 24 April 2017

PCINU Mesir Kukuhkan Kader Pemimpin NU

Kairo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir sukses menggelar Pelatihan Kader Pemimpin Nahdhatul Ulama (PKPNU) edisi perdana. Acara yang digelar sejak 12 hingga 20 Agustus 2016 ini berlangsung di sekretariat PCINU setempat, Kairo, Mesir.

PCINU Mesir Kukuhkan Kader Pemimpin NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Mesir Kukuhkan Kader Pemimpin NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Mesir Kukuhkan Kader Pemimpin NU

Acara pelatihan ini dirasa mendesak dilaksanakan di PCINU Mesir melihat kondisi secara umum. “Belakangan ini, beberapa organisasi mahasiswa di Mesir, kekeluargaan atau lembaga afiliatif seperti NU terlihat kekurangan kader militan yang benar-benar loyal serta mumpuni. Maka dari itu PCINU Mesir menggelar acara PKPNU yang ide besarnya dari Dewan Syuriyah,” kata Ahmad Muhakam Zein, Ketua PCINU Mesir.

Ia berharap akan lahir para kader yang memiliki karakter kepemimpinan sejati, tahu cara berorganisasi, dan mengerti soal manajemen kepemimpinan. Termasuk kuat secara wawasan seputar amaliah Nahdlatul Ulama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara yang? setiap harinya diselenggarakan dari pukul 10 pagi hingga pukul 7 petang waktu setempat ini dipandu oleh para instruktur dan narasumber yang terdiri dari para tokoh PCINU Mesir.

Di antara materi dalam PKPNU kali ini antara lain soal kepemimpinan, manajemen, organisasi, administrasi, materi-materi ke-NU-an, mulai dari aswaja, tantangan NU (ke depan) dalam bidang ekonomi-politik, metode dakwah di era modern, hingga demonstrasi teknik menangkis berbagai tudingan kelompok lain terhadap amaliah NU yang dianggap bidah, syirik atau menyimpang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Pelatihan ini kita buat berbeda dengan? kebanyakan pelatihan yang diselenggarakan di Kairo, bahkan Indonesia. Perbandingan ceramah dan praktiknya 50:50. Dengan begitu, setiap peserta sangat aktif dan tidak kenal lelah,” jelas Murtadlo Bisyri, Katib Syuriah PCINU Mesir yang turut hadir pada acara malam pengukuhan.

“Tugas kader NU di luar negeri adalah menuntut ilmu sedalam-dalamnya, agar dengan ilmu tersebut mereka bisa mengabdi di masyarakat, mengajarkan ilmu yang mereka tekuni di luar negeri. Namun demikian, bukan berarti mereka harus mengisolir dari kegiatan sosial, karena perkembangan kehidupan masyarakat di Indonesia saat ini sangat pesat, pola pikir dan tingkah laku bermasyarakat juga ikut berubah,” papar Rais Syuriyah PCINU Mesir KH Muhlashon Jalaluddin saat penutupan dan pengukuhan alumni PKPNU di Sekretariat PCINU Mesir, Sabtu (20/8).

Untuk itu, katanya, kader NU harus mengikuti perkembangan, dan menyiapkan diri meramu dan menerjemahkan ilmu yang digeluti di luar negeri dalam setting keindonesiaan. Jika tidak, lanjut Muhlashon, maka bukan tidak mungkin mereka akan gagap menghadapi kondisi masyarakat yang sudah lama mereka tinggalkan.

Acara pengukuhan PKPNU PCINU Mesir ke-1 dihadiri oleh jajaran pengurus syuriah, tanfidziah, koordinator lembaga, juga ketua badan otonom di lingkungan PCINU Mesir. Selepas pengukuhan, acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat dan foto bersama. (Kian Santang/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 23 April 2017

Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU

“Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah! Kalau sampai tidak makan, komplainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati, maka tagihlah ke batu nisanku!”

Wasiat di atas merupakan wasiat yang cukup populer di kalangan warga NU, wasiat tersebut merupakan pesan yang ditujukan kepada para penerus perjuangan NU agar selalu serius dan yakin dalam menjalankan roda kekhidmatan tanpa merasa takut akan ancaman kelaparan. Wasiat tersebut disampaikan oleh KH Ridlwan Abdullah, salah satu tokoh pendiri NU yang juga merupakan tokoh pelukis lambang NU.

Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU

KH Ridlwan Abdullah merupakan anak sulung dari pasangan Abdullah dan Marfuah yang terlahir dari kalangan keluarga yang kuat beragama. Beliau dilahirkan pada tanggal 7 Januari 1885 M, di kampung Carikan 1, kelurahan Alun-Alun Contong, yang sekarang masuk bagian wilayah kecamatan Bubutan di kota Surabaya. (Hlm. 16)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kecakapan melukis Kiai Ridlwan sudah tampak ketika beliau duduk pada Pendidikan Dasar di Sekolah Belanda (Hollandsch Inlandsche School), hal ini terbukti ketika pada waktu pelajaran menggambar di sekolah, sang guru dari Belanda yang sedang mengajar, menyuruh Ridlwan untuk menggambar gurunya tersebut, tetapi Ridlwan justru menggambar tubuhnya saja, sedangkan wajahnya tergambar ratu Belanda yang bernama Wilhelmina. Sang guru langsung merasa tertarik atas kelebihan yang dimiliki Ridlwan tersebut sehingga pada masa kerjanya sebagai guru habis, ia datang menemui orang tua Ridlwan bermaksud untuk mengadopsinya sekaligus dibawa ke Belanda, tetapi ayahnya tidak mengijinkannya sebab ada kekhawatiran dari pribadinya dan menginginkan agar anaknya melanjutkan pendidikan di pesantren (Hlm. 18)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam riwayat pendidikan keagamaan, pertama Kiai Ridlwan menimba ilmu di pesantren Buntet Cirebon, lalu melanjutkan ke pesantren Kademangan Bangkalan Madura yang diasuh oleh Syaikhona Kholil Bangkalan dan pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo, lalu Kiai Ridlwan melanjutkan belajar ke Makkah lalu kembali ke Surabaya sehingga tercatat bahwa beliau menggali ilmu agama selama  11 tahun (Hlm. 19).

Dalam bidang pengabdian dan pengalaman organisasi, Kiai Ridlwan ikut andil menjadi bagian “Barisan golongan Muda Bumi Poetera” yang mengupayakan kesadaran berbangsa melalui jalur pendidikan. Kiai Ridlwan ingin mendidik para pemuda, agar semangat mereka bangkit dan sadar untuk menggelorakan kecintaan terhadap bangsa (nasionalisme). Akhirnya, buah kesadaran nasionalisme tersebut menjelma menjadi perguruan “Nahdlatul Wathan”  (Kebangkitan Tanah Air) yang berdiri tahun 1941. Selain itu, beliau juga aktif di “Taswirul Afkar” pada tahun 1918, sebuah lembaga perumusan konsepsi atau pemikiran berbagai persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Selain itu, Kiai Ridlwan bersama Kiai Wahab dan juga Kiai Kahar, memprakarsai berdirinya perhimpunan “Tamirul Masajid”, sebuah perhimpunan yang bertujuan memelihara tempat peribadatan, Masjid, barang wakaf dan sebagainya. Salah satu wujud kerja perhimpunan ini adalah berdirinya Masjid Jami’ Kemayoran yang hingga sekarang berada di jalan Indrapura 2 Surabaya. Bahkan karya monumental arsitektur bangunan kubah Masjid Kemayoran merupakan fakta sejarah dari hasil ciptaan Kiai Ridlwan. (Hlm. 22-24)

Dalam pengabdiannya terhadap NU, jasanya sangatlah besar. Sebelum NU lahir, beliau sudah aktif di beberapa organisasi yang merupakan embrio bagi berdirinya NU. Bahkan rumah beliau di Bubutan VI no 26 Surabaya ditempati untuk penandatanganan berdirinya organisasi NU, sedangkan rumah milik mertuanya yang juga di jalan Bubutan Surabaya diserahkan sebagai sekretariat dan ruang pertemuan para pengurus NU, dulu menjadi kantor PBNU dan sekarang menjadi kantor PCNU Kota Surabaya.

Selain itu, jasa yang diberikan Kiai Ridlwan bagi NU adalah lambang yang mencerminkan sifat ulama dan bila dilihat tidak bosan, yang mana pada Muktamar NU I, NU belum mempunyai lambang sebagai simbol organisasi. Kiai Ridlwan dipercaya oleh KH. Hasyim Asy’ari yang saat itu menjabat sebagai Rais Akbar  untuk melukisnya. Lambang tersebut, beliau lukis atas hasil istikharah beliau dan dapat ditampilkan pada Muktamar NU II pada tanggal 9 Oktober 1927 M/12 Rabiuts Tsani 1346 H, bertempat di Hotel Muslimin Peneleh Surabaya (Sekarang menjadi Hotel Bali) yang membuat decak kagum bagi yang melihatnya, (Hlm. 56)

Ditinjau dari sudut sumber sejarah, buku tersebut memadukan antara sumber primer dengan sumber sekunder, Sumber primer penulis dapat dari tempat-tempat atau dokumen bersejarah yang hingga kini masih eksis keberadaannya, seperti bangunan tempat penandatanganan NU, Surat ijin anggota Konstituante RI milik Kiai Ridlwan, dan sebagainya dan sumber sekunder penulis dapat dari kepustakan-kepustakaan yang ada.

Buku karya Abdul Holil ini merupakan skripsi yang ditulisnya dan sebagai bukti kecintaannya kepada NU. Buku ini wajib dibaca bagi seluruh kader NU dari berbagai kalangan yang ada, sebab isinya menggambarkan secara utuh sosok dan figur seorang Kiai Ridlwan Abdullah agar para penerus NU selalu mencontoh para pendirinya serta sebagai dasar pijakan dalam berkhidmat di NU.

Data Buku 

Judul : Kiai Ridlwan Abdullah; Peran dan Teladan Pelukis Lambang NU

Penulis : Abdul Holil

Penerbit : Pustaka Idea

Terbitan : I, 2015

Tebal : xvii + 88 hlm

ISBN : 978-602-72011-6-12

Peresensi : M Ichwanul Arifin, mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pondok Pesantren, Sholawat, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 19 April 2017

Bagi Aktivis Dakwah di Papua, Nama Gus Dur adalah Kunci

Pemalang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiprah dan jasa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selama hidup masih membekas di hati masyarakat Papua. Tak heran bila ada semacam keseganan ketika nama Gus Dur disebut di sana.

"Bagi kami aktivis dakwah di Papua , nama Gusdur adalah sebuah kunci," tutur Abdul Hamid, aktivis NU di Papua, saat menjadi pembicara pada bedah novel "Mata Penakluk, Manakib Abdurahman Wahid" di? GOR Mahardika Desa Cikasur, Kecamatan Belik, Kabupten Pemalang, ? Jawa Tengah, Ahad (27/09/15).

Bagi Aktivis Dakwah di Papua, Nama Gus Dur adalah Kunci (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Aktivis Dakwah di Papua, Nama Gus Dur adalah Kunci (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Aktivis Dakwah di Papua, Nama Gus Dur adalah Kunci

Abdu, sapaan akrabnya, menceritakan tentang sebuah kisah yang terjadi pada bulan Desember 2012 . Saat itu Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mengadakan Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) di Jayapura. Kegiatan tersebut, menurut Abdu, diikuti tak kurang oleh 500 kader PMII. Kala itu keamanan di Jayapura yang merupakan daerah merah cukup mencekam karena menjadi salah satu basis OPM (Organisasi Papua Merdeka).

Menurutnya, dalam acara berskala nasional itulah kebesaran nama KH Abdurrahman Wahid? kembali terbukti. Ia menjadi kunci suksesnya perhelatan akbar waktu? itu. Tanpa membawa nama Gus Dur,? kegiatan yang dihelat sepekan itu memang menuai banyak tentangan. Apalagi kegiatan diikuti ratusan pemuda dari luar Papua.

"Alhamdulillah berkah Gus Dur acara bisa diselenggarakan Papua dengan aman," ujar Abdu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tak hanya aman, tambah Abdu, salah satu budayawan di Papua, bernama Engel, bahkan dengan suka rela mengkoordinasi anak-anak adat binaanya untuk menampilkan? sejumlah tarian adat dalam Festival Budaya dalam salah satu agenda Muspimnas PMII, yang digelar selama sepekan.

“Menurut Engel, ? para tokoh adat di Sentani juga turut mengerahkan pasukannya untuk mengamankan kegiatan PMII yang dihelat di Hotel Sentani, Jayapura. ‘Kalian cukup berani mengadakan kegiatan di sini. Kalau saja kalian bukan anak-anak Gus Dur, mungkin kami juga pikir-pikir untuk terlibat’,"? tutur Abdul Wahab menirukan tokoh Papua itu.

Abdul Wahab mengungkapkan, selama kegiatan itu berlangsung, sampai anggota OPM juga ikut menjaga acara akbar yang diselenggarakan oleh PMII itu.

Acara bedah novel karya Abdullah Wong tersebut digelar Komunitas Gusdurian Gunung Selamet. Selain sang penulis, hadir pula antara lain Eko Wahyudi (Ketua UKM Sugih Bareng),? Haris Burhani MAP dari Puslitbang Kehidupan Keberagamaan Kemenag RI, Gus Yusuf (budayawan Purwokerto), dan H Shaleh, Kordinator Gusdurian Tegal yang juga memimpin jalannya diskusi sebagai moderator.? (Red: Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 18 April 2017

Pengamat Politik Islam: Pemerintah Sudah Tepat Bubarkan HTI

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menuai kontroversi di tengah masyarakat. Pro dan kontra datang silih berganti. Perkaranya, pembubaran organisasi masyarakat tersebut dilakukan tanpa proses pengadilan, meskipun sesuai konstitusi dengan lahirnya Perppu No. 2 tahun 2017.

Pengamat politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Muhammad Sofi Mubarok, menilai pemerintah mengambil langkah yang tepat. Menurutnya ada dua faktor ketepatan pemerintah. Pertama, HTI rentan dimasuki ISIS. Meskipun dalam kaderisasinya HTI tidak memberikan paham radikal pada anggotanya, tetapi dogma agama yang beririsan dengan ISIS sangat berpotensi ditunggangi militan ISIS. Atau, meskipun mereka berdalih bahwa tidak mengajarkan kekerasan dalam proses pengkaderan, faktanya menunjukkan anggotanya demikian.

Pengamat Politik Islam: Pemerintah Sudah Tepat Bubarkan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengamat Politik Islam: Pemerintah Sudah Tepat Bubarkan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengamat Politik Islam: Pemerintah Sudah Tepat Bubarkan HTI

Saat alumni Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, itu mengisi seminar di Bandung, ada seorang yang memaki salah satu pemateri dengan teriakan dan memotong pembicaraan pemateri. Menurut penulis buku Kontroversi Dalil-Dalil Khilafah itu sudah mengandung radikalisme.?

Sementara di sisi lain, Indonesia sedang krisis radikalisme. Mengutip data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), alumni Pondok Pesantren Sukorejo, Situbondo, itu menyampaikan, bahwa di Jawa Timur saja sudah teradapat 16 kabupaten/kota yang terindikasi radikalisme akut. Ini menjadi faktor kedua tepatnya HTI dibubarkan mengingat ideologi HTI sebagian beririsan dengan motif-motif penggerak radikalisme ISIS.

Dalam beberapa kesempatan, juru bicara HTI Ismail Yusanto selalu mengatakan bahwa organisasi mereka adalah organisasi dakwah. Tetapi, HTI tidak pernah berbicara konsep agama sebagai suatu sistem nilai, hanya konsep kenegaraan saja. Itu pun masih mengawang. Sebab, Ismail tidak bisa menjawab ketika ditanya oleh Aiman dalam satu program televisi swasta tentang bagaimana tatacara pemilihan khalifah dan siapa khalifahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengungakapkan alasan Ismail tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Ia menyebutkan bahwa faktanya terdapat begitu banyak perbedaan cara pemilihan pemimpin. Nabi Muhammad tidak menunjuk penggantinya secara langsung. Sayyiduna Abu Bakar Ash-Shiddiq dipilih secara musyawarah. Sayyiduna Umar ditunjuk langsung oleh Sayyiduna Abu Bakar. Sementara itu, Sayyiduna Utsman bin Affan dipilih dengan sistem ahlul halli wal aqdi. Lain lagi dengan Sayyiduna Ali yang konon dibaiat oleh pemberontak. Lebih-lebih pada masa Muawiyah dan seterusnya yang pemilihan khalifahnya bukan berdasarkan atas kemampuan, tetapi hubungan kekerabatan. Oleh karena begitu beragamnya cara pemilihan khalifah, HTI kebingungan sendiri.

Sofi menyatakan, khilafah termasuk dalam domain grand theory siyasah. Dalam seluruh literatur studi Islam, seluruh ulama sepakat siyasah adalah persoalan duniawi dan muamalah, bagaimana interaksi antar personal dan komunitas dibangun. Oleh karena, keliru jika khilafah diyakini sebagai dogma agama.

Mengutip Abdul Wahab Khalaf, staf ahli Kementerian Agama itu mengatakan, dalil-dalil tentang ahkamul muamalah itu semuanya ijmali (umum), tidak tafshili (terperinci). Ayat-ayat ahkamul muamalah bersifat ijmali itu bertujuan karena berkaitan dengan kemaslahatan hamba.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mereka mengatakan bahwa menegakkan khilafah sebagai bagian dari menegakkan agama. Dalam maqashid syariah (tujuan diterapkannya syariah), menjaga agama (hifdz al-din) menempati posisi paling atas. Tetapi tidak selamanya demikian. Sofi lalu mencontohkan peristiwa Nabi Harun membiarkan masyarakat Bani Israil dengan kekufurannya saat ia diserahi kepercayaan oleh Nabi Musa.

Saat itu, Nabi Harun melihat dua hal yang kontradiksi di tengah umatnya, yakni kemaslahatan menjaga akidah dan kemasalahatan memelihara persatuan. Nabi Harun memilih hal kedua, menjaga keteraturan masyarakat, sebab di dalamnya terdapat maqashid syariah yang lain, yakni menjaga diri (hifdz al-nafs) dan menjaga harta (hifdz al-mal). Alasan lain kalau tidak dijaga eksistensi umat itu maka akan timbul perampasan harta, atau bahkan sampai saling bunuh. Pilihan kedua itu dipilih sebab bersifat lebih abadi.

“HTI tidak melihat itu. Hirarki yang mereka lihat hanya khilafah menegakkan agama. Tidak sesederhana itu persoalan bangsa,” ujarnya.

Tidak ada wahyu Nabi tentang kekhalifahan,? Nashb al-imam ala al-ta’yin ghaitru maujud. Penunjukan imam dengan menunjuk individu itu tidak ada. Itu menunjukkan tidak ada wahyu secara jelas.

“Tentang siyasah itu ranahnya ijtihadi,” ujarnya mengutip pendapat ulama.

Oleh karena itu, di akhir pembicaraan, ia mengajak HTI untuk mengaji kembali. Ia meminta orang-orang HTI untuk kembali membuka literatur-literatur fiqh siyasah.? (Syakirnf/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 17 April 2017

IPNU-IPPNU Lampung Siap Sukseskan Kongres di Palembang

Gunung Sugih, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Para kader NU yang tergabung dalam IPNU dan IPPNU Lampung Tengah siap menyukseskan pelaksanaan Kongres dua organisasi pelajar NU ini yang akan berlangsung di Palembang, akhir November ini.

IPNU-IPPNU Lampung Siap Sukseskan Kongres di Palembang (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Lampung Siap Sukseskan Kongres di Palembang (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Lampung Siap Sukseskan Kongres di Palembang

Ketua IPNU Lampung Tengah, Dedi Kurniawan kepada kontributor Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di Gunung Sugih menyampaikan akan mengirimkan 40 peserta CBP dalam rangka Jambore Pelajar dan Santri Nusantara. CBP Lampung Tengah akan bergabung dengan peserta CBP se - Indonesia di Palembang. 

”Sedangkan ketika kongres nanti akan berangkat beberapa pengurus IPNU dan IPPNU Lampung Tengah ,” tambah alumni Jurusan Syari’ah STAIN Jurai Siwo Metro – Lampung ini, Ahad (25/11). 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Akhmad Syarief Kurniawan 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gus Mus Serukan Kampanye Sportif dan Beradab

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menjelang Pemilihan Presiden Indonesia, khususnya dunia maya, gencar kampanye tak sehat, bahkan saling menyerang dan menjatuhkan. Menanggapi hal itu, Pejabat Rais ‘Aam PBNU KH A Mustofa Bisri menyerukan supaya tim kampanye melakukan cara-cara yang elegan, sportif, dan beradab. ?

Gus Mus Serukan Kampanye Sportif dan Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Serukan Kampanye Sportif dan Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Serukan Kampanye Sportif dan Beradab

“Aku membayangkan andai ada poros lain yang mengkampanyekan 2 pasangan yang sedang bersaing saat ini, dengan cara yang elegan, sportif, dan beradab,” katanya melalui akun Facebook, Jumat (23/5).

Kiai asal Rembang tersebut menambahkan, dengan latar belakang spanduk bergambar 2 pasangan pesaing, Jurkam mengingatkan bahwa tujuan kedua pihak yang bersaing ini sama. Untuk Indonesia dan Bangsa Indonesia. Jadi mereka kedua pasangan itu bersaing sebagai saudara. Bukan sebagai musuh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masyarakat disilakan memilih salah satunya dengan merdeka dan santai tanpa bersitegang dan saling menyerang. Apalagi sampai harus bermusuhan.

Di ujung statusnya, ia mengatakan, mudah-mudahan Allah - yang berkuasa mengangkat siapa saja yang Ia kehendaki - memilihkan yang terbaik untuk kita dan negeri kita. Amin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara di akun Twitter, bertitel TWEET JUMAT, kiai yang akrab disapa Gus Mus ini mengatakan, “Gunakanlah kekuatanmu untuk melakukan amal2 baik dan gunakan kelemahanmu untuk meninggalkan perbuatan2 buruk.” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta, Halaqoh, News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 16 April 2017

Pesantren Tulang Punggung Republik Ini

Lampung Tengah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pesantren di Indonesia kurang lebih ada 23.000. Peran pesantren sangatlah besar, salah satunya? adalah ikut mencerdaskan anak bangsa melalui proses pendidikan yang ada di negara ini. Pesantren jelas tulang punggung republik ini.

Demikian disampaikan Hj Nihayatul Wafiroh selaku anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa di sela-sela sambutannya dalam agenda Tasyakkur dan Peresmian Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Darusy Syafa’ah Lampung Tengah di kompleks kampus setempat Jalan Kotasari RT 12 / RW 06 No 1 Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah, Ahad (3/9).

Pesantren Tulang Punggung Republik Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tulang Punggung Republik Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tulang Punggung Republik Ini

“Jangan pernah malu mondok di pesantren. Jebolan pesantren bisa menjadi apapun, dengan barokah doa kiai insya Allah ilmu kalian akan bermanfaat di masyarakat,” pungkas Dosen Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Blokagung Banyuwangi Jawa Timur ini.

Sementara Kiai Andi Ali Akbar selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Darusy Syafa’ah Lampung Tengah menambahkan, kehadiran kampus ini dirintis sejak 2014 lalu. Alhamdulillah tiga bulan lalu surat izin operasional sudah dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kami berharap dengan hadirnya Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Darusy Syafa’ah Lampung Tengah ini mampu menambah corak atau warna pendidikan tinggi di Lampung Tengah dan menciptakan generasi muda Islam yang andal dalam keilmuan, menjadi ilmuwan yang saleh atau salehah dan ilmunya membawa kemaslahatan untuk masyarakat sekitar,” pungkas Wakil Ketua GP Ansor Lampung ini.

Hadir dalam agenda tasyakkur dan peresmian Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Darusy Syafa’ah Lampung Tengah tokoh-tokoh NU yaitu mantan Ketua PWNU Propinsi Lampung KH Ngaliman Marzuqi, Wakil Sekretaris PCNU Lampung Tengah Imam Kastolani, Ketua GP Ansor Lampung Tengah Saryono, Wakil Ketua Fatayat NU Lampung Tengah Hj Laili Mashitoh, PMII Lampung Tengah Irmansyah, KOPRI Lampung Tengah, IPNU Lampung Tengah, IPPNU Lampung Tengah, Camat Kotagajah Eduart Hartono, Pengasuh pesantren Sunan Ampel Punggur Kiai Ali Fadilah Musthofa, Ketua MWCNU Kotagajah Kiai Imron Rosyadi, Sekretaris MWCNU Kotagajah Kiai Sumarjono, LP Ma’arif? NU Kotagajah H Moch Sofyan, Fatayat NU Kotagajah Laila Rahmawati, Kasubag Hukum Diktis Kemenag RI Ibnu Anwaruddin, Sekretaris Kopertais Wilayah VII Sumbagsel Herizal, Dosen IAIN Jurai Siwo Metro Imam Mustofa, Rektor Institut Agama Islam Agus Salim Metro Ahmad Khoiri, dan ratusan santri pesantren Nurul Ulum Kotagajah, serta masyarakat sekitar. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Kyai, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah