Minggu, 03 November 2013

Tiga Darurat Perlunya Penyebaran Islam Nusantara

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Ketua Rombongan Tim Ekspedisi Islam Nusantara Imam Pituduh mengungkapkan beberapa pemicu Islam Nusantara harus disebarluaskan di belahan dunia. Setidaknya ada tiga darurat kenapa Islam Nusantara harus diketahui sejumlah kalangan, khususnya bangsa Indonesia sendiri.

"Darurat radikalisme, darurat terorisme, dan darurat narkoba. Tiga hal itu menjadi tantangan tersendiri untuk Indonesia," katanya saat memberikan sambutan di Pendopo Jombang, Selasa (19/4).

Tiga Darurat Perlunya Penyebaran Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Darurat Perlunya Penyebaran Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Darurat Perlunya Penyebaran Islam Nusantara

Ia menjelaskan, tak sedikit masyarakat Indonesia yang turut mengembangkan radikalisme, juga terorisme di negara-negara luar. Bahkan mereka sedang menyeting dan menargetkan tahun 2017, Indonesia harus menjadi negara radikal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kurang lebih 140 warga Indonesia berlatih tentang gerakan radikal di Suriah, dan kini sudah kembali ke Indonesia. Sekitar 200 warga Indonesia tertangkap di Turki yang sedang berlatih gerakan radikal," ujarnya.

Hal demikian menjadi tantangan serius bagi masyarakat luas tatkala mereka sedang mengembangkan gerakan-gerakannya. "Gerakan mereka harus kita halau dan seting mereka harus dihentikan," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Padahal, Islam yang diajarkan oleh Nabi SAW hingga Wali Songo sampai pendiri NU sama sekali tidak berindikasi pada kekerasan. "Maka dari itu kita keliling sejak bulan lalu ingin meluruskan pemahaman-pemahaman yang keliru terhadap Islam itu sendiri," kata Imam.

Warga nahdliyin dengan menyajikan model Islam Nusantara harus bisa memosisikan di tengah-tengah antara paham radikal dan fundamental.

"Islam Nusantra bukan hal baru. Islam Nusantara sebagai dedikasi umat Islam pada ajaran Islam yang sesuai dengan ajaran nabi, model Islam yang diterapkan nabi yaitu merangkul sesama, menerapkan sikap toleransi dan menjaga perdamaian," ungkapnya.

Untuk itu, kata dia, suatu budaya, nilai kesejarahan dan pemahaman atau ajaran yang dilakukan oleh para ulama harus dikumpulkan menjadi satu dokumen agar mudah memahami Islam. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, IMNU, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 26 Oktober 2013

Gus Mus: Manusia Masuk Surga Bukan karena Amalnya Saja, Tapi...

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus mengatakan, seseorang yang mengetahui jati dirinya, dia tidak akan sombong atau membanggakan dirinya sendiri. Pasalnya, jika seseorang yang shalatnya rajin, tidak ada fahsak wal munkar.

Gus Mus: Manusia Masuk Surga Bukan karena Amalnya Saja, Tapi... (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Manusia Masuk Surga Bukan karena Amalnya Saja, Tapi... (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Manusia Masuk Surga Bukan karena Amalnya Saja, Tapi...

"Allah itu memasukkan hambanya ke surga bukan karena amalnya saja, tapi karena anugerahnya Allah SWT dan bukan juga karena shalatnya saja," kata Gus Mus saat memberikan pencerahan pada acara peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW dan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1438 Hijriyah di halaman masjid Al-Ikhlas Bluru Permai, Sidoarjo, Sabtu (29/4) malam.

Shalatnya manusia itu bentuk syukur kepada Allah. Kalau ada orang yang tidak shalat, berarti orang itu tidak mengerti syukur kepada Allah.

"Kalau seseorang mensyukuri nikmatnya Allah, selalu mengucap Alhamdulillah, seperti bangun tidur mengucap Alhamdulillah, bisa melihat dan bernafas Alhamdulillah saja. Sebab seseorang yang tidak bisa kencing pun, berapa juta untuk operasi," paparnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gus Mus menegaskan, dalam sehari disediakan waktu lima kali untuk bersyukur kepada Allah. Shalat itu penting, semoga diberikan Allah kemudahan sehingga bisa menjalankan ibadah shalat sebagaimana mestinya dan tidak sombong.

"Kalau bisa sowan ke Allah. Karena Allah itu begitu baiknya. Kalau sudah tua seperti saya ini, sepertiga malam selalu dibangunkan Allah. Hubungan kepada Allah dijaga sehingga hubungan dengan kawula (hamba) Allah terjaga. Kalau hubungan dengan manusia tidak baik berarti hubungannya dengan Allah palsu," pungkasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 28 September 2013

Liberalisasi Politik Menangkan Para Pemodal

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kepemimpinan di Indonesia terjadi pergeseran akibat sistem politik yang liberal. Dalam sistem seperti ini, kepemimpinan bukan lagi sesuatu yang identik dengan karakter kuat. Tetapi, sistem ini menempatkan modal sebagai pemenang.

Liberalisasi Politik Menangkan Para Pemodal (Sumber Gambar : Nu Online)
Liberalisasi Politik Menangkan Para Pemodal (Sumber Gambar : Nu Online)

Liberalisasi Politik Menangkan Para Pemodal

Demikian dinyatakan Ketua Umum PP ISNU Ali Masykur Musa yang lazim disapa Cak Ali dalam sesi seminar bertajuk “Pengaruh Proses Pendidikan dalam Membangun Karakter Kepemimpinan” yang masuk pada rangkaian Konbes IPPNU 2014 di Gedung PP PON Kemenpora Cibubur, Jakarta Timur, Jumat (28/2) sore.

“Siapapun pemimpinnya, kepemimpinan dalam sistem demikian dikendalikan kekuatan modal,” kata Cak Ali di hadapan sedikitnya 200 peserta Konbes IPPNU 2014.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tidak mengherankan kalau kepemimpinan di tingkat nasional maupun daerah cenderung bersifat transaksional dan pragmatis, terang Cak Ali. Akibatnya, kepemimpinan tidak memiliki nyawa. Tongkat kendali tidak berada di tangan pemimpin, tetapi pemodal yang menguasai akses politik dan media.

Model kepemimpinan seperti ini melahirkan oligarki bahkan dinasti di mana para kolega menduduki posisi strategis. Cak Ali menyebut kasus Banten sebagai satu contoh kasus dari sekian banyak kasus di belahan lain Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di akhir, ia mengusulkan peserta untuk membahas seksama model kepemimpinan ideal bagi IPPNU dalam rapat-rapat Konbes. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ini Lakut-nya IPNU Kota Pahlawan

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Di tengah tengah hiruk pikuk suara kendaraan sepanjang Jl. Ahmad. Yani-Wonokromo, Surabaya kader IPNU, menggelar latihan kader utama (Lakut) di Aula Gedung Pimpinan Cabang Muslimat Kota Surabaya.

Ini Lakut-nya IPNU Kota Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Lakut-nya IPNU Kota Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Lakut-nya IPNU Kota Pahlawan

Lakut diikuti 35 peserta perwakilan Pimpinan Anak Cabang serta berbagai Sekolah dan Perguruan Tinggi Kota Surabaya tersebut berlangsung lima hari empat malam ini, dari 28 Mei sampai 1 Juni, akhir pekan lalu.

Lakut bertema “Membumikan Nilai-nilai Karakteristik Islam Indonesia serta Membumikan Kesadaran Kritis Kaum Muda NU“ dibuka Ketua PCNU Kota Surabaya, KH. Saiful Halim. Berbagai materi diajarkan narasumber seperti ke-NU an, ke-ASWAJA an, ideologi global, study gender, networking dan lobbying, geopolitik dan ke-IPNU-an.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Turut hadir, sekaligus sebagai pemateri dalam acara ini, diantaranya KH. Abdurrahman Navis, KH. Salahuddin Azmy atau yang akrab disapa Gus Udin (cucu Kiyai Ridlwan Abdullah), Rekan Khaerul Anam (Ketua Umum PP IPNU), M. Mustafied (mantan Ketua PP IPNU dan Ketua PB PMII), Muhammad Dawud (Sekretaris Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana NU).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

M. Mundir, selaku ketua IPNU Kota Surabaya berharap Lakut ini menjadi bekal bagi para peserta untuk bisa memberikan pengaruh positif dilingkungannya masing-masing sebagai wujud pengabdian terhadap IPNU dan NU.

Kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai ajang silaturrahim bagi para alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kota Surabaya. Para alumni banyak yang datang, seperti H. Farid Afif, Abdul Kholil dan lain-lain. Demikian kata Badruz, salah satu panitia.

Gus Udin mengatakan, IPNU harus benar-benar jadi kader yang militan, demikian juga dengan pengurus, harus  benar-benar ngopeni serta mengawal pengkaderan ini sampai tuntas.

Karena, kata dia, tidak sedikit pula kader IPNU ataupun IPPNU yang sekarang jadi mantan karena sudah beralih ke organisasi lain. “Mereka sangat licik dan memberikan iming-iming fasilitas ke kita,” kata Gus Udin saat memberikan materi ke-NU an.

Ia mengimbau, sudah saatnya para kader muda NU meneruskan perjuangan para sesepuh dalam memperjuangkan dan mengamankan organisasi yang berlambang bola dunia dengan diikat tali tampar yang melambangkan persatuan ini. (Alfian/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 25 September 2013

Batu Prasasti di Lasem Kisahkan Peran Ulama Lawan Penjajah

Rembang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Batu prasasti “Perang Sabil” di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, yang menggambarkan kisah perlawan warga Lasem terhadap penjajah Belanda pada tahun 1751 menyedot perhatian warga.

Hal ini terbukti dengan banyaknya para peziarah yang berziarah di makam para kiai di Lasem berhenti sejenak untuk melihat prasasti yang bercerita tentang perjuangan para ulama yang ada di Rembang, khususnya Lasem, saat itu.

Batu Prasasti di Lasem Kisahkan Peran Ulama Lawan Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)
Batu Prasasti di Lasem Kisahkan Peran Ulama Lawan Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)

Batu Prasasti di Lasem Kisahkan Peran Ulama Lawan Penjajah

Wakhidi, salah satu peziarah asal Jepara, mengaku dirinya termenung ketika membaca sepenggal kalimat yang mengkisahkan KH Ali Baedlawi yang membakar semangat warga Lasem melalui mimbar khotib jumat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kata-kata yang terukir di atas batu prasasti ini memang sangat menyentuh hati, jika kita memang orang yang beriman dan mencintai bumi pertiwi kita. Jujur saya sangat terharu dengan sepenggal kisah yang ditulis dalam batu itu meski saya tak tau persis sosok KH Ali Baedlawi,” ujarnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Salah satu pengurus Masjid Jami Lasem Abdullah Hamid yang juga salah seorang pemerhati sejarah di Lasem menjelaskan, keberadaan batu prasasti ini menjadi pengingat dan simbol bahwa peranan kiai bersama masyarakat bukan isapan jempol belaka.

"Ini bukti nyata yang disebut pahlawan bukan hanya mereka yang mendapatkan gelar pahlawan nasional. Tetapi para kiai dan alim ulama bareng-bareng masyarakat adalah hal yang wajip ditonjolkan kepada generasi yang akan datang tentang arti dan bukti sebuah perjuangan dalam merebut kemerdekaan,” tuturnya.

Dalam batu seberat puluhan ton itu terukir tulisan, “Sarampunge sembahyang jumuwahan ing Masjid Jami Lasem kang diimami Kiai Ali Baedlawi, nuli wewara maring kabeh umat Islam diajak Perang Sabil ngrabasa nyirnakake? kompeni walanda (Babad Lasem).”

Tulisan berbahasa Jawa itu memiliki arti kurang lebih sebagai berikut, “Sesudah selesai sembahyang Jumat di Masjid Jami Lasem, yang diimami Kiai Ali Baedlawi, lalu mengumumkan kepada semua umat Islam, diajak Perang Sabil menumpas dan memusnahkan Kompeni dan Belanda (Babad Lasem).” (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 21 September 2013

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Para penyedia jasa bekam tanduk sapi memenuhi setiap sudut di arena Muktamar Ke-33 NU di Alun-alun Kota Jombang. Bekam tradisional yang digeluti oleh orang-orang asal Madura ini memanen usahanya, sebab cukup banyak pengunjung yang memanfaatkan jasa mereka.

Mansyur, pria asli Madura berusia 35 tahun telah puluhan tahun menyediakan jasa bekam tanduk sapi dari arena ke arena. Keahlian membekam dengan memanfaatkan tanduk sapi ini ia warisi secara turun-temurun dari keluarganya.

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU

“Saya sudah 15 tahun menggeluti dan menyediakan jasa bekam tradisional ini. Awalnya kaku, tapi setelah belajar jadi terbiasa,” ujar Mansyur saat ditemui Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di sela kesibukannya membekam, Ahad (2/8) malam di Alun-alun Jombang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ditanya soal perbedaan manfaat dibanding bekam biasa, Mansyur menjelaskan, bahwa bekam tanduk sapi ini merupakan terapi bekam tradisional yang reaksi khasiatnya dapat langsung dinikmati oleh pengguna.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penuturan Mansyur diamini oleh pengguna jasa bekam bernama Sugiyanto. Pria berumur 33 tahun asal Riau ini menerangkan, bahwa setelah badannya dibekam oleh bekam tanduk sapi, manfaatnya bisa langsung dirasakan.

“Badan saya serasa langsung enteng, enak sekali,” ucapnya.

Bekam jenis ini, selain memanfaatkan tanduk sapi, juga menggunakan minyak tradisional yang dibuat dari akar-akaran. Sedangkan agar tanduk yang digunakan dapat menempel di kulit, mereka menggunakan api dengan memanfaatkan kapas yang dililitkan ke sebuah kawat kecil. Setelah api menyala, api dimasukkan ke lubang tanduk selama dua detik saja, kemudian dengan cepat langsung ditempelkan di kulit.?

Sedangkan untuk dapat memperoleh khasiat dari bekam dari tanduk sapi ini, pengunjung harus merogoh kocek sebesar Rp 50.000 saja. Selama perhelatan Muktamar NU, Mansyur setiap hari bisa melayani hingga 10 orang. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 07 September 2013

Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Semangat menjaga kerukunan umat beragama telah menjadi wujud kepedulian bagi (Barisan Ansor Serbaguna) Banser untuk menghormati pemeluk agama lain agar bisa merayakannya dengan penuh kedamaian dan ketenangan. “Kita peduli pada pemeluk agama lain yang ingin menjalankan ibadahnya dengan penuh ketenangan,”

Demikian dikatakan Komandan Satuan Koordinator Nasional (Kasatkornas) Banser H Tatang Hidayat kepada wartawan di Kantor GP-Ansor, kemarin. Dia menambahkan setidaknya dengan suasana kondusif, bagi pemeluk yang ingin merayakan Natal, mereka bisa berbahagia dan berbagi kasih dengan keluarganya.

Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia

Yang jelas, kata H Tatang, wujud kepedulian Banser semata-mata karena demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik. Bagaimanapun juga kerukunan umat beragama adalah modal dasar terciptanya keutuhan berbangsa dan bernegara.

Lebih jauh kata H Tatang, laporan dan data yang masuk ke Pimpinan Pusat GP Ansor memperkirakan ada sekitar 3015 gereja di seluruh Indonesia yang menjadi perhatian Banser untuk dibantu pengamananya. "Karena itu Banser berkoordinasi dengan aparat kepolisian setemapat, karena aparatlah yang memiliki kewenangan. Banser sifatnya hanya membantu aparat saja," tambahnya.

Ditanya berapa besar jumlah personil banser yang diterjunkan, H Tatang menyatakan jumlah personil Banser yang dikerahkan sekitar 15 ribu orang. Sementara, untuk pengamanan Jakarta saja sekitar 1000 personil dan ditempatkan pada lima wilayah, yakni Jakpus, Jaksel, Jaktim, Jakbar dan Jakut. “Masing-masing dikerahkan 200 orang per wilayah,”katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengamanan Natal oleh Banser ini, kata H Tatang, mulai berlangsung 23- 27 Desember 2006. Sedangkan untuk pengamanan Tahun Baru 2007, dimulai 29 Desember 2006- 2 Januari 2007. “Jumlah kekuatan tetap dan tidak bertambah, kecuali memang ada permintaan dari masing-masing daerah,”tegasnya. (eko/gpa)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote, Budaya, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah