Senin, 27 April 2015

Kapolri Sebut Siyono Salah Satu Panglima Jamaah Islamiyah

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kepala Kepolisian RI Jenderal Polisi Badrodin Haiti mengatakan terduga teroris Siyono merupakan salah satu panglima Jamaah Islamiyah yang menyimpan informasi tentang senjata-senjata milik jaringan tersebut.

"Siyono ditangkap setelah pengembangan dari penangkapan anggota jaringan sebelumnya oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror," kata Badrodin dalam rapat bersama Komisi III DPR di Jakarta, Rabu.

Kapolri Sebut Siyono Salah Satu Panglima Jamaah Islamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolri Sebut Siyono Salah Satu Panglima Jamaah Islamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolri Sebut Siyono Salah Satu Panglima Jamaah Islamiyah

Jamaah Islamiyah, ia menjelaskan, merupakan kelompok yang berbaiat kepada Al Qaida.

Ia menjelaskan bahwa pada Mei 2014 Densus 88 menangkap sembilan tersangka kasus terorisme, yang kemudian dipidana lima hingga 10 tahun penjara.?

"Dari mereka, Densus 88 berhasil mengamankan barang bukti berupa bunker berisi senjata dan bahan peledak, baik pabrikan maupun rakitan, serta mesin pembuat senjata," tuturnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kemudian, Densus 88 menangkap empat orang lagi di Jawa Timur dan berkas perkara mereka sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Agung.?

Dari empat orang inilah Densus 88 mendapatkan informasi yang mengarah kepada Siyono.

Badrodin mengatakan kematian Siyono tidak diinginkan karena menyebabkan Densus 88 kehilangan informasi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Yang bersangkutan menyimpan banyak informasi, termasuk soal senjata api yang sudah diserahkan ke seseorang. Dari Siyono bisa mengungkap jaringan Jamaah Islamiyah lebih dalam," katanya.

Pelanggaran prosedur

Badrodin Haiti mengakui ada prosedur standar operasional yang dilanggar Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror dalam penanganan Siyono, terduga teroris yang tewas setelah ditangkap.

"Anggota yang menangani dan komandannya saat ini sedang diperiksa dan menjalani sidang disiplin karena ada kelalaian," kata Badrodin dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR di Jakarta, Rabu.

Badrodin mengatakan prosedur standar operasional yang dilanggar anggota dalam penanganan Siyono adalah hanya dikawal oleh satu orang dan dalam keadaan tidak diborgol.

Menurut Badrodin, sudah ada peraturan Kepala Polri yang mengatur prosedur pengawalan terhadap terduga teroris, yaitu harus dikawal oleh lebih dari satu orang, dan prosedur tentang pemborgolan.

"Saat itu, Siyono tidak diborgol agar bersikap kooperatif saat dibawa untuk mengembangkan informasi. Namun, saat di mobil dalam perjalanan di perbatasan antara Klaten dan Prambanan, Siyono menyerang anggota yang mengawal hanya satu orang bersama seorang pengemudi," tuturnya.

Badrodin mengatakan perkelahian dan pergumulan di dalam kendaraan tidak bisa dihindari. Siyono terus berusaha memukul, menendang dan merebut senjata milik anggota yang mengawal.

Salah satu tendangan Siyono bahkan mengenai kepala pengemudi sehingga kendaraan berjalan oleng dan sempat menabrak pembatas jalan. Akhirnya anggota yang mengawal berhasil melumpuhkan Siyono yang terduduk lemas.

"Siyono kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY yang kemudian dinyatakan sudah meninggal dunia. Dari hasil pemeriksaan luar, ditemukan memar di kepala sisi kanan belakang, pendarahan di bawah selaput otak dan tulang rusuk patah akibat benda tumpul," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 24 April 2015

Kenapa Gus Dur Membela Minoritas?

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Menteri Sekretaris Negara pada Kabinet Persatuan Nasional Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Bondan Gunawan bercerita, dirinya pernah memotong gembok gereja Yasmin di Bogor yang disegel kalangan tertentu.?

Menurut dia, sebagai seorang muslim, apa yang dilakukakannya bukan membela Kristen, tapi menunjukkan bahwa hal itu adalah kewajiban seorang muslim. Seorang muslim yang ingin mewujudkan rahmatan lil alamin, hak umat lain harus dibela. “Itu dilakukan Abdurrahman Wahid,” katanya sembari mengatakan bahwa Gus Dur karena tindakannya tersebut sering disangka membela Kristen (minoritas).?

Kenapa Gus Dur Membela Minoritas? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Gus Dur Membela Minoritas? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Gus Dur Membela Minoritas?

Menurut dia, pada Rambug Budaya yang diselenggarakan Lesbumi PBNU (29/12) di gedung PBNU, Jakarta tersebut, hal itu perwujudan dari keislaman Gus Dur yang rahmatan lil alamin sehingga ia mau membela kalangan minoritas.?

Apa yang dilakukan Gus Dur, lanjut Bondan, juga tidak berpikir kekuasaan. “Banyak orang ngomong Gus Dur itu punya cita-cita jadi presiden. Salah besar! Gus Dur tidak punya cita-cita jadi presiden. Saya ini temannya yang selalu bersama-sama dia, mengapa kita harus ? membuat Forum Demokrasi, kenapa melawan Soeharto,” jelasnya. ?

Jika seseorang memahami Gus Dur dengan salah (mengejar kekuasaan), maka orang tersebut sesungguhnya akan mencontoh Gus Dur dengan salah.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya mohon kepada generasi muda NU, Anda itu sudah punya panutan paripurna (Gus Dur). Saya tidak ingin apa yang digagas oleh Gus Dur ini ditanggapi keliru oleh pengikut Gus Dur,” lanjutnya.?

Ada sebagian pengikutnya mengatakan, Gus Dur itu seorang plurasis. Bukan! Gus Dur adalah seorang pejuang kebudayaan dunia. “Kalau kita bicara merajut kebudayaan enggak usah jauh-jauh, pelajari karakter Abdurrahman Wahid. Senda guraunya pun bermuatan dengan nilai-nilai kebudayaan yang sangat dalam,” katanya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 21 April 2015

Siapakah yang Disebut Manusia Qurani

Siapakah yang Disebut Manusia Qurani

KH. Muhyiddin Khatib 

Pertanyaan: "Siapakah sebenarnya yang disebut manusia Qurani? Apakah orang yang istiqomah membaca Al-Quran walau tidak mengerti mananya? Bagaimana jika ada orang suka baca Al-Qur’an  akan tetapi dia sering bersikap dan berprilaku yang melangar isi Al-Qur’an ? Sementara ada seseorang tidak begitu sering membaca Al-Qur’an  akan tetapi dia sentiasa mengamalkan isi Al-Qur’an.

Jawab : Terimkasih anda telah bertanya sesuatu yang amat penting semoga kita diberi kemampuan menjadi manusia Qurani lahir batin dan dalam kondisi apapun.

Siapakah yang Disebut Manusia Qurani (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapakah yang Disebut Manusia Qurani (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapakah yang Disebut Manusia Qurani

Manusia Qurani adalah seseorang yang membaca Al-Quran, mengerti mananya dan diberi kemampuan mengamalkannya dalam kehidupan sehari harinya..

(? ?)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Allah SWT berfirman : 

? ? ? ? ? ? ?... 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Apabila Al-Qur’an  dibacakan maka dengarkanlah dan diamlah kalian agar kalian dapat rahmat".

Allah menggunakana kata kerja mabni maful (?) menunjukkan bahwa perintah itu tidak hanya ditujukan pada orang yang mendengarakan bacaan Al-Qur’an  dari orang lain juga, seseorang yang membaca Al-Qur’an  dan yang mendengarkannya wajib istima dan inshot (mendengarkan dan diam dalam arti khusyuk). 

Ada terkadang orang yang baca Al-Qur’an  akan tetapi tidak mendengarkan apalagi menyimak isinya, seperti orang yang memaksakan baca Al-Qur’an  akan tetapi hatinya tidak menyatu dengan apa yang dibacanya, membaca Al-Qur’an  sambil lalu melihat dan mendengarkan berita  gosip dan bahkan ikut berghaibah. Sedang Al-Qur’an  dipegang dan dilihatnya, orang yang demikian sama dengan orang yang mencabik-cabik Al-Qur’an  (dhalimun linafsihi), dia baca Al-Qur’an  tapi kerjaannya sering mengadu domba, cerita kejelekan orang lain,  hatinya tidak dikendalikan dari hasad dan dengki, dan beberapa hal lain yang negatif, orang yang sperti ini walau selalu baca Al-Qur’an  akan tetapi hakikatnya menginjak-nginjak Al-Qur’an, naudzu billahi mindzalik.        

                    

Seorang yang mampu mengamalkan isi Al-Qur’an,  walau tidak selalu baca Al-Qur’an  adalah jauh lebih baik dan sempurna daripada membacanya, tapi selalu melanggar isi Al-Qur’an. Bahkan seseorang yang tidak mengerti banyak isi Al-Qur’an  akan tetapi dia mampu mengikuti petunjuk-petunjuk Al-Qur’an,  jauh lebih baik dari orang yang selalu membacanya akan tetapi selalu melanggar apa yang dilarang Al-Qur’an  dan mengabaikan apa yang diperintahkannya.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia Qurani adalah orang yang mengamalkan isi Al-Qur’an,  sekalipun ia tidak selalu membaca Al-Qur’an. 

Dalam sebuah hadits Aisyah Ummil Mukminin suatu ketika ditanya.

? ? ? ? ? ? ? ? ?.. ? ? ?.

" Akhlaq Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an,"

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori Muslim, dikatakan.

? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Barangsiapa yang membawa ( hafal dan membaca) Al-Qur’an, menghalalkan apa yang dijalankannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya maka akan masuk sorga".

Kemudian ada orang yang prilakunya Qurani padahal dia tidak faham Al Quran, dan bahkan mungkin bisa jadi bukan orang Islam. Perilaku yang begini sungguh merupakan sesuatu yang mulia dari Allah SWT. Di zaman Rasulullah SAW ada seorang perempuan dari Bani Thayyik masuk dalam rangkap orang orang yang ditawan, kemudian perempuan itu menyampaikan kepada Rasulullah SAW,  kalau dia adalah anak si fulan ini dan dia masih kafir. 

Orang tuanya sangat baik akhlaknya, dia murah hati, suka memberi, tidak dendam dan suka membantu orang yang tertindas. Atas kebaikan orang tuanya inilah pada akhirnya Rasulullah melepas anak tersebut karena menghormat atas kebaikan orang tuanya.

? ? ?

* Dosen Mahad Aly, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Nasional, Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 16 April 2015

Hukum Menghajikan Orang Tua oleh Anak yang Belum Haji

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi bahtsul masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, saya berencana menghajikan kedua orang tua karena memang keduanya belum pernah berhaji. Hal ini saya lakukan semata-mata sebagai bakti anak kepada kedua orang tua. Tetapi yang perlu diketahui saya ini juga belum pernah haji. Yang ingin saya tanyakan, apakah menghajikan kedua orang tua terlebih dahulu padahal saya belum pernah haji dapat diperbolehkan? Dan bagaimana hukumnya? Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Syarip/Bandung)

Hukum Menghajikan Orang Tua oleh Anak yang Belum Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Menghajikan Orang Tua oleh Anak yang Belum Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Menghajikan Orang Tua oleh Anak yang Belum Haji

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Menghajikan kedua orang tua tentu merupakan sebuah amal kebajikan dan merupakan salah satu bukti bakti anak kepada keduanya. Sebab, sebagai anak berbuat kebajikan kepada kedua orang tua atau yang dikenal dengan istilah birrul walidain adalah sebuah kewajiban tak tersangkal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sampai di titik ini sebenarnya tidak ada masalah berarti. Masalah kemudian muncul ketika si anak menghajikan kedua orang tuanya, sementara ia sendiri belum berhaji. Biasanya alasan yang dikemukakan adalah lebih karena sebagai penghormatan dan bakti sang anak kepada kedua orang tuanya, alasan lainnya usia keduanya sudah sepuh padahal belum berhaji.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Alasan-alasan ini tampak sangat logis dan mudah dimengerti. Tetapi apakah alasan-alasan ini benar-benar dapat diterima secara nalar. Bisa jadi jawabnya iya, tapi bisa juga tidak.

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam dan diwajibkan bagi setiap mulsim yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh syara’. Sedangkan tindakan sang anak dengan memberangkat kedua orang tuanya terlebih dahulu sebelum dirinya termasuk tindakan memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada pihak lain dalam soal ibadah. ?

Dari sini kemudian terlihat jelas persoalannya, yaitu bagaimana hukum memberangkatkan haji kedua orang tua, sementara pihak yang memberangkatkan belum menunaikan kewajiban haji tersebut, padahal haji adalah ibadah wajib dan termasuk rukun Islam.

Untuk menjawab persoalan ini kami akan menghadirkan salah satu kaidah fikih yang termaktub dalam kitab Al-Asybah wan Nazhair. Bunyi kaidah tersebut adalah “bahwa mendahulukan pihak lain dalam persoalan ibadah adalah makruh.”

? ? ? ?

Artinya, “Mendahulukan pihak lain dalam persoalan ibadah adalah makruh,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha`ir, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1403 H, halaman 116).

Kaidah ini mengandaikan bahwa mendahulukan orang lain dalam persoalan ibadah dihukumi makruh. Dengan kata lain, sebaiknya tindakan mendahulukkan ini dihindari. Berbeda dengan sebaliknya, yaitu mendahulukan atau lebih mementing orang lain daripada diri sendiri dalam hal yang berkaitan dengan non-ibadah maka sangat dianjurkan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dan mendahulukan orang lain dalam persoalan selain ibadah itu sangat baik. Allah SWT berfirman, ‘Dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas dirinya sendiri, padahal mereka juga memerlukan,’ (Surat Al-Hasyr ayat 9),” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha`ir, halaman 116).

Oleh sebab itu, maka Sulthanul Ulama` Syekh Izzuddin Abdus Salam memandang, tidak boleh mendahulukan orang lain dari dirinya sendiri dalam soal ibadah. Sedangkan argumentasi yang dikemukakan beliau adalah bahwa esensi atau tujuan ibadah pada dasarnya untuk mengagungkan Allah SWT. Karenanya, ketika ada seseorang yang mendahulukan atau mengutamakan pihak lain ketimbang dirinya dalam soal ibadah, maka orang tersebut dianggap mengabaikan pengagungan kepada-Nya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Syekh Izzuddin berkata, tidak boleh mengutamakan orang lain sementara dirinya membutuhkan dalam hal ibadah. Karenanya, tidak boleh mengutamakan orang lain dalam hal air untuk bersuci, menutup aurat, dan shaf pertama dalam shalat jamaah. Sebab, esensi dari ibadah adalah mengagungkan Allah SWT. Oleh sebab itu barangsiapa yang lebih mengutamana orang lain ketimbang dirinya dalam soal ibadah, maka ia telah mengabaikan pengagungan kepada-Nya,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha`ir, halaman 116).

Jika penjelasan ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawabannya adalah tindakan seorang anak yang menghajikan kedua orang tua sementara ia sendiri belum pernah berhaji adalah boleh tetapi makruh. Sebab tujuan ibadah adalah pengagungan kepada Allah SWT.

Hal ini selaras dengan kaidah di atas yang menyatakan, “Bahwa mendahulukan pihak lain dalam persoalan ibadah adalah makruh.” Karena dihukumi makruh, maka sebaiknya tidak perlu dilakukan. Yang paling baik adalah berhaji sendiri baru kemudian menghajikan kedua orang tuanya.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 05 April 2015

Presiden Terima PBNU Terkait Rencana Muktamar

Bogor, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Presiden Joko Widodo Kamis(26/2) siang menerima Pengurus Besar Nahdatul Ulama di Istana Bogor. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu, Presiden menerima laporan mengenai rencana penyelenggaran Muktamar NU pada Agustus mendatang.

Presiden Terima PBNU Terkait Rencana Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Terima PBNU Terkait Rencana Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Terima PBNU Terkait Rencana Muktamar

"Presiden sangat menyambut baik dan mendukung dan mendoakan muktamar sukses dan berhasil, keputusan-keputusannya bermanfaat untuk bangsa dan umat Islam," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada wartawan usai diterima Presiden di Kompleks Istana Bogor.

Said Aqil Siroj mengatakan Presiden selain menyambut baik juga mengatakan banyak hal yang bisa dibicarakan mengenai kebangsaan dan juga kemajuan umat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Harapan beliau NU bisa menjadi benteng Islam yang moderat, Islam yang ramah dan santun," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Said Aqil menjelaskan Muktamar akan dilangsungkan di empat pesantren masing-masing Tebu Ireng, Tambak Beras, Denanyar, dan Rejoso.

Dia menjelaskan, target dari kegiatan tersebut adalah mengembalikan dan mengokohkan kembali peradaban Islam sebagai pondasi keberlangsungan NKRI.?

"Jadi Islam yang berbudaya yang beradab," katanya.

Menurutnya, juga ada pandangan mengenai gerakan radikal, NU mengatakan pihaknya sangat anti hal tersebut.

"Kita tegas dari dulu bahwa NU tegas anti radikalisme. Siapapun yang menggunakan kekerasan atas nama agama Islam salah," tegas Said Aqil Siroj.

Menurut ketua Umum PBNU, sejumlah negara Islam meminta pada Presiden agar Indonesia berada di garis depan dalam melawan ISIS dan melawan radikalisme.

Said Aqil Siroj didampingi oleh Ketua Panitia SC Muktamar Slamet Effendy Jusuf dan juga Wakil Ketua Umum PBNU Asad Said Ali. (antara/mukafi niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 01 April 2015

NU Inginkan Wibawa Kesultanan Nusantara Dibangkitkan Lagi

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama (NU) menginginkan wibawa kesultanan dikembalikan sebagaimana dahulu kala. Kesultanan atau keraton merupakan elemen penting terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

NU Inginkan Wibawa Kesultanan Nusantara Dibangkitkan Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Inginkan Wibawa Kesultanan Nusantara Dibangkitkan Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Inginkan Wibawa Kesultanan Nusantara Dibangkitkan Lagi

Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam pembukaan Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jatim di Pondok Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo, Jum’at (31/5) malam. 

Said Aqil menyampaikan keinginan untuk membangkitkan kembali keraton saat membahas peran dan eksistensi pesantren. Dikatakannya, sejarah mencatat sultan dengan wali (ulama) merupakan satu kesatuan. Secara kelembagaan itu berarti menyatunya antara kesultanan atau keraton dengan dunia pesantren yang terjalin mulai Samudera Pasai di Aceh, di Jawa hingga Ternate Todeore di Maluku dan Papua.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Secara berangsur hubungan itu renggang bahkan terpisah, berdiri sendiri tanpa saling mengisi, bermula sejak zaman Belanda dan berlangsung hingga zaman orde baru. Padahal mulanya mereka sekeluarga. Dalam keterpisahan itu keduanya mengalami kemerosotan. Tetapi pihak kesultananlah yang paling merasakan akibatnya,” katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Kang Said, sekarang ini hanya tingga dua atau tiga kesultanan yang masih hidup dan berkuasa, yang lain tinggal nama, ataupun dihidupkan kembali tetapi tidak punya rakyat, tidak punya tentara. 

“Bayangkan dengan dunia pesantren, ketika ditindas Belanda dan direpresi orde baru, tetapi masih terus hidup. Saat ini umumnya pesantren yang jumlahnya ribuan itu ada yang memiliki santri dua ribu hingga lima ribu orang. Bahkan organisasi kepesantrenan masih memiliki kekuatan para-militer terlatih yang jumlahnya bisa ribuan orang. Hal yang sama tidak dimiliki oleh Kraton atau kesultanan manapun di Nusantara,” katanya.

Ketua Umum mengungkapkan, belakangan ini keraton baru menyadari kelemahan tersebut, bersamaan dengan kunjungan para Sultan Nusantara ke NU. “Karena itu mereka mulai merasa pentingnya kerjasama dengan organisasi kepesantrenan seperti NU, sebagai upaya mengembalikan wibawa kesultanan sebagaimana dahulu kala,” katanya.

Dengan ketemunya kembali dua elemen penting Nusantara yaitu antara kesultanan dan pesantren diharapkan Indonesaia bisa menemukan jatidirinya kembali. Karena keduanya sebenarnya pemangku utama budaya Nusantara yang berpegang teguh pada nilai tradisi dan norma agama, yang ini telah tertanam dan terjalin sejak berabad yang lalu yang telah dirintis oleh para wali sejak datangnya Islam di Nusantara. 

“Bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri, kembali pada nilai-nilai Nusantara menjadi sangat mendesak saat ini, sebab apa yang dirumuskan dalam sistem politik dan ketatanegaraan kita seperti Pancasila adalah merupakan produk dari falsafah dan budaya Nusantara. Karena itu nilai kenusantaraan dan kepesantrenan perlu terus digali bersamaan dengan proses menemukan jati diri bangsa ini,” tambahnya.

Selain para pengurus teras NU Jatim, pembukaan Konferwil NU Jatim dihadiri sejumlah tokoh antara lain sesepuh NU KH Muchit Muzadi dan KH bashori Alwi, Katib Syuriyah PBNU KH Yahya Staquf dan KH Kafabihi Mahrus, Mantan Ketua MK Mahfud MD, Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa, Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim Soekarwo dan Saifullah Yusuf, dan delegasi pengurus NU dari 44 cabang serta para kiai dari berbagai pondok se-Jatim.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Hikmah, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah