Sabtu, 03 Februari 2018

Ansor Genuk Bagikan 6000 Ta’jil

Semarang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Genuk, Semarang, Jawa Tengah membagikan 6000 ta’jil kepada pengguna jalan di perempatan pasar Genuk Rabu (24/7). 6.000 ta’jil ini didapatkan dari anggota Ansor Banser, gerakan NU di wilayah Genuk, serta masyarakat yang peduli terhadap gerakan pemuda.

Ansor Genuk Bagikan 6000 Ta’jil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Genuk Bagikan 6000 Ta’jil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Genuk Bagikan 6000 Ta’jil

Puluhan anggota Ansor dan IPNU-IPPNU terun ke jalan untuk membagikan 6.000 ta’jil, sedangkan pasukan banser dan pihak kepolisian berusaha menertibkan dan mengatur lalu-lintas jalan. Kondisi jalan sempat terjadi macet, namun dapat diatasi dan terkendali dengan pengamanan pihak kepolisian dan Banser.

Muhammad Sodri selaku Ketua Ansor Genuk mengatakan, kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan kegiatan rutin tahunan sebagai bentuk perwujudkan memuliakan bulan suci Ramadhan. Ia kemudian mengutip sabda Rasulullah, barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, memberikan ta’jil merupakan rangkaian kegiatan GP Ansor Genuk yang bertajuk Kegiatan Amalan Ramadhan 1434 H. Sebelumnya menggelar acara Munajat Ramadhan bersama Habiburrahman El-Shirazy, dan pada tanggal 4 Agustus akan ada pengajian umum dan santunan anak yatim dan dhuafa serta khotmil Qur’an 30 Juz bil Ghoib bersama Jam’iyyah Qurra’ Wal Khufad se-Kecamatan Genuk.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kapolsek Genuk Kompol Hendry Yulianto mengatakan, pihak kepolisian sangat mengaspresiasi kegiatan GP Ansor Genuk yang peduli dengan pengguna jalan pada khususnya program yang menyentuh kemasyarakatan seperti santunan anak yatim dan dhuafa. Organisasi kemasyarakatan selayaknya peduli terhadap masyarakat, bukannya meresahkan masyarakat.

“Kami siap bekerja sama dengan ormas manapun, selama kegiatan tersebut baik dan menyentuh wilayah kemasyarakatan. Dan saya berharap kepada GP Ansor Genuk untuk tetap menjalin kerja sama dengan kami, dan tidak menutup kemungkinan untuk berkerjasama pada bidang lain seperti bidang hukum maupun ekonomi,” tuturnya.

Kegiatan tersebut adalah kerja sama GP ANsor dengan Polsek Genuk dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) serta Ikatan Pelajar Putri Nahdalatul Ulama (IPPNU) se-Kecamatan Genuk.

Redaktur     : Abdullah ALawi

Kontributor : Lukni Maulana

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 02 Februari 2018

Masyarakat Jember Sesaki Masjid, Berburu Lailatul Qadar

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, Masjid Jami’ Kabupaten Jember, Al-Baitul Amin dipenuhi oleh jamaah, khususnya pada malam-malam tanggal ganjil. Ini tentu tak lepas dari pemahaman umat Islam bahwa Lailatul Qadar diperkirakan turun pada tanggal ganjil.

Menurut salah seorang pengurus Takmir Masjid Jami Al-Baitul Amin, Ansori, malam tanggal 21 kemarin, masjid yang berkapasitas 8000-an orang itu penuh dengn jamaah. Bahkan sampai meluber hingga ke masjid Jami’ lama. Mereka datang dini hari dan langsung melakukan shalat malam berjamaah, dengan imam KH Muhammad Hasin. “Kalau malam genap jamaah juga banyak, tapi tidak sebanyak malam tanggal ganjil,” ujarnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di Jember, Senin (27/6).

Masyarakat Jember Sesaki Masjid, Berburu Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Jember Sesaki Masjid, Berburu Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Jember Sesaki Masjid, Berburu Lailatul Qadar

Yang menarik, lanjut Ansori, jamaah yang memburu Lailatul Qadar tidak hanya datang dari kota dan sekitar masjid, namun juga banyak yang berasal dari desa nan jauh dari kota. Bahkan ada sepasang suami istri yang berasal dari Kecamatn Ajung dengan mengayuh sepeda pancal. “Sampai di masjid ya keringetan. Tapi mereka happy. Mungkin karena senang kumpul-kumpul dengan jamaah lain yang satu tujuan, mengejar lailatul qadar,” ujar Dosen IAIN Jember tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Jami’ Al-Baitul Amin, KH Muhammad Hasin mengatakan bahwa pihaknya sudah memprogram qiyamul lail (ibadah malam) berjamaah sejak tanggal 26 Mei 2016 hingga menjelang Lebaran. Sejak memasuki bulan Ramadhan, jamaah qiyamul lail, tambah banyak. Lebih-lebih memasuki 10 malam terakhir Ramadhan.

“Jadi seperti kata KH Ahmad Shiddiq, bahwa yang dimaksud istiqamah itu, minimal kita melaksanakan ibadah selama 40 hari. Jadi sejak dimulai hingga Lebaran itu lebih dari 40 hari,” jelasnya.

Ia menambahkan, “puncak” qiyamul lail akan dilaksanakan tanggal 27 Ramadhan. Di malam tersebut, Kiai Hasin mengaku akan mengundang tokoh masyarakat, para kiai, dan pejabat yang tergabung dalam Forum Pimpinan Darah (Forpimda) Kabupaten Jember. “Kita ingin pemangku Jember dapat bersama-sama bermunajat kepada Allah sekaligus menyongsong malam lailatul qadar,” ucapnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gedung PBNU Siap Semarakkan Ramadhan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Sebagimana tradisi yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu, dalam menyambut Ramdhan kali ini, di Gedung PBNU juga digelar berbagai acara untuk menyemarakkan Ramadhan.

Beberapa kegiatan yang akan digelar diantaranya adalah pesantren Ramadhan bagi dhuafa wal masaakin. Acara ini direncanakan dapat diikuti sekitar 100 orang. Diharapkan peserta berasal dari anak-anak lingkungan sekitar gedung PBNU. Terdapat sekitar 600 warga yang terdiri dari 6 RT.

Para santri tersebut akan dididik tentang cara-cara ibadah yang benar, keimanan kepada Allah dan juga masalah etika dan moral sehingga dapat memberi bekal bagi kehidupan mereka dimasa depan.

Sebagaimana lazimnya kegiatan Ramadhan, buka puasa bersama juga akan dilaksanakan di gedung PBNU. Dari pengalaman tahun-tahun lalu, setiap hari terdapat sekitar 75-100 orang yang berbuka di musholla gedung PBNU di lt 1. Mereka merupakan warga sekitar dan warga NU yang ingin melaksanakan sholat tarawih.

Sholat tarawih akan dilakukan dengan 21 rakaat dan akan selalu menyelesaikan 1 juz al Qur’an sehingga dalam sebulan akan dapat menghatamkan 1 kali al Qur’an. Karena itulah, imam sholat tarawih akan ditunjuk mereka yang hafal al Qur’an yang berasal dari PTIQ.

Selanjutnya juga akan dibagikan zakat fitrah bagi masyarakat sekitar gedung PBNU. Pada hari raya Idul Fitri, juga dilaksanakan sholat Ied bersama di halaman.

Semua kegiatan tersebut melihatkan LDNU, karyawan gedung dan juga para penyewa gedung yang ingin beramal kebajikan dalam menyemarakkan Ramadhan.(mkf)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gedung PBNU Siap Semarakkan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung PBNU Siap Semarakkan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung PBNU Siap Semarakkan Ramadhan

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah 



Saat memasuki waktu Shalat Maghrib hari ini, Ahad (29/10), di stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, akan lain dari biasanya. Di stadion, azan akan berkumandang, kemudian para penonton, pemain sepak bola Liga Santri Nusantara akan shalat berjamaah.  

Menurut Ketua RMINU KH Abdul Ghofarrozin, shalat berjamaah itu memang direncanakan sejak jauh-jauh hari pada partai puncak atau grand final Liga Santri Nusantara. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pesepak-pesepak bola asal pesantren tidak meninggalkan kewajiban pokok ketika berkecimpung di dunia olahraga.  

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA

“Kita akan shalat berjamaah terlebih dahulu sebelum bermain sepak bola dan menontonnya,” katanya di Media Center Liga Santri Nusantara, Bandung.  

Sekretaris RMINU Habib Soleh, diperkirakan warga yang akan mengikuti shalat berjamaah itu sekitar 20-25 ribu orang. Bagi penonton yang belum memiliki wudlu, panitia LSN bekerja sama dengan PDAM menyediakannya di luar lapangan. 

Partai final Liga Santri Nusantara mempertemukan kesebelasan Darul Huda Ponorogo (Jawa Timur) dan Darul Hikmah Cirebon, Jawa Barat. Mereka akan bertanding pada pukul 19.00. (Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda melihat keberadaan organisasi masyarakat (ormas) radikal yang sering melakukan kekerasaan dan anti-Pancasila telah menjadi perhatian publik. Kritik banyak ditujukan kepada? pemerintah dan penegak hukum yang lamban dan tidak tegas untuk membubarkan ormas radikal dan anti-Pancasila, meski? perangkat hukum yang ada selama ini dinilai cukup memadai.

Berdasarkan kajian bidang hukum PCINU Belanda, permasalahan ini telah berlangsung sejak Reformasi bergulir karena adanya keterbukaan dan kebebasan untuk membentuk organisasi, namun tindakan kekerasan yang dilakukan oleh ormas terus dibiarkan oleh pemerintah terdahulu sehingga membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.

PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi

Namun pemerintah memandang ada hambatan regulasi untuk menindak ormas radikal yang Anti-Pancasila. Melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan, Pemerintah berusaha menjawab beberapa hal yang dianggap kurang tegas dalam prosedur pembubaran ormas.

Permasalahan krusial dari Perppu ini diantaranya perluasan spektrum pengertian ormas anti-Pancasila, penghapusan prosedur pembubaran ormas melalui peradilan, dan menambahkan ancaman pemidanaan bagi ormas dan anggota ormas, seperti rilis PCINU Belanda kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan memperluas spektrum pengertian ormas anti-Pancasila, Perppu ini memberikan penguatan legitimasi kepada pemerintah untuk melakukan pembubaran ormas yang tidak sejalan dengan ideologi negara. Namun sangat disayangkan penghilangan 17 (tujuh belas) pasal tentang prosedur pembubaran melalui proses peradilan menjadikan hak konstitusional warga negara untuk melakukan pengawasan terhadap potensi tindakan sewenang-wenang pemerintah menjadi hilang. Ini berimplikasi pada kemungkinan terlanggarnya hak berserikat dan berkumpul sebagai hak konstitusional.

Yang lebih mengkhawatirkan, kriminalisasi Ormas dengan mencantumkan pasal-pasal pemidanaan pada Perppu yang cenderung abstrak dan multitafsir berpotensi menyasar ormas apapun yang dinilai rezim penguasa bertentangan dengan? Pancasila. Selain itu perumusan unsur pertanggungjawaban pidana yang? abstrak menjadikan siapapun pengurus ormas dapat dipidana karena pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anggota suatu ormas tanpa sepengetahuan pengurusnya. Perumusan pemidanaan dalam Perppu dengan mengaburkan tindakan perorangan (oknum) dan tindakan ormas sebagai lembaga dapat melanggar hak kebebasan untuk berpendapat dan berekspresi yang dijamin oleh UU Hak Asasi Manusia dan UUD 1945.

Menyadari beberapa fakta di atas PCINU Belanda berpandangan bahwa Peppu ini secara konstitusional sangat rentan untuk dibatalkan karena bertentangan dengan UUD 1945. PCINU Belanda berpendapat bahwa sejatinya Pemerintah tetap dapat menindak ormas radikal yang melakukan kekerasan dan bertentangan Pancasila melalui perangkat hukum yang telah ada baik melalui prosedur administratif maupun pidana.

Bahkan yang harus jadi perhatian serius dari pemerintah adalah menjamin bahwa aparat penegak hukum serta aparatur negara baik sipil maupun militer bersikap tegas dan tidak akomodatif terhadap kehadiran ormas yang mengganggu ketertiban umum, kata pengurus harian PCINU Belanda yang berkantor di Heeswijkplein 170, 2531 HK Den Haag, Belanda.

Rilis ini ditandatangani oleh Ketua PCINU Belanda Ibnu Fikri dan Sekretaris PCINU Belanda Fahrizal Yusuf Affandi. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Kiai, Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

HDKB Gelar Pengajian dan Sosialisasi Pilpres

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Himpunan Disabilitas Kabupaten Bojonegoro (HDKB) mengadakan pengajian dan sosialisasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Kegiatan tersebut diadakan di Dusun Medoro Desa Sumberharjo Kecamatan Sumberjo Kabupaten Bojonegoro, Rabu (25/6/2014).

Ketua HDKB Sanawi mengatakan, kegiatan pengajian umum ini dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, serta sosialisasi Pilpres karena mendekati pemilihan orang nomor satu di Indonesia.

HDKB Gelar Pengajian dan Sosialisasi Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)
HDKB Gelar Pengajian dan Sosialisasi Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)

HDKB Gelar Pengajian dan Sosialisasi Pilpres

"Menjadi ajang silaturrohim sesama dan juga memberikan pembelajaran terhadap mereka yang berkebutuhan khusus, karena juga mempunyai hak yang sama," jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kegiatan tersebut selain dihadiri anggota HDKB dan masyarakat sekitar, juga dihadiri Kang Prabu Malopati sebagai ceramah dan perwakilan KPU maupun Panwaslu. Serta dihadiri pula pihak Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Sumberrejo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ditambahkan, ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah mendukung terlaksananya kegiatan tersebut. Sehingga berjalan sesuai rencana dan memberikan manfaat kepada semuanya.

"Terima kasih kepada semuanya, sehingga kegiatan berjalan maksimal dan bermanfaat bagi semuanya," pungkasnya.

Tampak para anggota HDKB yang mempunyai kebutuhan khusus, nampak bersemangat dan khusu mengikuti kegiatan.[M. Yazid/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nusantara, RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sayid Ustman bin Yahya Petamburan

Kalau ada kitab tua sedang dibaca lansia berpakaian santri di Jakarta, maka kitab itu tidak lain adalah karya Sayid Usman bin Yahya. Karya-karya Sayid Usman sangat populer di kalangan masyarakat Jakarta. Karya yang mengajarkan doa, fiqih, tajwid, dan juga aqidah, menjadi panduan praktis pengamalan agama Islam untuk masyarakat.

Karyanya yang dicetak dan beredar di kalangan masyarakat luas, umumnya berbahasa Arab Melayu atau Arab Pegon. Doa-doa dan kutipan berbahasa Arab juga umumnya diterjemahkan dengan terjemahan gantung yang juga berbahasa Arab Melayu.

Sayid Ustman bin Yahya Petamburan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sayid Ustman bin Yahya Petamburan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sayid Ustman bin Yahya Petamburan

“Sayid Usman itu orang alim. Kalau dia menulis kitab Sifat Dua Puluh itu, tentunya dia sudah membaca kitab-kitab yang besar-besar. Untuk mengajarkan kitab-kitabnya, seorang guru pun harus juga sudah membaca atau mengaji kepada guru-guru yang lebih alim,” kata KH Hasbullah (87) Pondok Pinang, Kebayoran Lama.

Awal Desember 1822 M, Sayid Usman lahir di Pekojan. Ayahnya bernama Sayid Abdullah bin Aqil bin Umar bin Yahya. Ibunya bernama Aminah binti Syekh Abdurrahman Al-Mishri yang tidak lain salah seorang ulama terkemuka di zamannya. Sejak kecil ia gemar menuntut ilmu. Menginjak usia remaja, ia menunaikan ibadah haji di Mekkah lalu bertahan di sana selama 7 tahun. Di sana ia mengaji kepada ayahnya sendiri dan mufti Mekkah bermadzhab Syafi’i Sayid Ahmad Zaini Dahlan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada 1848 M Sayid Usman bergerak menuju Hadhramaut. Di negeri ini ia berguru kepada Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahar, Syekh Abdullah bin Husein bin Thahir, dan Habib Alwi bin Saggaf Al-Jufri. Lepas dari Hadhramaut, ia melanglang buana mengejar ilmu ke sejumlah negeri. Sayid Usman mengunjungi antara lain Mesir, Tunis, Istambul, Persia, dan Syiria, (Ulama Betawi, Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20, Ahmad Fadli HS).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada 1862 M, Sayid Usman tiba di tanah air. Belanda mengangkatnya sebagai mufti di Jakarta, menggantikan Syekh Abdul Ghani yang usianya semakin lanjut. Kecuali itu, ia diangkat Belanda sebagai adviseur honorer untuk urusan Arab di kantor Voor Inlandsche Zaken pada 1899 M. Di sini ia sebagai penasihat pemerintah Kolonial untuk urusan agama, bergaul dengan Snouck Hurgronye, KF Holle, dan LWC Van den Berg.

Atas jasanya, pemerintah kolonial Belanda menyematkan bintang penghargaan sebagai tanda jasa pemerintah terhadapnya. Sayid Usman juga mendapat honor bulanan sebesar 100 gulden, hanya 1/7 dari gaji yang diterima Snouck.

Selama hidup, Sayid Usman aktif berdakwah melalui media ceramah dan menulis. Ia membuka majelis hadir di kediamannya di bilangan Petamburan. Sementara produktivitasnya tidak perlu disangkal. Karyanya banyak sekali dicetak dan menjadi rujukan Bergama masyarakat Jakarta karena menggunakan bahasa masyarakat, Arab Melayu.

Kecuali itu, Sayid Usman tidak jarang terlibat polemik terbuka dengan ulama lain misalnya dengan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau perihal dua masjid di Palembang. Polemiknya diwujudkan dalam bentuk sebuah karya untuk menjawab atau mementahkan pandangan ulama lain dengan dasar argumentasi yang kuat.

Sayid Usman sendiri dikenal sebagai seorang faqih dan mutakallim yang memandang segala sesuatunya dari sudut disiplin Fiqih dan Ilmu Kalam. Untuk itu, sikapnya terhadap tarekat cenderung ketat. Ia hanya mengakui tarekat-tarekat muktabarah yang sesuai syariah saja seperti tarekat yang diajarkan Syekh Junaid Al-Baghdadi, Sadatul Alawiyin, Ghazaliyah, Qadiriyah, Naqshabandiyah, Khalwatiyah, juga Rifa’iyah.

Menyadari rendahnya pemahaman agama umumnya masyarakat, Sayid Usman melarang pelajaran taswuf di kalangan awam. Pasalnya dapat membawa kemudaratan atau salah paham. Begitu juga dengan ilmu Kalam. Dengan mengutip Az-Zawajir karya Ibnu Hajar, Ia dalam Sifat Dua Puluh-nya melarang keras orang belajar ilmu Kalam terlampau tinggi karena khawatir tergelincir paham.

Namun demikian Sayid Usman mengambil sikap penolakan nyata terhadap paham Wahabi dan penyebaran pahamnya. Menurut Fadli HS, Sayid Usman juga sangat anti gerakan Wahabi dan menganggap gerakan itu sangat radikal. Dalam bukunya Mustika Pengaruh buat Menyembuhkan Penyakit Keliru, ia berpendapat bahwa kaum Wahabi adalah paling berdusta.

Sayid Usman sangat berjasa dalam peningkatan pemahaman masyarakat Betawi khususnya terhadap ilmu syariah melalui karya tulisnya yang berbahasa Arab Melayu. Tidak kurang dari 120 karyanya dicetak dan disebarluaskan. Sebagian darinya berbahasa Arab. Karyanya menyentuh pelbagai isu yang berkembang di masyarakat mulai dari kisah Rasul, aqidah, fiqih haji, fiqih sembahyang, adab di rumah tangga, kumpulan doa keseharian, tajwid, gramatika, Falak, kamus, geografi, silsilah para nabi, hukum perkawinan, silsilah Alawiyah, tarekat-tarekat muktabarah, dan isu lainnya.

Karyanya seperti Sifat Dua Puluh, Babul Minan, Maslakul Akhyar, Irsyadul Anam hingga kini masih dibaca oleh para orang tua di Jakarta. Bahkan kitab Zuhral Basim yang memuat kisah hidup Nabi Muhammad SAW hingga dibaca setiap kali peringatan maulid atau Isra di langgar-langgar di Jakarta. Muridnya yang kemudian menjadi ulama besar ialah Guru Mughni Kuningan dan Habib Ali al-Habsyi Kwitang.

Sayid Usman dipanggil Allah pada pertengahan Januari 1914 M dan dikebumikan di TPU Karet. Pada masa Orde Baru makamnya kena gusur. Pihak kerabat memindahkannya ke sisi selatan masjid Al-Abidin, Sawah Barat, Pondok Bambu, Jakarta Timur. (Alhafiz Kurniawan)

*) Tulisan ini diambil dari buku 100 Ulama Nusantara terbitan Lembaga Takmir Masjid PBNU, tahun 2015.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah