Selasa, 18 Juli 2017

Cari Pemimpin Amanah, NU Harus Aktif pada Pemilu 2014

Semarang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah H Abu Hapsin Umar mengatakan, NU merupakan bagian dari masyarakat politik yang mempunyai struktur lengkap dari tingkat atas sampai bawah. Oleh karena itu sudah seharusnya warga NU harus berpartisipasi aktif dalam pemilu.

Ia menyampaikan hal ini saat membuka sarasehan “Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pemilu 2014” di Hotel Muria Semarang, Kamis (19/12). Kegiatan hasil kerjasama PWNU dengan KPU Jawa Tengah ini dihadiri? seratusan? peserta dari perwakilan lembaga-lembaga NU, seperti NU, IPNU, IPPNU, GP Ansor, LP Maarif NU, Muslimat NU, Fatayat NU, Banser, dan lembaga-lembaga lain.

Cari Pemimpin Amanah, NU Harus Aktif pada Pemilu 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Cari Pemimpin Amanah, NU Harus Aktif pada Pemilu 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Cari Pemimpin Amanah, NU Harus Aktif pada Pemilu 2014

Lebih lanjut Abu Hapsin menyampaikan bahwa tanggung jawab seorang muslim adalah mendirikan kepemimpinan yang amanah. Pemilu merupakan bagian dari kegiatan mendirikan kepemimpinan. Ia berharap setelah kegiatan ini peserta yang semuanya merupakan perwakilan di masing-masing lembaga NU ini menularkan virus-virus positif tentang keuntungan terlibat aktif dalam pemilu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Wahyu Setiawan? dari KPU Jateng dalam paparan materinya menyatakan bahwa NU memiliki peran yang sangat strategis. Oleh karena itu KPU Jateng perlu menggandengnya agar partisipasi masyarakat dalam pemilu nanti meningkat.

“Partisipasi masyarakat dalam pesta demokrasi kemarin (Pilgub) hanya sekitar 54%. Pemilu 2014 merupakan momen yang sangat penting, karena agendanya adalah pergantian rezim. Karena itu peran masyarakat dalam pemilu nanti sangat menentukan nasib bangsa lima tahun mendatang,” ungkap Wahyu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain narasumber dari KPU, peserta sarasehan juga mendengarkan materi pendidikan politik? dari Dr Budi Setiyono, pakar politik Universitas Diponegoro yang juga Wakil Ketua PWNU Jateng.? Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Sodaqoh juga? melengkapi wawasan peserta sarasehan mengenai Pemilu dalam Perspektif Fiqih. (Muslihudin el Hasanudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 17 Juli 2017

Jangan Jadikan Shalat Istikhoroh untuk Memaksa Allah

Pringsewu, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kehidupan manusia di dunia penuh dengan harapan atau keinginan yang terkadang ditempuh dengan berbagai macam cara. Harapan dan keinginan tersebut jika tidak diatur dengan baik akan membawa kita kehilangan kontrol. Alih-alih mendapatkan keinginan yang diharapkan, justru malah akan menemukan masalah.

"Urusan atau keinginan baik itu kecil maupun besar hendaknya tidak terlepas dari minta petunjuk kepada Allah," demikian pesan Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi saat memberi materi tafsir pada kegiatan rutin Ngaji Ahad (Jihad) Pagi di Gedung NU setempat, Ahad (17/4).

Hal tersebut merupakan penjelasan hubungan ayat ke 5 dan 6 dari surat Al Fatihah. Ayat 5 mengandung permintaan hamba kepada Allah SWT, sedangkan ayat 6 merupakan jawaban dari permintaan tersebut.

Jangan Jadikan Shalat Istikhoroh untuk Memaksa Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Jadikan Shalat Istikhoroh untuk Memaksa Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Jadikan Shalat Istikhoroh untuk Memaksa Allah

Dalam meminta kepada sang khaliq, lanjutnya dia, manusia diberikan cara untuk mendapatkannya. "Allah telah memberikan solusi dengan shalat istikhoroh yaitu shalat meminta yang terbaik bagi kita," terangnya.

Namun ia mengingatkan, jangan sampai shalat istikhoroh diniatkan sebagai alat untuk memaksa Allah SWT memberikan yang terbaik untuk kita. "Jangan memaksa Allah SWT dengan shalat istikhoroh yang diawali dengan nafsu yang telah menguasai diri. Lakukan shalat istikhoroh dengan niat tulus serta memasrahkan diri kepada Allah," jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Hasil serahkan kepada yang berhak memberi. Jangan mentargetkan semua keinginan kita akan dipilihkan yang terbaik dan dikabulkan semua," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terkait HTI, Pemkab Jember Cari Masukan Ormas

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Seolah berpacu dengan waktu, solusi penanganan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terus dicari seiring kian menguatnya rentetan penolakan masyarakat terhadap keberadaan ormas yang ingin mendirikan khilafah islamiyah itu. Itulah sebabnya, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Jember menggelar rapat di ruang Bamus, ? gedung DPRD Jember, Selasa (10/5).?

Dalam kesempatan tersebut hadir Bupati Jember, Faida, Ketua DPRD Jember, Thoif Zamroni, Wakil Ketua DPRD Jember, Ayub Junaidi dan NNP Martini. Kapolres Jember, Sabilul Alif dan perwakilan Kodim 0824 juga hadir.

Terkait HTI, Pemkab Jember Cari Masukan Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)
Terkait HTI, Pemkab Jember Cari Masukan Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)

Terkait HTI, Pemkab Jember Cari Masukan Ormas

Satu-satunya agenda yang dibahas dalam rapat tersebut adalah penyikapan terhadap keberadaan HTI Jember. Namun setelah agak lama berdiskusi, tak ada keputusan yang melegakan.?

Di ujung acara, Ayub Junaidi mengusulkan agar Pemkab Jember mengundang ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia ? dan sebagainya untuk “mencari” masukan seputar HTI.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kalau Ibu Bupati tidak berkenan, kami punya cara sendiri yang dibenarkan undang-undang, yaitu membentuk pansus (panitia khusus),” ungkap Ketua PC GP Ansor Jember itu.

Bak gayung bersambut, usulan itupun diamini oleh Bupati Faida. Menurutnya, usulan tersebut sangat baik dan perlu diakomodasi. Bupati wanita pertama Jember itu juga mengucapkan terima kasih atas peran Banser yang telah ikut menjaga keamanan ? Jember. Tidak hanya itu, Faida juga mempersilahkan pimpinan DPRD Jember untuk membentuk pansus. “Monggo. Silakan. Kita undang semuanya. Dan kalau DPRD masih mau membentuk pansus, ya tidak apa-apa,” jelasnya.

Sambutan hangat juga datang dari Kapolres Jember, Sabilul Alif. Menurutnya, itu adalah ide yang baik sekali. Tidak hanya untuk membicarakan HTI, tapi juga membahas keamanan Jember secara menyeluruh.?

“Konflik yang besar adalah akumulasi konflik kecil yang tak terselesaikan. Jadi ini sangat baik,” jelasnya (Aryudi A. Razaq/Mukafi Niam)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 15 Juli 2017

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Keadilan adalah watak natural manusia, juga watak khas agama Islam. Tulisan ini akan mengulas bagaimana konsep keadilan menurut KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur.

Dalam kumpulan tulisan tokoh-tokoh Islam yang diedit oleh Budhy Munawar Rahman berjudul Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Mei: 1994), Gus Dur menulis tentang konsep keadilan menurut Islam. Menurut Gus Dur, konsep keadilan dalam Islam bermula dari Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Efek positif lanjutannya, al-Qur’an sebagai firman Allah juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan.

Apa yang dikatakan Gus Dur jelas kebenarannya. Sistem dan pola hidup adil adalah misi wahyu yang digariskan terhadap para nabi. Dalam surat al-Hadid ayat 57, al-Qur’an menegaskan bahwa keadilan merupakan sesuatu yang diturunkan bagi para rasul selain kitab suci. Dalam berbagai kitab tafsir ditegaskan bahwa keadilan dituntut al-Qur’an diterapkan sejak dari sikap batin, ucapan, sampai penyelesaian perselisihan. Alam rayapun, ditegakkan berdasar keadilan. Gus Dur menyebut ada beberapa wawasan keadilan dalam al-Qur’an sejak Qisth, Hukm sampai Adl sendiri.

Gus Dur memaklumi karena begitu vitalnya keadilan sehingga keadilan dijadikan rukun iman oleh beberapa mazhab diluar sunni seperti Syiah dan Muktazilah. Disinilah sikap pluralis Gus Dur terlihat. Gus Dur menghormati eksistensi paham lain berdasar garis pandang vitalnya suatu konsep. Bagi Gus Dur, keadilan merupakan suatu perintah agama bukan hanya acuan etis atau dorongan moral belaka. Satu perintah agama yang netral politik. Dalam sebuah tulisannya di Kompas ketika meletus perang Teluk tahun 1991, Gus Dur menegaskan kritiknya terhadap dua kubu ulama Arab, pembela Saddam maupun pembela Raja Fadh. Gus Dur juga begitu antipati ketika seorang ulama Indonesia kala itu ikut mendudukkan Saddam sebagai bughat (pemberontak) hanya berdasar persepsi minor yang tak jelas.

Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Selain adl, keadilan juga disebut qisth. Konsep qisth menundukkan arah pada diri pribadi sebelum langkah besar transformasi masyarakat. Al-Qur’an berkata “Hai orang beriman, jadilah kamu penegak keadilan (qisth), menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri (An-Nisa’: 135). Secara tersirat ini menunjukkan penerapan keadilan untuk diri sendiri, atau pendidikan adab bagi pribadi sebelum menerapkan keadilan untuk masyarakat luas.

Gus Dur gusar jika keadilan yang sebenarnya murni watak agama menjadi satu keadilan berdasar ideologi tertentu. Bagi Gus Dur, keadilan ideologis memiliki pilar rapuh yang berbahaya karena keadilan ideologis akan membuahkan tirani. Watak keadilan justru akan menjadi sikap subversif apabila ideologi menyertai secara ketat. Di negeri ini, terdapat kelompok yang berjuang atas dasar ideologi keadilan namun justru watak keadilan yang didominasi ideologi cenderung untuk dikotomis, berpikir sepihak berdasar kepada garis anutan ideologinya.

Keadilan menurut kelompok keadilan ideologis jatuh dalam lingkup orientasi kontestasi dan pemenangan kekuasaan. Ambil contoh konsep penerapan bernegara ala Ikhwanul Muslimin. Menurut Hasan Al Banna, risalah penegakan daulah Islamiyah dimulai dari tahap islahul afrad (perbaikan diri sendiri), takwinul baitul muslim (membentuk keluarga muslim), takwinul mujtama’ul muslimin (membentuk masyarakat muslim), tahrirul wathan (pembebasan tanah air), islahul hukumah (perbaikan pemerintahan) dan terakhir iqamatud daulah (pembentukan negara Islam).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di banyak negara, strategi ini diterapkan Ikhwanul Muslimin, namun sebagaimana kata Gus Dur pasti ada kelindan tak disangka manakala ideologisasi muncul mendominasi. Pada tahap islahul afrad, upaya penegakan keadilan pada pribadi individual bisa dilakukan. Namun, syahwat politik yang terlalu ambisius untuk menguasai pemerintahan justru akan mengorbankan keadilan sendiri. Sulit dipilah mana keadilan berdasar agama, mana pula berdasar kepentingan politik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Gus Dur, keadilan juga berkait dengan kesejahteraan. Yatim piatu, kaum miskin, serta zawil qurba yang membutuhkan pertolongan merupakan pengejewantahan keadilan. Artinya, keadilan harus menjauhi sejauh mungkin korupsi karena korupsi pada dasarnya sejenis kezaliman massal terhadap seluruh rakyat utamanya rakyat kecil. Korupsi menyebabkan pemberdayaan kaum miskin dan anak yatim menjadi terhambat. Unsur transformasi sosial sedikit banyak yang merekatkan keadilan sebagai watak struktural. Hal ini menjelaskan hubungan kerangka keadilan untuk diri pribadi dengan keadilan untuk masyarakat. Artinya, keadilan akan mampu ditegakkan manakala sistem adil hidup mandiri di masyarakat.

Bagi Gus Dur, keadilan memiliki keterbatasan. Pertama, keterbatasan visi keadilan sendiri. Keadilan bisa dianggap selesai manakala keadilan diterapkan, tapi justru dengan melanggar wawasan keadilan. Demi agama islam, seseorang akan merasa absah jika harus merusak aset milik orang lain. Seseorang akan merasa menegakkan keadilan, meski dengan menghancurkan dan merusak. Padahal merusak adalah kegiatan yang bertentangan dengan wawasan keadilan. Atas nama keadilan, suap terpaksa dilakukan justru demi ideologisasi keadilan. Keadilan dan kesejahteraanpun dijual demi demokrasi padahal keadilan justru watak nomokrasi.

Menurut Gus Dur, wawasan keadilan juga rentan karena terikat konsep berbalasan (kompensatoris). Demi keadilan ideologis, Islam berupaya diarahkan menjadi daulah justru dengan meminta kompensasi dari masyarakat. Keadilan ideologis terpaksa diperjuangkan dengan mengabaikan nilai agama. Menjelang pemilu, menyuap pemilih terpaksa dilakukan. Ongkos pemilu yang besar memaksa juga terjadinya korupsi. Keadilan dirusak demi kepentingan keadilan yang diideologisasi. Gus Dur pun dulu dijatuhkan oleh kelompok yang menyebut dirirnya pejuang keadilan. Padahal menjatuhkan Gus Dur dari kursi kepresidenan justru merupakan pelanggaran keadilan konstitutif. Hari ini, mengembalikan fitrah keadilan kepada kerangka dasar agama dan bukan ideologi politik terasa penting untuk dilakukan. Kita merindukan keadilan yang obyektif. Bukan keadilan ideologis.

 

 

*Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember Pustakawan Buku dan Kitab Kuning

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PCNU Blitar Gelar Pelatihan Caleg Kader NU

Blitar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menjelang pemilu 2009 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Blitar menggelar pelatihan bagi para calon legislatif (Caleg )yang berasal dari para kader NU. Acara ini digelar di aula kantor PCNU Kab. Blitar pada hari Ahad (25/1) dengan menunjuk Lakpesdam sebagi pelaksana pelatihan.



PCNU Blitar Gelar Pelatihan Caleg Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Blitar Gelar Pelatihan Caleg Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Blitar Gelar Pelatihan Caleg Kader NU

Materi yang diberikan meliputi peningkatan kapasitas caleg seperti konsep politik Islam (fiqih siyasah) yang disampaikan KH Farhan Ma’ruf selaku katib syuriyah NU Kab. Blitar, tugas pokok fraksi, legislatif drafting dan penganggaran yang disampaikan oleh Aminudin Fahruda dari SOMASI yang juga anggota Litbang NU Kab. Blitar.

Materi menejemen opini publik disampaikan Arif Afandi, mantan pemimpin redaksi harian Jawa Pos yang saat ini menjabat wakil walikota Surabaya. Sementara itu Tausiyah yang disampaikan oleh KH Nurhidayatulloh Dawami selaku ketua tanfidiyah NU Kab. Blitar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekitar 50 calon anggota DPRD II, DPRD I dan DPR RI dari PKB, PKNU, PPP, Partai Demokrat, partai Golkar, PDP, serta partai Buruh hadir dalam acara sebagai peserta. Mereka sangat antusias terhadap materi-materi yang disampaikan. Sampai acara selesai hingga menjelang maghrib, peserta tidak berkurang bahkan bertambah dan setelah acara selesai masih ada diskusi-diskusi kecil antar peserta dan beberapa pengurus NU yang menunggui.

Dalam kesempatan itu KH Agus Muadzin selaku rais syuriyah PCNU Kab. Blitar menegaskan pada pemilu 2009 NU kabupaten Blitar tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana, tidak berpihak kepada salah satu partai.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia juga menganjurkan kepada nahdliyin untuk tidak golput. “Dengan golput berarti kita telah memotong salah satu pilar demokrasi kita artinya negara Indonesia telah memilih trias politika sebgai wujud demokrasi dan adanya legislatif merupakan salah satu bagian dari trias politika tersebut, jadi harus tetap memilih,” katanya.

Kepada calon legislatif PCNU, ia berharap jika nanti semua peserta ini menjadi anggota legislatif supaya membawa misi dan kepentingan Nahdlatul Ulama.

 

Ketidakberpihakan NU terhadap salah satu Parpol dikuatkan dengan pernyataan KH Nurhidayatulloh dalam tausiyahnya bahwa “Kader NU harus masuk dari berbagai pintu kalau hanya satu pintu sempit” dan posisi NU secara kelembagaan tidak “ke sana-sini” kalaupun ada yang memihak partai tertentu itu personal pengurus, tidak diperbolehkan membawa nama organisasi.

Kemudian Arif Afandi menyampaikan apresiasi positif terhadap acara ini, Ia menyatakan bahwa “NU Blitar psikologinya juragan” kalau psikologinya juragan, bisa mengayomi seluruh kadernya. tapi kalau psikologinya makelar, mana yang setor banyak yang didukung.

“Menurut saya mestinya tidak begitu, NU harus menjadi juragan jadi siapa saja dan dimana saja harus mendapat pengayoman yang sama. Kalau kader NU-nya banyak dimana-mana sementara sistem pemilunya sistem dapil kemudian kemenangannya ditentukan suara terbanyak menurut saya NU justru lebih punya peluang lebih banyak,” katanya.

Dalam hal membangun opini publik ia memaparkan pengalamannya ketika berproses menjadi wakil walikota Surabaya. Untuk mendapat simpati pemilih, ia menyarankan kalau menggunakan media tidak perlu baliho yang besar-besar cukup dengan kartu yang menyerupai kartu pemilihan, itu lebih efektif” tambahnya.

Aspek penting lainnya adalah supaya para caleg lebih aktif berinteraksi langsung dengan masyarakat. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 12 Juli 2017

Wagub DKI: Pesantren adalah Sistem Pendidikan Paling Komplit

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sejak pertama lahir, pola pendidikan di pondok pesantren diakui mampu membentuk manusia seutuhnya. Artinya tidak hanya memahami ilmu agama Islam, tetapi lulusan pesantren mampu berkarya di segala bidang kehidupan secara mandiri. Inilah yang dikatakan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat bahwa pesantren merupakan sistem pendidikan paling komplit.

Wagub DKI: Pesantren adalah Sistem Pendidikan Paling Komplit (Sumber Gambar : Nu Online)
Wagub DKI: Pesantren adalah Sistem Pendidikan Paling Komplit (Sumber Gambar : Nu Online)

Wagub DKI: Pesantren adalah Sistem Pendidikan Paling Komplit

Djarot menyampaikan hal tersebut pada acara peluncuran legalitas Pendidikan Diniyah Formal (PDF) pada berbagai tingkatan seperti Ula, Wustho, dan Ulya oleh Kementerian Agama, Senin (1/8) di Pondok Pesantren Minhaajurrasyidin, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pada kesempatan ini, Kemenag memberikan SK izin operasional kepada 12 PDF pada tingkat Wustho dan Ulya di seluruh Indonesia.?

Djarot yang hadir bersama beberapa jajaran pejabat Provinsi DKI Jakarta dan Wali Kota Jakarta Timur menegaskan bahwa pesantren tidak hanya fokus mengkaji ilmu agama melalui kitab kuning, tetapi juga mendidik santri berwirausaha dan menghadapi hidup secara mandiri. Hal ini yang menjadikan lulusan pesantren mempunyai dasar dan prinsip yang kokoh ketika terjun di tengah masyarakat.

“Tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga belajar hidup, belajar bertoleransi dengan sesama, belajar saling tolong-menolong satu sama lain, mandiri dan bekerja keras yang kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan akhlak mulia, iman dan taqwa kepada Allah,” jelas pria asal Blitar ini saat menyampaikan sambutan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pendidikan di pesantren, lanjut Djarot, memungkinkan anak memiliki jiwa spiritualitas kokoh karena hari demi hari diisi dengan kegiatan positif dan bermanfaat. Ruang ini tidak akan dimasuki oleh hal-hal dan perilaku negatif karena santri selalu mengisinya dengan kegiatan keagamaan dan pembelajaran hidup.

“Maka jangan heran ketika banyak anak sekarang mudah terjerumus pada perilaku buruk dan negatif karena terlalu banyak ruang kosong pada dirinya yang menyebabkan jiwanya juga kosong,” terang Djarot.

Dengan terus ditempa dengan pendidikan positif dan kerja keras, Djarot yakin lulusan pesantren tidak akan lapuk di makan zaman. Karena santri sudah terbiasa hidup dengan apapun. Menurutnya, tantangan Islam ramah dan toleran yang dibawa para lulusan pesantren kini mendapat tantangan besar ketika mudahnya akses teknologi informasi yang kerap berisi paham keagamaan yang keras dan cenderung kaku. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 10 Juli 2017

Kanwil Kemenag Sumut Dukung Pra Muktamar NU Zona Sumatera

Medan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara mendukung sepenuhnya rencana pelaksanaan Pra Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama Zona Sumatera yang akan dilaksanakan di Pesantren Al Kautsar Al Akbar, Jalan Pelajar Timur, Medan, 17-18 Mei 2015 mendatang.

Kanwil Kemenag Sumut Dukung Pra Muktamar NU Zona Sumatera (Sumber Gambar : Nu Online)
Kanwil Kemenag Sumut Dukung Pra Muktamar NU Zona Sumatera (Sumber Gambar : Nu Online)

Kanwil Kemenag Sumut Dukung Pra Muktamar NU Zona Sumatera

"Kanwil Kemenag Sumut sepenuhnya kegiatan Pra Muktamar ke-33 NU Zona Sumatera," kata Kepala Kanwil Kemenag Sumut Tohar Bayoangin di kantor Kanwil Kemenag Sumut, Jalan Gatot Subroto, Medan, Senin (4/5) lalu dalam audiensi dengan panitia pra muktamar NU.

Rombongan panitia dipimpin Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumut H Afifuddin Lubis didampingi Katib Musaddad Lubis, Ketua Panitia Pelaksana Adlin Damanik, Wakil Ketua Takbir Siregar, Sekretaris Abrar M Dawud Faza, Bendahara Pasiruddin Daulay, Humas Suwardi Sinaga, Herdiansyah, Payung Harahap dan pengurus lainnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kedatangan kami ini untuk melaporkan kepada Bapak Kakanwil, bahwa PWNU Sumut akan menjadi tuan rumah perhelatan akbar, yakni Pra Muktamar ke-33 NU Zona Sumatera," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Afif yang juga mantan Plt Wali Kota Medan ini mengatakan, kegiatan berskala nasional itu akan digelar di Pesantren Al Kautsar Al Akbar, Jalan Pelajar Timur, Medan, 17-18 Mei 2015.

"Secara nasional pra muktamar digelar di empat zona, untuk Zona Sumatera digelar di Medan. Dalam pra muktamar ini akan digelar kajian-kajian yang akan dibawa ke Muktamar NU di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015," terangnya.

Sementara Ketua Panitia Pra Muktamar ke-33 Zona Sumatera Adlin Damanik menyampaikan sejumlah hal teknis terkait kegiatan tersebut. "Intinya kami meminta dukungan dari Bapak Kakanwil untuk menyemarakkan dan menyukseskan acara ini," ujarnya.

Mantan Kakan Kemenag Kota Medan ini menambahkan, pra muktamar akan diikuti peserta dari Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Riau, dan utusan dari PBNU.

"Total pesertanya ada 200 orang. Sedangkan acara pembukaan akan dihadiri 2.000 orang," bebernya.  (Red: Anam)

Foto bersama Kakanwil Kemenag Sumut Tohar Bayoangin foto bersama Ketua PWNU Sumut Afifuddin Lubis dan panitia pra muktamar ke-33 NU Zona Sumatera.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah