Minggu, 03 Juli 2016

Bupati Sidoarjo: NU Harus Mampu Mengatasi Problematika Umat

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Wonoayu Sidoarjo yang digelar di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Desa Tanggul Kecamatan Wonoayu, Ahad (25/9) menetapkan H M Subandi sebagai Ketua Tanfidziyah dan Kiai Ali Subakir Rais Syuriah untuk masa khidmah 2016-2021.

Bupati Sidoarjo: NU Harus Mampu Mengatasi Problematika Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Sidoarjo: NU Harus Mampu Mengatasi Problematika Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Sidoarjo: NU Harus Mampu Mengatasi Problematika Umat

Bupati Sidoarjo H Saiful Illah menegaskan, Nahdlatu Ulama harus bisa menciptakan perdamaian, kerukunan, serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan dilaksanakannya konferensi tersebut, Nahdlatul Ulama dapat meningkatkan peran aktif di masyarakat serta sinergitas dengan pemerintahan dalam mewujudkan pembangunan Sidoarjo.

"Saya berharap NU mampu mengatasi problematika umat yang dapat menyebabkan disintegrasi bangsa, mandiri dan mampu mewujudkan pembangunan Sidoarjo yang inovatif, sejahtera, mandiri serta berkelanjutan," tegas pria yang akrap disapa Abah Ipul itu.

Ia menyatakan, konferensi MWCNU itu merupakan forum tertinggi para Ulama di tingkat MWCNU Wonoayu dalam rangka evaluasi, pertanggungjawaban selama masa periodesasi. Selain merumuskan atau ijtihad organisasi sebagai landasan dasar perjalanan NU Wonoayu 5 tahun ke depan, konferensi juga merupakan proses regenerasi dalam pengkaderan.

Oleh karena itu, lanjut Abah Ipul, yang terpilih menjadi ketua MWCNU Wonoayu harus tetap membawa marwah organisasi dan jamiyah NU bersama-sama untuk menjadi lebih baik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua MWCNU Wonoayu terpilih H M Subandi mengaku, akan merekatkan dan menguatkan internal organisasi dalam rangka mewujudkan masyarakat Wonoayu yang mandiri, berkemajuan yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah. "Kami ingin NU Wonoayu lebih baik lagi kedepannya," harap Subandi yang sebelumnya juga menjabat Ketua MWCNU Wonoayu ini.

Hasil rekomendasi konferensi NU Wonoayu itu nantinya akan disampaikan kepada pihak-pihak terkait seperti Forkopimka, PCNU, Lembaga dan Juga Banom sebagai landasan strategis jamiyah NU di Wonoayu. (Moh Kholidun/Abdulah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 02 Juli 2016

IPPNU Usung Antidiskriminasi Pendidikan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengagendakan pembahasan pendidikan yang antidiskiriminasi dalam Kongres XVI IPPNU akhir November (30/11) di Palembang.

Peserta kongres dari pelbagai wilayah di Indonesia akan menanggapi dan memberikan strategi alternatif ke depan bagi kebijakan pendidikan.

IPPNU Usung Antidiskriminasi Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Usung Antidiskriminasi Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Usung Antidiskriminasi Pendidikan

Isu tersebut digali dari laporan United Nation Development Program, UNDP tentang indeks pembangunan manusia (Human Development Index, HDI) yang menempatkan Indonesia pada tahun 2011 pada peringkat ke 124 dari 187 negara. Posisi pembangunan manusia Indonesia menurun dari peringkat 108 pada tahun 2010.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Indeks pembangunan manusia itu menghubungkan kualitas pendidikan dengan faktor ekonomi. Keduanya saling mempengaruhi. Kedua faktor itu secara signifikan, mempengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

IPPNU menilai bahwa kualitas pendidikan saat ini masih rendah. Sedangkan sejumlah institusi pendidikan dengan kualitas sumber daya pengajar dan fasilitas yang memadai hanya dapat diakses oleh segelintir warga; yang mampu.

Pemerataan pendidikan layak bagi masyarakat belum terwujud. Pendidikan dengan kualitas yang memadai masih menjadi barang mewah. Pendidikan dengan sarana dan kualitas SDM tenaga pengajar, belum dapat dijangkau oleh semua lapisan sosial di Indonesia.

Berdasarkan data di atas, IPPNU menilai akses pendidikan di Indonesia saat ini belum mewakili gagasan pendidikan nasional yang diprogramkan oleh pemerintah. Pendidikan nasional dengan persoalan ketersediaan SDM pengajar, diskriminasi akses, dan fasilitas pendidikan, masih jauh dari harapan.

IPPNU melalui kesempatan kongresnya yang ke-16 akan memanfaatkan posisinya sebagai kekuatan strategis untuk mengikis kesenjangan tersebut. Pembahasan isu pendidikan yang paling mendasar ini diharapkan menghasilkan putusan-putusan alternatif dan rekomendasi solutif dalam mengatasi kebuntuan pendidikan nasional. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 01 Juli 2016

NU Kirimkan Bantuan Medis untuk Pengungsi Rohingya

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Ali Yusuf menjelaskan, Nahdlatul Ulama (NU) akan mengirimkan kembali bantuan ke pengungsian Rohingya di Bangladesh. Sebelumnya pada tahap pertama, NU mengirimkan bantuan sembako dan alat masak. Pada tahap kedua ini, NU akan mengirimkan bantuan tenaga medis.

NU Kirimkan Bantuan Medis untuk Pengungsi Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kirimkan Bantuan Medis untuk Pengungsi Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kirimkan Bantuan Medis untuk Pengungsi Rohingya

“Untuk melakukan kegiatan pelayanan kesehatan bagi pengungsi Rohingya di Bangladesh bersama tim medis IHA (Indonesia Humanitarian Alliance) lainnya,” kata Ali di Jakarta, Senin (16/10).

Ia mengatakan, NU memiliki komitmen untuk mendukung bantuan medis yang dicanangkan IHA dengan cara mengirimkan tenaga medis dan dikirimkan selama enam bulan ke depan secara bertahap. Selain itu, NU juga akan ikut serta dalam pemberian bantuan nutrisi bagi anak-anak pengungsi.

“Selain juga bantuan berupa hygiene kits,” ucap yang juga Ketua Pelaksana IHA itu.

Ia menceritakan, saat ini banyak pengungsi yang terkena penyakit terutama kulit dan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Hal itu disebabkan mereka melalui perjalanan jauh dari asal mereka di Myanmar ke pengungsian Bangladesh. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Situasi dan kondisi kamp pengungsian yang kumuh juga menyebabkan penyakit mudah menyerang mereka. Maka dari itu, saat ini bantuan pelayanan medis juga tidak kalah pentingnya dengan bantuan relief.

“Dan bahkan saat ini mereka terindikasi akan terserang wabah kolera,” tuturnya.

Dr. Angie Erdhita adalah tenaga medis yang dikirimkan NU ke pengungsi Rohingya di Bangladesh. Ia berangkat pada Ahad 15 Oktober bersama dengan tim medis lain dari IHA. Rencananya, ia akan berada di pengungsian selama dua minggu ke depan. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi) 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Pondok Pesantren, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 27 Juni 2016

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem

Salaman atau saliman dalam budaya Indonesia adalah suatu kegiatan berjabat tangan, biasanya dilakukan ketika seorang anak berpamitan pergi kepada orang tuanya, seorang murid yang bertemu dengan guru dan saudara atau keluarga ketika di jalan, atau ketika seseorang bertemu dengan teman-temannya.  Secara refleks kita akan mengulurkan tangan untuk mengajak salaman.

Salaman atau saliman sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “selamat”. Erat kaitannya dengan budaya mengucap salam dalam umat muslim. Dalam pelaksanaannya pun tidak selalu mengucap salam, namun lebih menekankan berjabat tangan sebagai rasa hormat. Sekali lagi di Indonesia, kegiatan salaman tidak melulu selalu diidentikkan dengan orang Islam walaupun berasal dari bahsa Arab. Karena makna salaman sudah dipakai oleh masyarakat umum sebagai milik bersama.

Salaman dalam tulisan adalah yang disebut orang Jawa sebagai sungkem. Salaman dan sungkem mempunyai persamaan yaitu kegiatan berjabat tangan, bedanya sungkem mempunyai nilai rasa hormat yang lebih tinggi. Sungkem bukanlah berjabat tangan biasa seperti yang dilakukan antar teman atau seseorang dengan seseorang yang derajatnya setara.

Namun sungkem dilakukan kepada seseorang yang lebih tinggi derajatnya seperti orang tua, guru atau ustadz/ustadzah. Caranya pun berbeda, sungkem disertai dengan mencium tangan seseorang yang kita sungkemi. Pada saat hari raya Idul Fitri pasti setiap anggota keluarga melakukan sungkeman, entah itu anak kepada orang tua, cucu kepada kakek nenek atau keponakan kepada paman dan bibi.

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem (Sumber Gambar : Nu Online)
Rindu Budaya Salam(an) Sungkem (Sumber Gambar : Nu Online)

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem

Pada zaman penulis masih menempuh pendidikan MI (Madrasah Ibtidaiyah -setara SD- ), penulis masih ingat dengan jelas setiap akan masuk kelas dan akan keluar kelas (waktu akan pulang) murid-murid antri berbaris rapi untuk sungkeman kepada sang guru. Jika direnungkan, betapa luhurnya budaya ini, penulis tidak yakin kalau dinegara lain diajarkan budaya sungkeman ini sebagai salah satu tata krama di sekolah. Jikalau ada mungkin juga masih tergolong bangsa Asia atau bangsa Timur.

Namun yang penulis sayangkan, semakin kesini budaya sungkeman mulai luntur, atau memang budaya sungkeman hanya diajarkan waktu MI/SD?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut pengalaman penulis, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin langka sekali budaya sungkeman ini. Mulai MTs (Madrasah Tsanawiyah -setara SD-) hingga MA (Madrasah Aliyah -setara SMA-) budaya ini agak jarang, mungkin karena sekolah madrasah, jadi antara murid dan guru yang berbeda jenis kelamin agak menjaga jarak. Namun menurut penulis hal seperti ini bisa disiasati, bisa saja to murid perempuan hanya salaman dengan ibu guru dan begitu juga dengan murid laki-laki hanya salaman dengan bapak guru.

Apalagi ketika menjadi mahasiswa perguruan tinggi di kota besar, budaya sungkeman seperti suatu hal yang tidak penting. Bukan dari segi mahasiswa atau anak didiknya saja yang kurang membudayakan sungkeman, tapi hal yang agak mengecewakan adalah ketika dosen itu sendiri tidak bersedia di sungkemi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ada fenomena lucu yang sering penulis temui, sungkeman yang dilakukan mahasiswa kepada dosen biasanya dilakukan berdasarkan alasan tertentu, misalnya saja ketika seorang mahasiswa datang terlambat, untuk menarik hati agar dosen tidak marah mahasiswa sering kali melakukan sungkem agar dosen luluh dan “tidak jadi” memarahi mahasiswa yang datang terlambat tersebut. Mungkin ini salah satu trik yang cerdas, hehe.

Salaman atau sungkeman merupakan budaya Indonesia yang menggambarkan karakter bangsa sebagai bangsa yang menjunjung tinggi rasa hormat dan kasih sayang kepada sesama manusia. Tidak hanya itu, salaman dan sungkeman juga salah satu cara untuk memperertat silaturrahim, persaudaraan dan pertemanan diantara manusia.

Semoga tulisan ini memberikan kita pencerahan betapa penting budaya salaman dan sungkeman, walaupun kelihatannya sepele namun penulis yakin manfaat dan hikmah dari budaya ini sangat besar dan bermanfaat.

Ayu Ulfa Dewi, Mahasiswa Program Studi Jawa FIB UI

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 20 Juni 2016

Dua Pekan, Posko NU Bantu Korban Banjir dan Longsor

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Hampir dua pekan ini, tim Posko Tanggap Bencana NU, gabungan PCNU Jepara dan sejumlah badan otonom NU membantu korban banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Dua Pekan, Posko NU Bantu Korban Banjir dan Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Pekan, Posko NU Bantu Korban Banjir dan Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Pekan, Posko NU Bantu Korban Banjir dan Longsor

Badan otonom NU yang terlibat antara lain, Gerakan Pemuda Ansor, Fatayat NU, Muslimat NU, Ikatan Pelajar NU (IPNU), dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU). Sejumlah relawan turun ke beberapa titik bencana, yakni Kecamatan Keling, Donorojo, Pecangaan, Kedung, Kalinyamatan, Mayong, Nalumsari dan Welahan.

Dengan berkoordinasi dengan MWCNU setempat, relawan NU turut mengevakuasi, menerima dan menyalurkan bantuan kepada korban. Para relawan juga memotivasi mereka agar segera pulih dari keprihatinan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari pantauan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Posko Tanggap Bencana NU di Jalan Pemuda No.51 hingga Kamis (30/1) malam, bantuan berupa uang, bahan makanan, obat-obatan, pakaian lantas pakai, alat sekolah dan peralatan bayi masih mengalir.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bahu-membahu

Wakil Ketua PCNU, H Anas Arbaani mewakili Ketua PCNU, KH Asyhari Syamsuri menyatakan, bersama TNI dan warga pihaknya juga berkeinginan untuk kondisi yang tertimpa bencana agar seperti sedia kala. Jumat (31/1) pagi Banser, TNI Makodam Jawa Tengah dan warga sekitar bahu-membahu menambal tanggul sungai yang jebol di desa Karangrandu kecamatan Pecangaan.

Beberapa waktu lalu, Selasa-Kamis (21-23/1), Fatayat NU dan Muslimat NU bersama jemaat Gereja Inzili Tanah Jawa (GITJ) juga mendirikan dapur umum membuat nasi bungkus sejumlah 6.000. “6.000 bungkus nasi itu kami berikan kepada korban bencana di kecamatan Mayong, Nalumsari, Kedung dan Welahan,” jelas Ahmad Kholil, Ketua PC GP Ansor Jepara.

Salah satu relawan bencana, H Hisyam Zamroni mengungkapkan dengan bergerak bersama, Jepara bisa dan sejahtera. “Semoga dengan bergerak bersama-sama Jepara segera pulih dari mahabahaya bencana,” harap Kepala KUA Karimunjawa. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 18 Juni 2016

Bocoran dari Allah agar Selamat di Hari Qiyamah

Pagi dan sore merupakan waktu di mana warga bumi sibuk. Pagi ialah waktu matahari mengintip. Lazimnya orang-orang mengawali aktivitas. Sementara sore kawanan burung bergegas pulang. Dan orang-orang membawa pulang keletihannya seharian.

Namun demikian, dua waktu ini bisa diisi dengan wiridan singkat yang diharapkan memberikan manfaat besar. Tentu pahala penting, tetapi siapa berani menyalahkan Allah bila Dia hendak memberikan anugerah-Nya kepada hamba yang dikehendaki.

Bocoran dari Allah agar Selamat di Hari Qiyamah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bocoran dari Allah agar Selamat di Hari Qiyamah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bocoran dari Allah agar Selamat di Hari Qiyamah

Bujairimi dalam Hasyiyah alal Iqna’ menceritakan pengalaman Imam Hanafi RA yang melihat Allah SWT dalam mimpi. Ketika sudah 99 kali bermimpi melihat Allah, Imam Hanafi RA berencana menanyakan sebuah amal yang menyelamatkan seorang hamba dari siksa dahsyat hari Qiyamah. Allah kemudian menjawab pertanyaan sang Imam RA di mimpinya yang ke-100.

? ? ?: ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ?. ? ? ? ?.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Allah berfirman, “Siapa saja yang membaca di pagi dan sore ‘Subhanal abadiyyil abad, subhanal wahidil ahad, subhanal fardis shomad, subhana man rofa’as sama’a bi ghoiri ‘amad, subhana man basathol ardho ‘ala ma’in jamad, subhana man khalaqol khalqo wa ahshohum ‘adad, subhana man qosamar rizqo wa lam yansa ahad, subhanal ladzi lam yattakhidz shohibatan wa la walad, subhanal ladzi lam yalid wa lam yulad wa lam yaqul lahu kufuwan ahad’, maka akan selamat dari siksa-Ku.” Demikian disebutkan oleh penulis Mu’jamul Ahbab.

Sepadat apapun, kita sebaiknya tidak membiarkan pagi dan sore meluncur tanpa mengucapkan pujian tasbih ini. Untuk menambah manis pagi dan sore, perlu juga menebarkan senyum kepada sesama makhluq. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 15 Juni 2016

Pesan Bung Karno kepada Rombongan Misi Haji Pertama

Pada tulisan sebelumnya telah dikisahkan mengenai awal keberangkatan rombongan Misi Haji I Republik Indonesia. Rombongan terdiri dari KHR. Mohammad Adnan sebagai ketua misi, Saleh Su’ady (Sekretaris), H Syamsir Sutan Rajo Ameh (Bendahara), dan Ismail Banda (Anggota).

Sebelum berangkat, terlebih dahulu mereka menemui Presiden dan Wakil Presiden RI, Soekarno-Hatta. Bagi bangsa Indonesia, perjalanan Misi Haji ini memang tidak hanya sekedar perjalanan haji belaka, melainkan mengandung misi untuk merangkul dukungan diplomatik dari berbagai negara.

Pesan Bung Karno kepada Rombongan Misi Haji Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Bung Karno kepada Rombongan Misi Haji Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Bung Karno kepada Rombongan Misi Haji Pertama

Presiden Seokarno sembari memberikan sebilah keris berhulu emas kepada Adnan sang ketua rombongan, untuk dihadiahkan kepada Raja Saudi. Ia juga memberikan pesan.

“Beri penerangan yang betul kepada warga Indonesia di sana dan sampaikan rasa terima kasih rakyat dan pemerintah Indonesia kepada rakyat dan pemerintah Arab Saudi,” kata Bung Karno.

Sedangkan Bung Hatta juga menitipkan pesannya. “Kita harus meningkatkan perjuangan diplomatik ke negara-negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi karena negara-negara itu kita anggap penting. Dalam perjuangan kita, berdoalah kepada Allah agar perjuangan kita menang.” (Abdul Basit Adnan, 1977)

Akhirnya, berbekal uang Rp3500 per orang, perjalanan tim misi haji tersebut dimulai pada tanggal 26 September 1948 pukul 02.00 WIB, berangkat dari Pelabuhan Udara Maguwo Yogyakarta menuju ke Bangkok dengan menggunakan pesawat carteran milik Pacific Overseas Airlines Service (POAS).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Bangkok, mereka berganti pesawat KLM menuju ke barat, ke Kalkuta (India) dan Karachi (Pakistan) sebelum turun di Kairo (Mesir). Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, pada tanggal 6 Oktober, sampailah rombongan di Pelabuhan Udara Farouk Kairo.

Setibanya di Mesir, mereka dijemput sejumlah pegawai Perwakilan Indonesia di sana. Di Kairo, rombongan hanya singgah semalam untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Arab Saudi. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah