Kamis, 14 Februari 2008

Rais Syuriyah PCINU Arab Saudi Wafat

Jeddah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kabar duka datang dari keluarga besar jamaah Masjid Indonesia Jeddah (MIJ) dan Nahdliyin di Arab Saudi. Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Arab Saudi KH Muhammad Firdaus Abdul Manan wafat di Rumah Sakit Sulaiman Fakeh, Jeddah, Arab Saudi, disebabkan penyakit yang dideritanya.

Sebelumnya Kiai Firdaus menjalani rawat inap selama seminggu di rumah sakit, hingga akhirnya mengembuskan nafas terakhir pada Sabtu (20/8), pukul 7.30 pagi waktu Arab Saudi.

Rais Syuriyah PCINU Arab Saudi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PCINU Arab Saudi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PCINU Arab Saudi Wafat

Almarhum mengemban amanah sebagai rais syuriyah PCINU Arab Saudi setelah terpilih pada konferensi cabang istimewa II pada Juni 2014. Pria kelahiran kota Malang 26 Juni tahun 1962 ini sudah 15 tahun bermukim di Arab Saudi dan selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan di Masjid Indonesia Jeddah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia meninggalkan seorang istri dan 3 anak putri serta 2 anak putra. Keluarga bersepakat almarhum dikebumikan di Al Asad, pekuburan tertua di Jeddah setelah pekuburan Ummina Hawa di Bab Makkah District.

Ketua PCINU Arab Saudi Ahmad Fuad serta Acting Konsulat Jendral RI Jenddah Dicky Yunus, para sahabat, ikut mendampingi keluarga mengantarkan almarhum ke pemakaman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Semoga almarhum KH Firdaus Abdul Manan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya, diampuni segala kekhilafan di terima semua amal kebaikan dan khusnul Khotimah. Amin. (Thobibuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Berita, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 03 Februari 2008

Peringatan Harlah, Wasilah untuk Hargai Perjuangan Pendiri NU

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, Rabu (27/4) malam memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-93 NU di Desa Gili Ketapang Kecamatan Sumberasih. Dimana desa ini merupakan satu-satunya desa yang ada di pulau kecil di Kabupaten Probolinggo.

Peringatan harlah di pulau ngambang ini diikuti oleh segenap jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah se-MWCNU Kecamatan Sumberasih. Tidak ketinggalan pula para Ketua Ranting NU se-Kecamatan Sumberasih.

Peringatan Harlah, Wasilah untuk Hargai Perjuangan Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringatan Harlah, Wasilah untuk Hargai Perjuangan Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringatan Harlah, Wasilah untuk Hargai Perjuangan Pendiri NU

Ketua MWCNU Sumberasih Hamim mengungkapkan bahwa peringatan harlah NU ditempatkan di tengah-tengah pulau kecil dengan harapan mampu menambah kekhusyu’an dalam mengikuti istighotsah dan pembacaan sholawat.

“Disini kita benar-benar akan merasa sangat kecil di hadapan Allah. Bagaimana tidak, berjalan sedikit ke utara, selatan, timur dan barat akan langsung bertemu dengan laut,” katanya.

Menurut Hamim, dengan mengadakan harlah ini diharapkan nantinya Nahdliyin bisa menjadi warga yang peduli dan menghargai perjungan para pendiri NU. Dengan demikian akan menambah semangat dan motivasi dalam mengabdi kepada organisasi dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dengan mengambil hikmah harlah, semoga kita mendapatkan barokah dari para pendiri NU. Harapannya warga NU menjadi warga yang peduli dan menghargai serta bisa bersyukur atas lahirnya NU sehingga dapat berbuat dan berjuang untuk melanjutkan perjungan pendiri NU,” harapnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 02 Januari 2008

Transformasi Pendidikan Madrasah

Oleh Ruchman Basori



Menghilangkan kesan bahwa madrasah bukan pendidikan kelas dua tidaklah perkara mudah. Walaupun kadang pembandingnya tidak seimbang. Satu sisi sekolah dikatakan lebih unggul dari madrasah, padahal negeri ini jelas-jelas hampir tidak pernah absen memperhatikan lembaga jenis ini di samping karena sifat dan karakter madrasah berbeda dengan sekolah. Sementara madrasah baru diperhatikan secara serius utamanya setelah dikeluarkannya UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, itupun belum merambah pada keseluruhan aspek yang dibutuhkan bagi keadilan perlakukan pendidikan di negeri ini.

Kesan kumuh, terbelakang dan marginal mungkin lebih pas disematkan kepada madrasah kala itu. Karena memang para pendiri madrasah mengorientasikan pendirian madrasah untuk kalangan masyarakat yang kurang mampu. Berada di kampung, sulit akses, dan berprinsip pada education for all, jauh sebelum PBB menjadikannya sebagai slogan memperbaiki hajat pendidikan untuk seluruh warga dunia.

Transformasi Pendidikan Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Transformasi Pendidikan Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Transformasi Pendidikan Madrasah

Kini kondisi madrasah tidak lagi dipandang sebelah mata. Tidak sedikit orang tua merasa kecewa karena anaknya tidak diterima di bangku madrasah akibat persaingan yang cukup ketat. Banyak laporan yang dialamatkan kepada Direktorat Pendidikan Madrasah yang dipimpin Prof. Dr. Nur Kholis Setiawan bahwa madrasah mulai kewalahan menampung animo masyarakat. Kondisi tersebut berbanding lurus dengan banyaknya pengajuan ruang kelas baru.

Transformasi dari madrasah pinggiran menjadi madrasah kelas menengah. Dari madrasah kumuh menjadi madrasah kukuh, dari madrasah kelas dua menjadi madrasah pilihan utama. Tidak heran jika Direktorat Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI membuat slogan “Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah”.

Meski demikian, untuk di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) masih terdapat madrasah yang baru pada tahap pencarian jati diri, kemudahan akses dan belum pada berpikir tentang mutu. Biasanya masalah yang dihadapi mereka adalah banyaknya gedung yang perlu direnovasi, daya saing yang kurang tinggi sampai isu putus sekolah karena ketidakmampan pembiayaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tulian ini akan difokuskan pada ikhtiar Kementerian Agama RI membangun 20 Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN-IC) di Indonesia. Madrasah dengan berjibun prestasi, madrasah dengan pencetak kader hibrida (unggul) di tengah persaingan lembaga pendidikan. MAN IC merupakan Madrasah dengan sistem berasrama (boarding school) yang kini mampu menjadi pesaing sekolah-sekolah hebat di negeri ini. Madrasah dengan sumbu akademik dan riset yang mencoba disuguhkan di tengah keterbatasan pendanaan yang terus diperjuangkan.

Bonus Demografi

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tahun 2035 Indonesia akan mendapat berkah demografi? dari total seluruh penduduk Indonesia yang berada pada usia produktif (15-64 tahun). Berkah ini harus mendapat perhatian, khususnya dengan peningkatan layanan pendidikan yang memadai.

Di bidang ekonomi, berdasarkan survei the Mc Kinsey Global Institute, di tahun 2035 Indonesia diprediksi bakal menempati peringkat ke-7 ekonomi dunia, setelah Cina, Amerika Serikat, India, Jepang, Brazil, dan Rusia. Pada saat yang sama, perekonomian Indonesia akan ditopang oleh empat sektor utama: bidang jasa, pertanian, perikanan, serta energi. Bangsa Indonesia harus mulai mempersiapkan sejak sekarang karena kebutuhan tenaga terampil akan meningkat dari 50 juta menjadi 113 juta orang pada periode tersebut.

Bonus demografi penduduk Indonesia dan ramalan the McKinsey Global Institute di atas, akan mengantarkan kepada “Indonesia Emas”, piranti utamanya adalah bagaimana kita bisa berbenah diri meningkatkan mutu pendidikan dan memperluas akses pada pendidikan bermutu, tak terkecuali pendidikan madrasah.

Sadar akan peluang dan tantangan tersebut, Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, menyiapkan anak-bangsa yang unggul (hibrida) dengan mendisiminasikan keunggulan MAN Insan Cendekia yang telah ada yaitu MAN IC Serpong, MAN IC Gorontalo dan MAN IC Jambi dikembangkan dan diperluas di 20 Provinsi. Ini langkah berani dan brillian para pemimpin pada Kementerian Agama RI dalam hal meningkatkan mutu madrasah.

Adalah Bacharuddin Jusuf Habibi (BJ Habibi), mantan Presiden ke-3 RI melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi? (BPPT) menginisiasi pendirian sekolah yang memadukan antara sistem persekolahan dengan sistem pondok pesantren/berasrama (boarding school) sekitar dekade 1996-an. Lembaga pendidikan yang bertujuan menciptakan manusia Indonesia yang unggul tidak saja dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tetapi juga iman dan takwa (IMTAK), selaras dengan semangat para cendekiawan muslim waktu itu. Lalu dipilihlah nama Sekolah Menengah Atas Insan Cendekia (SMA IC) yang kemudian didirikan di Serpong Tangerang Selatan dan Gorontalo.

Dalam perkembangannya untuk menjamin kesinambungan (sustanibility) dan eksistensi SMA IC dambaan tersebut, SMA IC Serpong dan Gorontalo pengelolaanya diserahkan kepada Kementerian Agama RI sekitar tahun 2000. Kementerian Agama mentransformasikan SMA IC menjadi Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) sesuai dengan tugas dan fungsi (Tusi) mengembangkan pendidikan madrasah dan faktor filosofis-idiologis untuk kepentingan umat. Sekitar tahun 2009 Kementerian Agama menambah satu lagi MAN IC yaitu di Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi.

Dalam beberapa dokumen tertulis yang penulis baca, kehadiran MAN Insan Cendekia dilatar belakangi oleh beberapa hal, yaitu: Pertama, masih adanya kesenjangan antara madrasah yang diidealkan masyarakat dengan realitas sebagian besar madrasah yang belum memiliki keunggulan komparatif. Kehadiran madrasah yang mampu mempersiapkan manusia unggul dalam arti menguasai bidang sains dan teknologi, memiliki kecerdasan intelektual, emosional, spiritual (IESQ), dan sosial secara terpadu, merupakan keniscayaan. Kedua, membuka akses yang lebih luas kepada masyarakat akan lembaga pendidikan Islam yang bermutu tinggi, yang dapat menampung dan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal dan terpadu, berkeunggulan lokal, dan berdaya saing global dengan biaya yang terjangkau.

Ketiga, mengembangkan lembaga pendidikan Islam yang dapat dijadikan model dan contoh (uswah hasanah) bagi lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya yang ada di daerah; Keempat, mewujudkan ‘teacher resources center’ yang berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pelatihan bagi tenaga pendidik dan kependidikan madrasah di provinsi lokasi MAN IC. Kelima, bentuk komitmen Kementerian Agama RI selaku institusi pendiri, pembina dan penanggung jawab lembaga pendidikan Islam untuk melaksanakan amanat Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Berkali-kali Kamarudin Amin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam menyampaikan pentingnya pendidikan Islam di Indonesia sebagai kiblat pendidikan Islam dunia. Salah satu ikhtiarnya adalah menciptakan pendidikan Islam bermutu dan berdaya saing, MAN Insan Cendekia saya kira salah satu ikhtiar tangga mencapai misi tersebut. Dengan demikian berkah demografi penduduk mampu diberdayakan dalam konteks pendidikan Islam bukan malah menjadi petaka karena kita tidak mampu mengelola jumlah penduduk produktif di kelak kemudian hari.

?

Kader Hibrida

Transformasi madrasah menemukan momentumnya ketika para siswa MAN IC mampu menembus batas prestasi, tidak saja di lingkungan madrasah, namun melampaui sekolah-sekolah lain. Keberhasilan ini menghapus kesan bahwa madrasah yang digolongkan sebagai lembaga pendidikan kelas dua, miskin prestasi dan hanya mencetak siswa paham agama (tafaqquh fiddin) terbantahkan.

Prestasi demi prestasi telah diukir oleh MAN IC utamnya dua MAN IC di Serpong dan Gorontalo baik skala regional, nasional sampai ke kancah internasional. Bagi siawa MAN IC keiukutsertaan dalam ajang olimpiade sains seakan menjadi keharusan untuk menunjukan kepada dunia bahwa madrasah merupakan pendidikan lebih baik dari layanan pendidikan lainnya di negeri ini. Prestasi para siswa MAN IC telah membawa nama harum Indonesia di kancah Internasional, di Kanada, Taiwan Korea Selatan, Italia, Australia, Rusia, Polandia dan Denmark.

Muhammad Ahdillah Fadlila Dayajati, siswa MAN Insan Cendekia Gorontalo terpilih menjadi salah satu duta Indonesia dalam International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA). Ajang bergengsi tingkat dunia yang berlangsung di Magelang pada 26 Juli - 4 Agustus 2015. Sebelumnya dia berhasil meraih medali emas pada Olimpiade Sains Nasional di Yogyakarta.

Nagita Gianty Annisa, siswa? MAN? IC Serpong bersama tiga teman lainnya dari sekolah berbeda berhasil meraih medali perunggu pada kompetisi ? International Biology Olympiad (IBO) di Aarthus, Denmark digelar 12-19 Juli 2015. Hanif Saifurrahman dari? MAN? Insan Cendikia Serpong berhasil memenangi lomba ? penulisan esai dengan tema “Masalah Lingkungan Hidup, Sosial dan Budaya” yang diselenggarakan Kedutaan Besar Amerika dan Yayasan Penerbit Lentera (2015) bersama empat siswa MAN? 4 Jakarta yang berhasil memenangi lomba yaitu Munawar Aidil (Mengatasi Kecemburuan Sosial antara Gojek dan Tukang Ojek Pengkolan), Putri Suryani (Rusaknya Hutan dan Permasalahan yang Menggunung), dan Kevina Florensia (Kota Bersih dengan Pemain Basket Amatir).

Sementara pada ajang bergengsi Olimpiade Sains Nasional (OSN)? oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam lima tahun terakhir mandrasah mampu merebut medali emas. Misalkan pada OSN XII? 2013 di Bandung tidak kurang dari 21 Siswa Madrasah meraih medali OSN. Empat medali emas diantaranya di raih oleh siswa MAN? IC Serpong dan? MAN? IC Gorontalo. Sudah tak terhitung lagi berapa siswa yang masuk final dalam ajang OSN bersaing dengan anak-anak bangsa lainnya.

Direktorat Pendidikan Madrasah mencatat, beberapa alumni MAN IC telah diterima di perguruan tinggi ternama di Luar Negeri seperti, di Malaysia, Singapura, Qatar, Mesir, Jepang, Taiwan, Australia, Belanda, Rusia, Jerman dan negara-negara lain. Sementara hampir 98% siswa/i MAN IC mampu bersaing memasuki PTN bergengsi di tanah air seperti UI, ITB, UGM, IPB, ITS, UNAIR dan sebagainya.

Raihan prestasi yang dicapai MAN IC ini dapat dikatakan sebagai bukti keberhasilan menciptakan “kader hibrida”. Kader unggul, kader multitalenta sebagai kebanggaan bersama. MAN Insan Cendekia dengan demikian merupakan tempat bersemainya kader-kader bangsa yang tidak saja cerdas intelektualnya tetapi, cerdas emosional dan spiritualnya.

Dengan sistem boarding school memungkinkan tergalinya pelbagai potensi yang dimiliki oleh para siswa. Pada saat yang sama kader hibrida harus mampu menjadi suri tauladan (model) dalam berfikir, bertindak dan berperilaku mengejawantahkan tugas-tugas sebagai hamba (‘abdun) dan pemimpin Tuhan di muka bumi (khalifatullah fil ard) sesuai namanya yaitu insan cendekia.

Kader Hibrida ala MAN Insan Cendekia juga harus mampu mengisi ruang kosong sebagai manusia Indonesia yang berkarakter dan berbudaya yang pada gilirannya sebagai pencipta peradaban. Sosok penjaga moral, creator, inventor dan innovator adalah juga cerminan dari kader hibrida yang dibutuhkan sebagai produk keunggulan pendidikan Islam.

Kisah sukses (best practice) ketiga MAN IC dengan berjibun prestasi dan keunggulan layanan tersebut didesiminasikan oleh Kementerian Agama dengan mendirikan 20 MAN IC dengan menggandeng Pemerintah Daerah untuk bersama-sama berkomitmen mempersiapkan generasi hibrida. Salah satu butir komitmen Pemda yang dituangkan dalam MoU dengan Kementerian Agama RI dalam pendrian MAN IC adalah menyediakan tanah sekurang-kurangnya 10 Ha, membangun infra struktur jalan, akses air bersih, listrik dan pagar keliling. Semantara ada beberapa Pemda yang menyediakan beasiswa bagi putra-putri MAN IC terutama yang berasal dari daerahnya.

Dari 20 MAN IC yang dibangun 6 diantaranya telah beroperasi melakukan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada tahun pelajaran 2015 yaitu MAN IC Aceh Timur, Siak Riau, OKI Sumatera Selatan, Bangka Tengah Kep. Bangka Belitung, Paser Kalimantan Timur dan Kota Pekalongan Jawa Tengah.

Sambil memperkuat monitoring dan quality control atas 9 MAN IC yang telah eksis, baik dalam hal kurikulum dan evaluasi pembelajaran, kapasitas dan komitmen PTK, kegiatan pengembangan kepesantrenan serta kultur akademik, Kemenag mempersiapkan 8 MAN IC yang telah siap melakukan PPDB pada tahun pelajaran 2016 yaitu MAN IC Papua Barat, Kendari Sultera, Palu Sulteng, Sambas Kalbar, Tanah Laut Kalimantan Timur, Kota Batam Kepri, Padang Pariaman Sumbar, dan Bengkulu Tengah Bengkulu.

Saya optimis dengan munculnya MAN IC di berbagai provinsi sebagai sumbu intelektual-religius yang menjamin berkembangnya beragam kecerdasan (multiple intelligence) anak-anak bangsa ini terlayani dengan baik akan tersedianya madrasah bermutu. Dengan demikian ikhtiar menciptakan Kader Hibrida ala MAN Insan Cendekia dapat segera terwujud.



Sekretaris Jenderal PMU MAN Insan Cendekia Kementerian Agama RI dan kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta.



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Kyai, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 03 Juli 2007

Dandangan: Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Kudus

Setiap kali menjelang bulan Ramadan tiba, umat Islam di kabupaten Kudus, Jawa Tengah dan sekitarnya menyambutnya dengan suka cita. Momentum kehadiran bulan Ramadan menjadi sesuatu yang istimewa, sebab terdapat tradisi Dandangan sebagai penanda masuknya bulan Ramadan. Tradisi ini sudah turun temurun atas warisan dari Sayyid Ja’far Sodiq atau yang sering dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.

Tradisi Dandangan sudah berlangsung ratusan tahun. Dahulu, tradisi ini bermula pada saat masyarakat mendatangi masjid Menara Kudus untuk mendengarkan pengumuman dari sesepuh masjid mengenai kapan dimulainya hari pertama puasa Ramadan. Pengumuman diawali dengan permulaan menabuh beduk yang diterpasang Menara, lalu beduk tersebut kedengarannya menimbulkan suara “dhang…dhang..dhang”. Bunyi beduk itulah yang memunculkan kata dhandhang, sehingga kebiasaan tersebut dikenal dengan tradisi Dandangan.

Zaman terus berkembang, kini tradisi Dandangan tidak hanya sebatas menunggu beduk Menara Kudus ditabuhkan menjelang bulan Ramadan. Namun sudah menjelma menjadi tradisi atau dengan istilah lain yakni event yang tidak hanya dimiliki oleh masyarakat muslim saja, tetapi masyarakat non-muslim juga menyambutnya dengan suka cita.

Dandangan: Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Dandangan: Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Dandangan: Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Kudus

Membawa Berkah

Jika dahulunya masyarakat hadir ke Masjid Menara pada akhir Sya’ban menjelang awal Ramadan untuk menantikan pengumuman awal puasa. Kini, tradisi Dandangan bermetamorfosis menjadi tradisi yang besar dan meriah. Termasuk kemeriahannya membawa berkah kepada masyarakat luas. Selama tiga pekan menjelang ramadan, jalanan di sekitar kompleks masjid Menara dan makan Sunan Kudus, tumpah dibanjiri oleh para pedagang yang menjajakan segala macam barang dagangan, mulai dari makanan, pakaian, mainan anak-anak, aksesori, hingga kebutuhan sehari-hari.

Selain menjajakan dagangannya kepada para pengunjung yang hendak berziarah ke makam Sunan Kudus, tetapi juga masyarakat yang hanya sebatas ingin menikmati kemegahan bangunan Menara. Menara masjid pertama di pulau Jawa ini dibangun oleh Sunan Kudus begitu megah dan menarik karena bangunannya mirip dengan Pura tempat beribadah orang Hindu. Bukan tanpa maksud Sunan Kudus membangun seperti itu, sebab beliau berdakwah di daerah Kudus yang pada saat itu mayoritas masih beragaman Hindu. Strategi Sunan Kudus melakukan pendekatan akulturasi budaya, seperti Menara tersebut yang bercirikan Islam dan Hindu. Tidak heran jika Menara Kudus mendapat predikat sebagai simbol toleransi.

Momentum Kerukunan Masyarakat

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Semaraknya tradisi Dandangan tidak hanya disambut hangat oleh masyarakat muslim, tetapi termasuk juga masyarakat non-muslim. Tidak sedikit dari masyarakat non-muslim yang ikut menjajakan dagangannya atau hanya sebatas datang untuk melihat Menara Kudus dari dekat.

Bebarapa tahun terakhir, Pemda kabupaten Kudus rutin mengadakan kirab budaya sebagai penanda resmi dibukanya tradisi Dandangan.

Dalam kirab tersebut ditampilkan kesenian, kebudayaan dan hasil Bumi dari masyarakat Kudus. Tidak heran jika tradisi Dandangan sudah hajat Pemda Kudus, karena momentum yang tepat untuk menyatukan masyarakat Kudus tanpa membeda-bedakan agama.

Tradisi Dandangan akan terus berjalan apabila masyarakat berkenan untuk terus melestarikannya. Tidak hanya sebatas melestarikan, tetapi juga harus memahami subtansi dari tradisi tersebit. Karena inti dari tradisi Dandangan, bagi masyarakat muslim adalah menyongsong sekaligus mengingatkan untuk mempersiapkan diri, baik lahir maupun batin dalam melaksanakan peribadatan di bulan suci Ramadan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Muhammad Zidni Nafi’, jurnalis Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung, asal Kudus

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 29 Juni 2007

Shinta Nuriyah Ulang Tahun

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mantan Ibu Negara Nyai Hj. Shinta Nuriyah hari ini, Sabtu (9/3) merayakan hari ulang tahun yang ke-65. Dalam acara ulang tahun ini beberapa acara digelar di Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan atau Puan Amal Hayati, seperti Atraksi Egrang dan perkusi, pengobatan gratis dan pembagian sembako untuk masyarakat sekitar.

Shinta Nuriyah Ulang Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Shinta Nuriyah Ulang Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Shinta Nuriyah Ulang Tahun

Puan Amal Hayati menggandeng Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) untuk memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada Masyarakat. Sementara atraksi egrang dan perkusi ditampilkan oleh komunitas Tanoker dari Jember Jawa Timur.

Kepada masyarakat yang hadir, Shinta Nuriyah menyampaikan terima kasihnya dan meminta doakan agar keberkahan dan manfaat dapat dilimpahkan Allah khususnya kepada bangsa Indonesia. Shinta berharap perjalanan bangsa Indonesia ke depan dapat lebih baik dan lebih bermartabat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Saya berterima kasih kepada Allah SWT atas nikmat yang dikaruniakan, khususnya kepada saya pribadi. semoga Allah juga senantiasa memberkati kita semua dan seluruh bangsa Indonesia," tutur Shinta yang lahir pada tanggal 8 Maret 1948 di Jombang ini.

Sementara itu, koordinator Pelayanan Masyarakat LKNU dr. Makky menyatakan kegiatan ini dilaksanakan oleh LKNU dalam rangka pengabdian masyarakat. Pengobatan gratis seperti ini juga sering dilakukan LKNU di berbagai tempat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"LKNU sebagai bagian tak terpisahkan dari NU berusaha terus mengabdi untuk bangsa, khususnya warga NU. Kami berharap pengabdian kami, sesedikit apa pun dapat bermanfaat dan terus berlanjut demi tegaknya bangsa yang lebih baik," tutur Makky.

Acara yang digelar dari pagi hingga sore hari ini diikuti oleh saratusan warga sekitar Ciganjur dan kolega Shinta Nuriyah dari dalam dan luar negeri.

Penulis : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 22 Mei 2007

Gus Yusuf, tentang Gus Dur dan Nelson Mandela

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. KH AbdurrahmanWahid (Gus Dur) dan presiden Afrika selatan Nelson Mandela adalah dua tokoh bangsa yang dikagumi dan diteladani banyak orang. Keduanya sama-sama memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM) dan anti diskriminasi.

Gus Yusuf, tentang Gus Dur dan Nelson Mandela (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yusuf, tentang Gus Dur dan Nelson Mandela (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yusuf, tentang Gus Dur dan Nelson Mandela

“Gus Dur dan Nelson Mandela ini pejuang HAM yang selalu dirindukan semua masyarakat sepanjang masa. Perjuangan dan gagasannya akan selalu menjadi teladan bagi pecinta dan pengagumnya,” kata Pengasuh Pesantren API Magelang KH Yusuf Chudhori dalam peringatan Haul keempat Gus Dur dan 40hari wafatnya Nelson Mandela di RM Bambu Wulung Kudus, Selasa (31/12) lalu.

Kiai muda yang sering disapa Gus Yusuf ini mengatakan, Gus Dur dan Nelson mempunyai kesamaan dalam perjuangan tetapi keduanya ada perbedaan di kala wafatnya. Nelson Mandela meninggal ketika masih jaya menjadi presiden, sementara wafatnya Gus Dur dalam kondisi sakit dan sudah tidak menjadi presiden.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Melihat kondisi demikian menurut teman saya pak Darmono, Gus Dur itu disebut sebagai resi karena meninggalnya didahului dengan loro lopo (sakit),” tutur Gus Yusuf.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Agus Maftuh yang turut memberikan orasi mengutarakan sejarah Nelson Mandela sangat terpengaruh dengan seorang sufi dan ulama besar yang lahir di Indonesia Syekh Yusuf Al Makassari.

“Dalam History Afroch, pemikiran-pemikiran Nelson Mandela? dipengaruhi oleh Syech Yusuf . Syekh Yusuf ini orang pertama kali yang mengajarkan Al-Qur’an di Afrika Selatan,” tuturnya.

Penulis pengantar? buku Islam Kosmopolitan karya Gus Dur ini, menuturkan Nelson Mandela pernah menyatakan bahwa Syekh Yusuf adalah putra terbaik afrika selatan dan menjadi panutan.

“Ini sebagai bukti, dulu ulama-ulama kita sudah mendunia? sebelum era global seperti halnya Gus Dur yang sudah diakui oleh dunia,” tandasnya. (Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 19 April 2007

Ansor Bersholawat Tonton Bareng Film “Sang Kiai”

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengajian Ansor Bersholawat yang digelar Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Brebes mengajak ribuan jamaah menyaksikan kisah perjuangan KH Hasyim Asyari melalui pemutaran film “Sang Kiai” di alun-alun Brebes, Jawa Tengah, Ahad (8/12) malam.

Selain pemutaran film Sang Kiai, PC Ansor Brebes juga mengadakan sejumlah kegiatan seperti santunan kepada para sopir becak, donor darah, festival rebana, dan lomba tata administrasi masjid.

Ansor Bersholawat Tonton Bareng Film “Sang Kiai” (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Bersholawat Tonton Bareng Film “Sang Kiai” (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Bersholawat Tonton Bareng Film “Sang Kiai”

Kegiatan ini dihadiri Bupati Brebes Hj Idza Priyanti, Wakil Bupati Brebes Narjo, dan Sekda Brebes H Emastoni Ezam. Kecuali mereka, Ansor Bersholawat juga diikuti jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) dan masyarakat Brebes.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PC GP Ansor Brebes menjelaskan, kegiatan Ansor Bersholawat tidak hanya melulu berisi pengajian umum. Berbagai kegiatan digelar sebagai manifestasi kecintaan kepada Rosulullah SAW.

“Ansor Bersholawat diisi dengan terutama kegiatan yang menyangkut kepekaan sosial sehingga nilai-nilai rahmatan lil alamin sebagai misi utama Islam bisa terwujud,” tegas Ketua PC Ansor Brebes.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senada dengan Ketua PC Ansor Brebes, Ketua PW Ansor Jawa Tengah Jabir Al-Faruqi meminta agar Ansor bisa berperan dalam masyarakat. Ketika negara sedang sakit misalnya, GP Ansor wajib mengobati.

“Namun ketika pemerintah baik dan mengambil kebijakan prorakyat, GP Ansor harus mendukung penuh,” tambah Jabir. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Quote, Pemurnian Aqidah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah