Sabtu, 12 Mei 2012

Mushaf Al-Quran Berusia 300 Tahun Disita Di India

Bangalore, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Polisi di kota Bangalore, India, telah menyita satu mushaf Al-Qur’an yang mereka duga mungkin pernah menjadi miliki Kaisar Mughal Aurangzeb sekitar 300 tahun lalu. Kitab Suci itu, yang berilai 50 juta rupee, ditemukan setelah suatu penggerebekan terhadap satu hotel di kota tersebut.

Polisi menangkap seorang pria yang sedang berusaha menjualnya dan satu lukisan antik dengan harga lebih dari satu juta dolar AS. Mushaf bersulam emas tersebut, yang ditulis dalam bahasa Persia, memiliki lebih dari 1.000 halaman.

Menurut BBC, para ahli sedang meneliti apakah tanda-tangan pada bagian belakang mushaf itu adalah milik Aurangzeb yang memerintah India dari 1658 sampai 1707.

Mushaf Al-Quran Berusia 300 Tahun Disita Di India (Sumber Gambar : Nu Online)
Mushaf Al-Quran Berusia 300 Tahun Disita Di India (Sumber Gambar : Nu Online)

Mushaf Al-Quran Berusia 300 Tahun Disita Di India

Penguasa Dinasti Mughal tersebut adalah pecinta seni dan sastra, dan dikenal karena usahanya yang tampaknya dilakukannya untuk menulis Al-Qur’an pada saat senggangnya.

Polisi Bangalore telah mengirim Al-Qur’an itu ke badan Survei Arkeologi India (ASI) untuk mengetahui apakah para ahlinya dapat membuktikan berapa usia mushaf tersebut dan apakah tanda yang terdapat padanya dibuat oleh Kaisar Mughal itu.

AL-Qur’an tersebut memiliki berat 13 kilogram dan memiliki ciri mencolok. Menurut laporan, ke-30 juznya ditulis dalam gaya tulis berbeda.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Komisaris Polisi Gabungan Gopal Hosur mengatakan orang yang ditangkap berasal dari negara bagiran Kerala, yang bertetangga.

 Hosur mengatakan tersangka itu telah memberitahu polisi bahwa ia berada di Bangalore untuk mencari pembeli barang antik.

Belum jelas bagaimana pria tersebut memperoleh Al-Qur’an itu, yang dikatakannya kepada polisi telah diberikan bahan kimia sehingga mushaf itu tahan api. (ant/iina/bbc/nur)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Humor Islam, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Haditsul Ifki (Hoax) di Masa Rasulullah SAW

Fitnah dan cerita dusta itu bukan barang baru. Nabi Muhammad SAW pun pernah diserang oleh fitnah dan cerita dusta yang sangat keji. Jika saya hidup di zaman Nabi, saya pun takkan tahu bagaimana saya harus bersikap, karena Nabi pun tak berdaya melawan fitnah tersebut. Bayangkan, seorang Nabi yang agung mengalami fitnah yang luar biasa keji; istrinya dikabarkan telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Adalah Ummul Mukminin Aisyah RA difitnah telah melakukan perselingkuhan dengan Shafwan ibn Muaththal.

Di satu sisi Nabi Muhammad SAW sangat sayang pada Aisyah dan berpikir bahwa tak mungkin Aisyah melakukan tindakan hina tersebut. Di sisi lain, Nabi sungguh tak berdaya menghadapi fitnah yang sudah menyebar luas. Begitu pula Aisyah; ia sangat terpukul karena fitnah tersebut, apalagi kemudian sikap Nabi kepadanya menjadi berubah: tak seperti biasanya. Hanya sabar dan sabar yang bisa dilakukan oleh Aisyah. Setiap malam Aisyah menangis merasakan derita akibat fitnah tersebut.

Haditsul Ifki (Hoax) di Masa Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Haditsul Ifki (Hoax) di Masa Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Haditsul Ifki (Hoax) di Masa Rasulullah SAW

Sebulan lebih fitnah itu menyebar dan kehidupan rumah tangga Nabi dan Aisyah cukup terganggu. Sampai akhirnya Allah menyelamatkan Aisyah dari fitnah itu dengan menurunkan wahyu: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (QS An-Nur: ayat 11 sampai ayat 21).

Dalam kitab An-Naba’u al-Azhim, Dr Muhammad Abdullah Daraz menjelaskan berbagai hikmah dari kejadian tersebut. Salah satu hikmah yang sangat agung adalah kesabaran dan kejujuran Nabi Saw.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebagai manusia yang menerima wahyu, bisa saja Nabi membela Aisyah, dengan mengatakan bahwa Allah telah menurunkan “wahyu pembelaan” sejak hari pertama tersebarnya fitnah tersebut. Namun tidak mungkin itu dilakukan oleh Nabi. Nabi tak mungkin berbohong. Beliau hanya bisa bersabar dan yakin bahwa Allah pasti akan menyelesaikan masalah yang sedang beliau dan keluarganya hadapi.

Bayangkanlah: andai saya atau Anda adalah orang terhormat dan punya kuasa. Tiba-tiba saya (dan keluarga) atau Anda (dan keluarga) mengalami fitnah seperti yang dialami oleh Nabi SAW. Kira-kira apa yang Anda dan saya lakukan sebagai orang yang memiliki posisi terhormat dan punya kuasa? Tentu, sebagai manusia biasa kita akan gunakan posisi terhormat dan kuasa untuk menyelesaikan orang-orang yang terlibat dalam penyebaran fitnah tersebut. Dengan berbagai cara, termasuk cara-cara yang juga tak kalah keji.

Nabi SAW adalah penerima wahyu. Beliau tak pernah berpikir merekayasa wahyu, meski menghadapi ujian yang teramat berat.

Lantas, mengapa sebagian umatnya mudah sekali mengumbar ayat kemudian memosisikan pendapatnya seperti ayat? Seolah-olah mereka adalah penerima wahyu langsung dari Allah!

Saksikan wahai Allah; Engkaulah penolong kami dalam menghadapi segala fitnah. (Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Taufiq Damas)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Doa, Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah