Selasa, 27 Februari 2007

Tingkatkan Ekonomi Masjid, LTMNU Canangkan 2 Program Unggulan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) mencangkan dua program unggulan sebagai upaya mensejahterakan masjid. Program ini didorong oleh keprihatinan LTMNU atas kelemahan masjid dalam hal pemberdayaan ekonomi.

Wakil Ketua PP LTMNU Mansur Syaerozi mengatakan, pihaknya akan melakukan terobosan di bidang dakwah dan pemakmuran masjid dengan mencanangkan “Gerakan Infak & Shodaqoh Memakmurkan Masjid” yang disingkat Gismas, serta “Masnu Payment” yang bergerak di bidang jasa layanan pembayaran atau pembelian secara online.

Tingkatkan Ekonomi Masjid, LTMNU Canangkan 2 Program Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Ekonomi Masjid, LTMNU Canangkan 2 Program Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Ekonomi Masjid, LTMNU Canangkan 2 Program Unggulan

Mansur menjelaskan, Gismas akan dikoordinir orang-orang khusus yang sudah mendapatkan pendidikan dan latihan dari LTMNU yang dikenal sebagai muharrik (penggerak) masjid. Muharrik disyaraktkan bersertifikat resmi dan menangani minimal 10 masjid. Hasil Gismas diperuntukkan untuk memakmurkan kegiatan masjid di bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan ekonomi jamaah, dan lain-lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sementara Masnu Payment akan melayani mulai dari bayar rekening listrik, telepon, cicilan motor, bayar infaq ? dan sedekah, beli barang, dan lain-lain,” katanya dalam rilis yang dikirim ke NU Online, Rabu (17/7).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Mansur, masjid sudah sepatutnya sejahtera dan mandiri secara ekonomi untuk menopang seluruh kegiatan positif yang dipelopori masjid. Di zaman Rasulullah, masjid adalah tempat yang progresif dan tak hanya sebagai tempat ibadah tapi juga pusat pemberdayaan umat.

“Secara umum pengelolaan Masjid kita masih memprihatinkan. Masih banyak pengurus masjid yang tidak mampu mengoptimalkan peran dan fungsi masjid karena keterbatasan SDM untuk memakmurkan masjid, apalagi memikirkan para jama’ah yang fukara dan masakin di sekitar masjid,” katanya.

Rencananya, LTMNU akan meluncurkan secara resmi dua program unggulan tersebut pada Jumat (26/7) mendatang di gedung PBNU lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, dengan menghadirkan 81 muharrik dari wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Penulis: Mahbib Khoioron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 22 Februari 2007

Ulama Iran Hadiri Seminar Tilawah Langgam Nusantara JQHNU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadh Nadlatul Ulama (JQHNU) menggelar seminar nasional bertajuk “Kontroversi Tilawah Langgam Nusantara”, Selasa (16/6) petang, di aula PBNU, Jakarta. Salah satu narasumber hadir dari Universitas Internasional al-Mustafa, Qum, Iran.

Ketua Umum PP JQHNU KH Abdul Muhaimin Zain mengatakan, seminar ini diselenggarakan atas permintaan masyarakat, menyusul polemik tentang kebolehan melantunkan al-Qur’an dengan langgam Jawa sebagaimana terjadi pada peringatan Isra’ dan Mi’raj pertengahan Mei lalu di Istana Negara, Jakarta. Pihaknya sengaja mengundang pakar qira’ah asal Iran lantaran langgam qira’ah yang lazim dibaca para qari’ mayoritas berasal dari Persia atau Iran.

Ulama Iran Hadiri Seminar Tilawah Langgam Nusantara JQHNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Iran Hadiri Seminar Tilawah Langgam Nusantara JQHNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Iran Hadiri Seminar Tilawah Langgam Nusantara JQHNU

Sayyid Ali Rabbani, ulama Iran itu, di hadapan forum yang terdiri para mahasiswa, dosen, dan para pegiat al-Qur’an, mengatakan kontroversi ini juga pernah terjadi di negaranya, Iran. Pembacaan al-Qur’an dengan lagu bersyair mendapat simpati dari sebagian kecil ulama, meski ditolak oleh kebanyakan ulama qira’ah di sana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Soal tilawah di luar langgam Arab, katanya, secara akal bahasa Arab atau bahasa Inggris seyogianya diekspresikan menurut bahasa Arab atau Inggris. Namun ia menggarisbawahi bahwa seorang qari sebaiknya tidak terlalu fokus pada lagu, melainkan perenungan makna dan sampainya pesan al-Qur’an kepada para pendengar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ali Rabbani mengisi seminar bersama Kepala Lajnah Pentashih al-Qur’an Kemenag Muchlis M Hanafi, Rais Majelis Ilmi PP JQHNU KH Ahsin Sakho, dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Peserta yang berpartisipasi antara lain dari qari internasional Ustadzah Maria Ulfa, serta akademisi dari Institut Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ) Jakarta, Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta, dan Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran "Al-Hikam" Depok.

Menurut hasil penelitiannya dari berbagai kitab klasik, Muchlis berpendapat bahwa tidak ada contoh valid pada zaman Rasulullah tentang lagu tertentu yang harus digunakan saat membaca al-Qur’an. Dengan demikian, ia meyakini langgam (nagham) datang atas kreasi umat Islam setelahnya atau bersifat ijtihadi.

Sebagaimana Muchlis, KH Ahsin Sakho setuju dengan adanya kebebasan dalam memilih lagu selama tidak menyalahi tajwid, makharijul huruf, dan kekhidmatan dalam pembacaan al-Qur’an. Baginya ini masalah sekunder karena menyangkut budaya manusia yang beragam. Yang primer dan masuk kategori ibadah adalah pembacaan al-Qur’an sesuai kaidah dan makna.

“Jadi menurut saya sah-sah saja (menggunakan langgam Nusantara), sejauh tidak ada mawani’ (penghalang) yang menyebabkan ia makruh atau haram,” ujarnya usai menayangkan video pembacaan al-Quran dari Afrika dan Saudi Arabia yang berbeda dari tujuh lagu yang lazim dibaca, yakni Bayati, Shoba, Hijaz, Nahawand, Rost, Jiharkah, dan Sikah. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, RMI NU, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 11 Februari 2007

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Banyaknya bencana alam yang datang secara beruntun menggugah kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama untuk siap membantu saudara-saudara yang mengalami musibah tersebut. Dalam waktu dekat sejumlah kader Ansor akan mengikuti latihan keterampilan Search and Rescue [SAR] bekerjasama dengan Badan SAR Nasional.

“Badan SAR ini membantu melatih untuk meningkatkan keterampilan tinggi dalam menghadapi bencana alam, sehingga kader Ansor siap pakai dimana saja diterjunkan," kata Kepala Satuan Koordinator Nasional Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Tatang Hidayat di Jakarta, Sabtu (10/3).

Menurut Tatang, pelatihan SAR ini akan diikuti sekitar 2000-an kader Ansor, terutama menghadapi medan-medan berat dan lapangan yang sulit dijangkau. Karena itu, latihan ini sekaligus menjadi tantangan guna meningkatkan kualitas keterampilan dan SDM.

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Pada Senin (12/3) mendatang Maret 2007 akan ditandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Badan SAR Nasional dan Pengurus Pusat (PP) GP Ansor yang akan dilakukan oleh Ketua Umum GP Ansor, saifullah Yusuf. Penandatangan itu rencananya akan dilaksanakan di Kantor PP Gerakan Pemuda Ansor, Jl Kramat Raya 65 A.

Bukan tidak mungkin pelatihan keterampilan ini akan dilanjutkan ke beberapa daerah. Namun demikian, kata Tatang, semua dilaksanakan secara bertahap agar hasilnya bisa optimal. (gp-ansor.org)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah