Rabu, 02 September 2015

Saat Gus Dur Menolak Disambut dengan Shalawat Badar

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Warga Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, menyimpan kenangan yang baik tentang sosok Gus Dur. Ketua PCNU Pidie Jaya, Tengku Marzuki M Ali, salah satunya. 

Saat Gus Dur Menolak Disambut dengan Shalawat Badar (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Gus Dur Menolak Disambut dengan Shalawat Badar (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Gus Dur Menolak Disambut dengan Shalawat Badar

Pada pertengahan Desember lalu, ketika Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah melakukan peliputan kunjungan PBNU ke lokasi pengungsian warga terdampak gempa Pidie Jaya, Tengku Marzuki menceritakan kenangannya tentang sosok Gus Dur. 

Sekitar tahun 1999, Gus Dur mengunjungi Aceh dalam kaitannya dengan referendum yang dikehendaki sebagian masyarakat Aceh. Tepat ketika Gus Dur memasuki ruang pertemuan di Masjid Baiturrahman, segera masyarakat yang umumnya warga NU, mengumandangkan shalawat badar. 

Tetapi, Gus Dur meminta hadirin menghentikan bacaan salawat tersebut. “Jangan itu (shalawat badar),” kata Tengku Marzuki menirukan Gus Dur. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hadirin yang heran pun terdiam. Gus Dur lalu meneruskan, “Ayo kita baca ilahilastulil firdausi ahla....

Hadirin segera mengikuti membaca syair itu, sehingga suasana berubah menjadi lebih syahdu. Hadirin terbawa dan larut dalam syair yang berisi pengakuan dosa dan permohonan ampun kepada Allah SWT itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Peristiwa tersebut lagi-lagi menunjukkan bahwa Gus Dur adalah sosok yang sederhana dan tak suka diagung-agungkan.

Karena dalam pandangan Gus Dur, selain ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, shalawat badar juga dilantunkan untuk menyambut sebuah kemenangan. Hal ini berbeda dengan konteks kunjungannya saat itu. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Lomba, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah