Minggu, 28 Agustus 2011

PCNU Jember Geram Pelajaran SD Sebut Yerussalem Ibu Kota Israel

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Peredaan buku IPS kelas 6 SD yang berisi penyebutan Yerusslaem sebagai ibu kota Israel, diduga ada kesengajaan dari pihak-pihak tertentu. Sebab, buku tersebut sudah beredar cukup lama, yaitu sejak tahun 2008.  

PCNU Jember Geram Pelajaran SD Sebut Yerussalem Ibu Kota Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jember Geram Pelajaran SD Sebut Yerussalem Ibu Kota Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jember Geram Pelajaran SD Sebut Yerussalem Ibu Kota Israel

Demikian diungkapkan Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch Eksan menanggapi riuhnya tentang peredaran buku tersebut. PCNU merasa gerah dengan kasus tersebut. 

Menurutnya, tidak masuk akal jika itu disebut sebagai kekhilafan, apalagi  kesalahan cetak. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Saya tidak tahu motifnya apa. Tapi yang pasti sulit dibantah bahwa itu tidak ada unsur kesengajaan," ucapnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di Jember, Jumat (15/12).

Menurutunya,  pihak penerbit tidak cukup hanya minta maaf, lalu dianggap selesai. Aparat penegak hukum perlu mencari adanya kemungkinan unsur tindakan pidananya dalam kasus tersebut. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakannya, penyebutan Yerussalem sebagai ibu kota Israel jelas melukai hati umat Islam Indonesia dan bangsa Indonesia yang  sejak lama mendukung perjuangan rakyat  Palestina. Bahkan dalam KTT OKI, Presiden Joko Widodo ikut menegaskan bahwa Yerussalem adalah ibu kota Palestina. 

"Makanya selain bukunya ditarik secepatnya, pihak-pihak yang terlibat dalam penerbitan buku itu harus bertanggung jawab," lanjutnya.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur itu juga menyayangkan ketidakpekaan Dinas Pendidikan Jawa Timur dan pihak-pihak terkait dalam mengawasi buku yang beredar di sekolah-sekolah. Karena tidak peka atau memang lalai, sehingga buku yang seharusnya  tidak dibaca, beredar hingga bertahun-tahun. 

"Ironi, itu kesalahan  fatal," pungkasnya. (Aryudi A Razaq/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 21 Agustus 2011

Keindahan yang Hampir Hilang

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Membalas kesalahan adalah hak. Islam membenarkan. Jika kita dipukul, berhak memukul balik. Jika kita dirontokkan giginya, berhak membalasnya dengan hal yang sama. Jika ada satu nyawa dibunuh, berhak membunuh si pembunuh. Khusus dalam konteks Indonesia, ada konstitusi yang mesti ditaati.

Keindahan yang Hampir Hilang (Sumber Gambar : Nu Online)
Keindahan yang Hampir Hilang (Sumber Gambar : Nu Online)

Keindahan yang Hampir Hilang

Namun demikian, jika itu adalah suatu kebenaran, belum tentu suatu kebaikan. Jadi, tak hanya salah-benarnya, tetapi juga baik buruknya perlu dipertimbangkan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketika kecil dan ngaji cerita kisah nabi-nabi dulu, saya diceritai kisah. Suatu ketika, seorang muslim dikejar sekelompok orang Yahudi yang hendak membunuhnya. Ia berlari menuju Rasulullah yang sedang duduk dan berkata, "Wahai Rasulullah, lindungilah aku! Mereka ingin membunuhku, padahal aku tidak bersalah!"

Kemudian orang tersebut bersembunyi untuk menyelamatkan diri.Tidak lama kemudian sekelompok orang bersenjata berteriak-teriak dengan marah mendatangi Rasulullah karena kehilangan jejak incarannya, "Apakah kamu melihat seseorang lewat sini?" tanya mereka.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rasulullah berdiri dari duduknya dan berkata,"Sejak saya berdiri di sini dari tadi, saya tidak melihat orang lewat sini." Sekelompok orang bersenjata itu pun membubarkan diri. Akhirnya selamatlah nyawa orang yang sedang dicari untuk dibunuh. Cerita ini mirip dengan kisah Nabi Ibrahim ketika ditanya oleh ayahnya: siapa yang menghancurkan patung-patung ini. Beliau menjawab: berhala ini yang paling besar. Sebuah jawaban yang politis, filosofis, dan mantiq-is.

Saya hanya ingin mengatakan: itulah jawaban yang baik. Kebenaran belum tentu mengandung keindahan. Dan bisa juga disertai kebaikan. Para dosen bahasa Indonesia tentu tahu perbedaan bahasa yang baik dan benar. Keduanya beda, meski kadang menjadi satu dan dalam bentuk yang sama. Contoh: dengan bahasa baku, kita benar memakai bahasa, tetapi tidak baik jika untuk percakapan sehari-hari dengan teman. Akan kaku dan spaneng. Itulah, ada dimensi kebaikan, selain kebenaran.

Pun demikian dalam ajaran Islam. Alkisah, suatu ketika, Imam Syafii ditanya tentang suatu permasalahan, tapi beliau diam saja. Lalu seseorang berkata kepadanya, "Tidakkah kamu mau menjawab?" Imam Syafii berkata, "Sampai aku tahu apakah keutamaan ada dalam diam atau menjawab suatu pertanyaan." Dengan jawaban itu, bukan berarti Imam Syafii tak tahu jawaban, tetapi menimbang apakah fatwanya benar-benar memberi kemaslahatan. Jadi, tak sekadar dimensi kebenaran, tetapi juga kebaikan, yang menurut saya itu semua ada konteksnya, ruangnya dan tentu illat-nya.

Nah, di atas itu semua, masih ada satu lagi: dimensi keindahan. Memaafkan itu, selain adalah kebenaran, juga bernilai kebaikan, adalah suatu keindahan. Jika membalas itu hak, maka memaafkan adalah kemuliaan. Jika menolong orang jatuh dari motor itu bukan kewajiban, tetapi jika kita menolongnya, adalah kebaikan yang bernilai keindahan. Jika menteri atau anggota dewan memperjuangkan partai atau konstituennya adalah hak, tetapi memperjuangkan semuanya itu adalah keindahan, melampaui sekat. Ia pemimpin nasional.

Keindahan ada pada semua lini kehidupan.? Dalam sportivitas olah raga, seni, tradisi-budaya, lingkungan, relasi-sosial sampai spiritualitas-cinta dalam dunia tasawuf.

Dari berbagai profesi, intitusi, organisasi sampai media informasi, kini banyak yang hanya berebut benar, disertai menyalah-nyalahkan lawan. Dan penghancuran-penghancuran. Belum naik derajat kepada kebaikan, apalagi keindahan. Berita misalnya, mulai banyak yang tidak mempedulikan fakta dan kebenaran. Jika pun benar, ia belum tentu baik bagi si penyimak, masyarakat luas. Apalagi bernilai keindahan, ‘ibrah dan teladan.

Dan, salah satu bentuk keindahan di dunia ini adalah humor. Dari Gus Dur, Nasrudin Hoja dan Abu Nawas, sebaiknya mereka yang ototnya keluar hanya berbicara kebenaran, perlu belajar humor lebih dalam, agar kuat menghadapi kenyataan.

Intinya, salah satu solusi untuk Indonesia yang tegang ini adalah keindahan pada humor. Dengannya, kita bisa tertawa dan menertawakan keadaan: kakakakakakaka!? ?

Penulis adalah kader muda Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 14 Agustus 2011

Jaringan Santri Tidak Terhenti Saat Lulus

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Para ulama dalan penerus estafet perjuangan pana nabi dan santri adalah penerus estafet pejuangan para ulama. Hubungan para ulama dengan santri-santrinya tidak terhenti ketika para santri lulus dan melanjutkan jenjang kehidupan selanjutnya.?

Para santri dapat terus berkomunikasi dengan guru-gurunya meskipun mereka telah menempuh jenjang pendidikan selanjutnya atau terlibat dalam proses kehidupan berikutnya. Para santri yang sudah menetap di tempat-tempat baru tetap merupakan perpanjangan tangan dari lembaga madrasah atau pesantren awalnya saat remaja.

Jaringan Santri Tidak Terhenti Saat Lulus (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaringan Santri Tidak Terhenti Saat Lulus (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaringan Santri Tidak Terhenti Saat Lulus

Demikian dinyatakan ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus KH Em. Nadjib Hassan saat memberikan wejangan kepada ratusan alumni Madrasah Qudsiyyah se-Jabodetabek dan sekitarnya dalam acara Roadshow Satu Abad Qudsiyyah, Ahad (22/5). Menurut Nadjib, para santri tidak boleh lepas dari dua tanggung jawab sekaligus, yakni kepada masyarakat sekitar tempat tinggalnya dan lembaga pendidikan asalnya.?

“Ilmu yang diperoleh para santri selama belajar di madrasah adalah bekal untuk mengabdi di masyarakat. Bekal ini bukan modal yang terputus, setiap saat santri dapat datang ke madrasahnya dan bertemu dengan para gurunya untuk men-charge ulang ilmunya atau sharing pengalaman dengan para guru dan adik-adik angkatannya,” tutur Nadjib yang juga Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kaitan dengan sanad keilmuan, menurut Nadjib para santri harus yakin bahwa ilmu yang mereka dapatkan di madrasah dan mereka sebarkan kepada masyarakat adalah ilmu-ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ilmu yang mereka dapatkan bersumber dari para ulama dengan reputasi dan kredibilatas yang tersambung hingga Nabi Muhammad SAW.

“Walisongo mendidik generasi ulama yang menjunjung tinggi kebenaran ilmiah. Para santri ? yang sudah menjadi ulama terus saling bersilaturrahim bukan sekedar untuk berbasa-basi semata, lebih dari itu mereka saling berguru dan mentashih ilmunya. Ada ulama yang ahli tafsir bersedia berguru tentang ilmu arudh kepada ulama lain yang dulunya adalah muridnya,” papar Nadjib yang juga Alumni UIN Yogyakarta ini mencontohkan.?

Dengan demikian, lanjut Nadjib, jaringan keilmuan para ulama di Nusantara ini saling bersambung dan terus berkembang melalui transfer pengetahuan dan sharing pengalaman. Sehingga jaringan ulama-santri ini mewujud ? dan terus berkembang menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan tatanan masyarakat Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Madrasah Qudsiyah Menara Kudus menggelar roadshow peringatan Satu Abad Qudsiyyah di enam propinsi pulau Jawa selama tiga bulan. Kegiatan ini diselenggarakan dan diikuti oleh para alumni Madrasah Qudsiyyah yang sekarang berbadan hukum Yayasan pendidikan Islam Qudsiyyah di setiap lokasinya. Akhir pekan ini, roadshow diselenggarakan di Jabodetabek dan sekitarnya dengan dihadiri oleh para guru dan pengurus Yayasan seperti KH Em. Nadjib Hassan, KH Halim Mahfudh Asnawi, KH Fatkhurrahman BA dan KH Ihsan dan M. Rikza Chamami dari perwakilan alumni Qudsiyyah Semarang. (Syaifullah Amin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Tokoh, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah