Kamis, 26 Agustus 2010

Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Tiga perempuan santri bercerita tentang studinya di Eropa langsung dari Student Housing, Amsterdam, Belanda, Ahad (3/9) pagi waktu Belanda, sore waktu Indonesia. Para alumni perguruan tinggi Islam negeri itu berkisah tentang kegagalannya sampai bagaimana menjalani studi di jurusan pilihannya masing-masing.

Wakil Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) Eva Nur Latifah semangatnya untuk studi ke luar negeri pernah turun karena gagal lulus dari program beasiswa LPDP. Tetapi perempuan yang kini sedang menempuh studi strata duanya di bidang Information Technology University of Twente itu tak patah arang.

Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa

?

Diterima sebagai penerima beasiswa kursus bahasa asing dari Kementerian Agama pada tahun 2015 lalu, ia kemudian bertemu rekan-rekan di sampingnya sehingga bangkit kembali gairahnya untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

“Berpikir positif itu sih yang penting,” kata lulusan UIN Sunan Gunung Jati Bandung itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Wakil Sekretaris PCINU Belanda Nur Inda Jazilah harus mengubur mimpi awalnya untuk studi ke Inggris guna mendalami Forensik Linguistik.?

Vrije University Amsterdam dipilih dari lima kampus di dunia yang menawarkan jurusan yang sama mengingat keholistikannya karena studinya menempuh waktu dua tahun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dia lebih holistik mempelajari forensik linguistiknya karena dua tahun,” ujar alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut.

Berbeda dengan keduanya yang studi di Belanda, Ianatul Avifah baru saja submit tesisnya di bidang TESOL di University of Manchester. 180 SKS dalam waktu satu tahun cukup menguras waktu dan pikirannya. Meski begitu, ia mengingatkan tiga hal penting dalam menempuh studinya, “Manajemen waktu dan presistens dan balance juga sih.”

At least kayak nonton YouTube sebentar,” lanjut alumni UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Motivasi dan inspirasi

Berada di lingkungan positif yang saling mendukung menjadi hal terpenting dalam membangun motivasi untuk terus memupuk semangat studi Jazil, panggilan akrab Nur Inda Jazilah. “Yang penting berada di lingkungan semua orang-orang positif,” kata mahasiswa yang baru tiba di Belanda dua minggu lalu itu.

Lain halnya dengan Avifah. Ia selalu daftar setiap kali ada kesempatan short course ataupun student exchange ke berbagai negara. Tapi setiap kali ia daftar, setiap itu juga ia gagal. Lantas ia bertekad, untuk studi S2, ia tidak boleh gagal. “Besok kalau beasiswa S2 harus diterima,” kata perempuan yang pernah gagal mendapat beasiswa di Amerika Serikat itu.

Selain itu, motivasi terbesar baginya dalam menempuh studi di luar negeri adalah orang tuanya. “Orang tua itu yang benar-benar bikin motivasi terbesar,” lanjutnya.

Senada dengan Avifah, Eva juga mengungkapkan hal yang sama, yakni membuat orang tua bahagia. “Membahagiakan orang tua,” jawab Eva saat ia menerima giliran pertanyaan tentang motivasi dan inspirasi studi beasiswa ke luar negeri.

Sejak SMA sampai kuliah merasa sering merepotkan orang tua membuatnya termotivasi untuk bagaimana membuat orang tuanya bahagia. Studi S2 di luar negeri dengan beasiswa dirasa menjadi satu hal yang membuat kedua orang tuanya bangga.

Tantangan terbesar Muslimah studi di Eropa

Mengenai shalat, pelajar muslim tak perlu khawatir. Jazil mengatakan, “Di kampus ada mushallanya.” Selain itu, diskriminasi terhadap Muslim juga tidak ia temukan. “Sejauh ini tidak menemukan ada diskriminasi,” kata pemilik akun Instagram @jazilaaah. Hal terpenting baginya bagaimana menjaga perilaku saja. Mereka pun akan bersikap sama seperti apa yang kita lakukan.

Bahasa menjadi salah satu tantangan tersendiri. Belanda yang tidak menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian tidak menjadi masalah dalam studi. “Language barrier gak begitu berarti,” katanya. Dapat menyampaikan ide dengan baik itu hal terpenting menurut santri Pondok Pesantren Sirotul Fuqoha, Malang, tersebut.

Seperti di Amsterdam, University of Manchester juga menyediakan tempat ibadah bagi muslim. “Alhamdulillah lumayan banyak warga muslim di Manchester. Kampus pun menyediakan masjid meskipun sedikit jauh,” kata Afifah.

Masyarakat Inggris juga sangat terbuka dengan keberadaan muslimah. Hal tersebut dibuktikan dengan senyuman orang-orang sana meskipun mereka tidak saling mengenal. “Orang Britishnya welcome, mereka senyum meskipun gak kenal,” lanjut pemilik akun Instagram @ianatulavifah itu.

Pengetahuan tentang budaya negara tempat studi menjadi satu keharusan. “Setidaknya tahu 20-30 % culture negara yang kita kunjungi untuk membantu komunikasi,” kata santri Pondok Pesantren Annuriyah Surabaya itu. Hal itu menurutnya dapat diatasi dengan menonton film.

Eva menambahkan, bahwa pengetahuan budaya itu bisa juga didapat dengan mengikuti kelas akulturasi yang disediakan kampus. “Mungkin bisa masuk kelas akulturasi,” katanya.

Santri Pondok Pesantren Arrisalah Ciamis itu juga mengungkapkan, bahwa kampusnya sangat menerima keberadaan pelajar muslim. “Kampusku sangat welcome sama muslim,” ujarnya.

Selain terdapat masjid, di kampus tempatnya belajar juga terdapat organisasi muslim. Bahkan pemilik akun Instagram @eva_gram itu mengatakan “Kita dapat founding juga.” Di kampusnya tersebut, Eva dan rekanannya pernah mengadakan hijab workshop. Hal tersebut menjadi salah satu media dakwah baginya untuk mengenalkan Islam.

Sebelum mereka menjawab pertanyaan tentang tantangan studi di Eropa, tiga santri yang mendapat beasiswa Kementerian Agama itu masing-masing memberikan pernyataan tentang kebanggaannya menjadi santri, alumni UIN, dan deklarasi kembali ke Indonesia guna mengabdikan diri.

Obrolan para santri perempuan yang sedang studi di Eropa ini dipandu oleh Dito Alif Kurniawan. Pria alumni UIN Walisongo Semarang itu baru saja menyelesaikan studi magisternya di Vrije Universteit, Amsterdam, Belanda.

Diskusi ini disiarkan langsung melalui Instagram @Galerisantri dan @Kajiannusantara atas kerja sama Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara. Kegiatan ini diinisiasi oleh Penasihat AIS Nusantara, Romzi Ahmad. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 08 Agustus 2010

KH Ahmad Dimyati dan Perjuangannya Merintis Pesantren

KH Ahmad Dimyati, lahir pada 12 Februari 1955 di Kampung Bauwan, Serang, Banten. Ayahnya, Nurhalim bin Ilyas, berprofesi sebagai pedagang daging sapi dan kerbau. Ibunya, Siti Mardiyah binti Nawiyah, adalah ibu rumah tangga biasa.

KH Ahmad Dimyati adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara. Kakak-kakaknya adalah: Atiyah (almh), H. Damanhuri, A Sanusi (alm), Halimah, Hj Juwairiyah dan Hj Qibtiyah.

Tahun 1966, ketika Ahmad Dimyati duduk di kelas 4 SD, ayahndanya berpulang ke rahmatullah. Selajutnya, karena keadaan ekonomi yang kekurangan, oleh ibunya, Ahmad Dimyati diserahkan pengasuhannya kepada salah satu kakaknya yaitu Hj Juwairiyah.?

KH Ahmad Dimyati dan Perjuangannya Merintis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ahmad Dimyati dan Perjuangannya Merintis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ahmad Dimyati dan Perjuangannya Merintis Pesantren

Setelah beberapa lama tinggal bersama kakaknya, ia dibawa oleh Drs KH Ahmad Rifa’i Arief ke Pondok Pesantren Daar El-Qolam, dan mengaji kepada Ustad Sukarta. Selama belajar di Pesantren Daar El-Qolam, Ahmad Rifai termasuk santri yang paling berprestasi. Sejak kelas 1 sampai 6, ia selalu menjadi juara kelas. Kemampuannya yang palaing menonjol adalah dalam bidang nahwu dan Bahasa Arab. Oleh sebab itu, ia menjadi santri kesayangan KH Ahmad Rifa’i Arief.?

Pada tahun 1976, Ahmad Dimyati lulus sebagai alumni ke-3 Pondok Pesantern Daar El-Qolam. KH Ahmad Rifa’i memintanya untuk mengabdi di almamaternya. Saat masa pengabdian itu juga, ia melanjutkan proses studi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Serang, dengan beasiswa dari Pesantren.

Tahun 1980, ia lulus dari IAIN Serang sebagai Sarjana Muda. Dua tahun kemudian, ia menikah dengan Nyai Hj Sa’diyah, BA yang sama-sama kuliah di IAIN Serang. Nyai Hj Sa’diyah adalah putri dari KH Elon Syuja’i pendiri Pesantren Asy-Syujaiyah, Bantar Kemang, Bogor.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sejak menikah itulah, KH Ahmad Dimyati hampir setiap hari bolak-balik Serang-Bogor. Pagi hari bakda subuh, ia mengajar di Pesantren As-Syuja’iyah Bantar Kemang. Setelah itu ia pergi ke Serang untuk mengajar di Daar El-Qolam. Barulah pada tahun 1985, ia mendapat restu dari gurunya untuk menetap di Bantar Kemang.

Restu dari gurunya, sungguh-sungguh dimanfaatkan oleh KH Ahmad Dimyati. Ia pun mulai berpikir bagaimana caranya agar Pesantren Asy-Syujai’iyah berkembang menjadi pesantren yang lebih baik. Dalam perkembangannya, Pesantren Asy’Syujaiyah berubah nama menjadi Pesantren Modern Daarul ‘Uluum.

Pesantren Daarul ‘Uluum memiliki jenjang pendidikan resmi dengan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sebagai pengantarnya, mendapatkan respon yang baik dari masyarakat. Jumlah santrinya terus bertambah, hingga mencapai 800-an orang. Semua itu adalah berkat nama besar KH Elon Syuja’i dan juga buah dari gaya manajerial Drs KH Ahmad Dimyati.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Ahmad Dimyati begitu memperhatikan para santrinya. Menurutnya, santri adalah amanat dari para wali santri yang menitipkan anaknya ke pesantren. Tentang para santri, ia berprinsip, “Jagalah amanat itu dengan sebaik-baiknya.”

Perkembangan pesantren yang begitu pesat, tak sebanding dengan lahan yang ada yang hanya berukuran beberapa ribu meter saja. KH Ahmad Dimyati berinisiatif untuk mengembangkan Pesantren Daarul ‘Ulum di tempat lain. Ia bercita-cita bahwa Daarul ‘Ulum harus ada dan bersinar di mana-mana.

Awalnya ia mendapatkan tanah di Gelam, Serang. Namun, sayang keadaan di Gelam sulit air, sehingga terpaksa ditinggalkan. Beberapa tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1994, ia mendapatkan tanah di daerah Tapos. Keadaan tanah di Tapos bagus, airnya banyak, dan suasananya sangat cocok untuk didirikan pesantren. Namun lagi-lagi, tanah itu harus ditinggalkan karen tidak mendapatkan izin dari pemerintah saat itu, dengan alasan tempat itu adalah daerah resapan air yang tak boleh didirikan bangunan.

Begitu sulit mencari lahan untuk mengembangkan pesantren. Namun, ia yakin dengan prinsip “Faidza azzamta fatawakkal ‘alallah.” Kata-kata itu sering diucapkan oleh KH Ahmad Dimyati dan merupakan falsafah hidup bagaimana sikap seseorang dalam menghadapi kehidupan.

Tahun 1995, Pemerintah Kota Bogor menunjuk KH Ahmad Dimyati sebagai pembimbing jamaah haji. Pada saat itulah ia bermunajat kepada Allah di Multazam, meminta agar Allah SWT memberikan jalan baginya untuk mendapatkan lahan untuk pembangunan pesantren. Ia sangat yakin bahwa Allah akan membukakan jalan bagi hamba-Nya yang berjuang di jalan Allah. Semingu setelah pulang dari tanah suci, ia mendapatkan tanah di daerah Cigombong, perbatasan antara Sukabumi dan Bogor, tepatnya di Desa Ciburuy.

Tanggal 24 Juni 1996, tanah yang dibeli dari hasil keringat dan menjual rumah itu diresmikan menjadi sebauh pesantren yang diberi nama Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido. Nama Lido di belakangnya sengaja dipakai bukan karena dekat dengan Danau Lido, tetapi nama itu singkatan dari ‘Limpahan Doa’ sebagai rasa syukur atas terkabulnya doa yang dipanjatkan ketika berada di Multazam.

Karena aturan birokrasi untuk mengembangkan pesantren di lokasi yang baru itu, didirikanlah Yayasan Salsabila. Nama Salsabila diambil dari salah satu mata air di surga. Diharapkan Daarul ‘Uluum Lido dapat menajdi mata air yang menyejukkan umat kelak.

KH Ahmad Dimyati meninggal dunia pada tahun 1998, meninggalkan tujuh orang putra-putrinya. Kini Pesantren Daarul ‘Uluum Lido dikelola oleh putra-putri dan menantunya dan terus berkembang menjadi pesantren yang maju dengan jumlah santri mencapai 1900-an orang pada tahun 2016 ini. ? (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Hadits, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah